EDISI 2201
—
Bismillah. Alhamdulillahi Washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah
Q.S. Al Ḥadīd : 25
لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلَنَا بِٱلۡبَيِّنَٰتِ وَأَنزَلۡنَا مَعَهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمِيزَانَ لِيَقُومَ ٱلنَّاسُ بِٱلۡقِسۡطِ
“Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca keadilan agar manusia dapat berlaku adil”
- Agama Islam mewajibkan kepada setiap pemeluknya untuk beriman kepada semua nabi dan rasul tanpa membeda-bedakan satu sama lainnya.
- Umat Islam juga diwajibkan untuk mengimani kitab-kitab yang turun kepada para rasul.
- Agama Islam telah mengatur tata cara beriman kepada kitab dan rasul baik secara umum maupun terperinci.
- Inti dakwah para nabi dan rasul adalah satu, yaitu menyeru kepada tauhid meskipun syariat mereka berbeda-beda.
Salah satu keistimewaan agama Islam dibandingkan agama lainnya adalah terdapat penekanan untuk beriman kepada semua nabi dan rasul tanpa membeda-bedakan satu sama lainnya. Orang yang tidak beriman dengan para nabi dan rasul yang diutus kepada ahli kitab, yaitu Yahudi dan Nasrani, maka ia tidak bisa disebut seorang muslim.
Bandingkan hal ini dengan sempitnya pandangan ahli kitab yang membeda-bedakan para rasul dengan mengatakan,
نُؤۡمِنُ بِبَعۡضٖ وَنَكۡفُرُ بِبَعۡضٖ
“Kami beriman kepada sebagian mereka dan kami mengingkari sebagian yang lain” (Q.S. An-Nisā` : 150)
Mereka beriman kepada Nabi Musa dan Nabi Isa, tetapi mereka enggan beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mereka beriman kepada Taurat, tetapi menolak Injil dan Al-Qur’an, sedangkan sebagian lainnya beriman kepada Taurat dan Injil, tetapi menolak Al-Qur’an. Sementara kita, umat Islam, beriman kepada Nabi Musa, Isa, Muhammad, dan nabi-nabi yang lain. Kita juga beriman kepada Taurat, Injil, dan Al-Qur’an, meskipun kita meyakini bahwa Taurat dan Injil yang ada saat ini telah banyak yang diubah dari keadaan aslinya.
Salah seorang mualaf dari agama Nasrani menceritakan perasaannya saat pertama kali masuk Islam dengan mengatakan: “Aku selamat dengan Muhammad, namun tidak kehilangan Yesus”. Sebab, ketika ia masuk Islam, hakikatnya ia tidak meninggalkan cinta dan penghormatannya kepada Yesus/Isa, karena Nabi Isa dalam pandangan Islam merupakan salah satu nabi yang mulia, yang ia lakukan hanya memperbaiki pandangannya terhadap Nabi Isa ‘alaihissalam, dan menempatkannya pada derajat seorang nabi dan rasul. Pada saat yang sama, ia selamat dengan beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diutus membenarkan semua kitab dan rasul yang datang sebelumnya, salah satunya Isa ‘alaihissalam.
Cara Beriman Kepada Kitab-Kitab
Beriman kepada kitab-kitab terdiri dari dua tingkatan, membenarkannya secara umum dan membenarkannya secara rinci.
Membenarkan secara umum maksudnya kita membenarkan dan mempercayai bahwa Allah Ta‘ala menurunkan kitab-kitab kepada para rasul sebagai petunjuk kehidupan umat manusia, sebagaimana firman Allah Ta‘ala,
لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلَنَا بِٱلۡبَيِّنَٰتِ وَأَنزَلۡنَا مَعَهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمِيزَانَ لِيَقُومَ ٱلنَّاسُ بِٱلۡقِسۡطِ
“Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca keadilan agar manusia dapat berlaku adil” (Q.S. Al Ḥadīd : 25)
Adapun membenarkan secara rinci adalah membenarkan keterangan di dalam Al-Qur`an berupa nama-nama rasul dan nama-nama kitab yang diturunkan kepada mereka. Allah Ta‘ala mengabarkan bahwa Dia menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa, kitab Zabur kepada Nabi Daud, dan kitab Injil kepada Nabi Isa ‘alaihimussalam. Allah juga mengabarkan tentang ṣuḥuf (lembaran) yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Musa sehingga kita wajib mengimani semua kitab tersebut.
Cara Beriman Kepada Nabi dan Rasul
Sebagaimana beriman kepada kitab, beriman kepada nabi dan rasul juga terdapat dua tingkatan, beriman secara umum dan secara rinci. Beriman secara rinci berkaitan dengan nama dan sifat mereka, kitab yang diwahyukan, dan informasi lainnya yang sahih, semacam ujian yang mereka hadapi, peristiwa yang menimpa mereka, dan lain-lain. Adapun beriman secara umum berarti kita meyakini dan membenarkan bahwa Allah Ta‘ala mengutus nabi dan rasul kepada setiap umat manusia. Meskipun kita tidak mengetahui informasi tentang mereka, kita tetap wajib mengimani keberadaan mereka, sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman,
وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلٗا مِّن قَبۡلِكَ مِنۡهُم مَّن قَصَصۡنَا عَلَيۡكَ وَمِنۡهُم مَّن لَّمۡ نَقۡصُصۡ عَلَيۡكَ
“Dan sungguh Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad), di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antaranya ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu” (Q.S. Ghāfir : 78)
Allah Ta‘ala juga berfirman,
وَإِن مِّنۡ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٞ
“Dan tidak ada satu pun umat melainkan di sana telah datang seorang pemberi peringatan.” (Q.S. Fāthir : 24)
Ayat terakhir sekaligus sebagai bantahan bagi orang yang mengatakan bahwa keberadaan nabi dan rasul hanya ada di timur tengah. Sebab, Allah Ta‘ala mengabarkan bahwa pada setiap umat manusia telah diutus nabi yang menyampaikan risalah tanpa membatasi lokasi diutusnya nabi tersebut.
Agama Para Nabi Satu, Syariat Mereka Berbeda-beda
Allah Ta’ala mengabarkan bahwa semua nabi adalah muslim dan agama mereka dilandasi tauhid kepada Allah, sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman,
مَا كَانَ إِبۡرَٰهِيمُ يَهُودِيّٗا وَلَا نَصۡرَانِيّٗا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفٗا مُّسۡلِمٗا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ
“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, muslim, dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik.” (Q.S. Āli ‘Imrān : 67)
Pada ayat di atas, Allah membantah orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengklaim bahwa Nabi Ibrahim beragama Yahudi atau Nasrani. Allah mengabarkan bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang muslim yang bertauhid kepada Allah, demikian pula nabi-nabi Allah yang lainnya.
Allah Ta‘ala juga berfirman,
وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku.” (Q.S. Al Anbiyā` : 25)
Ayat di atas menerangkan bahwa risalah semua nabi dan rasul hanya satu, yaitu mengajak orang untuk mengesakan dan menyembah Allah Ta‘ala. Namun, meskipun para nabi dan rasul berkongsi dalam hal mengajak kaumnya bertauhid, syariat mereka berbeda-beda, sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman,
لِكُلّٖ جَعَلۡنَا مِنكُمۡ شِرۡعَةٗ وَمِنۡهَاجٗا
“Untuk setiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang” (Q.S. Al Mā’idah : 48)
Imam Ath-Thabari rahimahullah mengatakan: “Kata syir‘ah adalah kata syari‘ah itu sendiri. Qatadah menyampaikan: syir‘ah dan minhaj (pada ayat tersebut) artinya jalan dan aturan. Aturan bentuknya bermacam-macam, Taurat memiliki syariatnya tersendiri, Injil memiliki syariatnya sendiri, demikian pula Al-Qur’an memiliki syariatnya sendiri. Akan tetapi, agama mereka satu dan agama selain itu tidak diterima, yaitu tauhid dan ikhlas beribadah hanya kepada Allah. Itulah risalah yang dibawa para rasul” (Jāmi‘ Al-Bayān hal. 385).
Penutup Nabi dan Rasul
Setelah para nabi dan rasul Allah menyampaikan risalah kepada kaumnya masing-masing, Allah Ta‘ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi dan penghapus syariat sebelumnya. Sehingga tidak ada lagi pengutusan nabi sampai hari kiamat dan seluruh umat manusia di muka bumi wajib mengikuti risalah yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman,
وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَمُهَيۡمِنًا عَلَيۡهِ
“Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) ini kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya sekaligus sebagai penjaganya” (Q.S. Al Mā’idah : 48)
Sebagai ‘penjaga’ maksudnya kitab Al-Qur’an menjaga pesan tauhid pada kitab-kitab sebelumnya dan sekaligus menjadi sumber hukum yang menghapus hukum-hukum pada kitab sebelumnya.
Kesimpulan
Islam adalah agama yang berlandaskan wahyu dan bukan berlandaskan inovasi atau pemikiran manusia. Oleh karena itu, seorang muslim tidak diperkenankan menciptakan keyakinan atau amalan karangannya sendiri untuk mendekatkan diri, tetapi wajib berserah diri kepada aturan yang telah Allah Ta‘ala tetapkan, baik dalam bentuk Al-Qur’an atau sunah Nabi-Nya. Itulah mengapa seorang muslim disebut muslim, karena ia menyerahkan segala urusannya kepada Allah Ta‘ala, baik urusan dunia maupun urusan agama.
Washallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Penulis : Faadhil Fikrian Nugroho, S.S. (Alumnus Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)
Pemuraja’ah : Ustaz Abu Salman, B.I.S.
