EDISI 2223
——
Q.S. Ali Imran : 140
وَتِلۡكَ ٱلۡأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيۡنَ ٱلنَّاسِ وَلِيَعۡلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَيَتَّخِذَ مِنكُمۡ شُهَدَآءَۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim.”
- Di dalam kehidupan dunia, kenikmatan dan ujian datang silih berganti.
- Seluruh hal tersebut merupakan bagian dari takdir Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya.
- Jiwa manusia lebih cenderung kepada kemaksiatan dibandingkan kepada ketaatan.
- Oleh karena itu, hendaknya seorang manusia dapat mengkondisikan jiwanya dan melawan jiwa yang buruk.
Begitulah kehidupan dunia, terkadang kita mendapat banyak kenikmatan, sehingga bukan main senangnya hati ini. Di waktu yang lain, ujian datang menimpa. Kita sedih, kecewa, terkadang juga merasa gagal. Barangkali, kesedihan kita itu datang karena hilangnya sesuatu atau kita belum berhasil mendapatkan suatu keinginan. Sampai tak jarang kita berpikir, “Kalau saja saya bisa mendapatkan kekayaan sekian dan sekian, atau berhasil memiliki barang ini dan itu, maka tentu saya akan bahagia terus di dunia ini dan hilanglah kesedihan.”
Padahal, nikmat dan musibah, rasa senang dan sedih, sejatinya adalah bagian dari dinamika kehidupan seorang anak Adam. Allah mempergilirkan keduanya kepada kita, sebagai bagian dari hakikat kehidupan, yakni ujian dari-Nya. Perasaan senang yang muncul ketika kita mendapatkan kenikmatan, di sana ada ujian, apakah kita bersyukur kepada Allah Ta’ala, tidak sombong, dan merasa berjasa atas nikmat yang didapat. Sebagaimana rasa sedih yang muncul ketika kita mendapatkan musibah, di sana juga ada ujian apakah kita mampu bersabar atas takdir yang Allah tetapkan. Begitulah kita pindah dari satu ujian ke ujian yang lain.
ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗا
“(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya…” (Q.S. Al-Mulk : 2)
Yang namanya ujian, tentu tidak selalu mudah adanya, bahkan wajar jika kebanyakan orang akan menganggapnya penuh kesulitan. Tiap kita pun paham bahwa siapa yang berhasil melewati ujian, maka akan ada ganjaran besar sesudahnya. Ujian kelulusan, misalnya, kita paham bahwa itu tidaklah mudah, tapi kita juga paham bahwa ada hikmah besar di baliknya. Ada kemenangan besar untuk mereka yang mampu mempersiapkan diri dengan baik.
Allah Menguji Manusia dengan Menjadikan Jiwanya Cenderung Suka kepada Maksiat
إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ
“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (Q.S. Yusuf : 53)
Di antara ujian yang kita hadapi, Allah menjadikan jiwa manusia itu cenderung suka kepada maksiat (kejahatan), sehingga tidak sembarang orang yang bisa melawan nafsunya dan menjauhi maksiat. Kalaulah sebaliknya, tentu tidak ada arti dari ujian tersebut, dan semua orang akan berhasil.
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.” (H.R. Muslim)
Sebagaimana juga dijelaskan dalam hadis di atas, untuk bisa meraih surga, maka kebanyakan perintah itu seakan-akan bertentangan dengan apa yang disukai oleh jiwa. Seandainya kita hanya mengandalkan akal dan kesenangan jiwa, tentu kita akan lebih memilih tidur sampai matahari terbit, daripada harus bangun di waktu subuh dan mengerjakan salat. Seandainya bisa memilih, tentu nafsu dan jiwa kita akan lebih suka makan dan minum daripada harus puasa siang hari di bulan Ramadan.
Sebaliknya dengan hal-hal yang menuju kepada neraka. Kita dapati bahwa berzina, tidak membayar zakat, korupsi, semuanya terkesan baik untuk nafsu kita semata. Seringkali berat bagi kita untuk meninggalkannya. Tetapi itulah bagian dari ujian yang jika kita berhasil melewatkannya, maka Allah janjikan kita untuk masuk ke surga-Nya.
وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ٤٠ فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ٤١
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Q.S. An-Nazi’at : 40-41)
Beratnya Mengkondisikan Jiwa
Kita sudah pahami bahwa melawan hawa nafsu dan mengendalikan jiwa bukanlah perkara yang mudah. Ini adalah target dari perjalanan panjang kehidupan kita. Betapa banyak dari kita mengira bahwa ketika kita sudah berhijrah atau bertobat, maka sudah otomatis baik hati kita. Mungkin begitu adanya, ketika ada di periode awal. Hati kita bergejolak penuh euforia, cinta dengan kebaikan, dan begitu benci dengan maksiat-maksiat yang pernah kita jalani dulu.
Akan tetapi, sejatinya naluri keburukan jiwa itu bisa saja datang kembali mengintai, sebagaimana orang saleh terdahulu pun butuh perjalanan yang panjang untuk betul-betul mengendalikan jiwa mereka.
“Aku telah tempa jiwaku selama empat puluh tahun hingga ia benar-benar istiqamah.” (Muhammad bin Munkadir)
Dinamika kehidupan kita memungkinkan kita untuk beramal saleh, lalu mungkin jatuh dalam kemaksiatan, dan bertobat. Itulah keniscayaan seorang muslim. Seorang muslim bukan berarti ia tidak pernah jatuh dan gagal mengondisikan jiwanya. Bahkan, sebaik-baik seorang anak Adam adalah yang banyak bertobat. Ini menunjukkan bahwa ia pernah melakukan maksiat sebelum bertobat itu sendiri.
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
“Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertobat.” (H.R. Tirmidzi)
Langkah Melawan Jiwa yang Buruk
- Menjadi Hamba Allah yang Ikhlas
Hal ini sebagaimana kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam ketika beliau digoda oleh wanita istri Raja Mesir. Disebutkan bahwa layaknya seorang manusia, Nabi Yusuf juga memiliki naluri syahwat yang memungkinkannya untuk terjatuh dalam godaan. Akan tetapi, Allah menyelamatkan beliau dengan menguatkan kesabaran beliau melawan syahwat karena beliau termasuk hamba yang ikhlas.
وَلَقَدۡ هَمَّتۡ بِهِۦۖ وَهَمَّ بِهَا لَوۡلَآ أَن رَّءَا بُرۡهَٰنَ رَبِّهِۦۚ كَذَٰلِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلۡفَحۡشَآءَۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِينَ
“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas.” (Q.S. Yusuf : 24)
Adapun di antara makna ikhlas adalah mengumpulkan keinginan kuat untuk beribadah kepada Allah dan ke negeri akhirat, dengan dibarengi sikap jujur dalam hal itu; karena hati tidak akan mampu terisi penuh dengan kecintaan pada dunia, menginginkannya, dan berorientasi kepadanya; mengharapkan negeri akhirat, dan keinginan kuat dengan hal itu di waktu yang sama. (Dr. ‘Ubaid bin Salim al-‘Amri)
- Mengisi Waktu dengan Kebaikan
Di antara perkara yang paling besar mudharatnya bagi seorang hamba adalah kekosongan waktunya, karena nafsu itu tidak mampu diam dengan kekosongannya. Bahkan, ketika ia tidak disibukkan dengan hal yang positif, maka manusia disibukkan dengan hal-hal yang membahayakannya.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya jiwa, bila tidak engkau sibukkan dengan kebenaran, maka ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan.”
- Menepis Lintasan Pikiran yang Buruk
Sebagaimana jiwa itu sering mengajak kepada keburukan, tugas kita adalah untuk segera menghentikannya agar ia tidak terus berlanjut dan membuat kita mengeksekusi ajakan keburukan tersebut. Sejatinya, kita tidak dihukum atas apa yang terlintas dalam pikiran kita semata, selagi tidak sampai kita lakukan.
إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ
“Sesungguhnya Allah memaafkan bagi umatku apa yang terlintas dalam diri mereka, selama mereka tidak melakukannya atau mengucapkannya.” (H.R. Bukhari)
- Berdoa Meminta Perlindungan Keburukan Jiwa
Di antara doa yang berkaitan dengan meminta perlindungan atas buruknya jiwa dan diri kita adalah sebagai berikut:
Allāhumma innī a‘ūdzu bika min syarri sam‘ī, wa min syarri baṣarī, wa min syarri lisānī, wa min syarri qalbī, wa min syarri maniyyī
(artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelakan pada pendengaranku, dari kejelakan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelakan pada mani atau kemaluanku) (H.R. An-Nasa’i)
Semoga Allah menjaga kita dari buruknya hawa nafsu kita.
Wallahu A’lam. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin.
Penulis: Rafi Naufal Al Mochtari Pohan (Alumnus Ma’had Al-’llmi Yogyakarta)
Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B. I. S.
