Ikhlas Dalam Ibadah


EDISI 2213

—-

Q.S. An-Nisa’ : 146

إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُواْ وَأَصۡلَحُواْ وَٱعۡتَصَمُواْ بِٱللَّهِ وَأَخۡلَصُواْ دِينَهُمۡ لِلَّهِ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ وَسَوۡفَ يُؤۡتِ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَجۡرًا عَظِيمٗا

Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan { Mengadakan perbaikan berarti berbuat pekerjaan-pekerjaan yang baik untuk menghilangkan akibat-akibat yang jelek dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan.} , dan berpegang teguh pada (agama) Allah, dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” 

  • Landasan ibadah yang paling penting adalah keikhlasan
  • Ikhlas adalah menghendaki amal ibadah semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah
  • Salah satu cara untuk menjaga keikhlasan adalah dengan menjaga kerahasiaan ibadah
  • Dengan berharap surga dan takut akan neraka maka keikhlasan tidaklah berkurang

Segala puji hanya milik Allah Ta’ala, satu-satunya Rabb yang berhak untuk diibadahi, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarganya, para shahabatnya, dan orang-orang yang selalu mengikuti mereka dengan baik hingga hari akhir.


Definisi Ibadah

Secara bahasa, ibadah adalah merendahkan diri dan tunduk. Orang arab berkata, “thariqul mu’abbad”, artinya jalan yang sudah di tundukkan (dirintis) yang dipersiapkan untuk ditempuh manusia (Hushulul Ma’mul bi Syarhi Tsalatsatil Ushul hal. 42).

Adapun dari segi istilah,“ibadah adalah sebuah istilah untuk segala sesuatu yang dicintai dan diridai oleh Allah berupa perkataan dan perbuatan, baik yang lahir maupun yang batin” (Al-‘Ubudiyyah hal. 38).

Ikhlas adalah Ruh Ibadah

Ibadah merupakan mata air kehidupan seorang Muslim, karena tanpa ibadah kepada Allah Ta’ala, hati akan menjadi kering dan gersang. Akan tetapi, esensi ibadah bukan semata-mata pada bentuk lahiriah atau kuantitasnya, melainkan pada kualitas dan tujuan yang melandasinya. Disinilah letak besarnya nilai ikhlas, yaitu melaksanakan ibadah semata-mata karena Allah Ta’ala, bukan karena ingin dipuji manusia atau mendapatkan keuntungan duniawi.

Allah Ta’ala menegaskan dalam firman-Nya,

إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُواْ وَأَصۡلَحُواْ وَٱعۡتَصَمُواْ بِٱللَّهِ وَأَخۡلَصُواْ دِينَهُمۡ لِلَّهِ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ وَسَوۡفَ يُؤۡتِ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَجۡرًا عَظِيمٗا

Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan { Mengadakan perbaikan berarti berbuat pekerjaan-pekerjaan yang baik untuk menghilangkan akibat-akibat yang jelek dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan.} , dan berpegang teguh pada (agama) Allah, dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”(Q.S. An-Nisa’ : 146)

Keikhlasan merupakan hal yang paling penting dalam landasan suatu ibadah. Jika seseorang tidak ikhlas, maka amal sebesar apa pun akan menjadi sia-sia dan tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah di dalam tafsirnya, “Dua hal ini merupakan dua syarat diterimanya amal ibadah: (1) haruslah berupa ibadah yang ikhlas untuk Allah Ta’ala dan (2) harus benar yaitu sesuai syariat yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Shahih Tafsir Ibnu Katsir, 3/57).

Hakikat Ikhlas

Secara bahasa, ikhlas berasal dari kata خَلَصَ  yang artinya bersih dan murni dari campuran (Lisanul ‘arab), sedangkan secara istilah salah satu makna ikhlas adalah “menghendaki dengan amalnya semata-mata mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, bukan karena hal lain seperti seperti kedudukan di depan makhluk, mencari pujian manusia, atau ingin apapun dari perkara dunia” (Adabul ‘Alim wal Muta’allim, Imam Nawawi, hal. 8).

Ikhlas artinya kita memurnikan niat ibadah hanya untuk Allah Ta’ala. Sebagaimana sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Tanpa adanya keikhlasan, ibadah bisa berubah menjadi riya’ (pamer), dan itu termasuk syirik kecil, sedangkan Allah Ta’ala tidak menerima ibadah yang ditujukan kepada selain-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوۡ أَشۡرَكُواْ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

“Andaikan mereka berbuat syirik, maka akan terhapuslah semua amalan yang mereka kerjakan. (Q.S. Al-An’am : 88)

Menjaga Kerahasiaan Ibadah

Salah satu cara menumbuhkan dan menjaga keikhlasan adalah dengan merahasiakan amal ibadah, terutama ibadah-ibadah sunnah seperti shalat malam, puasa sunnah, sedekah, dan doa. Para salafus shalih sangat menjaga amal rahasia mereka. Sebagian dari mereka menangis dalam shalat malam tanpa diketahui istri atau anak mereka. Ada yang memberi makan fakir miskin secara diam-diam, hingga tidak diketahui siapa pemberinya. Amal rahasia adalah bukti cinta sejati kepada Allah Ta’ala, karena hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya. Ibadah semacam ini jauh dari pujian manusia dan memurnikan hubungan hamba dengan Rabb-nya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang tujuh orang yang mendapat naungan Allah Ta’ala di hari kiamat, dua diantaranya adalah,

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمُ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

“seseorang yang bersedekah dengan suatu sedekah lalu dia merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, dan juga

وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Seseorang yang mengingat Allah saat dia seorang diri lalu air matanya menetes. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Hal ini menunjukkan bahwa ibadah yang kita lakukan secara rahasia akan lebih membuat kita lebih ikhlas kepada Allah Ta’ala.

Keluasan Ibadah

Dalam Islam, ibadah tidak hanya terbatas pada shalat, puasa, zakat, dan haji. Ibadah bisa mencakup seluruh aktivitas mubah yang diniatkan karena Allah Ta’ala dan sesuai dengan syariat. Bahkan bekerja untuk nafkah keluarga, tersenyum kepada orang lain, dan menyingkirkan duri dari jalan bisa menjadi ibadah jika disertai niat yang ikhlas untuk meraih rida Allah Ta’ala.

Ada hubungan yang erat antara ibadah hati, lisan, dan anggota tubuh. Ibadah hati seperti ikhlas, cinta, tawakal, khauf (takut), dan raja’ (harap) kepada Allah Ta’ala adalah pondasi yang menghidupkan ibadah lainnya. Ibadah lisan seperti dzikir, doa, membaca Al-Qur’an menguatkan hubungan vertikal dengan Allah Ta’ala. Ibadah fisik seperti shalat, puasa, dan jihad adalah bukti nyata ketaatan seseorang.

Semua bentuk ibadah ini saling menguatkan. Sedangkan keikhlasan di hati akan melahirkan ucapan yang benar dan amal yang lurus yang bisa berbuah pahala yang besar. Sebaliknya, amalan yang tampak besar pahalanya, jika niatnya salah, bisa menjadi kecil disisi Allah Ta’ala.

Imam Ibnul mubarak Rahimahullah mengatakan,

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ

“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (pahalanya) karena sebab niat” (Jami’ul ulum wal hikam, Ibnu Rajab, I/71).

Berharap Surga dan Takut Akan Neraka Tidaklah Mengurangi Keikhlasan

Sebagian kaum muslimin memiliki keyakinan bahwa mengharap surga dan pahala, serta takut akan dosa dan masuk neraka akan mengurangi keikhlasan. Bahkan di antara mereka ada yang berkeyakinan bahwa orang yang tidak takut akan siksa neraka serta tidak mengharap surga dalam setiap ibadahnya merupakan tanda semakin ikhlas hatinya dan semakin tinggi kedudukannya. Keyakinan yang demikian ini adalah keyakinan yang tidak tepat. Hal ini bisa ditinjau dari dua sisi:

[1] Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk meminta surga yang tertinggi, sebagaimana dalam hadis sahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian meminta (berdoa) kepada Allah, maka mintalah Firdaus yang tertinggi. Sesungguhnya ia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. (H.R. Bukhari)

[2] Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan manusia paling bertakwa, manusia yang paling tinggi tingkatannya, pun berdoa kepada Allah dengan doa (yang artinya), “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu surga dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka” (H.R. Abu Dawud)

Dan juga hadis, “Sesungguhnya doa yang sering diucapkan Nabi adalah :“Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah waqinaa ‘adzaabannaar” (Wahai Tuhan Kami karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api Neraka). (H.R. Bukhari)

Maka yang benar adalah rasa harap akan surga dan takut akan neraka tidaklah mengurangi keikhlasan seseorang, bahkan hal itu yang merupakan perkara yang dituntunkan oleh syariat dan dicintai oleh Allah Ta’ala dan menjadi penyempurna dalam setiap ibadah dan doa kita.

Penutup

Selain usaha maksimal agar kita selalu ikhlas, jangan lupakan doa kepada Allah Ta’ala agar selalu diberikan keikhlasan dalam setiap amal ibadah yang kita lakukan, sebagaimana doa dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu,

اللهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِيْ كُلَّهُ صَالِحًا وَ اجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصاً وَلَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيهِ شَيْئًا

Ya Allah, jadikan seluruh amalku bernilai kebaikan, dan jadikanlah amal tersebut benar-benar ikhlas hanya untuk wajah-Mu, dan jangan jadikan sedikit pun dari amal tersebut untuk siapapun (selain Engkau).” (H.R. Ahmad, Az-Zuhd no. 617)

Nas’alullah as-Salamah wal ‘Afiyah.

 

Penulis: Nizamul Adli Wibisono, S.T. (Alumni Ma’had Al llmi Yogyakarta)

Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B. I. S.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *