EDISI 2244
—
HR. Muslim
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Iman adalah kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.”
- Iman kepada takdir adalah prinsip mutlak yang harus dipahami melalui metode para sahabat dan generasi salaf demi menjaga kemurnian akidah dari pengaruh filsafat sesat.
- Pemahaman takdir menjadi mudah jika bersikap taslim(pasrah) terhadap empat pilar utama: ilmu Allah yang azali, pencatatan di Lauhulmahfuz (mencakup fase azali hingga harian), kehendak-Nya yang menyeluruh, dan kuasa-Nya sebagai Pencipta.
- Manusia memiliki kehendak dan pilihan dalam hidup, namun tetap berada di bawah kehendak Allah. Hindari penyimpangan Jabriyah yang merasa dipaksa dan Qadariyah yang mengingkari takdir.
- Takdir tidak boleh menjadi dalih untuk bermaksiat karena manusia dibekali akal untuk memilih jalan keselamatan; berdalih dengannya merupakan perilaku orang kafir.
- Buah mengimani takdir adalah ketenangan jiwa saat tertimpa musibah, rendah hati tanpa rasa ujub, serta senantiasa bertawakal kepada Allah.
Alhamdulillah, wassalatu wassalamu ‘ala Rasulillah.
Kaum muslimin sekalian, semoga Allah merahmati perjalanan hidup kita bersama. Bagi seorang muslim, iman kepada takdir merupakan prinsip yang tidak bisa diusik oleh siapa pun juga.
Suatu saat, Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mendengar laporan bahwa ada segolongan penduduk Bashrah (Irak) yang mengingkari takdir, maka beliau berkata, “Demi Zat yang Abdullah bin ‘Umar bersumpah dengan nama-Nya, seandainya salah seorang di antara mereka memiliki emas sebesar Gunung Uhud lalu dia infakkan, niscaya Allah tidak akan menerimanya sampai dia beriman terhadap takdir.” (H.R. Muslim)
Hal ini menunjukkan bahwa mengingkari takdir adalah kekafiran yang mengeluarkan dari agama.
Kembali kepada Pemahaman Sahabat
Dalam mengimani takdir, seorang muslim harus berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman para sahabat. Apabila tidak, maka yang terjadi adalah sebagaimana yang dialami oleh sebagian penduduk Bashrah yang dikisahkan dalam hadis di atas. Yahya bin Ya’mar, periwayat hadis tersebut, menceritakan, “Wahai Abu Abdirrahman (panggilan Ibnu Umar), sesungguhnya telah muncul di daerah kami orang-orang yang pandai membaca Al-Qur’an dan gemar mengumpulkan ilmu.” Lalu dia menyebutkan keadaan mereka, “Mereka menganggap bahwa takdir itu tidak ada, dan segala sesuatu terjadi secara tiba-tiba.” (H.R. Muslim)
Sekadar menghafal Al-Qur’an dan berwawasan luas tidaklah cukup tanpa landasan pemahaman para sahabat, khususnya dalam perkara pokok rukun iman. Mengingat penyimpangan akidah sudah ada sejak dahulu, tantangan zaman sekarang semakin berat akibat pengaruh racun filsafat dan pemikiran sesat. Oleh karena itu, mengikuti metode pemahaman generasi salaf menjadi keharusan untuk membentengi akal dan menjaga kemurnian iman dari kesesatan.
Memahami Takdir itu Mudah
Sesungguhnya dengan merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta pemahaman para sahabat, keimanan terhadap takdir akan dapat dimengerti dengan mudah. Sebaliknya, apabila manusia merusak akalnya dan ‘meracuninya’ dengan filsafat, maka takdir akan menjadi susah dipahami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya agama ini mudah. Tidak ada seorang pun yang berusaha untuk mempersulit diri kecuali dia pasti kalah.” (H.R. Bukhari)
Di antara prinsip penting yang harus kita yakini sebelum kita berbicara lebih jauh tentang hal ini adalah keharusan untuk taslim (pasrah) kepada dalil-dalil yang ada, tidak menentang ataupun menyelewengkannya. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ٣ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٌ يُوحَىٰ٤
“Tidaklah dia -Muhammad- itu berbicara dengan memperturutkan hawa nafsunya. Karena sesungguhnya apa yang disampaikannya itu hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (Q.S. An-Najm : 3-4)
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku beriman kepada Allah dan segala yang datang dari Allah sebagaimana yang diinginkan oleh Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan segala yang datang dari beliau sebagaimana yang diinginkan olehnya” (Disebutkan Ibnu Qudamah dalam Lum’atul I’tiqad).
Iman kepada takdir mencakup empat pilar: pertama, mengimani ilmu Allah yang azali atas segala sesuatu, termasuk pengetahuan tentang amal hamba sebelum dilakukan. Kedua, meyakini bahwa seluruh catatan takdir tersebut tertulis di Lauhulmahfuz. Ketiga, mengimani kehendak Allah yang menyeluruh serta kuasa-Nya yang mutlak. Keempat, meyakini Allah sebagai satu-satunya Pencipta yang mewujudkan makhluk.
Ilmu Allah Maha Luas
Ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Allah Ta’ala berfirman,
لِتَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدۡ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عِلۡمَۢا
“Agar kalian mengetahui bahwa Allah maha berkuasa untuk melakukan segala sesuatu, dan sesungguhnya ilmu Allah meliputi segala sesuatu.” (Q.S. At-Talaq : 12)
Allah mengetahui siapakah di antara hamba-Nya yang taat dan siapa yang bermaksiat. Allah juga mengetahui bagaimana akhir hidup mereka, di atas keimanan atau kekafiran. Allah mengetahui siapa di antara mereka yang akan menghuni surga dan siapa yang akan menghuni neraka.
Segalanya Telah Ditulis
Allah Ta’ala berfirman,
وَكُلَّ شَيۡءٍ أَحۡصَيۡنَٰهُ فِيٓ إِمَامٖ مُّبِينٖ
“Segala sesuatu telah Kami kumpulkan di dalam kitab yang jelas (lauhulmahfuz).” (Q.S. Yasin : 12)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah telah menulis takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi.” (H.R. Muslim)
Iman kepada pencatatan takdir mencakup lima fase: pertama, takdir azali yang ditulis sebelum penciptaan alam. Kedua, perjanjian tauhid umat manusia di alam ruh. Ketiga, takdir ‘umri yang menetapkan nasib serta ajal saat manusia berada dalam rahim. Keempat, penetapan takdir tahunan setiap Malam Qadar. Kelima, takdir yaumi (harian) sebagai wujud pelaksanaan ketetapan Allah atas hamba-Nya setiap hari secara terus-menerus.
Takdir harian merupakan rincian dari takdir tahunan. Takdir tahunan merupakan rincian dari takdir ‘umri. Takdir ‘umri merupakan rincian dari takdir yang ditetapkan ketika Allah mengambil perjanjian dengan anak cucu Adam. Adapun takdir yang ditetapkan ketika pengambilan perjanjian dengan anak cucu Adam merupakan rincian dari takdir yang ada di Lauhulmahfuzh (Diringkas dari Al Mukhtashar fi ‘Aqidati Ahli Sunnati fi Al-Qadar, Syaikh Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili).
Kehendak Allah Meliputi Segala Sesuatu
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَآ أَمۡرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيۡـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ٨٢
“Sesungguhnya perintah Allah apabila Dia menginginkan sesuatu maka dia cukup dengan mengatakan, ‘jadilah’ maka hal itu akan terjadi.” (Q.S. Yasin: 82)
Allah Pencipta Segala Sesuatu
Allah Ta’ala berfirman,
ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ وَكِيلٌ٦٢
“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia Maha pemelihara atas segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar : 62)
Apakah manusia dipaksa?
Setiap orang yang berakal tentu menyadari bahwa dirinya memiliki kehendak dan kemampuan yang dengan keduanya dia melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dia bisa membedakan antara sesuatu yang terjadi dengan keinginannya seperti berjalan, dengan sesuatu yang terjadi di luar keinginannya seperti contohnya terpeleset di saat berjalan. Namun perlu kita ingat pula kehendak hamba juga tidak mungkin terlepas dari kehendak dan kemampuan Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman,
فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ مَـَٔابًا
“Maka barang siapa yang ingin, niscaya dia akan mengambil jalan kembali menuju Rabbnya.” (Q.S. An-Naba’ : 39) Dalil ini dengan jelas menunjukkan bahwa manusia memiliki kehendak dan pilihan dalam menjalani kehidupan.
Kehendak manusia tidak terlepas dari kehendak Allah Ta’ala. Dalam persoalan ini terdapat dua kelompok yang menyimpang, yaitu Jabriyah yang menafikan pilihan manusia, dan Qadariyah yang menolak adanya takdir. Keduanya bertentangan dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Takdir sebagai Dalih untuk Berbuat Maksiat?
Sebagian orang yang terjerumus dalam kemaksiatan kerap mencari pembenaran dengan berdalih kepada takdir, seolah-olah mereka tidak memiliki pilihan dalam perbuatannya. Padahal, manusia telah dianugerahi akal untuk membedakan antara yang benar dan yang salah. Sebagaimana seseorang yang dihadapkan pada dua jalan—keselamatan dan kebinasaan—maka yang berakal tentu akan memilih keselamatan. Sungguh mengherankan apabila dalam urusan dunia mereka mampu menentukan pilihan terbaik, namun dalam perkara agama justru menyandarkan kesalahan pada takdir. Oleh karena itu, takdir tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan perbuatan maksiat yang dilakukan secara sadar (Lihat Nubdzat fi Al ‘Aqidah, Syaikh Ibnu Utsaimin).
Sesungguhnya berdalih dengan takdir untuk membenarkan maksiat merupakan kebiasaan orang-orang kafir. Allah Ta’ala berfirman,
سَيَقُولُ ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْ لَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَآ أَشۡرَكۡنَا وَلَآ ءَابَآؤُنَا وَلَا حَرَّمۡنَا مِن شَيۡءٖۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ حَتَّىٰ ذَاقُواْ بَأۡسَنَاۗ قُلۡ هَلۡ عِندَكُم مِّنۡ عِلۡمٖ فَتُخۡرِجُوهُ لَنَآۖ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَخۡرُصُونَ
“Orang-orang yang berbuat kesyirikan itu akan mengatakan, ‘Seandainya Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan melakukan kesyirikan. Demikian pula bapak-bapak kami. Dan kami juga tidak akan mengharamkan apa pun’. Demikian itulah perilaku orang-orang sebelum mereka yang mendustakan—kebenaran—, sampai akhirnya mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah—kepada mereka—, ‘Apakah kalian memiliki ilmu sehingga hal itu bisa kalian keluarkan kepada kami?’. Sesungguhnya kalian hanya mengikuti persangkaan semata. Dan kalian tidak melakukan apa-apa selain hanya menduga-duga.” (Q.S. Al-An’am : 148)
Kalau seandainya alasan mereka itu diterima oleh Allah niscaya Allah tidak akan menimpakan siksaan itu kepada mereka.
Buah Iman kepada Takdir
Seorang yang beriman kepada takdir, maka dia akan senantiasa bersandar kepada Allah dalam berusaha dan bertawakal kepada-Nya. Dia tidak akan merasa ujub dengan dirinya, sebab dia tidak akan berhasil mendapatkan kebaikan kecuali dengan nikmat dari-Nya. Dia juga akan merasakan ketenangan jiwa dan pasrah terhadap musibah yang Allah tetapkan menimpanya. Akhirnya kita memohon, semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk tetap istikamah di atas jalan-Nya hingga ajal tiba. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Penulis : Ari Wahyudi, S.S. (Alumni Ma’had Al ‘llmi Yogyakarta)
Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S.
