Menyantuni Anak Yatim


EDISI 2203

H.R. Bukhari

أنا وَكافلُ اليتيمِ في الجنَّةِ  هكذا وقال بِإِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ والْوُسْطَى

“Aku dan orang yang mengurus anak yatim akan bersama-sama di surga seperti ini, dan beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.”

  • Islam menunjukkan perhatian yang besar terhadap anak yatim.
  • Diantara keutamaan yang dijanjikan bagi siapa saja yang menyantuni anak yatim adalah ia menjadi sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallamdi surga kelak.
  • Mengurus anak yatim juga dapat menjadi obat bagi kerasnya hati.
  • Banyak orang yang menganggap bulan Muharram sebagai bulan anak yatim, padahal anggapan tersebut dilandasi atas hadits yang lemah bahkan palsu.

Kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah, setidaknya terdapat 22 kali kata yatim disebutkan di dalam Al Qur’anul Karim. Diantaranya sebagai berikut,

وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡـٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا وَبِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ 

“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib-kerabat, anak-anak yatim…” (Q.S. An-Nisa’ : 36)

لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ 

“Bukanlah menghadapkan wajah kalian ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, para Nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim…” (Q.S. Al Baqarah : 177)

Hal ini menunjukkan perhatian yang besar terhadap anak yatim. Islam datang memerintahkan untuk menjamin, mengasihi, menyayangi, berbuat kebaikan terhadap anak yatim, dan menetapkan pahala yang besar untuknya.

As Sa’di rahimahullah menjelaskan terkait tafsir Q.S. An Nisa : 36,

“Orang-orang yang ditinggal mati bapaknya di masa kecil mempunyai hak atas kaum muslimin, baik yang masih kerabat maupun yang tidak, untuk memelihara, menyayangi, menghibur, mendidik, dan membesarkan mereka dengan sebaik-baiknya demi kebaikan agama dan kehidupan dunianya.”

Siapakah yang Disebut Yatim?

Definisi anak yatim ialah siapa saja yang ayahnya meninggal hingga ia baligh. Maka jika telah baligh, hilanglah status yatim padanya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لا يُتْمَ بعد احتلام

Tidak ada status yatim setelah mimpi (mimpi basah alias baligh –pent).” (HR Abu Daud, dinilai shahih oleh Al Albani)

Hal ini berbeda dengan realita di masyarakat kita yang terkadang hingga umur dewasa tetap disebut sebagai anak yatim.

Keutamaan Menyantuni Anak Yatim

Sebuah hadits yang kiranya amatlah cukup menjadi motivasi untuk menyantuni anak yatim, yaitu sabda baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أنا وكافل اليتيم في الجنة هكذا وقال بإصبعيه السبابة والوسطى

“Aku dan orang yang mengurus anak yatim akan bersama-sama di surga seperti ini, dan beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.” (H.R. Bukhari)

Ibnu Bathal rahimahullah berkata, “Siapapun yang mendengar hadis ini hendaknya mengamalkannya, agar ia menjadi sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di surga kelak. Tidak ada kedudukan yang lebih baik lagi di akhirat daripada ini.”

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan dalam Fathul Bari, “Boleh jadi hikmah dalam keutamaan orang yang mengasuh anak yatim diibaratkan masuk surga atau kedudukannya di surga diibaratkan dekat dengan Nabi atau kedudukan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, adalah karena Nabi diutus kepada kaum yang belum memahami agamanya, maka beliaulah orang yang mengasuh, menjadi guru, dan pembimbing mereka. Demikian pula orang yang mengasuh anak yatim maka ia akan mengurus anak yang belum memahami agamanya, bahkan belum ada dunianya (yaitu nafkahnya -pen), ia membimbingnya, mengajarinya, serta memperbaiki akhlaknya. Maka jelaslah akan kesesuaian dalam hal itu.”

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

من ضم يتيماً بين مسلمين في طعامه وشرابه حتى يستغني عنه وجبت له الجنة

“Barangsiapa yang memberi makan dan minum kepada anak yatim di kalangan umat Islam hingga ia mandiri, maka surga dijamin untuknya.” (H.R. Ath-Thabrani, Ahmad, dinilai shahih lighairih oleh Al Albani)

Bentuk Mengurus Anak Yatim

Mengurus anak yatim dalam bentuk yang paling utama ialah memasukkan anak yatim tersebut ke dalam lingkaran keluarga seakan-akan ia adalah anaknya sendiri. Sebagaimana para sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mereka biasa memasukkan anak yatim ke dalam keluarga mereka.

Hal ini dapat dilihat ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para wanita,

تصدقن يا معشر النساء ولو من حليكن

“Bersedekahlah wahai sekalian wanita, walaupun dengan perhiasan kalian”

Maka beberapa wanita Anshar pun mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya apakah cukup bagi mereka jika bersedekah kepada suami dan anak yatim yang berada dalam tanggungan mereka. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

لهما أجران أجر القرابة وأجر الصدقة

“Bagi mereka dua pahala, pahala berbuat baik kepada kerabat dan pahala bersedekah.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Maka dalam hal ini tersirat bahwa para sahabat biasa memasukkan anak yatim ke dalam keluarga mereka dan menjamin hidup mereka.

Adapun tingkatan berikutnya adalah memberikan harta secara langsung ke anak yatim, bisa dengan berdonasi ke yayasan yang mengurusi anak yatim, atau bisa juga dengan mengurus harta yang memang adalah milik anak yatim tersebut namun diserahkan pengelolaannya kepada kita hingga ia dewasa. Namun perlu diingat dalam mengelola harta milik anak yatim ini diwajibkan untuk amanah dan memang ahli dalam pengelolaan keuangan. Sebagaimana nasihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu ‘anhu,

يا أبا ذر: إني أراك ضعيفًا وإني أحب لك ما أحب لنفسي، لا تأمرنّ على اثنين ولا تولينّ مال اليتيم

“Wahai Abu Dzar, aku melihatmu sebagai orang yang lemah, dan aku mencintai dirimu sebagaimana aku mencintai diriku sendiri. Maka janganlah kamu menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang saja, dan janganlah kamu mengelola harta anak yatim.” (H.R. Muslim)

Dampak Mengurus Anak Yatim Bagi Hati

Seorang lelaki mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan mengadukan akan kerasnya hatinya, beliau kemudian bersabda,

إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ

“Jika engkau ingin agar hatimu lembut, berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (H.R. Ahmad dan dinilai shahih oleh Al Albani)

Maka kerasnya hati, gersangnya hati, dapat dihilangkan salah satunya dengan berbuat baik kepada kaum duafa, diantaranya adalah anak yatim.

Peringatan dari Hadis Palsu Terkait Bulan Muharram

Terdapat sebuah hadits yang menjadi landasan sebagian orang dalam memaknai bulan Muharram sebagai bulan anak yatim. Diantaranya hadis,

وَمَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً

“Barangsiapa mengusap kepala anak yatim dengan tangannya pada hari Asyura, maka Allah Ta’ala akan mengangkat derajatnya satu derajat pada setiap helai rambutnya.”

Para ulama semisal Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah menyebutkan status hadits ini lemah dan bahkan palsu, diantaranya karena terkait perawinya Habib ibn Abi Habib yang berstatus kadzab atau sering berdusta.

Oleh karena itu cukuplah bagi kita berbagai keutamaan menyantuni dan menyayangi anak yatim berdasarkan berbagai hadits shahih yang telah disebutkan sebelumnya. Hendaknya kita sebagai seorang muslim selalu memperhatikan kondisi anak yatim di sekitar kita, terlebih di saat kondisi ekonomi seperti sekarang yang semakin sulit dan berat untuk kaum duafa. Semoga Allah beri taufik dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

 

Penulis : Yhouga Ariesta, S.T.   (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)

Pemurajaah : Ustadz Abu Salman, B.I.S.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *