EDISI 2212
—
Q.S. Al-Kahfi : 110
فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”
- Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah
- Allah telah menjanjikan kepada hamba-Nya berbagai macam nikmat dari ibadah yang benar dan nikmat yang paling agung adalah bertemu dan memandang Allah Ta’aladi surga
- Syarat diterimanya ibadah adalah ikhlas dan mutaba’ah
- Janganlah sampai kita merugi dengan tidak diterimanya amalan kita yang sedikit ini
Pembaca sekalian yang semoga senantiasa Allah rahmati dan muliakan. Allah Ta’ala telah menjelaskan tujuan penciptaan manusia dengan sangat gamblang dalam firman-Nya,
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Q.S. Adz-Dzariyat : 56)
Sejumlah ulama menafsirkan lafadz يعبدون (beribadah kepada-Ku) pada ayat ini dengan makna يوحدوني (mentauhidkan-Ku), karena ibadah tidak akan diterima kecuali dengan mentauhidkan Allah Ta’ala (At-Tamhid li Syarhi Kitab At-Tauhid, 11/1).
Sejatinya ibadah itu kita tunaikan untuk diri kita sendiri, baik untuk kemaslahatan dunia maupun akhirat. Ibadah adalah sarana untuk memenuhi fungsi keberadaan kita, agar jauh dari krisis eksistensi. Dengan demikian, tujuan ibadah bukanlah untuk menambah kekuasaan Allah, sebab ibadah tidak sedikitpun memengaruhi kebesaran-Nya. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai hamba-Ku, seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, manusia dan jin, semuanya seperti orang yang paling bertakwa di antara kalian, maka hal itu tidak menambah kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-Ku, seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, manusia dan jin, semuanya layaknya orang yang berhati paling jahat di antara kalian, maka hal itu tidak mengurangi kerajaan-Ku sedikit pun.” (H.R. Muslim)
Buah Ibadah yang Benar
Ibadah yang benar-benar membuahkan manfaat adalah ibadah yang diterima di sisi Allah. Dan buah terbesarnya kelak adalah nikmat yang agung, yaitu bertemu dan memandang Allah Ta’ala di surga sebagaimana firman-Nya,
وُجُوهٌ يَّوۡمَئِذٖ نَّاضِرَةٌ ٢٢ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ٢٣
“Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Memandang Tuhannya.” (Q.S. Al-Qiyamah : 22–23)
Namun, perjumpaan yang dinanti ini tidak bisa digapai sembarang orang. Hanya mereka yang memenuhi kriteria berikut yang akan mendapatkannya,
فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Q.S. Al-Kahfi : 110)
Dijelaskan bahwa syarat untuk mendapatkan keutamaan dalam ayat ini adalah menggabungkan ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dalam ibadah (Taisir Al-Karim Ar-Rahman hal. 563). Siapa saja yang berbuat syirik dan bidah dalam ibadahnya, maka ia tidak memenuhi kriteria di atas.
Seriusi yang Sedikit Ini!
Andai kita mau berpikir dengan jernih, betapa ruginya beramal tanpa ikhlas, sebab seluruh amal akan gugur karenanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ
“…Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan gugurlah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S. Az-Zumar : 65)
Seorang tabiin yang mulia, Maimun bin Mihran pernah berkata, “Sungguh amal kalian itu sedikit, maka ikhlaskanlah yang sedikit itu” (Hilyatul Awliya’, 4/89). Generasi tabiin termasuk dalam generasi terbaik dalam sejarah Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku (sahabat), kemudian setelah mereka (tabiin), kemudian setelah mereka (tabi’ut tabi’in).” (H.R. Bukhari dan Muslim) Dengan kondisi yang demikian, mereka tetap merasa amalnya sedikit. Lantas, bagaimana dengan amal kita hari ini?
Demikian pula dengan mutaba’ah, karena amalan yang dikerjakan tanpa dalil syar’i (bidah) statusnya adalah tertolak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (H.R. Bukhari dan Muslim) Ibadah adalah persembahan, dan persembahan itu sudah selayaknya mengikuti kriteria penerimanya, bukan mengikuti selera diri sendiri.
Berkaca pada perkataan Maimun bin Mihran sebelumnya, rasanya sangat layak kita katakan, “Sungguh amal kita jauh lebih sedikit daripada generasi saleh terdahulu, maka seriusilah amal itu dengan ikhlas dan mutaba’ah.” Jangan sampai, amal kita yang sudah amat sedikit ini justru habis tergerus syirik dan bidah.
Dakwah yang Sehat dan Normal
Kenyataan bahwa ikhlas dan mutaba’ah merupakan syarat diterimanya amal, sudah semestinya menjadi landasan bahwa dakwah yang sehat adalah dakwah yang menaruh perhatian besar terhadap keduanya, dengan tidak menjadikannya sebagai hal yang tabu. Dakwah yang normal harus punya atensi dalam menjauhkan umat dari kesyirikan. Inilah tanda kasih sayang paling tulus dari para juru dakwah, selayaknya dakwah para Nabi ‘alaihim ash-shalatu was salam. Mereka selalu memprioritaskan dakwah tauhid sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut.” (Q.S. An-Nahl : 36)
Yang dimaksud thaghut di sini adalah segala sesembahan selain Allah (Tafsir Al-Qurthubi, 10/103).
Dakwah yang sehat adalah dakwah yang memiliki perhatian besar dalam menjaga umat dari TBC (takhayul bidah churafat), layaknya perhatian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memperingatkan umat dari perbuatan bidah pada banyak kesempatan khutbah beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berhati-hatilah kalian dari perkara baru yang diada-adakan, karena setiap yang baru (dalam agama, pen) itu adalah bidah, dan setiap bidah adalah sesat.” (H.R. Abu Dawud no. 4607, dinilai sahih oleh Ibnu Hajar Al-’Asqalani) Hadis ini menjadi dalil bahwa seluruh bidah dalam perkara agama adalah terlarang.
Mari sejenak membahas seputar perhatian dan membaca ulang skala prioritas. Belakangan ini, masih kita jumpai sebagian pendakwah sering membahas tema-tema umum yang memang penting, hanya saja kurang memberi porsi untuk memperingatkan umat dari bahaya syirik dan bidah, meskipun hanya dalam selipan kecil di tengah pembahasan topik bermanfaat lainnya.
Katakanlah ada yang tidak sepakat dengan sebagian ritual yang dianggap syirik. Lantas, sudah sejauh mana keseriusan mereka dalam mendakwahkan amalan syirik yang mereka sepakati? Ironisnya, sebagian pihak malah dikenal luas karena kritik tajam terhadap dakwah tauhid, bukan karena mendakwahkan tauhid itu sendiri. Katakanlah sebagian pihak memandang bahwa bidah itu ada baik dan ada yang terlarang. Lantas, sudah sekeras apa upaya mereka dalam melarang masyarakat dari berbuat amalan yang mereka nilai sebagai bidah yang terlarang? Sangat disayangkan apabila yang getol disampaikan hanya bidah yang mereka nilai baik saja, jarang disampaikan bidah apa saja yang terlarang, bahkan seolah tiada. Bukankah ia juga amanah ilmiah yang perlu dipahami umat?
Hasilnya, masih banyak masyarakat awam yang bahkan tidak mengenal istilah bidah sama sekali. Sebagian lainnya alergi ketika mendengar kata syirik dan bidah seolah lafaz ini pantang diucap, padahal kedua istilah ini akrab dijumpai dalam tradisi keilmuan Islam dari masa ke masa. Ada pula yang salah paham, seperti mengira naik haji dengan pesawat adalah bidah, padahal ia hanyalah sarana duniawi yang tidak ternilai ibadah secara zatnya. Demikian hasil dakwah yang cenderung berisi obsesi pembenaran, tanpa upaya edukasi yang adil dan proporsional.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi kita petunjuk untuk beribadah dengan ikhlas dan mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjauhkan kita dari syirik dan bidah, serta meneguhkan kita di atas tauhid hingga akhir hayat, agar dianugerahi kenikmatan bertemu dan memandang Allah Ta’ala di surga-Nya kelak.
Penulis: Reza Mahendra, S.Psi. (Alumnus Ma’had Al-’Ilmi Yogyakarta)
Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B. I. S.
