Merajut Muhasabah Jiwa


EDISI 2249

—–

Q.S. Al-Hasyr : 18

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok (kiamat).” 

  • Muhasabah adalah evaluasi bekal akhirat. Ibarat pedagang, ibadah wajib adalah modal, sunnah sebagai untung, dan maksiat sebagai rugi yang harus dikalkulasi agar kita tidak merugi kelak di hadapan Allah.
  • Rukun utama muhasabah meliputi perbandingan antara limpahan nikmat Allah dengan keburukan diri, memahami hak Allah atas ketaatan hamba, serta menjauhi rasa bangga atas amal yang justru memicu sifat sombong dan ujub.
  • Kesadaran diri dimulai dengan mengakui bahwa diri penuh dosa dan menjauhi sikap merasa suci. Tumbuhkan rasa takut akan azab karena setiap ucapan dan perbuatan lahir batin pasti dipertanggungjawabkan.
  • Orang cerdas adalah yang rutin mengevaluasi dirinya dan beramal untuk akhirat. Sisihkan waktu sejenak untuk introspeksi di tengah kesibukan dunia demi kebahagiaan abadi setelah kematian.
  • Segera perbaiki amalan sebelum ajal menjemput dan penyesalan tak lagi berguna. Ingatlah bahwa setiap jiwa pada hakikatnya tersandera dan tergadai oleh segala amal perbuatan yang telah ia kerjakan.

Setiap waktu yang diberikan oleh Allah adalah anugerah terindah bagi setiap insan. Dengan waktu yang terbentang, kita dapat mengisinya dengan berbagai bentuk ibadah baik dalam rangka mengerjakan perintah Allah maupun menjauhi larangan-Nya. Namun, sering kali terluput dari kita sebagai hamba untuk merenungkan: apakah amalanku sudah sempurna? Sering kali kita malah menyibukkan diri dengan melakukan penilaian terhadap orang lain, sementara kita sering menutup mata sendiri terhadap jiwa yang penuh alpa, cacat, dosa, dan aib ini. Maka, selayaknya kita mengisi setiap anugerah kehidupan ini dengan muhasabah diri.

Allah Ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok (kiamat).” (Q.S. Al-Hasyr : 18)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Hisablah jiwa-jiwa kalian sebelum kalian dihisab, dan perhatikanlah terhadap apa yang telah kalian simpan dan persiapkan bagi diri kalian berupa amal-amal saleh untuk menghadapi hari ketika kalian akan kembali dan menghadap Tuhan kalian” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 8/77). Ayat tersebut mengandung perintah untuk merenungkan apa saja yang telah dipersiapkan untuk hari esok yaitu hari kiamat. Perintah untuk melakukan perenungan, introspeksi, dan koreksi diri adalah bentuk dari makna muhasabah.

Kiasan Muhasabah dengan Berdagang

Ibnul Jauzi rahimahullah menggambarkan muhasabah seperti seseorang yang berdagang. Pedagang, tatkala ia menghitung keuntungan bersih (neto), ia akan mengalkulasi modal, keuntungan, dan kerugian saat berdagang. Modal berdagang dalam diri seorang mukmin itu laksana ibadah-ibadah wajib, keuntungan (margin) itu laksana ibadah-ibadah sunnah, dan kerugian itu laksana maksiat dan dosa yang ia perbuat (Minhaj Al-Qashidin, 3/1375).

Sudah umum diketahui bahwasanya jika seorang pedagang telah selesai melakukan kegiatannya di petang hari, maka hal yang pertama dilakukan ialah menghitung untung-rugi dari pekerjaan yang ia jalani. Ia amat bersemangat dan bergembira apabila meraih keuntungan, serta akan merasa takut dan kecewa apabila terjadi kerugian. Maka, selayaknya kita malu apabila diberi akal dan iman tetapi malah enggan melakukan muhasabah jiwa. Padahal, kita paham dan percaya bahwa kebahagiaan dan kecelakaan di akhirat itu amat bergantung pada amalan yang kita kerjakan di dunia ini. Sementara Allah Ta’ala telah mengingatkan kita dalam firman-Nya,

كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ

“Setiap jiwa manusia itu tergadai dengan amal-amal yang telah ia kerjakan.” (Q.S. Al-Muddattsir : 38)

Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan, “Maksudnya adalah setiap jiwa itu tersandera di dalam neraka karena usahanya (dosa-dosanya) dan ditahan akibat perbuatannya” (Ma’alim At-Tanzil, 8/272).

Rukun Muhasabah

Guna memahami lebih dalam terkait apa itu muhasabah, mari kita simak penjelasan Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah tentang muhasabah. Menurut beliau muhasabah memiliki tiga rukun, di antaranya

  1. Rukun pertama:Engkau membandingkan antara nikmat-nikmat Allah dengan keburukanmu, yaitu engkau membandingkan seluruh apa yang datang dari Allah dengan apa yang berasal darimu. Maka, akan tampaklah ketimpangan sehingga engkau akan sadar apakah engkau termasuk hamba-Nya yang akan mendapat rahmat dan ampunan-Nya atau justru kebinasaan dan kecelakaan.
  2. Rukun kedua:Engkau memahami betul apa yang menjadi hak Allah atasmu dan apa yang menjadi hakmu dari Allah. Hak Allah berupa kewajiban beribadah, menjaga ketaatan, dan menjauhi maksiat. Sedangkan hak hamba atas Allah adalah Allah membolehkan seluruh hal-hal yang bersifat mubah bagi hamba. Jangan sampai seseorang meninggalkan sesuatu yang dibolehkan oleh agama lalu ia tinggalkan dengan niat beribadah, atau justru melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak bernilai ibadah, tetapi disangka bernilai ibadah dan berpahala.
  3. Rukun ketiga:Rasa puas dan bangga terhadap ketaatan yang kamu kerjakan akan berbalik merugikanmu. Seorang yang berbangga dan merasa puas terhadap amalannya sendiri adalah bukti kekurangannya dalam menegakkan kewajiban penghambaan kepada Allah dan menjadi bukti cacatnya amalan ibadah yang ia persembahkan untuk Allah. Perbuatan seperti ini akan melahirkan sikap ujub dan sombong yang merupakan salah satu dosa besar (Madarij As-Salikin hal.141, 143-144).

Kiat-Kiat Membiasakan Muhasabah

Muhasabah memang terasa berat untuk dirutinkan, apalagi bila dilihat dari kesibukan dunia yang memenuhi celah waktu yang kita miliki. Namun, ada beberapa cara agar jiwa terbiasa untuk mempraktikkan muhasabah diri, di antaranya:

  • Pertama:Menyadari betul-betul bahwa diri penuh dengan dosa, maksiat, dan kealpaan. Allah Ta’ala berfirman,

فَلَا تُزَكُّوٓاْ أَنفُسَكُمۡۖ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ

“Janganlah kalian menganggap suci diri kalian. Allah lebih mengetahui siapa yang paling bertakwa di antara kalian.” (Q.S. An-Najm : 32)

Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Allah mengetahui apa yang dikerjakan setiap jiwa dan ke mana tempat akhir kembalinya. Maka janganlah kalian mengklaim sucinya diri kalian, jangan kalian menganggap diri kalian bebas dari dosa, dan janganlah kalian memuja-muji jiwa (diri) kalian dengan amal-amal yang kalian kerjakan” (Ma’alim At-Tanzil, 7/413).

  • Kedua:Tumbuhkan rasa takut akan murka dan azab Allah yang pedih di hari kiamat nanti, serta kuatkan keyakinan tentang setiap perbuatan dan ucapan, baik lahir maupun batin, akan dimintai pertanggung jawaban oleh-Nya. Seorang ulama tabi’in, Abu Sulaiman Ad-Darani rahimahullah, pernah berkata, “Tidaklah rasa takut meninggalkan hati, kecuali hati tersebut akan hancur” (Risalah Al-Qusyairiyyah hal.352).
  • Ketiga: Sempatkanlah waktu meski sebentar untuk bermuhasabah diri.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah.” (H.R. Tirmidzi, dan beliau menilai hadis ini “hasan”)
  • Keempat: Manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk meningkatkan amalan dan menjauhi kemaksiatan, sebelum datang hari ketika penyesalan tak berguna dan tak bermanfaat lagi. Allah Ta’alaberfirman,

وَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ

“Aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (diri sendiri).” (Q.S. Al-Qiyamah : 2)

Ibnu Jarir Ath-Thabariy rahimahullah menyatakan, “Tafsiran yang paling tepat untuk ayat ini adalah seorang manusia pasti akan menyesali kebaikan (karena tidak sempurna dilakukan) dan keburukan, serta akan dibuat kecewa atas apa yang telah berlalu dan lewat” (Jami’ Al-Bayan ‘An Ta’wil Al-Qur’an, 23/470-471).

Mutiara Nasihat dari Sang Khalifah, Umar radhiyallahu ‘anhu

Marilah kita renungkan satu nasihat agung dari Umar bin Khattab tentang muhasabah sebagai bahan renungan diri akan amalan yang sudah bernilai terpuji maupun yang masih berwujud keburukan dan aib. Umar bin Khattab pernah memberi wasiat, “Hisablah diri-diri kalian sebelum kalian yang dihisab dan timbanglah amal-amal diri kalian sebelum amal kalian ditimbang, serta berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkaban yang agung, yaitu hari ketika kamu dihadapkan kepada Tuhanmu; tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi-Nya)” (Kitab Az-Zuhd karya Al-Imam Ahmad bin Hanbal, No. 633, hal.148).

 

Penulis: Sakti Putra Mahardika, S.Pd. (Alumni Ma’had Al-‘Ilmi Yogyakarta)

Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *