Salat: Warisan Langsung Dari Langit


EDISI 2231

—–

Q.S. Al-‘Ankabut : 45

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ

Dan dirikanlah Salat. Sesungguhnya Salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar…”

  • Salat memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam Islam.
  • Karena tingginya kedudukan salat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjemput langsung perintah-Nya ke langit saat peristiwa Isra dan Mikraj.
  • Salat merupakan syariat yang telah diwajibkan atas umat-umat terdahulu.
  • Menjaga salat merupakan kunci kebahagiaan dunia dan akhirat.
  • Di antara kekeliruan yang dilakukan sebagian umat Islam adalah melalaikan salat dibandingkan ibadah-ibadah lainnya.
  1. Kedudukan Salat dalam Islam

Salat menempati posisi yang sangat mulia dan fundamental dalam Islam. Ia adalah rukun Islam kedua setelah dua kalimat syahadat, yang merupakan fondasi bangunan agama. Kedudukannya yang tinggi ini ditegaskan dalam hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan Salat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadhan.” (H.R. Bukhari)

Salat bukan hanya sekadar kewajiban ritual, tetapi ia adalah tiang agama. Sebagaimana sebuah rumah tidak akan tegak tanpa tiang utama, demikian pula keislaman seseorang tidak akan sempurna dan stabil tanpa salat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ

“Pokok segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah Salat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (H.R. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani)

Lebih dari itu, salat adalah pembeda utama antara seorang muslim dan orang kafir. Dalam hadis dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pembatas antara seseorang dengan kekafiran dan kesyirikan adalah meninggalkan Salat.” (H.R. Muslim) Dari sudut pandang para ulama ahlus sunnah, meninggalkan salat dengan sengaja adalah perkara yang sangat serius, bahkan sebagian ulama menganggapnya sebagai bentuk kekufuran. Oleh karena itu, menjaga salat adalah bukti paling nyata dari keimanan yang jujur dan ketundukan total kepada Allah Ta’ala.

  1. Perintah yang Dijemput Langsung: Peristiwa Isra dan Mikraj

Keistimewaan salat tampak jelas dari cara perintah ini diwahyukan. Berbeda dengan kewajiban lain dalam Islam, seperti puasa, zakat, atau haji, yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui Malaikat Jibril di bumi, perintah salat dijemput langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke langit yang tertinggi dalam peristiwa Isra dan Mikraj.

Kisah Isra dan Mikraj secara rinci, sebagaimana termaktub dalam hadis-hadis sahih, menceritakan bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam naik menembus lapisan-lapisan langit dan akhirnya menghadap langsung kepada Allah Ta’ala. Awalnya, Allah mewajibkan 50 kali salat dalam sehari semalam. Atas nasihat Nabi Musa ‘alaihis salam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berulang kali memohon keringanan kepada Allah hingga akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu salat sehari semalam.

Penetapan lima waktu ini disertai dengan jaminan dan pahala yang luar biasa, “Itu adalah lima waktu, namun pahalanya lima puluh waktu. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah.” (H.R. Bukhari dan Muslim) Pengurangan jumlah perintah salat dengan cara yang sangat istimewa ini adalah bukti bahwa salat memiliki kedudukan yang tak tertandingi dibandingkan ibadah lainnya dan juga menandakan betapa Allah Ta’ala ingin hamba-Nya senantiasa terhubung dengan-Nya melalui ibadah ini.

  1. Syariat Umat Terdahulu: Salat sebagai Ibadah Universal

Salat bukanlah syariat yang khusus dan baru ada pada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penelitian terhadap Al-Qur’an dan Sunnah menunjukkan bahwa ibadah salat, meskipun dengan tata cara yang berbeda, telah menjadi ibadah fundamental dan perintah wajib bagi nabi-nabi dan umat-umat terdahulu.

Hal ini membuktikan bahwa inti dari penghambaan dan ketundukan kepada Allah Ta’ala selalu melibatkan tata cara yang terstruktur. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,

رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan Salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (Q.S. Ibrahim : 40)

Demikian pula, Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihis salam saat pertama kali menerima wahyu,

إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah Salat untuk mengingat Aku.” (Q.S. Thaha : 14)

Perintah salat juga ditujukan kepada Nabi Isa ‘alaihis salam saat beliau masih bayi,

وَأَوۡصَٰنِي بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ مَا دُمۡتُ حَيّٗا

“…Dan Dia mewasiatkan (memerintahkan) kepadaku (untuk mendirikan) Salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (Q.S. Maryam : 31)

Kesinambungan perintah salat dalam risalah para nabi-Nya ini menegaskan bahwa Salat adalah intisari dari penyerahan diri (Islam) dan penghambaan kepada Allah Yang Maha Esa.

  1. Pentingnya Menjaga Salat: Kunci Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Menjaga salat lima waktu pada waktu-waktunya, dengan memenuhi syarat, rukun, dan wajibnya, adalah kunci keselamatan dan keberuntungan bagi seorang mukmin. Salat bukan hanya ritual semata, tetapi merupakan sarana penyucian diri dan pencegah dari perbuatan keji dan munkar. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ

Dan dirikanlah Salat. Sesungguhnya Salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar…” (Q.S. Al-‘Ankabut : 45)

Bagi laki-laki, kesempurnaan menjaga salat adalah dengan melaksanakannya berjamaah di masjid. Ulama ahlus sunnah menekankan pentingnya salat berjamaah, bahkan bagi sebagian mereka, salat berjamaah hukumnya adalah wajib, kecuali ada uzur syar’i. Salat berjamaah melatih persatuan, ketertiban, dan disiplin waktu pada setiap insan mukmin dibawah komando seorang pemimpin.

Dalam urusan duniawi, salat adalah sebab datangnya ketenangan (sakinah) dan pertolongan ketika seorang hamba dilanda kesulitan. Allah Ta’ala berfirman,

وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِ

“…Jadikanlah sabar dan Salat sebagai penolongmu…” (Q.S. Al-Baqarah : 45)

Menjaga konsistensi dan kekhusyukan dalam salat adalah ciri khas kaum mukminin yang akan meraih kebahagiaan abadi, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Q.S. Al-Mu’minun, yang dimulai dengan, “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam Salatnya…”

  1. Kekeliruan Besar: Melalaikan Salat Dibandingkan Amal Lain

Sebuah kekeliruan fatal yang terjadi pada sebagian umat Islam, bahkan kebanyakan, adalah mereka rajin melaksanakan amal saleh yang bersifat sunah (tathawwu), seperti sedekah, puasa sunah, atau umrah, namun pada saat yang sama mereka melalaikan atau meremehkan salat wajib lima waktu. Kekeliruan ini menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap prioritas ibadah dalam Islam.

Meninggalkan atau melalaikan rukun Islam yang utama seperti salat adalah dosa yang sangat besar, bahkan menurut Imam Ibnul Qayyim dan Imam Adz-Dzahabi, lebih besar dari dosa membunuh, berzina, mencuri, atau minum khamar (Lihat As-Sholah dan Al-Kabair).

Sebagian ulama berpendapat bahwa meninggalkan salat dengan sengaja termasuk kekafiran (kufur akbar) yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Pun kita pilih pendapat ulama jika seseorang tidak dianggap kafir, ia tetap berada dalam bahaya besar. Pada hari kiamat, amal perbuatannya yang lain tidak akan berguna tanpa salat sebagai fondasi yang sah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal seorang hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah salat. Jika salatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Jika salatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalnya.” (H.R. Ath-Thabrani, dihasankan oleh Al-Albani)

Oleh karena itu, bagi seorang muslim tidak ada prioritas yang lebih tinggi setelah keimanan selain salat. Amal saleh yang lain akan menjadi sia-sia jika tiang agama ini roboh. Muslim sejati yang cerdas adalah yang mendahulukan ibadah yang fardu (wajib) di atas yang nafilah (sunah).

 

Penulis: dr. Agung Panji Widiyanto, M.Med.Sc., Sp.PK.

Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *