Mengenal Bidah Secara Sederhana


EDISI 2229

—-

Q.S. Al-An’am : 21

وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوۡ كَذَّبَ بِـَٔايَٰتِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ 

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.”

  • Perkara bidah merupakan perkara yang besar dalam agama Islam dengan besarnya perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perkara tersebut.
  • Bidah yang dilarang adalah bidah secara istilah bukan bahasa.
  • Bidah dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, bidah haqiqiyyah dan bidah
  • Hendaknya kita fokus beribadah sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa perlu melebih-lebihkan dan mengurang-ngurangi.

Memahami bidah (inovasi dalam ibadah) merupakan perkara yang sangat penting dan mendasar dalam Islam karena ia berkaitan langsung dengan kemurnian syariat serta kesempurnaan akan peneladanan kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah memberikan perhatian yang besar terhadap perkara ini dalam berbagai kesempatan khutbah beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sering bersabda,

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Sungguh, sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur’an), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan adalah bidah, setiap bidah adalah kesesatan.” (H.R. Muslim)

Alhasil, karena pentingnya pembahasan seputar bidah ini, ia tidak boleh dijadikan topik sampingan yang tabu untuk diperbincangkan. Tidak boleh ada seorang pun yang dibiarkan tidak mengenal istilah bidah sama sekali. Tidak boleh ada seorang pun yang direlakan terlantar dalam kesalahpahaman, sehingga ia begitu alergi ketika mendengar kata bidah, seolah lafaz ini sangat pantang terucap. Padahal, lafaz ini akrab dijumpai dalam tradisi keilmuan Islam dari masa ke masa.

Tentunya perlu upaya lebih melalui majelis ilmu untuk mengenal agama ini secara mendalam. Adapun tulisan ini akan mengulas pembahasan bidah secara sederhana, setidaknya dalam rangka memenuhi hak setiap umat untuk mendapatkan edukasi seputar bidah secara adil dan proporsional.

Pengertian Bidah

Penting untuk membedakan makna bidah secara bahasa dan secara istilah syariat:

  • Secara Bahasa (Lughah): Membuat sesuatu yang baru tanpa ada contoh sebelumnya.
  • Secara Istilah (Syar’i): Suatu metode dalam agama yang dibuat-buat, menyerupai syariat, bertujuan untuk berlebih-lebihan dalam ibadah kepada Allah Ta’ala(Al-I’tisham lis Syathibi, 1/37).

Mengapa Bidah Dilarang?

Definisi syar’i yang telah disebutkan sebelumnya menjadi fokus larangan dalam agama, yakni setiap perkara yang diada-adakan dalam urusan agama tanpa ada landasan dalil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan pengertian ini, inovasi duniawi tidak ternilai sebagai bidah yang dilarang oleh agama, contohnya makan soto dengan sendok. Demikian pula dengan sarana duniawi yang digunakan untuk menunaikan ibadah, seperti naik pesawat untuk pergi haji. Hukum asal perkara duniawi adalah diperbolehkan, kecuali ada dalil yang melarangnya. Allah Ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا

Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk kalian…” (Q.S. Al-Baqarah : 29)

Lain halnya dengan ibadah, hukum asalnya adalah terlarang hingga ada dalil yang menjadi landasannya. Hal ini dikarenakan syariat Islam sudah paripurna, tidak lebih dan tidak kurang. Al-Imam Malik rahimahullah pernah berkata, “Barang siapa yang mengada-adakan suatu bidah dalam Islam yang ia anggap baik, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkhianat dalam menyampaikan risalah, karena Allah Ta’ala berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagi kalian…” (Q.S. Al-Ma’idah : 3)

Sehingga apa pun yang tidak menjadi bagian dari agama pada hari itu, maka ia juga tidak akan menjadi bagian dari agama pada hari ini” (Al-I’tisham lis Syathibi, 1/49).

Klasifikasi Bidah

Ditinjau dari asal-muasalnya, bidah terbagi menjadi dua:

  1. Bidah Haqiqiyyah, yakni bidah yang sama sekali tidak memiliki landasan dalil dalam syariat. Ia murni sebuah rekaan baru dalam agama. Contoh:
  • Meyakini gugurnya beban syariat seperti shalat dan puasa bagi orang yang telah mencapai tingkatan tertentu.
  • Menyusahkan diri untuk berdiam di tempat yang panas, padahal ada tempat yang teduh, dengan niat beribadah kepada Allah.
  1. Bidah Idhafiyyah, yaitu bidah yang terjadi pada amal yang pada asalnya disyariatkan, namun pelaku bidah memasukkan perkara baru di dalam amal tersebut. Alhasil, amal tersebut menjadi ibadah khusus yang tidak memiliki landasan dalil.

Faktor Penentu Bidah Idhafiyyah

Amalan yang asalnya disyariatkan, dapat berubah menjadi bidah ketika terdapat pengkhususan tanpa dalil yang benar pada salah satu (atau lebih) dari enam faktor berikut:

  1. Sebab: Contohnya shalat tahajud pada malam 27 Rajab disebabkan keyakinan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambermikraj pada malam tersebut.
  2. Jumlah: Contohnya membaca zikir “hasbiyallah” sebanyak 999 ribu kali dengan anggapan amal ini memiliki anjuran khusus.
  3. Tempat: Contohnya shalat duha di Gua Pindul dengan anggapan amal ini memiliki anjuran khusus.
  4. Waktu: Contohnya shalat raghaib sebanyak 12 rakaat di malam jumat pertama bulan Rajab.
  5. Jenis: Contohnya menunaikan ibadah kurban dengan menyembelih kelinci.
  6. Tata Cara: Contohnya mengusap ketiak dalam rangkaian wudu dengan anggapan hal tersebut lebih suci dan merupakan bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala.

Baik bidah haqiqiyyah maupun idhafiyyah, keduanya merupakan perkara yang terlarang dan tertolak. Status ini didasarkan pada ketetapan syariat bahwa setiap amalan (ibadah) tanpa tuntunan adalah tertolak, dan setiap bidah adalah kesesatan.

Prioritas Utama: Menyempurnakan yang Ada

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan seluruh syariat dengan sempurna. Tidak ada satu kebaikan sekecil apa pun kecuali telah beliau tuntunkan, dan tidak ada satu keburukan sekecil apa pun kecuali telah beliau peringatkan. Jika perkara duniawi seperti tata cara buang hajat saja telah Beliau jelaskan secara rinci, apalagi perkara ibadah?

Ibadah yang jelas-jelas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan sangat banyak, dan masih banyak pula yang kita abaikan. Dari sedikit ibadah yang mampu kita kerjakan pun, lebih sedikit lagi yang dapat kita tunaikan dengan khusyuk, apalagi sempurna. Lantas, mengapa kita harus menyibukkan diri lagi dengan amalan yang tidak ada landasannya?

Sudah selayaknya prioritas utama kita adalah fokus mengoptimalkan amalan-amalan yang telah dituntunkan. Semoga Allah mengaruniakan taufik, wallahu a’lam bis shawab.

Referensi:

  • Al-Bid’ah: Dhawabithuha wa Atsaruha As-Sayyi’ fil Ummah hal. 10-15
  • Al-Ibda’ fii Kamal Asy-Syar’i wa Khatharil Ibtida’ hal. 21-23

 

Penulis: Reza Mahendra, S.Psi. (Alumnus Ma’had Al-’Ilmi Yogyakarta)

Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *