EDISI 2220
——-
Q.S. Al-Ahzab : 21
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا
“Sungguh ada untuk kalian teladan yang baik di dalam diri Rasulullah, bagi siapa saja yang berharap kepada Allah dan hari akhir, dan banyak mengingat Allah.”
- Akhlak mulia ada dua macam, akhlak mulia kepada Allah dan akhlak mulia kepada manusia.
- Akhlak mulia pada seorang manusia ada yang merupakan bawaan dan karunia dari Allah dan ada yang bisa diusahakan.
- Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan teladan dalam akhlak yang mulia.
- Meningkatnya kualitas akhlak seseorang akan meningkatkan kualitas keimanannya.
Pembaca rahimakumullah,
berbicara tentang akhlak mulia, ada dua macam akhlak yang patut kita ketahui. Karena dua macam ini harus terkumpul dalam diri seorang muslim, jika ingin memiliki akhlak yang mulia. Jika hanya salah satu saja, maka belumlah ia dikatakan berakhlak mulia.
- Akhlak Mulia kepada Allah
Di antara contoh akhlak kepada Allah:
- Rida dengan syariat Allah, mengerjakannya dengan hati yang lapang, dan tidak merasa
- Rida dengan takdir, menerimanya, dan
- Mengekspresikan keridaandengan hati dan
- AkhlakMulia kepada Makhluk
وَرَوَى التِّرْمِذِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي تَفْسِيرِ حُسْنِ الْخُلُقِ، قَالَ: «هُوَ طَلَاقَةُ الْوَجْهِ، وَبَذْلُ الْمَعْرُوفِ، وَكَفُّ الْأَذَى«
Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, dari Abdullah bin Mubarak, ketika beliau menjelaskan apa itu akhlak yang mulia, beliau menyebutkan 3 kriteria:
- Wajah yang ceria: Tidak bermuka masam ketika bertemu.
- Menolongorang
- Tidak mengganggu orang lain: Baik dengan lisan maupun
Pembaca rahimakumullah, ada pula dua macam akhlak berdasarkan bagaimana seseorang mendapatkannya:
- Jibillī (Bawaan Lahir)
Akhlak ini memang sudah karunia dan takdir dari Allah, sudah melekat sejak lahir (seperti ungkapan Jawa “Gawan Bayi”).
Dalilnya: Dari sahabat Ibnu Abbas, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Asyaj Abdil Qois,
إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ: الْحِلْمُ، وَالْأَنَاةُ
“Di dalam dirimu, terdapat 2 hal yang Allah cintai, yaitu sifat hilm (santun) dan al-anaah (tenang, tidak tergesa-gesa).” (H.R. Muslim)
Hadis di atas menunjukkan bahwa Asyaj sudah Allah takdirkan punya dua sifat tersebut, dan itu melekat dalam diri beliau.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَخْلَاقَكُمْ، كَمَا قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ
“Sesungguhnya Allah membagi jatah akhlak di antara kalian, sebagaimana Allah membagi jatah rejeki kepada kalian.” (H.R. Ahmad)
Dalil di atas menunjukkan bahwa memang ada akhlak yang sudah Allah takdirkan dan berikan sejak lahir.
- Muktasab (Diusahakan)
Macam yang kedua ini pada mulanya tidak dimiliki, namun ia berusaha untuk mendapatkan akhlak tersebut. Orang yang demikian, termasuk dalam hadis berikut,
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
“Aku menjamin sebuah rumah di surga yang paling tinggi kepada siapa saja yang mau membaguskan (memperbaiki) akhlaknya.” (H.R. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Oleh karenanya, hendaknya kita banyak-banyak berdoa, agar diberikan akhlak yang mulia. Di antaranya adalah doa berikut:
اللَّهُمَّ أَحْسَنْتَ خَلْقِي، فَأَحْسِنْ خُلُقِي
Allāhumma aḥsanta khalqiy, fa aḥsin khuluqiy
“Ya Allah, sebagaimana Engkau menciptakanku dengan baik, maka perbaikilah akhlakku.” (H.R. Ahmad)
Hendaknya kita juga banyak berdoa, agar dijauhkan dari akhlak yang buruk. Sebagaimana doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ
Allāhumma innī a’ūżu bika min munkarāti al-akhlāq
“Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau dari akhlak yang jelek.” (H.R. At-Tirmidzi)
Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan akhlak yang mulia? Berikut tipsnya:
- Berusahamemperbaiki
- Berusahauntuk mengamalkan ilmu yang sudah
- Mengetahuikeutamaan berakhlak
- Mengetahuiakhlak yang buruk agar mampu
- Berdoaagar diberikan akhlak yang mulia dan dijauhkan dari akhlak yang
Jadikan Nabi Sebagai Teladan
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ
“Sungguh di dalam dirimu terdapat akhlak yang luhur.” (Q.S. Al-Qalam : 4)
Artinya, tidak ada orang yang semisal dengan akhlaknya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ayat ini juga menjelaskan akan tingginya kedudukan akhlak di mata Islam, juga sebagai isyarat kepada kita, umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar mencontoh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan cara berusaha semaksimal mungkin untuk berakhlak mulia.
Allah Ta’ala juga berfirman,
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا
“Sungguh ada untuk kalian teladan yang baik di dalam diri Rasulullah, bagi siapa saja yang berharap kepada Allah dan hari akhir, dan banyak mengingat Allah.” (Q.S. Al-Ahzab : 21)
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا
“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam manusia yang paling baik akhlaknya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Contoh Akhlak Mulia Nabi dalam Keseharian
- Membantu Pekerjaan Keluarganya
عَنِ الْأَسْوَدِ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ: مَا كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَصْنَعُ فِي أَهْلِهِ؟ قَالَتْ: كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ
Dari al-Aswad beliau berkata, “Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah, perihal apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan ketika berada di tengah-tengah keluarganya?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau membantu pekerjaan keluarganya, ketika waktu salat tiba, beliau segera berangkat untuk mengerjakan salat.” (H.R. Al-Bukhari)
Inilah akhlak yang mulia, seorang suami membantu pekerjaan istrinya, dan ini termasuk sebaik-baik manusia.
Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
خيرُكُم خيرُكم لِأهْلِهِ، وَأَنَا خيرُكم لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku yang paling baik kepada keluargaku.” (H.R. At-Tirmidzi)
- Mencandai Temannya
قالوا: يا رسولَ اللَّهِ! إنَّكَ تداعِبُنا؟! قالَ: إنِّي لا أقولُ إلَّا حقًّا
Para Sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau juga bercanda dengan kami.” Rasulullah mengatakan, “Sungguh aku tidaklah berkata kecuali kebenaran.” (H.R. At-Tirmidzi dan Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad)
Hadis ini menunjukkan bolehnya bercanda, namun tidak boleh ada dusta dalam candaan.
- Mengucapkan Salampada Anak-Anak
عن أنس رضي الله عنه، أنَّهُ مَرَّ علَى صِبْيَانٍ فَسَلَّمَ عليهم وقالَ: كانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَفْعَلُهُ
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau melewati anak-anak, beliau mengucapkan salam. Anas mengatakan, “Itulah kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam .” (Muttafaqun ‘alaih)
- Berbuat Baik pada Pembantu Dari Anas bin Malik,
لَقَدْ خَدَمْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي قَطُّ أُفٍّ، وَلَا قَالَ لِشَيْءٍ فَعَلْتُهُ: لِمَ فَعَلْتَهُ؟ وَلَا لِشَيْءٍ لَمْ أَفْعَلْهُ: أَلَا فَعَلْتَ كذا
“Sungguh aku telah melayani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selama 10 tahun. Beliau tidak pernah berucap ‘uff’ sekalipun kepadaku. Tidak pula berkomentar ketika aku melakukan sesuatu dengan mengatakan ‘Kenapa engkau melakukan itu?’ Tidak pula berkomentar ketika aku tidak melakukan sesuatu dengan mengatakan ‘Kenapa engkau tidak melakukan itu?’” (Muttafaqun ‘alaih)
Lihatlah akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia ini. Adakah di antara kita yang tidak pernah berucap jelek kepada pembantu?
Penutup
Hendaknya kita berusaha untuk menghiasi diri dengan akhlak yang mulia. Dan hendaknya kita mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berakhlak mulia. Karena itulah tujuan Nabi diutus.
Sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (H.R. Ahmad dan Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad)
Dan sebagaimana yang kita bahas, akhlak yang mulia itu mencakup dua hal, yaitu akhlak kepada Allah dan akhlak kepada sesama makhluk. Tidaklah dikatakan berakhlak mulia jika belum mengamalkan keduanya.
Akhlak juga berkaitan dengan iman. Semakin tinggi iman seseorang, maka sudah seharusnya semakin menjadi manusia yang berakhlak mulia.
Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أكملُ المؤمنين إيمانًا أحسنُهم خُلقًا
“Mukmin yang paling sempurna imannya, adalah yang paling bagus akhlaknya.” (H.R. At-Tirmidzi)
Semoga Allah hiasi diri kita dengan akhlak yang mulia, dan menjauhkan kita dari akhlak yang tercela.
Penulis: Wiwit Hardi P. (Alumnus Ma’had Al ‘llmi Yogyakarta)
Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B. I. S.
