EDISI 2208
—
Q.S. An-Nahl : 36
وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَ
“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (yang menyerukan): ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut’.”
- Setiap tahun bangsa Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan
- Namun, kemerdekaan sejati adalah kebebasan dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah
- Tauhid memiliki peran yang besar dalam mewujudkan kemerdekaan yang hakiki
- Untuk mewujudkan tauhid sebagai prinsip hidup, seorang muslim harus menjalankan beberapa langkah nyata
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari akhir.
Setiap tahun, bangsa kita memperingati Hari Kemerdekaan. Namun, sebagai seorang muslim yang memahami makna tauhid, kita menyadari bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya terbebas dari penjajahan fisik, tetapi adalah kebebasan dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah. Tauhid adalah inti kebebasan yang hakiki.
Dalam sejarah Islam, kemerdekaan sejati muncul dari ruh tauhid. Para sahabat berhijrah membawa akidah, bukan kekayaan atau kekuatan fisik. Mereka rela meninggalkan tanah kelahiran demi menjaga iman.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa, Sesungguhnya kami adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam; maka jika kami mencari kemuliaan yang lain selain dengan Islam, Dia akan menghinakan kami. (Al-Mustadrak ‘alā al-Ṣaḥīḥayn, dinyatakan shahīḥ oleh al-Albānī)
Perjuangan bangsa ini pun tidak terlepas dari ruh Islam. Tokoh-tokoh ulama seperti Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, dan lainnya menjadikan masjid dan pesantren sebagai pusat perlawanan karena mereka paham bahwa kemenangan hakiki datang dari kekuatan iman.
Lantas, apa peran tauhid setelah kita dinyatakan merdeka?
- Tauhid sebagai Hakikat Kemerdekaan
Tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah, merupakan inti dari ajaran para nabi dan rasul. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَ
“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (yang menyerukan): ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut’.” (Q.S. An-Nahl : 36)
Menurut Imam Ibn Katsir, seluruh rasul menyerukan tauḥid dan larangan penyembahan terhadap thaghut karena ini adalah pokok akidah yang tak berubah (Tafsir Ibn Katsir atas An-Nahl : 36).
Syaikh Abdurrahmān As-Sa’dī menegaskan bahwa hujjah ini telah tegak dan argumen musyrik seperti “jika Allah menghendaki kami tidak berbuat syirik” sangatlah tidak valid karena Allah telah menyampaikan peringatan melalui rasul-Nya (Tafsir as-Sa’di atas An-Nahl : 36).
Menurut Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, tauḥid merupakan asas kemerdekaan spiritual karena membebaskan manusia dari penghambaan kepada thaghut (segala yang disembah selain Allah) (Syarḥ Kitāb al-Tauḥīd, Juz 1).
Para ulama memahami bahwa tanpa tauhid, seorang manusia tak ubahnya seperti budak yang terikat oleh berbagai bentuk hawa nafsu, ketakutan kepada makhluk, dan ketergantungan terhadap kekuatan duniawi. Tauhid menyelamatkan manusia dari semua bentuk perbudakan ini.
- Kemerdekaan dalam Cahaya Tauhid
Sebagian orang menyangka dirinya telah merdeka karena bebas melakukan apa saja. Padahal, jika ia masih menghambakan diri kepada harta, jabatan, mode hidup, atau makhluk lain, maka kemerdekaan itu belumlah hakiki. Mereka mengklaim kebebasan, tetapi mereka menjadi budak harta, popularitas, teknologi, bahkan politik. Inilah bentuk perbudakan kontemporer yang tampak “modern”, namun hakikatnya menjerumuskan pada kehinaan. Tidak ada kebebasan sejati tanpa tauhid.
Allah Ta’ala berfirman:
أَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيۡهِ وَكِيلًا
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Maka apakah kamu dapat menjadi pelindung atasnya?” (Q.S. Al-Furqan : 43)
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kehinaan orang yang memperbudak diri kepada hawa nafsunya dan tidak menjadikan wahyu sebagai pedoman hidupnya (Tafsir As-Sa’di hal. 642).
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata bahwa, Sesungguhnya dalam hati ada kefakiran yang tidak akan hilang kecuali dengan penghambaan kepada Allah. Jika berpaling dari-Nya, hati itu akan diperbudak oleh selain-Nya (Al-Fawaid hal. 149).
Tauhid membimbing hati untuk bersandar hanya kepada Allah dalam segala keadaan. Seorang mukmin tidak memuliakan makhluk secara berlebihan, tidak takut pada selain Allah, dan tidak mencari keridaan manusia dengan mengorbankan ketaatan kepada Allah.
- Jalan Menuju Indonesia Emas dengan Tauhid
Jika suatu bangsa ingin benar-benar merdeka, maka harus dimulai dari individu-individu yang bertauhid. Masyarakat yang kuat secara akidah akan menolak segala bentuk penjajahan akal, sistem batil, dan gaya hidup sekuler yang menjauhkan manusia dari Penciptanya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa, Agama dan kekuasaan adalah dua hal yang saling menguatkan. Agama adalah pondasi, dan kekuasaan adalah penjaganya (Majmu’ Al-Fatawa, 28/390).
Tauhid bukan sekadar teori atau wacana, tetapi prinsip hidup yang perlu dijalankan dengan sepenuh hati dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini adalah beberapa langkah nyata yang bisa dilakukan oleh setiap muslim agar tauhid benar-benar menjadi dasar kehidupan pribadi maupun masyarakat:
- Belajar ilmu tauhid dari sumber terpercaya
Menuntut ilmu adalah langkah awal yang penting. Carilah guru yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan sunah sesuai pemahaman para sahabat. Kitab-kitab seperti Tsalatsatul Ushul, Kitab At-Tauhid, dan Qawaidul Arba’ bisa menjadi rujukan utama. Belajar secara bertahap dan berkelanjutan akan membangun pondasi akidah yang kuat.
- Meninggalkan segala bentuk kesyirikan
Kesyirikan bisa berwujud hal-hal yang tampak sepele, seperti memakai jimat untuk keselamatan, pergi ke dukun, atau meminta kepada orang yang telah wafat. Sering kali praktik ini terjadi karena kurangnya pemahaman. Maka, penting bagi kita untuk menjelaskan bahaya syirik dengan lembut dan penuh kasih sayang kepada masyarakat.
- Menyebarkan pemahaman tauhid di lingkungan sekitar
Kita bisa memulai dari keluarga: ajak anak-anak bertauhid sejak kecil, ajak tetangga untuk hadir di majelis ilmu, atau sekadar membagikan tulisan dakwah ringan di media sosial. Sekecil apa pun kontribusi itu, jika ikhlas karena Allah, akan menjadi amal yang besar di sisi-Nya.
- Berperilaku adil, jujur, dan amanah dalam kehidupan sehari-hari
Orang yang bertauhid akan terlihat dari akhlaknya. Ia tidak akan menipu dalam berdagang, tidak curang dalam bekerja, dan tidak zalim dengan sesama. Dengan akhlak yang baik, dakwah tauhid akan menyentuh hati masyarakat tanpa banyak berkata-kata.
- Mendoakan kebaikan bagi pemimpin dan memberi nasihat dengan hikmah
Islam mengajarkan kita untuk selalu mendoakan pemimpin agar Allah berikan taufik dan petunjuk. Jika ada kekeliruan, nasihatilah dengan cara yang santun, bukan dengan celaan atau hujatan. Ini adalah bentuk cinta terhadap negeri dan bukti bahwa kita ingin kebaikan menyebar.
- Berpartisipasi dalam komunitas dakwah dan lembaga keislaman
Mari terlibat aktif dalam kegiatan keislaman di masjid, pesantren, atau komunitas dakwah. Jika belum mampu berdakwah secara langsung, kita bisa membantu dari sisi lain: mendukung secara finansial, memfasilitasi tempat, atau mengajak teman dan keluarga untuk ikut serta.
Dengan langkah-langkah kecil yang dilakukan secara terus-menerus dan ikhlas, insyaallah kita ikut andil dalam membangun negeri ini menjadi bangsa yang bertauhid, bermartabat, dan diberkahi Allah.
Penutup
Marilah kita sadari bahwa kemuliaan, kebahagiaan, serta kejayaan yang kita dambakan bagi bangsa Indonesia tidak akan pernah bisa terwujud tanpa berpegang teguh pada prinsip tauhid. Perjuangan mewujudkan Indonesia Emas sejatinya dimulai dari langkah kecil setiap individu, yaitu memperbaiki hubungan kita dengan Allah melalui keimanan yang murni.
Semoga setiap usaha yang kita lakukan, sekecil apa pun, menjadi sebab Allah turunkan keberkahan atas negeri ini. Semoga Allah menyatukan hati umat Islam di Indonesia dalam satu barisan tauhid, sehingga negeri ini menjadi kuat, makmur, adil, dan sejahtera di bawah naungan ridha-Nya.
Ya Allah, jadikanlah bangsa kami bangsa yang bertauhid, jauhkanlah kami dari kesyirikan dan segala bentuk kemaksiatan. Anugerahkanlah kepada kami para pemimpin yang mencintai-Mu, mengikuti petunjuk Rasul-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta peduli kepada rakyatnya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Penulis: Herbi Yuliantoro, S.Si., M.Eng. (Alumni Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)
Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S.
