EDISI 2218
—
Q.S. Al-Ikhlas : 1-2
قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ١ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ
“Katakanlah: ‘Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah adalah Ash-Shamad’.”
- Kesulitan ekonomi yang terjadi akhir-akhir ini tidak hanya mengguncang aspek finansial namun juga psikologis.
- Dalam kondisi sulit manusia cenderung akan mencari tempat bergantung.
- Hanya Allah-lah Zat yang layak menjadi tempat bergantung.
- Menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung merupakan sebab datangnya pertolongan Allah.
Dunia hari ini sedang mengalami tekanan ekonomi yang nyata. Pertumbuhan melambat, inflasi masih tinggi, biaya hidup meningkat. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Agustus 2025 mencapai 2,31%. Angka inflasi ini menunjukkan bahwa harga-harga barang dan jasa mengalami kenaikan dibanding tahun lalu, dengan bahan pangan sebagai penyumbang utama. Akibatnya, daya beli rumah tangga menurun. Kondisi ini bukan hanya menekan aspek finansial, tetapi juga mengguncang psikologis manusia saat melihat harga dapur merangkak naik, gaji tidak cukup, dan masa depan terasa semakin sempit.
Ilmu psikologi mengakui bahwa dalam kondisi sulit dan terjepit, manusia akan mencari figur yang bisa memberi rasa aman dan perlindungan emosional. Menjadikan makhluk lainnya sebagai tempat bergantung hanyalah menaruh harapan pada sesuatu yang fana dan penuh keterbatasan. Hanya ada satu Zat Yang Maha Besar, Maha Kekal, yang seharusnya menjadi tempat bergantung seluruh makhluk. Dialah Allah Ash-Shamad.
Mengenal Nama Allah, Ash-Shamad
“Tak kenal, maka tak sayang.” Sebuah ungkapan yang sering kita dengar, yang mengisyaratkan bahwa kecintaan terhadap seseorang atau suatu hal harus dimulai terlebih dahulu dengan mengenali seseorang atau hal tersebut. Begitu pula apabila kita ingin mencintai Rabb kita yaitu Allah Ta’ala maka kita harus mempelajari tentang kekuasaan-Nya dan mentadaburi “Asmaul Husna”, nama-nama-Nya yang indah nan sempurna. Memang sudah seharusnya seorang mukmin mencintai Rabb-nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادٗا يُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَشَدُّ حُبّٗا لِّلَّهِۗ وَلَوۡ يَرَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ إِذۡ يَرَوۡنَ ٱلۡعَذَابَ أَنَّ ٱلۡقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعٗا وَأَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعَذَابِ
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (Q.S. Al-Baqarah : 165)
Penetapan nama Allah Ta’ala yang agung ini hanya disebutkan dalam satu ayat di dalam Al-Qur’an, yaitu,
قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ١ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ
“Katakanlah: ‘Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah adalah Ash-Shamad’.” (Q.S. Al-Ikhlas : 1-2)
Terdapat banyak penafsiran dari para ahli tafsir mengenai apa makna Ash-Shamad. Dari ‘Ikrimah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa maksud Ash-Shamad adalah,
الَّذِي يَصْمُدُ الخَلَائِقُ إِلَيْهِ فِي حَوَائِجِهِمْ وَمَسَائِلِهِمْ
“Seluruh makhluk bersandar/bergantung kepada-Nya dalam segala kebutuhan maupun permasalahan” (Tafsir Al-Quran Al-Azhim hal. 698).
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa makna Ash-Shamad yaitu,
إنه المستغني عن كل أحد، والمحتاج إليه كل أحد.
“Yang tidak membutuhkan segala sesuatu dan segala sesuatu membutuhkan-Nya” (Tafsir Al-Qurthubi juz 20 hal. 245).
Manfaat Iman Kepada Ash-Shamad
Termasuk kewajiban bagi orang mukmin untuk mengimani seluruh nama dan sifat Allah Ta’ala yang datang dalam Al-Quran dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya, Al-Aqidah Al-Wasithiyyah: Termasuk keimanan kepada Allah adalah beriman terhadap sifat-sifat Allah yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya sendiri dan juga yang Rasulullah tetapkan untuk Allah tanpa melakukan tahrif (mengubah kata/makna), ta’thil (mengingkari nama dan sifat-Nya), tamtsil (menyamakan dengan makhluk), dan takyif (membagaimanakan sifat Allah).
Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin hafizhahullah di dalam kitab Fiqh Asmaul Husna berkata, “Apabila seorang hamba telah mengetahui bahwa Allah tersifati dengan kesempurnaan dan kemuliaan, dan bahwasanya Allah Ta’ala tidak ada sesuatu pun yang berada di atas-Nya, tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya, dan Allah adalah tempat bergantung dan berlindung semua makhluk, tidak ada tempat berlindung dan keselamatan, kecuali kepada-Nya, Dialah satu-satunya tempat manusia berlari, Dialah satu-satunya tempat bergantung semua makhluk dalam meminta kebutuhan dan keperluan mereka, maka wajib untuk dia tidak berlindung, kecuali kepada Allah saja, dan tidak meminta kebutuhan kecuali kepada-Nya, juga tidak bertawakal kecuali hanya kepada-Nya.
أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجۡعَلُكُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kalian mengingati-(Nya).” (Q.S. An-Naml : 62)
Di dalam kitab Al-Mausu’ah Al-‘Aqidah ditekankan bahwa, “Sesungguhnya seorang mukmin, ketika ia menyadari bahwa Allah Ta‘ala memiliki sifat Ash-Shamad —dan tiada satu pun di alam wujud ini yang memiliki sifat Ash-Shamad selain Allah Ta‘ala— maka ia akan hanya bergantung kepada-Nya dalam seluruh kebutuhannya. Dialah tempat ia berlindung dan tujuan akhirnya. Ia tidak akan bermaksud kepada selain-Nya, dan tidak akan memohon kebutuhan-kebutuhannya kecuali kepada-Nya semata.”
Keteladanan Para Nabi dan Ulama Saat Bergantung Hanya Kepada Ash-Shamad
Telah banyak kisah para Nabi dan ulama salafus-saleh yang menunjukkan keteladanan mereka dalam perkara ketergantungan terhadap Allah Ta’ala. Mereka meminta kepada Allah Ta’ala baik dalam perkara lapang ataupun sempit.
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,
سَلُوا اللَّهَ كُلَّ شَيءٍ حَتَّى الشِّسعَ
“Mintalah segala sesuatu kepada Allah, bahkan meminta tali sendal sekalipun.” (H.R. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 2/42)
Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan:
وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه حتى ملح عجينه وعلف شات
“Dahulu para salaf meminta kepada Allah dalam salatnya, semua kebutuhannya sampai-sampai garam untuk adonannya dan tali kekang untuk kambingnya” (Jami’ Al-Ulum wal Hikam hal. 517).
Terdapat banyak kisah keteladanan dari para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam yang bergantung pada Allah Ta’ala di saat kondisi terjepit, seperti:
- Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamberdoa dan melakukan salat di tengah malam sebelum Perang Badar. Beliau lakukan hal tersebut hingga waktu subuh, sebagaimana tertera dalam hadis,
‘Ali bin Abi Talib radhiyallahu ‘anhu pernah menceritakan,
رَأَيْتُنَا لَيْلَةَ بَدْرٍ وَمَا مِنَّا إِنْسَانٌ إِلَّا نَائِمٌ إِلَّا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ كَانَ يُصَلِّي إِلَى شَجَرَةٍ وَيَدْعُو حَتَّى أَصْبَحَ وَمَا كَانَ مِنَّا فَارِسٌ يَوْمَ بَدْرٍ غَيْرَ الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ
“Kami pernah memperhatikan pada malam Badar dan ketika itu semua orang pada terlelap tidur kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau melaksanakan salat di bawah pohon. Beliau memanjatkan doa pada Allah hingga waktu Subuh. Dan tidak ada di antara kami tidak ada yang mahir menunggang kuda selain Al–Miqdad bin Al–Aswad.” (H.R. Ahmad)
- Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika beliau diikat kaumnya pada sebuah alat pelontar senjata, kemudian beliau dilontarkan kedalam kobaran api. Ketika itu beliau membaca,
حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الوَكِيلُ
“Cukuplah Allah bagiku. Dia adalah sebaik-baik Pelindung.” (H.R. Bukhari)
Kemudian Allah Ta’ala menolong Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan menjadikan api terasa dingin, sebagaimana firman-Nya,
قُلۡنَا يَٰنَارُ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ٦٩ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ
“Kami berfirman (kepada api), ‘Hai api jadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim’. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (Q.S. Al-Anbiya’ : 69-70)
- Saat Nabi Musa ‘alaihissalamterjepit saat berhadapan dengan laut merah di depannya, dan tentara Firaun yang sedang mengejarnya dari belakang. Saat itu Bani Israil sudah merasa pasrah dengan kondisi yang dihadapi saat itu dan merasa ketakutan karena telah membayangkan kekejaman yang akan mereka hadapi apabila tertangkap. Namun Nabi Musa ‘alaihissalam sama sekali tidak gentar dan tetap yakin dengan pertolongan Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya,
قَالَ كـَلَّآۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهۡدِينِ
“Musa menjawab: ‘Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku’.” (Q.S. Asy-Syu’ara : 62)
Kemudian pertolongan Allah Ta’ala datang dengan memerintahkan Nabi Musa ‘alaihissalam untuk memukulkan tongkatnya hingga lautan terbelah dan bisa dilewati oleh Nabi Musa dan kaumnya.
Penutup
Ketika langkah terasa sempit, ingatlah bahwa takwa dan tawakal yang akan menjadi sebab datangnya pertolongan Allah. Sebagaimana janji Allah dalam firman-Nya,
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya,” (Q.S. Ath-Thalaq : 2-3)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah di dalam kitabnya berkata, “Maknanya, barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar serta rezeki dari arah yang tidak disangka, yaitu dari arah yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya.”
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang benar-benar mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, yang hanya bergantung kepada-Nya dalam setiap keadaan, dan menjadi hamba yang selalu bertakwa dan bertawakal dan diberikan pertolongan saat di tengah kesempitan. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.
Penulis: dr. Dimas Setiaji (Alumnus Ma’had Al ’llmi Yogyakarta)
Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B. I. S.
