FIKIH PUASA RAMADHAN


EDISI 2234

—-

Q.S. Al-Baqarah : 183

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” 

  • Puasa Ramadhan merupakan salah satu ibadah yang paling agung karena merupakan salah satu rukun Islam.
  • Bulan Ramadhan adalah bulan mulia yang Allah pilih secara khusus karena di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, dibukanya pintu kebaikan, dibelenggunya setan, dan adanya Lailatul Qadar.
  • Hikmah paling mulia dari disyariatkannya puasa Ramadhan adalah agar seorang hamba mencapai derajat takwa.
  • Puasa memiliki aturan-aturan berupa rukun-rukun dan pembatal-pembatal, juga sunah-sunah yang menyempurnakannya.

Puasa Ramadhan adalah salah satu ibadah paling agung dalam Islam. Ia termasuk rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat. Namun, puasa bukan sekadar aktivitas menahan lapar dan haus sejak pagi hingga petang. Puasa adalah ibadah yang mendidik jiwa, melatih kesabaran, menumbuhkan ketakwaan, dan memperbaiki akhlak.

Agar puasa Ramadhan benar-benar bernilai di sisi Allah, seorang muslim perlu memahami keutamaannya, menghayati hikmahnya, dan mengetahui aturan-aturan fikih yang berkaitan dengannya. Tanpa pemahaman ini, puasa dikhawatirkan hanya menjadi rutinitas tahunan yang tidak meninggalkan bekas perubahan dalam diri.

Tulisan ini disusun sebagai panduan bagi kaum muslimin agar dapat menjalani puasa Ramadhan dengan benar, tenang, dan sesuai tuntunan syariat.

Keutamaan Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang Allah pilih secara khusus dibanding bulan-bulan lainnya. Salah satu sebab kemuliaannya adalah karena pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan. Allah Ta’ala menjelaskan hal ini dalam firman-Nya,

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُۖ

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan tentang petunjuk itu, dan pembeda antara yang benar dan yang batil. Maka barang siapa yang mendapati bulan itu, hendaklah ia berpuasa.” (Q.S. Al-Baqarah : 185)

Ayat ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan sangat erat kaitannya dengan Al-Qur’an. Karena itu, para ulama sejak dahulu menjadikan Ramadhan sebagai bulan Al-Qur’an. Mereka memperbanyak tilawah, mentadaburi makna, dan berusaha mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, Ramadhan adalah bulan di mana Allah memudahkan jalan kebaikan dan menghalangi jalan keburukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keadaan ini dengan sabdanya, “Apabila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Makna hadis ini menunjukkan bahwa Allah menciptakan suasana yang sangat kondusif bagi hamba-Nya untuk beribadah. Dorongan untuk berbuat baik diperkuat, sementara godaan maksiat dilemahkan.

Keutamaan besar lainnya adalah adanya satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan, yaitu Lailatul qadar. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ١ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ ٢ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡرٖ٣

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (Q.S. Al-Qadr : 1–3)

Allah juga menyebut malam tersebut sebagai malam yang penuh keberkahan dalam firman-Nya,

إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةٖ مُّبَٰرَكَةٍۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.” (Q.S. Ad-Dukhan : 3)

Karena itu, sepuluh malam terakhir Ramadhan memiliki keutamaan yang sangat besar. Seorang muslim dianjurkan untuk lebih bersungguh-sungguh dalam ibadah pada malam-malam tersebut, berharap mendapatkan keutamaan Lailatul qadar.

Ramadhan juga dikenal sebagai bulan doa dan pembebasan dari api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa doa orang yang berpuasa memiliki kedudukan khusus, “Ada tiga doa yang tidak tertolak: doa orang yang berpuasa sampai ia berbuka, doa pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” (H.R. Tirmidzi)

Oleh karena itu, seorang muslim sepatutnya tidak menyia-nyiakan waktu-waktu doa di bulan Ramadhan, terutama menjelang berbuka.

Hikmah Puasa Ramadhan

Allah Ta’ala mewajibkan puasa dengan tujuan yang sangat mulia, yaitu agar seorang hamba mencapai derajat takwa. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah : 183)

Takwa berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan rasa diawasi oleh Allah. Dalam puasa, seorang muslim meninggalkan perkara yang sebenarnya halal—seperti makan, minum, dan hubungan suami-istri—semata-mata karena perintah Allah. Ini adalah latihan besar bagi jiwa untuk tunduk dan patuh kepada syariat.

Puasa juga melatih pengendalian diri dan hawa nafsu. Perut yang kenyang dan syahwat yang terus dituruti sering kali membuat hati lalai dan keras. Dengan berpuasa, jiwa menjadi lebih tenang, hati lebih lembut, dan lebih mudah mengingat Allah. Selain itu, puasa menumbuhkan empati sosial. Orang yang terbiasa hidup berkecukupan akan merasakan lapar dan dahaga, sehingga lebih memahami penderitaan fakir miskin dan terdorong untuk berbagi.

Namun, puasa tidak akan membuahkan hasil jika hanya berhenti pada menahan lapar dan haus. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (H.R. Ahmad)

Hal ini terjadi ketika puasa masih diiringi dengan maksiat lisan dan perbuatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (H.R. Bukhari)

Bahkan beliau menegaskan bahwa hakikat puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi menahan diri dari perkataan sia-sia dan kata-kata kotor. Jika ada yang mencela, orang yang berpuasa dianjurkan berkata,

إِنِّي صَائِمٌ

“Aku sedang berpuasa.” (H.R. Ibnu Khuzaimah)

Karena itu, Ramadhan seharusnya menjadi madrasah perubahan akhlak. Seorang muslim yang keluar dari Ramadhan seharusnya lebih baik daripada sebelumnya, lebih menjaga lisan, lebih disiplin dalam ibadah, dan lebih lembut dalam bermuamalah.

Rukun dan Waktu Puasa

Puasa memiliki rukun utama, yaitu menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa dan melakukannya pada waktu yang telah ditentukan. Waktu puasa dimulai sejak terbit fajar sadik hingga terbenam matahari.

Allah Ta’ala menjelaskan batas awal puasa dengan firman-Nya,

وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِۖ 

“Makan dan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (Q.S. Al-Baqarah : 187)

Setelah itu, seorang muslim wajib menahan diri hingga malam. Allah juga berfirman,

ثُمَّ أَتِمُّواْ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيۡلِۚ 

“Kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam.” (Q.S. Al-Baqarah : 187)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tanda berakhirnya puasa dengan sabdanya, “Jika malam datang dari arah ini, siang pergi dari arah itu, dan matahari telah terbenam, maka orang yang berpuasa telah berbuka.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Sunah-Sunah dalam Puasa

Di antara sunah yang sangat dianjurkan adalah menyegerakan berbuka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Berbuka dianjurkan dengan kurma segar. Jika tidak ada, maka dengan kurma kering. Jika tidak ada, maka dengan air putih. Setelah berbuka, disunahkan membaca doa berbuka dengan makna,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah tetap, insyaallah.” (H.R. Abu Dawud dan An-Nasa’i)

Sahur juga merupakan sunah yang sangat dianjurkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Walaupun hanya dengan sedikit makanan atau minuman, sahur tetap bernilai ibadah.

Di bulan Ramadhan, seorang muslim juga dianjurkan memperbanyak amal ketaatan seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah, salat sunah, berzikir, membantu sesama, dan menuntut ilmu agama.

Pembatal-Pembatal Puasa

Puasa batal jika seseorang dengan sengaja dan sadar melakukan hal-hal berikut: makan dan minum, mengeluarkan mani dengan sengaja, muntah dengan sengaja, haid dan nifas, hilang akal, murtad, berniat membatalkan puasa, merokok, dan melakukan jimak di siang hari Ramadhan.

Khusus jimak di siang hari Ramadhan, selain wajib mengqada puasa, juga diwajibkan kafarat yang berat, yaitu memerdekakan budak. Jika tidak mampu, maka puasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, memberi makan enam puluh orang miskin.

Penutup

Puasa Ramadhan adalah ibadah yang besar dan penuh hikmah. Ia bukan ibadah musiman, tetapi sarana pembentukan pribadi bertakwa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Semoga Ramadhan ini benar-benar menjadi titik balik perubahan diri kita, bukan hanya selama sebulan, tetapi sepanjang hidup. Semoga Allah menerima puasa, doa, dan seluruh amal ibadah kita. Aamiin.

 

Penulis: Mochammad Wibisono, S. M. (Alumnus Ma’had Al llmi Yogyakarta)

Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *