EDISI 2209
—
H.R. Al-Bukhari dan Muslim
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.”
- Ujian selalu hadir dalam kehidupan seorang manusia
- Manusia ketika diuji sering merasakan ujian sebagai kesulitan yang tiada berujung
- Selalu ada panutan dari generasi terbaik umat ini bagaimana cara menghadapi ujian
- Ujian dari Allah merupakan tanda cinta-Nya dan selalu ada hikmah di baliknya
Pernahkah kita merasa lelah menjalani hidup hingga muncul pertanyaan dalam hati: “Mengapa Allah menakdirkan aku melewati semua ini?”
Pertanyaan semacam ini wajar muncul sebagai kegelisahan manusiawi. Namun, seringkali kita lupa bahwa tidak ada satupun manusia yang benar-benar bebas dari ujian. Bahkan para nabi (manusia paling mulia) pun diuji dengan cobaan yang jauh lebih berat dibandingkan ujian yang kita alami.
Allah tidak pernah menjanjikan kehidupan yang bebas dari kesulitan bagi orang-orang beriman. Namun Dia menjanjikan bahwa setiap kesulitan akan selalu diiringi dengan kemudahan. Allah Ta’ala berfirman,
فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا ٥ إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا
“Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” (Q.S. Asy-Syarh : 5-6)
Ketika Ujian Terasa Tak Berujung
Sebagai seorang muslim, kita mungkin hafal ayat ini, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Kita sering mengulanginya. Namun, di titik-titik tertentu dalam hidup, ketika ujian datang silih berganti tanpa henti, bisikan hati pun muncul: “Mengapa selalu kesulitan yang aku alami? Di mana kemudahan itu? Apakah ini pertanda Allah membenciku?”
Saudaraku, ketahuilah Allah Maha Mengetahui batas kemampuan setiap hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya.” (Q.S. Al-Baqarah : 286)
Setiap ujian yang Allah berikan telah diukur dengan penuh kasih sayang dan keadilan. Tidak ada satu pun cobaan yang diberikan melebihi kemampuan kita untuk menanggungnya.
Ujian: Bukti Iman Diuji, Bukan Dibenci
Allah menegaskan dalam firman-Nya,
الٓمٓ١ أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ
“Alif lām mīm. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan ‘Kami telah beriman,’ lalu mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui siapa yang benar dan siapa yang dusta.” (Q.S. Al-‘Ankabut : 1-3)
Ayat ini menjelaskan bahwa ujian bukanlah tanda kebencian Allah, melainkan cara-Nya membuktikan kualitas iman kita. Melalui ujian, kesabaran ditempa, iman diperkuat, dan kedekatan kepada Allah semakin dalam.
Kisah Bilal bin Rabah: Teguh di Tengah Siksaan
Nama Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu tentu tidak asing di telinga kita. Ia adalah seorang budak berkulit hitam dari Habasyah (Ethiopia) yang tinggal di Makkah. Bilal termasuk di antara orang-orang pertama yang memeluk Islam, di masa dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Setelah memeluk Islam, tuannya, Umayyah bin Khalaf, murka besar. Ia menganggap Islam sebagai ancaman, apalagi bila dianut oleh budaknya. Sejak saat itu, Umayyah menyiksa Bilal dengan berbagai cara yang kejam, membaringkannya di atas pasir yang panas, menindih dadanya dengan batu besar, dan memaksanya kembali menyembah berhala.
Namun, apakah dengan siksaan tersebut Bilal menjadi takut, sedih, atau bahkan menganggap bahwa Allah membencinya? Tidak. Justru di tengah siksaan, ia terus mengucapkan, “Ahad… Ahad…” (Allah Yang Maha Esa… Allah Yang Maha Esa). Kalimat itu menjadi bukti keteguhannya dalam iman, serta keyakinannya akan janji Allah Ta’ala,
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kalian takut dan janganlah bersedih hati, dan bergembiralah kalian dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian.’” (Q.S. Fussilat : 30)
Keteguhan Bilal akhirnya terdengar oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Dengan harta pribadinya, Abu Bakar membeli Bilal dari Umayyah bin Khalaf dengan harga yang tinggi, lalu memerdekakannya. Sejak saat itu, Bilal menjadi salah satu sahabat yang setia mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga diangkat sebagai muazin pertama dalam Islam, mengumandangkan azan di Masjid Nabawi.
Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa kemudahan pasti datang setelah kesulitan. Ujian adalah jalan untuk menilai kejujuran iman. Karena itu, setiap kali kita diuji, hendaknya kita melihat kembali “seberapa tulus dan teguh iman kita di hadapan Allah?”.
Hadis-Hadis Tentang Ujian Sebagai Tanda Cinta Allah
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (H.R. At-Tirmidzi no. 2396, hasan shahih kata Syaikh Al-Albani)
Juga dari hadis Anas bin Malik, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan beratnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (H.R. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al-Albani)
Hikmah yang Sering Terlupakan
Kemudahan yang Allah janjikan tidak selalu berupa hilangnya masalah seketika. Kadang, ia hadir dalam bentuk kekuatan hati, kesabaran yang kokoh, atau solusi yang datang dari arah tak terduga.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Q.S. At-Talaq : 2–3)
Bahkan, setiap rasa lelah, sakit, atau sedih yang kita alami menjadi sebab penghapusan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)
Penutup
Maka, ketika ujian menimpa, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa itu tanda kebencian Allah. Sebagaimana seorang guru memberi ujian kepada muridnya untuk menaikkan levelnya, begitu pula Allah menguji hamba-Nya untuk meninggikan derajatnya.
Jika kita bersabar dan ikhlas, kita akan mendapati kemudahan yang dijanjikan-Nya, meski mungkin dalam bentuk yang tak kita bayangkan.
Ingatlah:
- Ujian bukan tanda benci, tapi tanda cinta.
- Kesulitan tidak pernah datang sendirian, ia selalu ditemani kemudahan.
- Allah tidak akan membebani melebihi kemampuan kita.
- Setiap air mata yang jatuh akan diganti dengan pahala dan derajat yang tinggi di sisi-Nya.
Tetaplah yakin: Ketika Allah menguji, bukan berarti Dia membenci.
Penulis: Arga Saputra Makalalag
Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S.
