EDISI 2143
—
Q.S. Al Baqarah : 186
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ
“Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentangKu, maka (katakanlah) bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan doa-doa hambaKu tatkala mereka memohon kepadaKu. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu dalam kebenaran.”
- Kondisi sulit yang dihadapi setiap manusia merupakan ujian bagi kualitas tauhidnya.
- Dalam kondisi ini banyak orang yang terjerumus ke dalam kesyirikan.
- Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu bersandar kepada Allah di segala kondisi.
- Doa, memohon syafaat, istianah, dan istigasah merupakan bentuk penghambaan diri seorang hamba kepada Allah, sehingga amalan tersebut tidak dapat ditujukan kepada selainNya.
Setiap manusia pasti pernah sampai pada titik tersulit. Saat hati terasa sempit, harapan mulai memudar, dan mulut spontan berucap, Tolonglah aku… Di saat seperti itu, tanpa kita sadari kita memperlihatkan siapa yang benar-benar kita yakini sebagai penolong. Di sanalah tauhid kita diuji. Apakah kita meminta kepada Allah, atau mengalihkan hati dan lisan kita kepada makhluk? Di momen seperti ini, banyak orang yang justru menjauh dari jalan Allah. Banyak orang yang terjerumus dalam kesyirikan, baik sengaja maupun tidak, baik disadari maupun tidak. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana Islam mengajarkan konsep ini, konsep tentang doa, memohon syafaat, istianah, dan istigasah.
Doa : Bukan Sekadar Permintaan
Banyak orang yang mengira bahwa doa hanyalah sarana meminta sesuatu. Padahal, lebih dari itu, doa adalah ibadah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الدُّعاءُ هو العبادةُ
“Doa adalah ibadah.” (H.R. Tirmidzi)
Doa adalah bentuk kejujuran kita pada diri sendiri, bahwa kita adalah makhluk yang lemah, kecil, dan tak punya daya. Dan hanya kepada Allah yang Maha Kuasa yang dapat mendengar setiap rintihan kita, yang dapat mendengar setiap kesulitan kita. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ
“Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentangKu, maka (katakanlah) bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan doa-doa hambaKu tatkala mereka memohon kepadaKu. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu dalam kebenaran.” (Q.S. Al Baqarah : 186)
Namun, apa jadinya bila doa itu tidak diarahkan kepada Allah? Apa jadinya ketika seseorang mengangkat tangannya, bukan kepada Rabbul ‘Alamin, tapi kepada sesosok makhluk? Inilah saat di mana doa berubah arah dan tauhid menjadi ternoda. Sesuatu yang seharusnya menjadi bukti penghambaan kepada Allah, berubah menjadi kesyirikan yang halus, tapi berbahaya. Dilakukan tanpa sadar, karena dibungkus dengan label hormat atau tawasul. Padahal itu adalah bentuk pengalihan ibadah kepada selainNya. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّن يَدۡعُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَهُمۡ عَن دُعَآئِهِمۡ غَٰفِلُونَ
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah, yang tak dapat mengijabah doanya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari doa mereka?” (Q.S. Al Ahqaf : 5)
Bukan hanya isi doa yang penting, namun kepada siapa ia ditujukan.
Syafaat : Bukan Tiket Ajaib ke Surga
Di tengah ketakutan akan azab dan harapan akan ampunan, kita sering mendengar kata syafaat. Sebagian orang menggantukan harapan besar pada syafaat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari wali yang mereka cintai, atau dari orang-orang yang dianggap dekat dengan Allah. Tidak sedikit bahkan yang datang ke kuburan, duduk lama-lama di hadapan makam, lalu berkata lirih : “Wahai fulan, tolonglah aku nanti di akhirat…”
Namun yang perlu kita perhatikan, syafaat bukan jaminan yang bisa diminta sembarangan. Syafaat adalah kehormatan dari Allah yang tidak semua orang berhak memberikannya. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, makhluk terbaik dan termulia, tidak bisa memberi syafaat tanpa izin dari Allah.
Allah Ta’ala befirman,
مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦ
“Siapa yang dapat memberi syafaat di sisiNya tanpa izinNya?” (Q.S. Al Baqarah : 255)
Ayat ini tidak hanya menegasikan anggapan bahwa semua bisa memberi syafaat, tetapi juga menegaskan bahwa syafaat adalah hak mutlak Allah. Allah yang menentukan siapa yang boleh memberi dan kepada siapa syafaat itu diberikan. Tidak cukup hanya romantisasi cinta Rasul, terlebih berharap kepada selain Allah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Syafaat itu akan didapatkan insyaa Allah oleh setiap orang yang mati dari umatku yang tidak menyekutukan Allah sedikitpun.” (H.R. Muslim)
Perhatikan baik-baik! syaratnya Tauhid. Abaikan narasi palsu yang menjual syafaat sebagai tiket instan ke surga. Syafaat adalah nikmat yang agung dan itu diberikan hanya kepada hamba-hamba yang Allah ridai.
Istianah : Pertologan yang Harus Dijaga Arah Tujuannya
Manusia memang diciptakan dalam keadaan lemah. Kita saling membutuhkan satu sama lain. Maka tak salah jika kita sesekali berkata, “Tolong bantu aku”, kepada manusia pada hal-hal yang bisa dilakukan oleh manusia. Namun, istianah bisa berubah menjadi penyimpangan tauhid jika diarahkan pada perkara yang hanya Allah mampu mengurusnya.
Sering kita dapati ketika seseorang memiliki hajat besar, hatinya lebih tertuju kepada leluhur, wali, dan orang shalih. Padahal 17 kali dalam sehari kita membaca firman Allah Ta’ala,
إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ
“Hanya kepadaMu kami menyembah, dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan.” (Q.S. Al Fatihah : 5)
Tauhid mengajarkan kepada kita untuk berserah dan bersandar pada Allah dalam segala urusan, seperti kesembuhan, hidayah, kelapangan rezeki, dan perlingdungan dari hal-hal gaib. Jangan sampai kita menggantungkan harapan pada jimat, pada angka keberuntungan, atau pada nama-nama manusia yang telah tiada.
Istigasah : Seruan Darurat yang Hanya Layak Ditujukan Kepada Allah
Bayangkan seseorang yang sedang tenggelam. Nafasnya tinggal terengap-engap, tangannya terangkat, matanya mencari harapan. Lalu ia berteriak, “Tolong…!” Inilah contoh yang disebut istigasah, permintaan tolong di titik paling genting. Dalam kondisi seperti ini, seharusnya tidak ada satu pun nama yang lebih layak disebut selain, Yaa Allah!
Kita lihat kembali kisah Firaun yang disumpal mulutnya dengan pasir oleh Malaikat Jibril ketika akan tenggelam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Ketika Allah menenggelamkan Firaun, ia berkata, Aku telah beriman bahwa tiada Tuhan kecuali yang diimani oleh Bani Israil. Jibril berkata, Wahai Muhammad, seandainya saat itu engkau melihat diriku sedang mengambil tanah hitam lalu aku sumpalkan ke mulutnya, karena aku takut rahmat Allah akan menghampirinya.” (H.R. Tirmidzi). Bahkan sekufur-kufurnya Firaun, maka apakah kita akan lebih parah darinya ketika keadaan genting menghadang? Dengan menyeru kepada wali fulan atau tokoh fulan yang sudah meninggal atau yang tidak bisa mendengar seruan kita?
Memang istigasah kepada makhluk dalam lingkup yang bisa dilakukan oleh makhluk, misal meminta pertolongan kepada orang sekitar ketika kecelakaan, kata ulama itu boleh. Namun, yang sering terjadi adalah beristigasah pada suatu perkara yang tidak bisa dilakukan kecuali oleh Allah. Ingatlah bahwa seruan di saat terdesak itu murni hanya ditujukan kepada Allah.
Perhatikan bagaimana Allah mengabulkan istigasahnya Rasulullah dalam kondisi terdesak, di Perang Badar, yang Allah Ta’ala abadikan dalam firmanNya,
إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلۡفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُرۡدِفِينَ
“(Ingatlah) ketika kalian memohon pertolongan kepada Tuhan kalian, lalu Dia mengabulkan bagi kalian, Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (Q.S. Al Anfal : 9)
Istigasah bukan sembarang seruan. Ia adalah pengakuan akan ketidakberdayaan kita. Oleh karena itu, jika diarahkan kepada selain Allah, ia menjadi bentuk syirik yang berbahaya.
Penulis : Adi Sudrajat, S.Mat. (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)
Pemuraja’ah : Ustadz Abu Salman, B.I.S.
