EDISI 2222
—–
Q.S. At-Tahrim : 6
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, dan yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
- Keluarga adalah salah satu nikmat terbesar yang telah diberikan oleh Allah Ta’aladalam kehidupan manusia.
- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammerupakan suri teladan utama kita dalam menggapai rumah tangga yang diliputi kasih sayang serta keberkahan.
- Pembahasan ini sangatlah penting karena fokus pada tiga isu krusial di era modern.
- Isu tersebut meliputi: mendidik anak di era digital, menjaga keharmonisan keluarga, serta memahami dan mewujudkan sakinah (ketenangan) sesuai contoh Islam.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Arus informasi tanpa batas dan sarana akses internet yang begitu mudah menjadi tantangan mendidik anak di era digital dan media sosial pada saat ini. Anak-anak dan remaja sangat mudah terpapar informasi dari internet, TikTok, Instagram, YouTube, dan media sosial lainnya tanpa filter. Media sosial tersebut lebih banyak menghadirkan konten-konten negatif daripada positif.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (H.R. Bukhari & Muslim)
Maka, orang tua wajib menjadi pengawas dan pembimbing untuk anak-anaknya terhadap konten-konten negatif yang dipaparkan oleh media sosial tersebut, bukan hanya sebagai penyedia fasilitas yang bebas tanpa bimbingan serta pengawasan.
Selain arus informasi tanpa batas yang mudah diakses, tantangan lain orang tua sebagai pendidik di era digital adalah Ponsel Pintar (Smartphone) atau Gawai (Gadget) yang sudah dianggap sebagai “Orang Tua Kedua.” Sebab, kini banyak anak-anak yang lebih dekat dengan gawai dibanding dengan kedua orang tuanya. Bahkan, hal ini dapat pula menjauhkan hubungan antara suami istri.
Hal ini dapat menimbulkan krisis komunikasi antar anggota keluarga hingga menimbulkan hilangnya kedekatan emosional antara anak dan orang tua serta melemahnya kontrol akhlak anak-anak.
Walaupun pengaruh gawai dan media sosial terhadap akhlak dan perilaku bisa jadi ada yang mendidik, tapi lebih banyak pengaruh yang merusak apabila tidak ada pengawasan dan bimbingan dari orang tua. Anak mudah meniru tren, gaya hidup, atau tokoh yang bukan teladan Islami.
Maka peran orang tua di sini sangatlah penting dalam mendampingi, memilah konten, dan memberi arahan tentang mana yang baik dan buruk. Dengan demikian, arus informasi yang bebas serta konten-konten negatif media sosial dapat dikonter, sehingga menjadikan komunikasi antar anggota keluarga lebih erat dan keharmonisan serta akhlak anak-anak lebih terjaga.
Langkah-langkah Menjaga Keharmonisan Keluarga di Era Digital:
- Bangun Komunikasi yang Sehat dalam Keluarga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suri teladan terbaik. Beliau mendengarkan keluarganya, berdialog, bercanda, dan menunjukkan perhatian terhadap keluarganya.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى
“Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (H.R. Tirmidzi, no. 3895)
Hal ini menekankan bahwa memberi waktu dan perhatian kepada keluarga merupakan bagian dari keutamaan dalam Islam. Maka komunikasi yang sehat antar keluarga menjadi benteng utama agar anak tidak mencari perhatian di luar rumah.
- Membuat Aturan dalam Penggunaan Gawai.
Waktu penggunaan gawat harus dibatasi. Ada waktu khusus tanpa gawai, misalnya saat makan bersama, saat ibadah, atau saat waktu berkualitas (quality time) keluarga. Hal ini berlaku tidak hanya untuk anak-anak, tetapi untuk seluruh anggota keluarga.
- Membiasakan Aktivitas Bersama.
Kegiatan atau aktivitas bersama yang intens dilakukan akan memperkuat ikatan emosional dalam keluarga, misalnya rihlah (perjalanan rekreasi) keluarga, tadabur alam, tilawah Al-Qur’an bersama, berbagi kisah sirah Nabi, ataupun makan bersama.
Dari Wahsyi bin Harb radhiyallahu ‘anhu, bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Rasulullah, kami makan tapi tidak merasa kenyang.” Beliau bersabda, “Mungkin kalian makan dengan berpencar?” Mereka menjawab: “Ya.” Beliau bersabda,
فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ، يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ
“Maka berkumpullah ketika kalian makan, dan sebutlah nama Allah atas makanan itu, niscaya kalian akan diberkahi di dalamnya.” (H.R. Abu Dawud dan Ibnu Majah. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Kebersamaan dalam makan bisa menjadi salah satu bentuk aktivitas keluarga (family time) yang mudah dilakukan.
Mewujudkan Keluarga Sakinah
Di antara tujuan berkeluarga adalah untuk mendapatkan keluarga yang samawa (sakinah, mawaddah wa raḥmah). Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. Ar-Rum : 21)
Inilah salah satu nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya baik laki-laki maupun wanita yaitu terjalinnya rasa kasih sayang, saling mencintai, dan memiliki diantara mereka dengan perantara pernikahan.
Berikut di antara langkah yang dapat dilakukan untuk mewujudkan keluarga sakinah:
- Menjadikan Tauhid dan Ibadah sebagai Pondasi.
Allah Ta’ala berfirman,
ٱلۡأَخِلَّآءُ يَوۡمَئِذِۭ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلۡمُتَّقِينَ
“Teman-teman akrab pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Az-Zukhruf : 67)
Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala menyebutkan bahwa hubungan keluarga, persaudaraan, maupun persahabatan yang dilandasi atas dasar ketakwaan akan tetap kekal sampai hari kebangkitan. Dan salah satu pondasi utama dari orang bertakwa adalah tauhid.
Tauhid adalah pondasi keimanan dan ketakwaan. Dengan tauhid, badai ujian rumah tangga akan mudah dilalui karena semua yang terjadi adalah atas takdir dari Allah. Maka rumah tangga tanpa didasari tauhid dapat diibaratkan bagai kapal pesiar yang megah, indah dilihat, tapi mudah karam.
- Kedua Orang Tua Saling Mengambil Peran.
Peran Ayah tidak sebatas mencari nafkah saja akan tetapi sebagai pemimpin, pendidik, pembimbing, dan teladan dalam keluarga. Kehilangan sosok ayah akan mengakibatkan keluarga salah arah, ibarat kapal yang kehilangan nakhoda akan terombang-ambing tanpa arah.
Allah Ta’ala berfirman,
ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (Q.S. An-Nisa’ : 34)
Peran ayah sebagai pemimpin bertanggung jawab atas pendidikan agama, membimbing keluarga, dan menafkahi keluarga.
Peran ibu sebagai madrasah pertama dalam pendidikan dan teladan dalam kasih sayang. Ibu memiliki peran begitu besar dalam menentukan masa depan anak-anaknya, yaitu peran dalam membentuk watak, karakter, dan pengetahuan seseorang. Maka, pentingnya menjadi ibu yang salihah yang mendidik anak-anaknya dengan landasan iman. Sehingga dia akan berpegang teguh pada agamanya.
Berawal dari orang tua yang baik, maka anak itu menjadi baik. Kolaborasi peran kedua orang tua dengan saling kerjasama akan menjadikan keluarga yang harmonis sehingga menuju sakinah, mawaddah wa raḥmah.
- Memperbanyak Doa kepada Allah Ta’ala.
Banyak di antara kita yang lupa bahwa senjata utama kaum muslimin adalah doa. Sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hakim dalam kitab Shahih-nya, Rasulullah shallallahu “alaihi wasallam bersabda,
الدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ
“Doa adalah senjata kaum mukmin dan merupakan tiang agama, serta cahaya langit dan bumi.”
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَا لَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَا جِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّا جْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَا مًا
“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”” (QS. Al-Furqan :74)
Maka, di samping ikhtiar yang dilakukan untuk mejadikan keluarga kita sakinah, mawaddah wa raḥmah, hendaknya kita juga memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala pada waktu yang mustajab—seperti di sepertiga malam terakhir, waktu antara azan dan ikamah, dan waktu-waktu mustajab lainya—agar dijadikan keluarga yang samawa.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah, keluarga adalah madrasah pertama. Jika kita salah mendidik anak di era digital ini, maka dampaknya tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Dengan komunikasi, pengawasan, kasih sayang, dan pondasi iman, insyaallah kita bisa mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Mari kita jadikan rumah tangga kita tempat tumbuhnya iman, pusat pendidikan akhlak, dan ladang amal saleh. Semoga bermanfaat, wallahu a’lam bish shawab.
Penulis: Faizal Hanafi, S.S. (Alumnus Ma’had Al-’llmi Yogyakarta)
Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B. I. S.
