Pelajaran Keimanan Dari Keluarga Ibrahim


2247

—–

Q.S. At-Tahrim : 6

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga-keluarga kalian dari api neraka.”  

  • Keluarga merupakan pondasi sakral pembentuk akidah dan akhlak yang idealnya dibangun melalui ikhtiar mempelajari tuntunan agama dari Al-Qur’an dan Sunnah.
  • Nabi Ibrahim menjadi pionir keimanan sekaligus teladan abadi karena berhasil melewati berbagai ujian berat dan mewariskan nilai ketauhidan kepada keturunannya.
  • Ibrahim aktif menjaga iman keluarga dengan memberikan nasihat agar istiqamah dalam Islam, mendoakan keteguhan ibadah, serta melibatkan mereka langsung dalam amal saleh.
  • Kualitas iman keluarga ini teruji nyata melalui kesetiaan Sarah, ketawakalan Hajar di gurun tandus, serta keridaan Ismail saat menghadapi perintah penyembelihan.
  • Menjaga iman anggota keluarga adalah amanah kepemimpinan yang akan dipertanggungjawabkan, sekaligus syarat utama untuk bisa berkumpul kembali di surga kelak.

 

Ali radhiyallahu ‘anhu menjelaskan ayat di atas, “Ajari dan disiplinkan mereka (dalam beragama) dengan baik” (Tafsir At-Thabari, 28/165-166).

Sudah menjadi sebuah keharusan bagi keluarga ideal untuk dibangun atas landasan keimanan. Di antara bentuk ikhtiarnya adalah mempelajari agama dari sumbernya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Allah Ta’ala memberikan pengajaran yang banyak dalam kisah-kisah umat terdahulu. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدۡ كَانَ فِي قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةٞ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِۗ مَا كَانَ حَدِيثٗا يُفۡتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصۡدِيقَ ٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَتَفۡصِيلَ كُلِّ شَيۡءٖ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ١

Sungguh, pada kisah mereka benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat. (Al-Qur’an) Bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan merupakan pembenar (kitab-kitab) yang sebelumnya, memerinci segala sesuatu, sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Q.S. Yusuf : 111)

Kisah umat terdahulu dalam ayat ini merupakan pelajaran bagi orang-orang berakal serta petunjuk dan rahmat bagi kaum beriman, sekaligus menegaskan kewajiban setiap muslim untuk menuntut ilmu.

Keluarga Ibrahim sebagai Pemimpin dan Pewaris Keimanan

Allah menjadikan keluarga Nabi Ibrahim alaihissalam sebagai keluarga yang penuh pembelajaran serta suri teladan. Allah Ta’ala berfirman,

قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya.” (Q.S. Al-Mumtahanah : 4)

Keimanan pada zaman Nabi Ibrahim adalah sebuah nikmat yang langka. Nabi Ibrahim dan keluarga utamanya adalah pionir keimanan pada kala itu. Sedikitnya orang-orang yang beriman kala itu tidak menjadikan Ibrahim dan keluarganya gentar menyuarakan kebenaran. Allahlah yang menjadikan Ibrahim memiliki keluarga yang baik, yang bisa diambil keteladanan darinya. Allah berfirman,

۞ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰٓ ءَادَمَ وَنُوحٗا وَءَالَ إِبۡرَٰهِيمَ وَءَالَ عِمۡرَٰنَ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ

“Sesungguhnya Allah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran di atas seluruh umat.” (Q.S. Ali Imran : 33)

Imam Al-Baghawi menyebutkan bahwa dari keturunan Ibrahimlah para nabi alaihimussalam akan lahir, seperti Ismail, Ishak, Yakub, dan para keturunan Yakub, serta Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga termasuk keturunan Ibrahim (Tafsir Al-Baghawi, 1/431).

Karena keberhasilannya melewati ujian dari Allah, Allah menjadikan Ibrahim dan keturunannya yang beriman kepada-Nya sebagai pemimpin-pemimpin kebaikan di muka bumi.

وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِـۧمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٖ فَأَتَمَّهُنَّۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامٗاۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِيۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِي ٱلظَّٰلِمِينَ

“(Ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu ia melaksanakannya dengan sempurna. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, ‘Dan (apakah kepemimpinan itu juga berlaku) bagi anak cucuku?’ Allah berfirman, ‘Janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim. (Q.S. Al-Baqarah : 124)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa berkat kesabaran dan ketaatan Nabi Ibrahim dalam menghadapi berbagai ujian, Allah mengangkatnya menjadi pemimpin umat manusia serta menjanjikan kedudukan tersebut bagi keturunannya yang saleh, namun mengecualikan mereka yang bertindak zalim. Allah berfirman,

وَجَعَلۡنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ ٱلنُّبُوَّةَ وَٱلۡكِتَٰبَ

“Kami berikan keturunan Ibrahim kenabian dan juga kitab.” (Q.S. Al-’Ankabut : 27)

Beliau meneruskan penjelasannya, maka setiap nabi yang Allah utus dan setiap kitab yang Allah turunkan setelah Ibrahim ada pada keluarga Ibrahim (Tafsir Ibnu Katsir, 2/55).

Usaha Ibrahim dalam Menjaga Keimanan Keluarganya

Keutamaan keluarga Nabi Ibrahim juga merupakan hasil yang Allah berikan dari usaha Ibrahim dalam menjaga keimanan keluarganya. Nabi Ibrahim senantiasa menjaga keimanan keluarganya dengan menasihati, menjaga, mendoakan, serta menyertakan mereka dalam beribadah kepada Allah. Nabi Ibrahim menasihati keluarganya untuk menyembah Allah dan senantiasa memeluk agama yang Allah turunkan. Allah Ta`ala berfirman,

وَوَصَّىٰ بِهَآ إِبۡرَٰهِـۧمُ بَنِيهِ وَيَعۡقُوبُ يَٰبَنِيَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ

“Ibrahim menasihati anak-anaknya dan juga Yakub dengan keislaman, ‘Wahai anakku sesungguhnya Allah telah memilih untuk kalian agama Islam maka jangan kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.’ (Q.S. Al-Baqarah : 132)

Ibrahim senantiasa melindungi keluarganya dari segala keburukan serta terus menjaga kualitas hidup mereka. Dalam hadis yang panjang dikisahkan Ibrahim sesekali mengunjungi kediaman Ismail, namun Ismail tidak ada dan disambut oleh istrinya. Ibrahim pun bertanya kepada istri Ismail tentang kehidupannya. Istrinya mengeluhkan keadaannya. Sebelum kepulangannya, Ibrahim menitip pesan kepada Ismail, يُغَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِهِ “agar dia mengganti pijakan pintu rumah”. Ketika Ismail pulang maka istrinya menyampaikan pesannya kemudian Ismail berkata,

ذَاكَ أَبِي، وَقَدْ أَمَرَنِي أَنْ أُفَارِقَكِ، الْحَقِي بِأَهْلِكِ

“Itu adalah ayahku. Ia memerintahkanku untuk menceraikanmu. Pulanglah kamu ke keluargamu. (H.R. Bukhari)

Ibrahim juga mendoakan keluarganya agar senantiasa mengesakan Allah. Allah berfirman,

وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ

Jauhkan (ya Allah) aku dan anakku dari menyembah patung” (Q.S. Ibrahim : 35)

Ibrahim juga berdoa agar dirinya dan keluarganya senantiasa beribadah kepada-Nya. Allah berfirman,

رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي

“Ya Rabb-ku jadikan aku dan keluargaku orang-orang yang (senantiasa) mendirikan salat.(Q.S. Ibrahim : 40)

Ibrahim juga mengikutsertakan keluarganya untuk beribadah kepada Allah dan memohon agar amal perbuatannya diterima,

وَإِذۡ يَرۡفَعُ إِبۡرَٰهِـۧمُ ٱلۡقَوَاعِدَ مِنَ ٱلۡبَيۡتِ وَإِسۡمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّا

“(Ingatlah) ketika Ibrahim dan Ismail mengangkat fondasi-fondasi Baitullah (Kakbah) (kemudian berkata), ‘Ya Rabb-ku terimalah ini dari kami.’” (Q.S. Al-Baqarah : 127)

Kualitas Keimanan Keluarga Ibrahim

Ibrahim senantiasa berusaha dan berdoa agar keluarganya selalu dalam ketaatan kepada Allah, sehingga Allah kabulkan hal tersebut dan Allah berikan kepadanya keluarga yang harmoni yang berlandaskan keimanan dan keluasan rezeki di dunia. Allah berfirman,

وَوَهَبۡنَا لَهُم مِّن رَّحۡمَتِنَا وَجَعَلۡنَا لَهُمۡ لِسَانَ صِدۡقٍ عَلِيّٗا

“Kami berikan kepada mereka (apa yang mereka minta) atas rahmat dari Kita dan Kami jadikan bagi mereka lisan yang jujur.” (Q.S. Maryam : 50)

As-Sa’di menjelaskan,

“Firman-Nya ‘وَوَهَبْنَا لَهُم’ ‘Kami anugerahkan kepada mereka’ yaitu Ibrahim dan kedua putranya. Adapun Firman-Nya ‘مِنْ رَحْمَتِنَا’ ‘Sebagian dari rahmat Kami’ yaitu rahmat yang mencakup segala karunia yang Allah limpahkan kepada mereka, berupa ilmu yang bermanfaat, amal-amal saleh, serta keturunan yang banyak dan tersebar luas, di mana dari keturunan itu lahir banyak nabi dan orang-orang saleh” (Tafsir As-Sa`di hal.494).

Allah Ta`ala memberikan bagi Nabi Ibrahim keluarga yang saleh dan patuh kepada Allah.

Sarah merupakan satu-satunya wanita beriman yang dengan penuh kesetiaan mendampingi perjalanan Nabi Ibrahim, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis. Ketika ada raja zalim yang menginginkan Sarah, Ibrahim berkata kepada sarah,

يا سَارَةُ، ليسَ علَى وجْهِ الأرْضِ مُؤْمِنٌ غيرِي وغَيْرَكِ، وإنَّ هذا سَأَلَنِي فأخْبَرْتُهُ أنَّكِ أُخْتِي

“Wahai Sarah sesungguhnya tidak ada di bumi ini yang beriman kecuali diriku dan dirimu, maka ketika raja jahat itu bertanya kepadaku, aku akan menjawab ‘Kamu adalah saudariku.’” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Allah juga memberikannya Hajar. Ketika Hajar baru saja dikaruniai seorang anak, Ismail, Allah memerintahkan Ibrahim untuk meninggalkannya di padang pasir tandus (nantinya akan menjadi Mekah). Kemudian Hajar bertanya, “يا إبْرَاهِيمُ إلى مَن تَتْرُكُنَا”  “Wahai Ibrahim untuk siapa kamu meninggalkan kita?” Ibrahim menjawab “إلى اللَّهِ”  “Untuk Allah”. Hajar berkata, “رَضِيتُ باللَّهِ” “Aku rida kepada Allah”. Ibrahim pun meninggalkannya, ia pun menerima dengan lapang dada. Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari.

Allah memberikan Ismail sebagai anak yang berbakti kepada Allah dan orang tuanya. Ketika Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ismail, Ismail menerima dengan lapang dada,

قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Ismail berkata, ‘Wahai ayahku lakukanlah, kamu akan menemukanku termasuk orang-orang yang berlapang dada.’” (Q.S. As-Shaffat : 102)

Keutamaan Menjaga Keimanan Keluarga dalam Islam

Menjaga keimanan keluarga merupakan ibadah besar yang memiliki keutamaan agung di sisi Allah dan menjadi sebab keselamatan di dunia serta akhirat. Oleh karena itu, keluarga adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis ini, Nabi menegaskan bahwa seorang ayah dan ibu adalah pemimpin dalam keluarganya, dan keimanan anggota keluarga termasuk tanggung jawab terbesar yang akan dihisab. Oleh karena itu, menjaga keluarga dari penyimpangan akidah, kelalaian ibadah, dan kerusakan moral termasuk bentuk jihad dan amal saleh yang paling utama.

Allah juga menjanjikan keutamaan besar bagi keluarga yang saling menjaga iman. Allah Ta‘ala berfirman,

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡهُمۡ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ

“Orang-orang yang beriman dan diikuti oleh keturunan mereka dalam keimanan, Kami akan kumpulkan keturunan mereka bersama mereka. (Q.S. Ath-Thur : 21)

Kisah keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengajarkan kepada kita bahwa kekuatan keluarga tidak diukur dari harta, kedudukan, atau kenyamanan hidup, tetapi dari sejauh mana iman dijadikan sebagai fondasi utama. Ibrahim menjaga keluarganya dengan tauhid, doa, nasihat, dan keteladanan. Istri-istrinya menguatkan rumah dengan tawakal dan kesabaran. Anak-anaknya tumbuh dalam ketaatan dan pengorbanan karena iman yang hidup di dalam rumah mereka.

 

Penulis: Muhammad Insan Fathin, S.Si.

Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *