EDISI 2221
—
Q.S. Luqman : 12
وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا لُقۡمَٰنَ ٱلۡحِكۡمَةَ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِلَّهِۚ وَمَن يَشۡكُرۡ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqmān, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
- Di antara nasihat terbaik yang diabadikan di dalam Al-Qur’an adalah nasihat Luqman kepada anaknya.
- Hikmah paling mulia yang diberikan Allah Ta’alakepada Luqman adalah rasa syukurnya kepada Allah.
- Wasiat Luqman menitikberatkan pada kemuliaan akhlak, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia.
- Wasiat Luqman ini membangun landasan yang agung dari pokok Pendidikan.
Para pembaca budiman yang semoga dirahmati Allah,
Mari sejenak bersama kita merenungi wejangan/nasihat dari seorang ahli hikmah. Nasihat yang pada saat itu beliau berikan kepada anaknya. Nasihat yang agung yang mengumpulkan berbagai macam manfaat. Allah Ta’ala telah mengabadikannya dalam Al-Qur’anul Karim. Bahkan, sebuah surat dalam Al-Qur’an dinamai dengan nama seorang laki-laki ahli hikmah tersebut, yaitu Luqman al-Hakim.
Siapakah Luqman al-Hakim ?
Luqman adalah laki-laki yang saleh. Mayoritas ulama mengatakan beliau bukanlah seorang nabi. Beliau berasal dari kota An-Nubah, sebelah selatan Mesir. Sungguh Allah telah memberikan kepadanya hikmah, yaitu berupa pemahaman yang baik, kesesuaian antara perkataan dan perbuatan, serta mengetahui kebenaran-kebenaran dari banyak hal.
Kehikmahan Luqman
Hikmah adalah pemberian agung yang Allah Ta’ala muliakan hamba-hamba-Nya dengan hal tersebut. Sebagaimana Allah berfirman,
يُؤۡتِي ٱلۡحِكۡمَةَ مَن يَشَآءُۚ وَمَن يُؤۡتَ ٱلۡحِكۡمَةَ فَقَدۡ أُوتِيَ خَيۡرٗا كَثِيرٗاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ
“Dia (Allah) memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberikan hikmah, maka sungguh dia telah diberikan kebaikan yang banyak. Serta tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal sehat.” (Q.S. Al-Baqarah : 269)
Di antara hikmah paling mulia yang diberikan Allah Ta’ala kepada Luqman adalah rasa syukurnya kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya dan pemberian-pemberian-Nya yang agung. Sesungguhnya puncak dari hikmah adalah bersyukur kepada Allah Ta’ala Yang Maha Pemberi dan mengunggulkan hamba-hamba-Nya. Allah telah menjelaskan bahwasanya faedah dari syukur kepada-Nya akan kembali kepada orang yang beryukur itu sendiri, bukan kepada Dzat yang ditujukan syukur tersebut (Allah Ta’ala).
Syukur seorang hamba tidaklah memberi manfaat kepada Allah, karena Dialah Dzat Yang Maha Kaya dari segala sesuatu. Tidaklah sedikitpun memberikan manfaat kepada-Nya ketaatan orang-orang yang taat, dan tidaklah sedikitpun memberikan mudarat/bahaya kepada-Nya maksiat orang-orang yang bermaksiat. Hanyalah hamba yang bersyukur kepada Allah yang akan mendapat manfaat dari syukurnya itu sendiri.
Dikarenakan termasuk sunnatullah, “Sesungguhnya nikmat-nikmat akan langgeng dan bertambah dengan disyukuri.” Sebagaimana firman-Nya,
وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا لُقۡمَٰنَ ٱلۡحِكۡمَةَ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِلَّهِۚ وَمَن يَشۡكُرۡ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦ
“Sungguh telah telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu ‘Bersyukurlah kepada Allah.’ Barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri…” (Q.S. Luqman : 12)
Adapun orang yang kufur/ingkar terhadap nikmat-nikmat Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya/tidak butuh akan hal tersebut. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
“…serta barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Q.S. Luqman: 12)
Pentingnya Pendidikan Anak di Atas Kemuliaan Akhlak
Dalam Surat Luqman, Allah Ta’ala kemudian menyebutkan wasiat/nasihat Luqman kepada anaknya. Hal ini mengandung pelajaran bahwasanya seorang ayah hendaknya perhatian dalam mendidik anak-anaknya. Hendaknya ia menasihati anak-anaknya untuk menaati Allah Ta’ala dan dengan perkara-perkara agama dan dunia yang bermanfaat bagi mereka. Oleh karena itu, sesungguhnya wasiat Luqman ini membangun landasan yang agung dari pokok pendidikan.
Sesungguhnya seorang ayah hendaknya dapat menanamkan keluhuran, kemuliaan, dan akhlak yang terpuji pada jiwa anak-anaknya. Hendaknya dia menanamkan pada jiwa mereka:
- Kecintaan kepada Allah Ta’ala.
- Kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- Kecintaan kepada salat lima waktu, mewasiatkan agar mereka menjaga salat, dan menjelaskan agungnya kedudukan salat dalam agama.
- Menanamkan kepada mereka ketakwaan kepada AllahTa’ala dan kandungan-kandungan yang terdapat di dalam takwa tersebut.
Para pembaca budiman yang semoga dirahmati Allah, berikut ringkasan sebagian wasiat Luqman kepada anaknya dalam Surat Luqman:
- Wasiat Pertama: Peringatan dari Kesyirikan
Wasiat pertama Luqman kepada anaknya adalah menunggalkan Allah Ta’ala dalam ibadah, mentauhidkan-Nya dan menjauhkan diri dari kesyirikan. Allah berfirman,
وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٌ
“(Ingatlah) Pada saat Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberikan pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku, janganlah engkau berbuat syirik (menyekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezaliman yang besar.” (Q.S. Luqman : 13)
Dikatakan bahwasanya putra beliau saat itu masih seorang yang musyrik, sehingga Luqman terus-menerus menasihatinya dan melarangnya dari kesyirikan, sampai putranya tersebut akhirnya beriman hanya kepada Allah Ta’ala.
Firman-Nya, “…Sesungguhnya syirik/menyekutukan Allah adalah kezaliman yang besar”, bahwa syirik kepada Allah adalah dosa yang paling besar, yang mana Allah dimaksiati dengannya. Hal ini merupakan kezaliman kepada hak-hak Allah Ta’ala dan juga termasuk kezaliman terhadap dirnya sendiri, karena ia telah mempersembahkan ibadahnya kepada selain Allah Ta’ala, walaupun hanya kecil/sedikit.
Sebagaimana hadis yang diriwayatkan dalam ash-shahihain, dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika turun firman Allah Ta’ala, ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk’ (Q.S. Al-An’am : 82), para sahabat Rasulullah merasa berat akan ayat tersebut, lalu mereka bertanya ‘Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami yang tidak pernah menzalimi dirinya sendiri?’. Kemudian Nabi menjawabnya, ‘Sesungguhnya maksud ayat tersebut bukanlah demikian. Apakah kalian tidak pernah mendengar perkataan Luqman, ‘Sesungguhnya kesyirikan (kepada Allah) itu adalah kezaliman yang besar’.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
- Wasiat Kedua : Berbuat Sebaik Mungkin kepada Kedua Orang Tua
Kemudian Allah berfirman,
وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ
“Kami telah memerintahkan kepada manusia (agar berbuat sebaik mungkin) kepada kedua orangtuanya…” (Q.S. Luqman : 14) Allah menggandengkan wasiat agar tidak menyekutukan-Nya dengan wasiat berbuat baik kepada orangtua.
حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ
“…Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah…” (Q.S. Luqman : 14), yaitu dalam keadan kelemahan yang semakin kuat. Wanita secara tabiat adalah seorang yang lemah, kemudian makin bertambah kelemahannya tersebut saat dia hamil, bertambah lagi rasa lemahnya ketika semakin panjang masa kehamilannya, lalu semakin bertambah kelemahannya saat memasuki masa melahirkan dan menyusui.
وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ
“…dan (Ibunya) menyapihnya pada usia dua tahun…” (Q.S. Luqman : 14), bahwa seorang Ibu menyusui anaknya selama 2 tahun setelah kelahirannya lalu menyapihnya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
۞ وَٱلۡوَٰلِدَٰتُ يُرۡضِعۡنَ أَوۡلَٰدَهُنَّ حَوۡلَيۡنِ كَامِلَيۡنِۖ لِمَنۡ أَرَادَ أَن يُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَ
“Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (Q.S. Al-Baqarah : 233)
Allah memfirmankan ayat-ayat tersebut untuk menjelaskan besarnya hak seorang ibu atas anaknya, karena seorang ibu telah mengandung anaknya, melahirkannya, dan menyusuinya. Demikian pula besarnya hak ayah atas anaknya. Seorang ayah telah berjasa mendidik dan menafkahi anaknya sampai besar. Meskipun demikian, hak seorang ibu tetaplah lebih besar dikarenakan rasa letih dan kesulitan yang dirasakannya lebih besar.
- Wasiat Ketiga : Menegakkan Salat Lima Waktu
Luqman kemudian mewasiatkan kepada anaknya untuk menegakkan shalat. Allah Ta’ala berfirman,
يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ
“(Luqman berkata:) Wahai anakku, tegakkanlah shalat…” (Q.S. Luqman : 17) Sesungguhnya salat lima waktu adalah tiang agama. Barangsiapa menjaganya, maka ia juga akan menjaga perkara-perkara selain salat. Demikian sebaliknya, barangsiapa yang menelantarkan salat, maka ia juga akan menelantarkan perkara-perkara lainnya.
- Wasiat Keempat : Menyeru kepada Kebaikan dan Melarang dari Kemungkaran, serta Bersabar di Dalamnya
Luqman melanjutkan wasiat kepada anaknya agar menyeru kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran/keburukan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ
“…serulah kepada kebaikan dan laranglah dari kemungkaran…” (Q.S. Luqman : 17)
Amar ma’ruf nahi munkar termasuk syiar Islam yang paling agung. Bahkan sebagian ahli ilmu mempermisalkannya bagaikan rukun keenam dari rukun-rukun Islam. Kemudian wasiat menyeru kepada kebaikan dan melarang dari kebaikan ini tak lupa butuh digandengkan dengan kesabaran, sebagaimana firman-Nya,
وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ
“…serulah kepada kebaikan dan laranglah dari kemungkaran, serta bersabarlah atas apa yang menimpamu…” (Q.S. Luqman : 17)
Demikianlah sebagian wasiat Luqman kepada anaknya yang Allah Ta’ala abadikan dalam Al-Qur’anul Karim. Wasiat-wasiat yang beliau berikan kepada anaknya kala itu tentunya juga merupakan wasiat bagi kita semua saat ini. Hendaklah kita dapat mengambil faedah dan manfaat dari wasiat-wasiat berharga tersebut.
Rujukan : “Wasiat-wasiat Luqman” karya Syaikh Sa’ad Al-Khatslan hafizhahullahu Ta’ala.
Penyusun: Abdurrahman Triadi Putro (Alumnus Ma’had Al-‘llmi Yogyakarta)
Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B. I. S.
