Ramadhan sebagai Titik Balik Kehidupan


EDISI 2236

 Q.S. Al-Furqan : 70

إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلٗا صَٰلِحٗا فَأُوْلَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمۡ حَسَنَٰتٖۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا

“Kecuali, orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh, maka Allah mengganti kejahatan mereka (dengan) kebaikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

  • Titik balik merupakan momen ketika sebuah perubahan berlangsung.
  • Layaknya mesin yang diperbaiki hingga kembali seperti baru, titik balik dalam kehidupan membuat seseorang bergerak menuju arah yang lebih baik hingga terasa seperti mendapatkan kesempatan lahir kembali.
  • Allah menciptakan bulan Ramadhan yang penuh keberkahan agar Umat-Nya mampu memanfaatkan momen berharga ini sebagai titik balik kehidupan.
  • Harapannya, para hamba-Nya mengalami perubahan kondisi dari tidak baik menjadi lebih baik.
  • Tugas kita hanya berusaha melakukan perubahan dan Allah yang akan mengganti keadaan kita dari orang yang jahat menjadi orang yang saleh.

 

Banyak kisah dalam sirah nabawiyyah yang layak untuk ditiru sebagai titik balik kehidupan.

Pertama

Sebut saja Ad-Dimagh al-Azdi radhiyallahu ‘anhu, dulunya ia seorang dukun dari negeri Yaman yang akhirnya menjadi sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Titik balik kehidupannya berawal dari penasaran dan kepedulian sosial. Tidak semua orang memiliki rasa ingin tahu tentang kedatangan seorang nabi; banyak manusia cuek dan tidak merasa tergubris dengan kabar adanya nabi terakhir. Manusia saat itu mayoritas asyik dengan duniawi, sedikit sekali yang memikirkan urusan akhirat. Dengan modal ingin menyembuhkan penyakit gila yang diderita seorang yang bernama Muhammad di kota Makkah, yang mengaku nabi terakhir, dan kabar tersebut viral sampai ke negeri Yaman, hati Ad-Dimagh al-Azdi tergerak untuk melihatnya langsung dan akan menawarkan pengobatan gratis agar penyakit gilanya sembuh total dengan banyak mantra yang telah ia hafal untuk meruqyah ala ruqyah jahiliyyah. Tak disangka, Ad-Dimagh al-Azdi radhiyallahu ‘anhu setelah menawarkan ruqyahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung mengucapkan,

إنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، مَن يَهْدِهِ اللَّهُ فلا مُضِلَّ له، وَمَن يُضْلِلْ فلا هَادِيَ له، وَأَشْهَدُ أَنْ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ له، وَأنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسولُهُ

“innal hamda lillah nahmaduhu dan seterusnya”, yang lebih dikenal dengan khutbatul hajah. Seketika itu ia takjub dengan untaian kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  karena belum pernah ia dengar dari dukun, penyihir, dan penyair, lalu ia meminta diulang kembali sampai tiga kali. Saat itulah menjadi titik balik Ad-Dimagh al-Azdi radhiyallahu ‘anhu dengan sebab rasa ingin tahu terhadap kebenaran dan jiwa sosial yang tinggi ingin mengobati orang lain. Akhirnya ia berubah dari seorang dukun menjadi pengikut setia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara meminta nabi untuk membaiatnya diatas Islam.

Kedua

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, awalnya ia orang yang sangat membenci Islam, bahkan ia marah besar ketika memergoki Khobab sang guru mengaji saudara perempuannya (Fatimah) dan suaminya mengajarkan surat Thaha, sampai Umar menyerang dan menginjak-injak iparnya setelah bertanya kepada Umar:

أرأيت إن كان الحق في غير دينك؟

“Bagaimana menurutmu jika kebenaran ada pada selain agamamu?”

Demikian juga Umar menampar Fatimah sampai pipinya berdarah setelah mengajukan pertanyaan yang sama. Setelah itu ia merasa menyesal dan malu kepada saudarinya. Sebagai gantinya, Umar meminta agar lembaran surat Thaha diberikan kepadanya, namun Fatimah menolaknya kecuali Umar mandi terlebih dahulu karena masih dianggap Najis. Setelah selesai mandi, Umar diberikan lembaran tersebut dan membaca surat Thaha sampai ayat ke-14. Saat itulah titik balik Umar: ia merasa takjub dengan keindahan Al-Qur’an, singkat cerita Umar masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Khobab teringat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

اللهمَّ أعِزَّ الإسلامَ بأحبِّ هذين الرجُلين إليك بأبي جهلٍ أو بعمرَ بنِ الخطابِ فكان أحبُّهما إلى اللهِ عمرَ بنَ الخطابِ

“Ya Allah muliakan Islam dengan salah seorang yang paling Engkau cintai dari dua laki-laki: Abu Jahal atau Umar Bin Khattab, dan ternyata Allah lebih mencintai Umar bin Khattab”

Titik balik kehidupan Umar yang tadinya seorang tokoh musyrik Makkah yang sangat keras permusuhannya kepada Islam berubah menjadi pembela Islam dengan sebab masih memiliki rasa penyesalan dan malu kepada saudarinya setelah ia menamparnya sampai berdarah, dan selain itu bacaan Al-Qur’an surat Thaha melelehkan kerasnya hati Umar, serta sering didoakan dengan doa kebaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketiga

Kisah nyata Al-Fudhail bin Iyad: dahulu ia adalah seorang perampok yang sering menghadang para musafir. Suatu saat dia jatuh cinta kepada seorang gadis. Suatu malam ketika ia memanjat dinding menuju rumah gadis itu, ia mendengar suara seseorang yang sedang membaca Al-Qur’an, melantunkan ayat,

۞ أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)?” (Q.S. Al-Hadid : 16)

Ketika ia mendengar ayat itu, ia berkata, “Tentu, sudah saatnya.” Maka ia pun bertobat kepada Allah Ta‘ala, kemudian menjadi ahli ibadah di dua tanah suci (Makkah dan Madinah).

Dari kisah-kisah yang menakjubkan di atas, titik balik kehidupan seseorang itu berbeda-beda. Jika kita rangkum, maka titik balik kehidupan bermula dari rasa ingin tahu terhadap kebenaran dan memiliki jiwa sosial peduli sesama, seperti kisahnya Ad-Dimagh Al-Azdi. Bulan Ramadhan adalah bulan yang sering disi dengan berbagai siraman rohani. Boleh jadi titik balik kehidupan seseorang berawal dari rasa ingin tahu terhadap kajian Islam baik luring, daring, atau rekaman ulang. Bulan Ramadhan, semua muslim yang sehat dan mampu diwajibkan berpuasa. Rasa lapar di siang hari akan menumbuhkan jiwa sosial yang tinggi kepada fakir dan miskin. Boleh jadi peduli kepada orang yang membutuhkan baik itu dengan sedekah makanan, pengobatan, dan pakaian akan menuntun Anda kepada hidayah yang tidak disangka-sangka, seperti halnya Ad-Dimagh Al-Azdi yang menuntun beliau menjadi sahabat Nabi yang mulia.

Bulan Ramadhan adalah bulan panen ampunan. Perbanyaklah penyesalan dan rasa malu terhadap aib-aib yang kelam dan dosa-dosa serta kesalahan yang pernah dilakukan, karena itu akan melembutkan hati dan membuat mata menangis. Penyesalan dan rasa malu dapat menjadi titik balik kehidupan Anda sebagaimana Umar menyesal dan merasa malu telah berbuat salah menampar saudarinya sampai berdarah, sehingga untuk mengembalikan kehormatannya ia meminta saudarinya untuk meminjamkan lembaran ayat Al-Qur’an agar Umar membacanya.

Di bulan Ramadhan, banyak orang berlomba-lomba mengkhatamkan Al-Qur’an. Jika Anda telah mampu membacanya, usahakan mengkhatamkan dalam satu bulan jika masih mampu dapat menambah lagi khatamannya. Namun jika belum mampu, berusahalah mencari guru untuk belajar membacanya, atau jika belum mampu maka cobalah dengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dari orang lain atau dari rekaman dan berusahalah memahami maknanya. Bacaan Al-Qur’an terbukti mampu melelehkan kerasnya hati seorang Umar bin Khattab sehingga memeluk Islam, demikian juga Al-Fudhail Bin Iyad berubah dari perampok menjadi ahli ibadah di dua kota suci Makkah dan Madinah. Al-Qur’an adalah kalam (ucapan) Allah yang didengar Malaikat Jibril dan diucapkan dihadapan Nabi untuk dihafal dan diajarkan kepada para sahabatnya.

وَإِنۡ أَحَدٞ مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٱسۡتَجَارَكَ فَأَجِرۡهُ حَتَّىٰ يَسۡمَعَ كَلَٰمَ ٱللَّهِ ثُمَّ أَبۡلِغۡهُ مَأۡمَنَهُۥۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡلَمُونَ

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (Q.S. At-Taubah : 6)

Ucapan Allah itu adalah sifat Allah. Sifat Allah itu maha sempurna. Yakinlah, mendengarkan Al-Qur’an akan mampu menerobos hati Anda jika Anda mendengarnya dengan kesadaran dan ikhlas dan akan dapat mengobati hati Anda dan dapat menjadi titik balik kehidupan Anda sehingga menjadi pribadi yang lebih baik, lebih saleh, dan lebih tenang jiwanya.

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Q.S. Al-Isra’ : 82)

Mintalah hidayah kepada Allah jika kondisi Anda sedang tidak baik-baik saja. Mungkin Anda sedang banyak melakukan dosa dan jatuh dalam keharaman. Allah Ta’ala senang jika hamba-Nya memintanya. Di antara doa yang diajarkan Nabi untuk meminta hidayah agar menjadi titik balik kehidupan kearah yang lebih baik:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي

“Ya Allah, berilah aku petunjuk dan luruskanlah aku.” (H.R. Muslim)

Jangan lupa mintalah kepada kedua orang tua Anda yang masih hidup agar terus mendoakan Anda menjadi manusia yang lebih bertakwa dari sebelumnya. Karena doa kedua orang tua adalah doa yang dikabulkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

‌ثلاثُ دعواتٍ مستجاباتٌ لا شكَّ فيهنَّ: ودعوة الوالد على ولده ، ودعوةُ المسافِرِ، ودعوةُ المظلومِ

“Tiga doa yang pasti dikabulkan, tidak ada keraguan padanya: doa seorang orang tua, doa seorang musafir, dan doa seorang yang terzalimi.” (Sahih Al-Jami’ no.596)

 

Penulis: Dr. Dodi Iskandar (Alumni Ma’had llmi Yogyakarta)

Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *