EDISI 2228
——
Q.S. Al-‘Ashr : 1-3
وَٱلۡعَصۡرِ١ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ٣
“Demi masa (1), sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian (2), kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran (3).”
- Di antara salah satu yang menjadi penentu sebuah modal kehidupan manusia, yang mengatur roda jalan hidup manusia, adalah waktu.
- Waktu merupakan halyang harus menjadi tonggak penting bagi manusia, dengannya seseorang akan lebih mengetahui, apakah dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung atau merugi.
- Bahkan, Allah Ta’alabanyak menyatakan sumpah-Nya terhadap waktu di dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
- Hal ini menunjukkan bahwa hal tersebut mengandung sesuatu yang sangat penting bagi manusia.
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di mengatakan dalam kitab tafsirnya: Allah Ta’ala bersumpah atas waktu asar karena pada waktu tersebut merupakan poros kegiatan yang seorang manusia banyak terlena atau merugi di waktu tersebut. Faktor merugi itu terbagi ke dalam beberapa jenis. Pertama: terkadang manusia merugi secara mutlak, baik di dunia maupun di akhirat. Kedua: terkadang manusia merugi dalam satu sisi saja.
Keistimewaan Seseorang yang Bijak dalam Memanfaatkan Waktu
Allah Ta’ala menggunakan diksi yang umum terhadap istilah merugi dalam ayat di atas. Kecuali orang orang yang termasuk ke dalam empat sifat golongan di bawah:
- Orang yang beriman terhadap apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah larang.
- Orang yang mengamalkan keimanan tersebut dengan mengamalkan apa yang telah diwajibkan oleh-Nya.
- Orang yang senantiasa menasihati dalam kebaikan, yaitu dengan saling mengingatkan dan memotivasi untuk senantiasa istiqamah terhadap iman dan amal.
- Orang yang senantiasa menasihati dalam kesabaran, yaitu bersabar dalam taat, menjauhi maksiat, dan terhadap takdir yang menimpanya.
Jika empat hal tersebut ada dalam diri seseorang, maka dirinya telah selamat dan dijauhkan dari sebuah kerugian dan akan meraih sebuah kemenangan dan keberuntungan yang besar (Tafsir As-Sa’di hal. 934).
Al-Imam Asy-Syafi’i juga menjelaskan tentang keistimewaan yang luar biasa bagi seseorang yang dapat menerapkan ayat yang terkandung di dalam Surah Al-‘Ashr, beliau mengatakan,
“Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah (dalil atau bukti) bagi makhluk-Nya selain surat ini (yaitu Surah Al-‘Ashr), niscaya itu sudah cukup bagi mereka.”
Maksudnya adalah, jika seseorang berpegang teguh terhadap ayat ini, sudah cukup dikatakan baginya sebagai seseorang yang meraih kesempurnaan Islam.
Ibnu Rajab juga mengatakan dalam kitabnya, sebagai penguat atas penjelasan yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i tentang Surah Al-‘Ashr, beliau mengatakan,
“Surah ini adalah timbangan bagi amal perbuatan. Seorang mukmin menimbang dirinya dengan surah ini, sehingga ia dapat mengetahui darinya apakah ia termasuk orang yang beruntung atau merugi” (Lathaiful Ma’arif hal. 522).
Dengan demikian, seseorang harus bijak dalam memanfaatkan waktunya. Umur yang Allah Ta’ala berikan adalah amanah terbesar yang harus ditunaikan dengan baik. Berlalunya hari, pekan, bahkan tahun menjadi ajang bagi seseorang untuk terus beristi’anah, bermuhasabah dan muraqabah.
Kiat-Kiat agar Seseorang Produktif di dalam Waktunya
Lantas, bagaimana tips memanfaatkan waktu yang menjadi momentum kehidupan ini agar menjadi manusia yang berkualitas dan beruntung?
Yaitu dengan terus Isti’anah, Muhasabah, dan Muraqabah. Tiga hal tersebut yang seyogianya menjadi acuan kehidupan seseorang dalam kehidupannya serta mengingat bertambahnya tahun, umur kita semakin berkurang dan amalan kita belum cukup untuk menghadap Allah Ta’ala.
Maka di antara penjelasan dari kiat-kiat di atas, yaitu:
1. Al-Isti’anah(Meminta Pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala)
Makna dari Isti’anah adalah: Meminta atau memohon pertolongan dengan penuh ketundukan dan ketaatan kepada Allah (Taisirul Wushul Syarh Tsalatsatil Ushul hal. 171).
Dalil dari Isti’anah adalah firman Allah Ta’ala,
إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (Q.S. Al-Fatihah : 5)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam sebuah hadis sahihnya, tatkala sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma memberikan tarbiyah (pendidikan) kepada seorang anak kecil di saat dirinya menunggangi sebuah tunggangan bersamanya, beliau berkata kepada anak kecil tersebut,
إذا استعنتَ، فاستعن بالله
“Maka, ketika engkau ingin meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.” (H.R. Tirmidzi, dan berkata bahwa hadis ini hasan sahih)
Bentuk Isti’anah yang Diperbolehkan
Tidak mengapa kita meminta pertolongan kepada makhluk, dengan syarat dirinya masih hidup dan mampu untuk mewujudkan pertolongan tersebut, maka ketika hal tersebut mendatangkan kebaikan, sesungguhnya kita telah berbuat baik kepadanya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ
“Dan tolong menolonglah kalian didalam kebaikan dan ketaqwaan.” (Q.S. Al-Maidah : 2)
Sebaliknya, jikalau tolong-menolong tersebut dalam hal keburukan atau maksiat, itu yang diharamkan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِ
“Dan janganlah kalian tolong-menolong di dalam hal dosa dan permusuhan.” (Q.S. Al-Maidah : 2)
Adapun meminta pertolongan kepada orang yang telah wafat atau kepada sesuatu yang tidak nampak atau kepada seseorang yang masih hidup, namun dirinya tidak mampu untuk melakukannya, maka itu termasuk perbuatan syirik kepada Allah (Taisirul Wushul hal. 174).
2. Al-Muhasabah(Mengevaluasi/Introspeksi diri)
Muhasabah (introspeksi diri) yaitu seseorang membenahi dirinya, merenungi dan mengenal kelemahan diri sendiri sebagai bahan evaluasi untuk ke depannya, dengan bertaubat atas kesalahan yang telah dilakukannya. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
فإنَّ اليومَ عملٌ ولا حسابٌ وغدًا حسابٌ ولا عملٌ
“Sesungguhnya hari ini adalah waktu untuk beramal dan tidak ada perhitungan, sedangkan esok (hari kiamat) adalah waktu perhitungan dan tidak ada lagi amal.” (H.R. Baihaqi)
Motif/Bentuk Muhasabah
- Muhasabah Sebelum Berbuat
Seseorang perlu melakukan empat tahapan perenungan dalam mengintrospeksi dirinya sebelum berbuat:
- Apakah perbuatan yang akan dilakukan dapat dikuasai atau tidak.
- Apakah melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya.
- Apakah melakukannya karena Allah Ta’alaatau bukan.
- Apakah ada sarana yang dapat membantu merealisasikannya.
- Muhasabah Setelah Berbuat
Pada langkah ini, muhasabah terbagi menjadi tiga macam, yakni:
- Mengintrospeksi ketaatan berkaitan dengan hak Allah Ta’alayang belum sepenuhnya ia lakukan, lalu apakah ia sudah melakukan ketaatan pada Allah Ta’ala sebagaimana yang dikehendaki-Nya atau belum?
- Introspeksi diri terhadap setiap perbuatan yang mana meninggalkannya adalah lebih baik dari melakukannya.
- Introspeksi diri tentang perkara yang mubah atau sudah menjadi kebiasaan, mengapa mesti ia lakukan? Apakah ia mengharapkan Wajah Allah Ta’ala?
3. Al-Muraqabah(Merasa diawasi Allah)
Sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah: “Muraqabah (pengawasan diri) adalah terus-menerus menyadari dan meyakini bahwa Allah Ta’ala senantiasa mengetahui segala yang tampak dan tersembunyi dari seorang hamba.”
Dengan itu, menjadikan momentum di setiap lini kehidupan kita agar lebih berhati-hati, karena semua tidak akan lepas dari pengawasan Allah. Dia-lah Allah yang memiliki sifat Al-Khabir (Maha Mengetahui dan Maha Teliti).
Allah Ta’ala berfirman,
وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ
“Dialah yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Mulk : 4)
Maknanya adalah yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu (Tafsir Asmaul Husna Karya Az-Zujjaj hal. 45).
Buah bagi Seseorang yang Mengamalkan Kiat di atas
Isti’anah, Muhasabah, dan Muraqabah adalah poin yang harus senantiasa ada dalam diri seorang mukmin. Jika ketiga hal tersebut diamalkan, seseorang akan lebih waspada dalam berbuat dan berkata, di antara yang termasuk dari buah atau manfaat dari mengamalkannya, yaitu:
- Hati menjadi lembut dan tenang.
- Tumbuh rasa takut kepada Allah dan berharap akan Rahmat dari-Nya.
- Menjadi pribadi yang lebih sabar, tawakal dan bersyukur.
Hal ini selaras dengan firman Allah Ta’ala,
قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا٩ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠
“Sungguh beruntung orang-orang yang menyucikan jiwa itu (9), dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya (10).” (Q.S. Asy-Syams : 9-10)
Mari kita wujudkan waktu yang kita miliki agar menjadi pribadi yang lebih baik. Baik dari segi ibadahnya, muamalahnya, dan perangainya. Ketika hal itu menjadi perhatian bagi seorang manusia, maka dirinya akan menjadi orang yang beruntung, namun ketika dirinya abai, acuh, atau bahkan merasa tidak menyadari, maka dapat dipastikan orang tersebut akan merugi. Karena, mengamalkan hal tersebut bukan menjadi bukti kelemahan kita, namun menjadi indikator kuat akan keimanan yang kita miliki.
Penulis : Muhammad Iqbal Rifai (Mahasiswa S1 Najran University, Saudi Arabia)
Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S.
