Hal yang Allah Tanyakan di Hari Kiamat

Edisi 2130

  1. At-Takatsur: 8

ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ

“kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”

  • Di antara hari yang akan dilewati setiap manusia adalah hari hisab, dimana Allah menampakkan dan meminta pertanggung jawaban dari setiap amalan hamba.
  • Hari hisab adalah fase paling berat yang akan dilalui setiap manusia di hari kiamat.
  • Pada hari hisab ada dua kelompok manusia, ada yang hisabnya mudah dan ada yang hisabnya berat.
  • Untuk menjadi golongan yang dimudahkan hisabnya kita harus mengamalkan sebab-sebabnya.

——–

Alhamdulillah ashsholatu wassalamu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in  ‘amma ba’du.

Para pembaca yang semoga senantiasa dirahmati Allah, sebagai seorang muslim kita dituntut untuk menjadi pribadi yang cerdas. Dan patokan kecerdasan seorang muslim terletak pada bagaimana dia mempersiapkan kehidupan abadinya setelah kematian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya perihal manakah mukmin yang paling cerdas. Maka beliau menjawab,

 أَكْثرُهُم لِلْمَوتِ ذِكْرًا، وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ استِعْدَادًا، أُولَئِكَ الأَكْياسُ


 “Di antara mereka yang paling banyak mengingat kematian, dan juga yang terbaik persiapannya untuk akhirat. Mereka itulah orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259).

Diantara perjalanan yang akan kita tempuh di kehidupan akhirat adalah hari hisab. Pada hari ini Allah Ta’ala akan menampakkan amalan-amalan hamba dan akan meminta pertanggung jawaban mereka atas hal yang pernah mereka kerjakan dan tinggalkan. Allah juga akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang berat. Oleh karenanya, hendaknya kita mempersiapkan dengan sebaik-baiknya untuk menjumpai hari tersebut dengan cara mempelajarinya dan mengamalkan apa yang menjadi konsekuensinya.

A. Fase Berat di Hari Hisab

Imam Al-Muzani rahimahullah dalam kitabnya Syarhus Sunnah menjelaskan tentang apa yang akan terjadi di hari hisab. Beliau berkata bahwa setelah hancur, manusia dibangkitkan. Dan pada hari kiamat, manusia dikumpulkan di hadapan Rabb-Nya, di masa penampakan amal manusia dihisab. Dengan dihadirkannya timbangan-timbangan dan ditebarkannya lembaran-lembaran (catatan amal) Allah menghitung dengan teliti, sedangkan manusia melupakannya. Hal itu terjadi pada hari yang kadarnya di dunia adalah 50 ribu tahun. Kalaulah seandainya bukan Allah sebagai hakimnya niscaya tidak akan bisa, akan tetapi Allahlah yang menetapkan hukum di antara mereka secara adil

B. Perbedaan Kondisi Manusia di Hari Hisab

Pada hari hisab, manusia dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 1) mereka yang mudah hisabnya dan 2) yang berat hisabnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan di dalam sabdanya,

مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ

“Barangsiapa yang dihisab, maka ia tersiksa”. Aisyah bertanya, “Bukankah Allah telah berfirman ‘maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah’ (QS. Al-Insyiqaq: 8)” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itu baru al-‘aradh (penampakan amal). Namun barangsiapa yang diteliti hisabnya, maka ia akan binasa.” (HR. Bukhari, no. 103 dan Muslim, no. 2876).

C. Pertanyaan-Pertanyaan di Hari Kiamat

Para pembaca yang semoga senantiasa dirahmati Allah Ta’ala, akan ada banyak pertanyaan-pertanyaan yang Allah siapkan untuk para hamba di hari kiamat. Diantaranya:

  1. Pertanyaan Tentang Jawaban atas Seruan Para Rasul

Allah Ta’ala berfirman,

وَيَوۡمَ يُنَادِيهِمۡ فَيَقُولُ مَاذَآ أَجَبۡتُمُ ٱلۡمُرۡسَلِينَ

“Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru mereka, seraya berkata:”Apakah jawabanmu kepada para rasul?” (QS. Al-Qashash: 65).

  1. Pertanyaan tentang Umur dan Masa Muda

Dari Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن عمره فيما أفناه، وعن علمه فيما فعل فيه، وعن ماله من أين اكتسبه وفيما أنفقه، وعن جسمه فيما أبلاه

“Tidak akan terangkat kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya dalam apa ia habiskannya, tentang ilmunya dalam apa ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia mendapatkannya dan dalam apa ia menginfakkannya, dan tentang tubuhnya dalam apa ia lelahkannya” (HR. Tirmidzi).

  1. Pertanyaan tentang Nikmat

Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ

Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).(QS. At-Takatsur: 8).

  1. Pertanyaan tentang Janji dan Perjanjian

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَوۡفُواْ بِٱلۡعَهۡدِۖ إِنَّ ٱلۡعَهۡدَ كَانَ مَسۡـُٔولٗا

“Dan penuhilah janji, sesungguhnya perjanjian itu pasti akan ditanya. (QS. Al-Isra’: 34).

D. Sebab Kemudahan di Hari Hisab

  1. Sering muhasabah diri

Dengan sering-sering bermuhasabah, maka hisab di hari kiamat akan menjadi lebih ringan.

Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,

أيها الناس! حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا، وزنوها قبل أن توزنوا، وتزينوا للعرض الأكبر، يوم لا تخفى منكم خافية، فإنما يخف الحساب يوم القيامة عمن حاسب نفسه في الدنيا

“Wahai manusia! Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk penghadapan yang terbesar, pada hari tidak ada sesuatu pun dari kalian yang tersembunyi. Sesungguhnya hanyalah hisab pada hari kiamat menjadi ringan bagi orang yang telah menghisab dirinya di dunia.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

  1. Berusaha menjadi hamba yang tak mengalami hisab

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberitahukan tentang 70.000 orang dari Umat Islam yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,

ﻫُﻢْ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﺎ ﻳَﺘَﻄَﻴَّﺮُﻭﻥَ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺴْﺘَﺮْﻗُﻮﻥَ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻜْﺘَﻮُﻭﻥَ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻳَﺘَﻮَﻛَّﻠُﻮﻥَ

“Mereka itu adalah orang yang tidak pernah minta diruqyah, tidak meminta dikay(pengobatan dengan besi panas), dan tidak pernah melakukan tathayyur serta mereka bertawakkal kepada Rabb mereka” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Penulis : Bima Krisna Aji, S.Pd. (Alumnus Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)
Pemurajaah : Ustaz Abu Salman, B.I.S.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *