EDISI 2235
—-
Q.S. Al-Baqarah : 185
شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِ
“Bulan Ramadhan yang Al-Qur’an diturunkan di dalamnya sebagai petunjuk, penjelas, dan pembeda (antara yang haq dan batil).”
- Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh berkah saat pintu langit dibuka, pintu neraka ditutup, setan dibelenggu, dan terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu malam.
- Ibadah ini melatih kesabaran dengan mengekang hawa nafsu. Balasan pahalanya tak terbatas, menjanjikan ampunan dosa masa lalu, serta hak masuk surga melalui pintu khusus Ar-Rayyan.
- Menghidupkan malam dengan tarawih atas dasar iman dan mengharap pahala dapat menggugurkan dosa-dosa kecil. Kedudukan shalat malam ini lebih utama dibanding shalat sunnah di siang hari.
- Ramadhan adalah bulan turunnya Al-Qur’an. Disunnahkan memperbanyak bacaan Al-Qur’an serta meningkatkan kedermawanan melalui sedekah, meneladani kedermawanan Rasulullah.
- Ramadhan adalah hadiah agung bagi setiap hamba untuk bertaubat dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Keutamaan Ramadhan
Ramadhan merupakan bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam karena ialah bulan yang Allah sebutkan secara khusus namanya dalam Al-Qur’an dan Allah beri keistimewaan melimpahnya pahala di dalamnya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah ‘azza wa jalla mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa di bulan tersebut. Pada bulan ini, dibukalah pintu-pintu langit, dikuncilah pintu-pintu neraka, dan dibelenggulah para setan, serta Allah memiliki satu malam di dalamnya lebih baik daripada seribu malam. Barangsiapa yang tercegah dari mendapatkan kebaikan malam tersebut, maka sungguh dia telah terhalangi dari segala kebaikan.” (H.R. An-Nasa’i, disahihkan Syaikh Al-Albani).
Keistimewaan Puasa
Pahala bagi orang yang berpuasa itu tanpa batas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam sebuah hadis kudsi, Allah Ta’ala berfirman, “Setiap amal kesalehan maka akan diganjar balasan 10 kali hingga 700 kali lipat kebaikan, kecuali puasa, karena puasa adalah untuk-Ku, maka Aku-lah yang akan membalasnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim) Al-Qurthubi menjelaskan pahala ibadah puasa itu milik Allah dan Allah-lah yang akan membalasnya sendiri, “Yaitu Allah yang akan membalas ibadah puasa dengan pahala yang amat banyak tanpa penentuan berapa kadarnya dan berapa lipat pahala tersebut.” Hal ini selaras dengan firman Allah,
إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ
“Sesungguhnya kadar ganjaran untuk orang-orang yang sabar itu tanpa batas.” (Q.S. Az-Zumar : 10)
Maksud dari “orang-orang yang sabar” dalam ayat ini menurut mayoritas para ulama adalah orang-orang yang berpuasa (Al-Mufhim Syarh Shahih Muslim, 3/ 212).
Selain itu, orang-orang yang melakukan ibadah puasa juga diberi kabar gembira dengan pahala masuk surga lewat pintu khusus, yaitu Ar-Rayyan. Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam berkata, “Surga memiliki pintu yang bernama Ar-Rayyan. Tidaklah masuk ke dalamnya kecuali orang-orang yang ahli berpuasa.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Demikian juga terdapat ganjaran ampunan bagi orang-orang yang berpuasa sebagaimana sabda Nabi, “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap, maka akan diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu.” (H.R. Muslim) Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan maksud dari kata “iman” dan “berharap”, “Yang dimaksud dari iman ialah meyakini sepenuhnya kewajiban puasa Ramadhan yang ia lakukan dan maksud dari ‘mengharap’ ialah mengharap balasan dari Allah Ta’ala” (Fath Al-Bari, 4/149).
Selain balasan yang akan diterima di akhirat nanti, ada pula ganjaran yang dirasakan di dunia. Apabila kita renungi ayat tentang perintah puasa, maka kita akan mengetahui bahwa takwa adalah tujuannya. Allah berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan pula bagi umat-umat terdahulu, agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)
Al-Baghawi menjelaskan tafsir “agar kalian bertakwa” dalam ayat tersebut dengan dua alasan. Pertama, “agar kalian bertakwa” karena ibadah puasa di dalamnya terdapat perintah untuk mengekang nafsu dan menghancurkan syahwat. Kedua, “agar kalian bertakwa” artinya agar kalian menjauhi, yaitu menjauhi syahwat makan, minum, dan jimak” (Ma’alim At-Tanzil, 1/188).
Keistimewaan Shalat Tarawih
Shalat tarawih ialah shalat malam yang dikerjakan pada bulan Ramadhan. Telah diriwayatkan dalam hadis yang sahih, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melaksanakan shalat malam (di bulan Ramadhan) dengan iman dan mengharap, maka akan diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Al-Qasthalani menjelaskan, “Barangsiapa yang menghidupkan malamnya dengan shalat tarawih atau ketaatan dibarengi dengan keimanan, yaitu membenarkan bahwasanya hal tersebut diperintahkan dan meyakini keutamaannya dan dibarengi dengan mengharap pahala akhirat bukan karena riya dan semisalnya, maka akan diampunilah dosa-dosanya dari dosa-dosa kecil bukan besar” (Irsyad As-Sari, 8/ 434).
Ada beberapa pendapat ulama tentang yang diampuni itu apakah dosa-dosa kecil saja atau bisa juga dosa-dosa besar, maka An-Nawawi menjelaskan, “Pendapat yang populer di kalangan para ulama ialah yang dijanjikan mendapat ampunan hanya khusus dosa-dosa kecil bukan dosa-dosa besar. Sebagian dari para ulama ada juga yang menjelaskan ‘boleh jadi akan diringankan dosa-dosa besar darinya apabila ia tidak memiliki dosa-dosa kecil’” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 3/ 242).
Shalat tarawih termasuk dari bagian shalat malam dan secara umum shalat malam itu lebih afdal daripada shalat-shalat sunnah di siang hari selain shalat rawatib. Ibn Rajab Al-Hanbali menjelaskan tentang sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam, “Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib lima waktu adalah shalat malam,” maksudnya ialah selain shalat lima waktu dan shalat yang mengiringinya dari shalat rawatib.
Shalat rawatib baik sebelum maupun sesudah shalat wajib itu lebih afdal daripada shalat malam menurut mayoritas para ulama karena ia statusnya digandengkan bersama shalat-shalat wajib.” (Lathaif Al-Ma’arif hal. 78-79). Terdapat atsar dari para sahabat yang menunjukkan tingginya kemuliaan shalat malam termasuk di dalamnya shalat tarawih. Ibnu Mas’ud berkata “Keutamaan shalat malam dibandingkan shalat sunnah siang hari seperti keutamaan sedekah secara sembunyi-sembunyi dengan sedekah secara terang-terangan”.
‘Amr bin Al-Ash juga berkata “Shalat malam satu rakaat lebih baik daripada shalat sunnah sepuluh rakaat di siang hari”. Ibnu Rajab menyimpulkan bahwa shalat sunnah di malam hari lebih diunggulkan daripada shalat sunnah di siang hari karena lebih rahasia dan lebih dekat kepada ikhlas (Lathaif Al-Ma’arif hal. 87).
Keistimewaan Membaca Al-Qur’an dan Bersedekah
Jamak diketahui bahwasanya Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan sebagaimana firman Allah Ta’ala,
شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِ
“Bulan Ramadhan yang Al-Qur’an diturunkan di dalamnya sebagai petunjuk, penjelas, dan pembeda (antara yang haq dan batil).” (Q.S. Al-Baqarah : 185) Ibnu Katsir menjelaskan, “Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus ke Baitul Izzah di langit dunia pada bulan Ramadhan tepatnya saat Lailatul qadar sebagaimana firman-Nya,
إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ
“Sungguh Kami telah menurunkannya pada malam Lailatul Qadar.” (Q.S. Al-Qadar : 1)
Dan firman Allah,
إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةٖ مُّبَٰرَكَةٍ
“Sungguh Kami telah menurunkannya pada malam yang diberkahi.” (Q.S. Ad-Dukhan : 3)
Kemudian setelah itu diturunkan berangsur-angsur sesuai peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim hal. 202).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki adat tatkala Ramadhan tiba, beliau berjumpa dengan Jibril ‘alaihissalam untuk membacakan dan mengajarkan Al-Qur’an. Maka dari itu, para ulama salaf memiliki kebiasaan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan mulia ini. Diriwayatkan Imam asy-Syafii mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali di luar shalat semisal juga Imam Abu Hanifah. Adapun larangan tentang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari, maka dimaknai dengan larangan jika dilakukan terus-menerus. Adapun pada waktu dan tempat yang dimuliakan dengan kemuliaan khusus seperti bulan Ramadhan, maka disunahkan untuk memperbanyaknya untuk meraih keutamaan pahala di dalamnya, demikianlah pendapat Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, dan selainnya (Lathaif Al-Ma’arif hal. 319).
Demikian juga merupakan hal yang dihidupkan oleh Nabi adalah memperbanyak sedekah di bulan ini. Rasulullah adalah figur yang paling dermawan, lebih-lebih lagi di bulan Ramadhan sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Abbas, “Rasulullah adalah manusia paling dermawan dan tingkat kedermawanan yang paling tinggi adalah di bulan Ramadhan tatkala beliau bertemu dengan Jibril.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Ramadhan Kabar Gembira Bagi Segenap Umat Islam
Bulan Ramadhan adalah hadiah agung dari Allah untuk para hamba-Nya baik yang bertakwa maupun orang-orang yang masih terjerumus dalam dosa dan maksiat. Ibnul Jauzi mengungkapkan, “Ramadhan adalah bulan dimana setiap karunia dan anugerah dilimpahkan dan bulan dimana setiap harapan (lebih) dikabulkan. Sempurnalah kegembiraan dan kebahagiaan melalui pahala bagi orang-orang yang beribadah. Sementara dosa-dosa orang-orang yang berbuat maksiat pun diampuni” (An-Nur Fi Fadhail Al-Ayyam Wa Asy-Syuhur hal. 45). Maka manfaatkanlah rezeki agung ini guna menjadi pribadi yang lebih baik.
Penulis: Sakti Putra Mahardika (Alumni Ma’had Al-‘Ilmi Yogyakarta)
Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S.
