EDISI 2245
—-
Q.S. An-Nisā’ : 157
وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِن شُبِّهَ لَهُمۡ
“Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka.”
- Nabi Isa ‘alaihis salamadalah rasul mulia yang diutus kepada Bani Israil untuk mengajak mereka kembali kepada tauhid yang murni, membenarkan Taurat, dan membawa Injil sebagai petunjuk.
- Nabi Isa ‘alaihis salam adalah rasul mulia yang diutus kepada Bani Israil untuk mengajak mereka kembali kepada tauhid yang murni, membenarkan Taurat, dan membawa Injil sebagai petunjuk.
- Sebagian kaumnya memusuhi dakwah beliau dan merencanakan penyaliban, namun makar mereka dibalas dengan pertolongan Allah.
- Al-Qur’an menegaskan bahwa Nabi Isa tidak dibunuh dan tidak disalib; yang terjadi hanyalah persangkaan manusia yang tidak berlandaskan ilmu.
- Allah menyelamatkan Nabi Isa dan mengangkatnya ke sisi-Nya dengan penuh kemuliaan; beliau masih hidup dan kelak akan turun kembali menjelang kiamat sebagai hakim yang adil.
Di antara kisah besar yang sering disalahpahami adalah peristiwa yang menimpa Nabi ‘Isa ‘alaihis salam. Beliau adalah rasul mulia yang diutus kepada Bani Israil. Namun, perjalanan hidup beliau kerap dipahami secara keliru, hingga muncul keyakinan bahwa beliau dibunuh dan disalib.
Islam datang untuk meluruskan hal tersebut. Al-Qur’an menjelaskan dengan tegas bahwa Nabi ‘Isa tidak dibunuh dan tidak pula disalib. Allah Ta’ala justru menyelamatkan beliau dari makar manusia dan mengangkatnya ke sisi-Nya. Dari sinilah kaum muslimin memahami kebenaran agung yang menjadi bagian dari akidah Islam bahwa Nabi ‘Isa tidak disalib, melainkan diangkat ke sisi Allah Ta’ala.
Nabi ‘Isa, Rasul Mulia Pembawa Tauhid
Nabi ‘Isa ‘alaihis salam diutus untuk mengajak Bani Israil kembali kepada tauhid yang murni. Beliau menyeru kaumnya agar hanya beribadah kepada Allah semata, meninggalkan kesyirikan, serta memperbaiki penyimpangan yang terjadi dalam ajaran sebelumnya. Dalam dakwahnya, Nabi ‘Isa membenarkan Taurat yang telah diturunkan sebelumnya dan membawa Injil sebagai petunjuk serta cahaya bagi orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman,
وَمُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَلِأُحِلَّ لَكُم بَعۡضَ ٱلَّذِي حُرِّمَ عَلَيۡكُمۡۚ وَجِئۡتُكُم بِـَٔايَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ
“Dan (Aku utus ‘Isa) untuk membenarkan Taurat yang datang sebelumnya dan untuk menghalalkan bagi kalian sebagian yang sebelumnya diharamkan bagi kalian. Dan aku datang kepada kalian membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhan kalian.” (Q.S. Āli ‘Imrān : 50)
Nabi ‘lsa memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Beliau diberi berbagai mukjizat sebagai bukti kerasulannya. Meski demikian, beliau tetap seorang hamba, bukan sosok yang memiliki sifat ketuhanan.
Allah Ta’ala berfirman,
مَّا ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُ وَأُمُّهُۥ صِدِّيقَةٞۖ كَانَا يَأۡكُلَانِ ٱلطَّعَامَ
“Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Ibunya seorang yang sangat benar, keduanya biasa memakan makanan.” (Q.S. Al-Mā’idah : 75)
Dengan demikian, mencintai Nabi ‘Isa dalam Islam adalah dengan menempatkan beliau sesuai kedudukannya sebagai hamba dan rasul Allah yang mulia, pembawa risalah tauhid, serta teladan dalam ketaatan dan ketundukan kepada Rabb semesta alam.
Makar Manusia dan Perlindungan Ilahi
Penolakan terhadap dakwah Nabi ‘Isa tidak berhenti pada pengingkaran. Sebagian kaumnya bahkan merencanakan kejahatan untuk mencelakakan beliau. Mereka mengira dapat menghentikan dakwah tauhid dengan rencana tersebut. Namun, Allah Ta’ala berfirman,
وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ
“Dan mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Q.S. Āli ‘Imrān : 54)
Allah Ta’ala menjaga Nabi ‘Isa dari keburukan yang mereka niatkan, dengan cara yang tidak mereka sangka dan tidak mampu mereka jangkau. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa para nabi berada dalam penjagaan Allah, serta bahwa kebenaran tidak akan pernah dikalahkan oleh kebatilan.
Fitnah Penyaliban yang Diluruskan Al-Qur’an
Allah Ta’ala secara tegas meluruskan klaim penyaliban Nabi ‘Isa ‘alaihis salam yang berkembang di tengah sebagian manusia. Klaim tersebut bukanlah kebenaran, melainkan sekadar prasangka dan dugaan yang tidak didasarkan pada ilmu yang yakin. Al-Qur’an hadir sebagai pemisah antara kebenaran dan kebatilan, menjaga kemuliaan para nabi dari tuduhan yang tidak benar. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِن شُبِّهَ لَهُمۡ
“Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka.” (Q.S. An-Nisā’ : 157)
Meluruskan fitnah penyaliban ini bukanlah untuk menimbulkan perdebatan, melainkan untuk menjaga kemurnian akidah dan memuliakan seorang rasul Allah yang telah menunaikan amanah dakwahnya dengan penuh keikhlasan.
Diangkat dengan Kemuliaan ke Sisi Allah
Sebagai bentuk perlindungan dan pemuliaan dari Allah Ta’ala, Nabi ‘Isa ‘alaihis salam diselamatkan dari makar manusia dan diangkat ke sisi-Nya dengan penuh kemuliaan. Peristiwa ini bukan sekadar penyelamatan, melainkan tanda agung tentang kedudukan para nabi di hadapan Allah, yang senantiasa berada dalam penjagaan dan pertolongan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
بَل رَّفَعَهُ ٱللَّهُ إِلَيۡهِۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمٗا
“Tetapi Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. An-Nisā’ : 158)
Pengangkatan Nabi ‘Isa adalah kehendak langsung dari Allah, sebagai balasan atas keteguhan beliau dalam menyampaikan risalah tauhid. Tidak ada satu pun kekuatan manusia yang mampu menghalangi ketetapan tersebut. Selain itu, Allah Ta’ala juga berfirman,
إِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَىٰٓ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ
“(Ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘Wahai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku serta membersihkanmu dari orang-orang kafir.’” (Q.S. Āli ‘Imrān : 55)
Para ulama menjelaskan bahwa pengangkatan ini terjadi dalam keadaan Nabi ‘Isa masih hidup, sebagaimana ditegaskan oleh banyak riwayat sahih tentang turunnya beliau di akhir zaman.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلًا…
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh akan turun kepada kalian Ibnu Maryam sebagai hakim yang adil…” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)
Peristiwa pengangkatan Nabi ‘Isa ke sisi Allah mengajarkan kepada kaum beriman bahwa pertolongan Allah selalu nyata bagi hamba-hamba pilihan-Nya. Allah memuliakan para nabi-Nya, menjaga mereka dari kehinaan, dan meneguhkan kebenaran risalah yang mereka bawa hingga akhir zaman.
Hikmah Akidah bagi Kaum Beriman
Kisah Nabi ‘Isa memberikan pelajaran kepada kaum beriman betapa pentingnya berpegang teguh kepada wahyu Allah dan tidak larut dalam prasangka yang tidak didasari ilmu. Akidah yang lurus dibangun di atas dalil yang jelas, bukan asumsi atau cerita yang diwariskan tanpa sandaran kebenaran. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya agar menjadikan wahyu sebagai rujukan utama dalam keyakinan. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا لَهُم بِهِۦ مِنۡ عِلۡمٍۖ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّۖ وَإِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغۡنِي مِنَ ٱلۡحَقِّ شَيۡـٔٗا
“Dan mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, dan sesungguhnya persangkaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran.” (Q.S. An-Najm : 28)
Pertolongan Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan istiqamah dalam ketaatan. Meskipun para nabi menghadapi makar dan ancaman besar, Allah tidak pernah meninggalkan mereka. Sebagaimana firman-Nya,
إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَيَوۡمَ يَقُومُ ٱلۡأَشۡهَٰدُ
“Sesungguhnya Kami pasti akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi.” (Q.S. Ghāfir : 51)
Islam mengajarkan sikap adil dalam mencintai para nabi: tidak merendahkan mereka, namun juga tidak mengangkat mereka melebihi kedudukan sebagai hamba Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji ‘Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: ‘hamba Allah dan rasul-Nya.’” (H.R. Al-Bukhari)
Keyakinan bahwa Nabi ‘Isa ‘alaihis salam tidak disalib, melainkan diangkat ke sisi Allah Ta’ala, merupakan bagian dari akidah Islam yang lurus dan bersumber dari wahyu yang benar. Pemahaman ini tidak hanya meluruskan kekeliruan dalam keyakinan, tetapi juga menjaga kemuliaan seorang rasul Allah yang telah mengabdikan hidupnya untuk menyeru kepada tauhid dan ketaatan kepada Rabb semesta alam.
Semoga pemahaman yang benar ini semakin menambah keimanan dalam hati kita, meneguhkan keyakinan terhadap kebenaran Al-Qur’an dan Sunnah, serta menumbuhkan rasa cinta yang tulus kepada seluruh nabi dan rasul Allah. Dengan mencintai mereka secara benar, kita belajar untuk meneladani keteguhan, kesabaran, dan keikhlasan mereka dalam menjalankan amanah dakwah.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing langkah kita di atas jalan kebenaran, menjaga akidah kita dari penyimpangan, dan menetapkan kita dalam iman dan Islam hingga akhir hayat. Semoga kita dikumpulkan kelak bersama para nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada, dan orang-orang saleh. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Penulis: Fitri Nuryanto, S.M.
Pemurajaah : Ustadz Abu Salman, B.I.S.
