EDISI 2204
—
Q.S. An-Nahl : 72
وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَجَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَزۡوَٰجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةٗ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِۚ أَفَبِٱلۡبَٰطِلِ يُؤۡمِنُونَ وَبِنِعۡمَتِ ٱللَّهِ هُمۡ يَكۡفُرُونَ
“Allah menjadikan bagi kalian pasangan (suami atau istri) dari jenis kalian sendiri, menjadikan bagi kalian dari pasangan kalian anak-anak dan cucu-cucu, serta menganugerahi kalian rezeki yang baik-baik. Mengapa terhadap yang batil mereka beriman, sedangkan terhadap nikmat Allah mereka ingkar ?”
- Anak adalah sebuah karunia dan amanah besar yang Allah titipkan kepada seorang hamba.
- Menjadi sebuah cita-cita dan impian yang ingin diwujudkan bagi setiap orang tua yaitu memiliki keturunan yang salih dan salihah.
- Dengan itu, maka sosok anak/keturunan yang salih bisa menjadi investasi/simpanan, yaitu sebagai tabungan di dunia dan akhirat, agar dapat menyelamatkannya kelak.
- Agar anak keturunan yang kita inginkan menjadi anak yang salih terdapat kiat-kiat yang telah diajarkan oleh syariat Islam.
Ditinjau secara bahasa/etimologi kata saleh berasal dari kata salih yang diambil dari ism fa’il yang artinya adalah orang yang memiliki kepribadian yang baik (Tahdzibul Lughah, 12/79). Sebagaimana hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إذا مات ابنُ آدمَ انقطع عملُه إلا من ثلاثٍ: صدقةٍ جاريةٍ، وعلمٍ ينتفعُ به، وولدٍ صالحٍ يدعو له
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan doa anak yang sholeh.” (H.R. Muslim)
Jikalau melihat kepada perjuangan para nabi dan rasul, banyak kita ketahui bahwa memiliki keturunan yang baik adalah cita-cita terbesar mereka. Sebagaimana doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika memohon kepada Allah,
رَبِّ هَبۡ لِي مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (anak keturunan) yang saleh.” (Q.S. Ash-Shaffat : 100)
Tak hanya memohon keturunan yang baik, bahkan Nabi Ibrahim juga memohon agar dirinya dan keluarganya dijauhkan dari perbuatan kesyirikan kepada Allah. Allah berfirman,
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
“Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.”(Q.S. Al Baqarah : 35)
Demikian pula doa Nabi Zakariya ‘alaihissalam memohon kepada Allah agar dikaruniakan keturunan yang salih demi menggantikannya dalam mengajak umatnya untuk menyembah Allah Ta’ala,
وَزَكَرِيَّآ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَرۡنِي فَرۡدٗا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡوَٰرِثِينَ
“Dan (Ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan), sedang engkau adalah sebaik-baik waris“.” (Q.S. Al Anbiya : 89)
Oleh karenanya, harapan untuk mendapatkan keturunan yang salih sudah menjadi dambaan para nabi dan rasul terdahulu.
Dan menjadi salah satu hal pokok yang tidak banyak diperhatikan oleh para orang tua dalam mendidik anak adalah dengan menanamkan konsep aqidah/tauhid serta akhlak. Sebagaimana cerita masyhur ketika Luqman menasehati anaknya,
وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ
“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, sambil memberi pelajaran kepadanya: “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar“.” (Q.S. Luqman : 13)
Ayat ini menggambarkan pentingnya mengajarkan tauhid kepada anak sejak dini agar mereka tumbuh dengan pemahaman yang benar tentang keesaan Allah.
Karena sejatinya, ketika anak tersebut dibekali ilmu-ilmu tentang tauhid, maka anak tersebut akan tumbuh menjadi
sosok yang kuat, kokoh, serta bisa menjadi sebuah perhiasan dunia, bukan menjadi fitnah/bala bagi kedua orang tua nya (Tarbiyatul Aulad Fi Dhaui Al Kitab Wa As Sunnah hal. 9). Allah Ta’ala berfirman,
ٱلۡمَالُ وَٱلۡبَنُونَ زِينَةُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱلۡبَٰقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيۡرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ أَمَلٗا
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Q.S. Al Kahfi : 46)
Syaikh Abdurrahman Ibn Naashir As-Si’di menjelaskan dalam kitab tafsirnya tentang ayat ini, “Bahwa harta benda dan anak itu merupakan perhiasan dunia, yaitu tidak ada yang bisa menyandingi keduanya, akan tetapi yang akan kekal menyertai seseorang di akhirat adalah al baaqiyaat ash shaalihat” (Taysir Kalimirrahman Fi Tafsir Kalamil Mannan hal. 479).
Dan anak juga menjadi ujian/bala/fitnah bagi orang tuanya. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ
“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah cobaan (bagi kalian). Di sisi Allahlah (ada) pahala yang besar.” (Q.S. Ath-Thaghabun : 15)
Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya, “Sesungguhnya harta benda dan anak anak adalah fitnah, yaitu sebuah ujian dari Allah untuk seorang hambanya, untuk mengetahui siapa yang taat dan siapa yang justru berbuat maksiat atas keduanya” (Tafsir Al Qur’an Al Adzim, 2 /511).
Lantas, bagaimana kiat-kiat untuk mewujudkan agar anak keturunan yang kita inginkan menjadi anak yang salih yang diharapkan dapat menjadi investasi di dunia dan akhirat?
Asy Syaikh Abdurrazaq Ibn Abdul Muhsin Al Badr hafizhahullah menjelaskan dalam kitabnya “Rakaiz Fii Tarbiyatil Abna “, diantaranya yaitu:
- Memilih Istri yang Salihah
Sesungguhnya menjadi hal yang paling pertama dan utama untuk mendidik seorang anak adalah dengan memilih pasangan yang salihah, karena dengannya akan menjadi penolong dalam mendidik anak keturunan kita, dan membentuk lingkungan yang baik. Maka itu, datang sebuah anjuran dari Rasulullah untuk memilih pasangan yang salihah dan bagus dalam agamanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تُنكَح المرأة لأربع: لمالها، ولحسَبِها، ولجمالها، ولدِينها، فاظفَرْ بذات الدين تربتْ يداك
“Wanita dinikahi karena empat hal: Hartanya, Keturunannya, Kecantikannya, Agamanya. Maka pilihlah karena agama, niscaya engkau akan beruntung.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
- Doa
Dan salah satu yang menjadi fokus utama untuk mewujudkan keturunan yang saleh/salihah adalah dengan berdoa. Maka hendaknya orang tua mendoakan memohon agar diberikan rezeki berupa anak yang salih/salihah, sebagaimana doa Nabi Zakariya,
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُۥۖ قَالَ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ
“Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (Q.S. Ali Imran : 38)
Dan, termasuk diantara doa agar diberikan keturunan yang baik, Allah berfirman,
وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa“.” (Q.S. Al Furqan : 74)
Dan hal yang seharusnya menjadi peringatan bagi kedua orang tua, agar tidak mendoakan keburukan bagi anak-anaknya, terlebih ketika dalam keadaan marah, karena doa keburukan itu mustajab, dan dapat menjadi penyesalan jika hal itu terkabulkan.
Rasulullah telah memperingatkan dari hal itu melalui sabda beliau, “Janganlah kalian mendoakan keburukan atas diri kalian sendiri, jangan pula atas anak anak kalian, jangan atas para pembantu kalian, dan jangan atas harta kalian. Jangan sampai doa itu bertepatan dengan waktu dikabulkannya doa dari Allah, lalu doa kalian itu dikabulkan.” (H.R. Abu Dawud dan Muslim)
- Memilihkan dan Memberikan Nama yang Baik
Termasuk dari salah satu hal yang membantu seseorang dalam mewujudkan keturunan yang baik serta mendidik mereka, adalah dengan memberikannya nama-nama yang baik yang dengannya dia mudah melakukan ketaatan kepada Allah. Karena yang demikian akan berpengaruh kepada diri anak tersebut, sebagaimana dikatakan dalam sebuah kaul, “Nama seseorang mencerminkan sebagian dari kepribadiannya.”
Dan di dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ أحبَّ أسمائِكم إلى اللهِ عبدُ اللهِ وعبدُ الرحمنِ
“Sesungguhnya nama yang paling dicintai oleh Allah adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman.” (H.R. Muslim)
- Memilihkan Baginya Teman Duduk yang Salih/Baik
Termasuk dari salah satu cara untuk mewujudkan keturunan salih/salihah adalah teman duduknya, karena dikatakan dalam sebuah atsar “Ash Shaahibu Saahib”, teman itu akan menarik.
Dan Rasulullah membuat permisalan pengaruh teman itu sangat kuat, beliau bersabda,
مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ ، وجَلِيسِ السُّوءِ ، كَحامِلِ المِسْكِ ، ونافِخِ الكِيرِ، فَحامِلُ المِسْكِ، إِمَّا أنْ يَحْذِيَكَ، وإِمَّا أنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وإِمَّا أنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، ونافِخُ الكِيرِ، إِمَّا أنْ يَحْرِقَ ثَيابَكَ، وإِمَّا أنْ تَجِدَ رِيحًا خَبيثَةً
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi. Pembawa minyak wangi itu, bisa jadi dia memberimu (minyak wangi), atau kamu membeli darinya, atau kamu mencium darinya bau yang harum. Sedangkan pandai besi, bisa jadi dia membakar pakaianmu, atau kamu mencium darinya bau yang tidak sedap.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Maka, wajib atas kedua orang tua untuk selalu mengawasi dengan siapa anak tersebut bergaul, dan menjadi sebuah hal baru yang tidak ditemukan pada zaman dahulu yang sangat berpengaruh kepada teman duduknya adalah, kanal media massa dan sosial media yang ada pada gawainya.
- Memberikan Contoh/Qudwahyang Baik
Dan termasuk yang paling berpengaruh juga dalam perkara ini adalah orang tua harus bisa menjadi teladan yang baik bagi anak keturunannya. Ketika memerintahkan kepada hal yang baik maka orang tua harus menjadi garda terdepan untuk memberikan contoh terlebih dahulu, dan ketika melarang pun juga sama. Agar tidak mencontoh atas teguran kejelekan kaum Bani Israil, tatkala mereka diperintahkan mereka justru tidak melakukannya begitupula sebaliknya, Allah berfirman,
أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ وَأَنتُمۡ تَتۡلُونَ ٱلۡكِتَٰبَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ
“Mengapa kalian menyuruh orang lain untuk (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kaian melupakan diri sendiri, padahal kalian membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kalian mengerti?” (Q.S. Al Baqarah : 44)
Pembaca yang Budiman,
Demikian uraian singkat mengenai Anak Salih/Salihah Investasi Abadi Dunia dan Akhirat. Dengan berharap hanya kepada Allah, Semoga Allah memberi kita buah hati yang salih dan salihah. Agar kelak hal tersebut menjadi amalan yang terus mengalir pahalanya walaupun telah wafat.
Penulis : Muhammad Iqbal Rifai (Mahasiswa S1 Najran University, Saudi Arabia)
Pemurajaah : Ustadz Abu Salman, B.I.S.
