EDISI 2216
—-
Q.S. Al-An’am : 153
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦ
“Dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.”
- Setiap Muslim tentu mendambakan surga karena itulah tujuan akhir dari setiap ibadah yang kita lakukan.
- Namun ternyata, ada sebagian orang yang dianggap enggan masuk surga.
- Agar tidak termasuk orang-orang yang enggan kita harus beragama secara benar.
- Cara beragama yang benar haruslah sesuai dengan pemahaman generasi terbaik umat ini.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan sebuah peringatan yang membuat kita perlu merenung lebih dalam. Beliau bersabda,
“Semua umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?”
Beliau menjawab, “Barangsiapa taat kepadaku, ia akan masuk surga. Dan barangsiapa durhaka kepadaku, dialah yang enggan.” (H.R. Bukhari)
Setiap orang ingin masuk surga, tetapi bila tidak mau mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti ia sendiri yang menolak jalan keselamatan itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa umat Islam akan berpecah menjadi 73 golongan, dan hanya satu golongan yang selamat. Ketika para sahabat bertanya siapakah golongan yang selamat itu, beliau menjawab,
ما أنا عليه وأصحابي
“Yaitu yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.”
Karena itu, pembahasan tentang manhaj beragama bukanlah hal yang jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Manhaj adalah jalan hidup seorang Muslim, jika jalannya lurus, insyaallah ia akan selamat. Namun, bila jalannya menyimpang, meski niatnya baik, ia bisa saja termasuk orang yang disebut “enggan masuk surga.” Di sinilah pentingnya kita mengenal manhaj yang benar, serta memahami ciri-cirinya.
Perintah Beragama dengan Benar
Agama Islam bukan sekadar kumpulan aturan, melainkan jalan hidup yang harus ditempuh dengan benar. Jalan itu sudah Allah tunjukkan kepada kita. Bahkan, setiap hari dalam shalat kita memohon kepada-Nya agar ditetapkan di atas jalan itu.
Kita membaca dalam surat Al-Fatihah,
ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang–orang yang sesat.” (Q.S. Al-Fatihah : 6–7)
Ibn Katsir menafsirkan bahwa ash-shirāṭ al-mustaqīm adalah jalan yang ditempuh oleh mereka. Dengan kata lain, setiap kali kita shalat, kita sedang memohon agar bisa beragama sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beragama.
Allah juga menegaskan dalam ayat lain,
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦ
“Dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.” (Q.S. Al-An’am : 153)
Untuk memperjelas maksud ayat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membuat garis lurus di tanah, lalu menggambar garis-garis kecil di kanan kirinya. Beliau bersabda,
“Ini adalah jalan Allah yang lurus. Sedangkan garis-garis kecil ini adalah jalan-jalan lain. Pada tiap-tiap jalan itu ada setan yang mengajak manusia kepadanya.” (H.R. Ahmad)
Jalan lurus hanya satu, sedangkan jalan yang menyimpang ada banyak. Setiap kelompok yang keluar dari manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mungkin mengaku paling benar, tetapi klaim itu tidak bernilai jika tidak sesuai dengan jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat.
Allah bahkan memuji orang-orang yang meniti jalan sahabat. Dalam Al-Qur’an disebutkan,
وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (Q.S. At-Taubah : 100)
Karakteristik Manhaj yang Benar
Pertama, manhaj yang benar itu mudah, jelas, dan gamblang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya aku tinggalkan kalian di atas sesuatu yang putih bersih, malamnya seperti siangnya. Tidak ada seorang pun yang menyimpang darinya melainkan akan binasa.” (H.R. Ahmad)
Artinya, ajaran Islam tidak samar-samar. Siapa yang tulus belajar dan mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat, ia akan melihat agama ini begitu terang dan mudah diikuti.
Kedua, manhaj yang benar mengajarkan persatuan di atas kebenaran. Allah berfirman,
“Berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Q.S. Ali Imran : 103)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
“Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling tanajusy (menyakiti dalam jual beli), janganlah saling benci, janganlah saling membelakangi (mendiamkan), dan janganlah menjual di atas jualan saudaranya. Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya.” (H.R. Muslim)
Manhaj yang benar akan mengikat hati kaum Muslimin dengan cinta karena iman, bukan membiarkan mereka tercerai-berai oleh hawa nafsu atau fanatisme kelompok.
Ketiga, manhaj yang benar bersikap pertengahan. Allah berfirman,
وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) umat yang pertengahan…” (Q.S. Al-Baqarah : 143)
Pertengahan artinya tidak ghuluw (berlebihan) dalam agama, dan tidak pula meremehkannya. Islam menempatkan setiap perkara pada porsinya: beribadah dengan sungguh-sungguh, namun tetap dalam batas yang disyariatkan.
Keempat, manhaj yang benar menjadikan Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma’ salafus shalih sebagai sumber rujukan. Allah berfirman,
وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْ
“Apa yang diberikan Rasul kepada kalian, maka terimalah; dan apa yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah.” (Q.S. Al-Hasyr : 7)
Para ulama juga menegaskan, dalil dari syariat tidak mungkin bertentangan dengan akal sehat. Jika tampak bertentangan, maka syariatlah yang harus diutamakan, sebab akal tugasnya adalah tunduk dan membenarkan wahyu. Akal setiap orang berbeda-beda sehingga tidak dapat dijadikan standar. Oleh sebab itu, memahami Al-Qur’an dan Sunnah harus sesuai dengan pemahaman para ulama salaf, tafsir mereka, dan pendapat mereka.
Kenapa Harus Manhaj Salaf?
Secara bahasa, “salaf” berarti pendahulu. Secara istilah, yang dimaksud salaf adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya, dan generasi terbaik setelah mereka.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia dalam kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” (Q.S. An-Nisa : 115)
Manhaj salaf bukanlah sekadar pilihan, melainkan kewajiban. Sebab keselamatan hanya ada pada jalan yang ditempuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau. Bahkan ketika menjelang wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada putrinya Fathimah radhiyallahu ‘anha,
“Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya aku adalah sebaik-baik salaf bagimu.” (H.R. Muslim)
Manhaj salaf adalah manhaj kebenaran, jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan solusi bagi problematika umat. Kembalinya umat kepada kemuliaan hanya mungkin jika mereka kembali kepada agama yang murni, sesuai dengan pemahaman generasi terbaik—Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, serta para imam yang mengikuti jejak mereka.
Penulis: Mochammad Wibisono, S. M. (Alumnus Ma’had Al llmi Yogyakarta)
Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B. I. S.
