Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga

Buletin At Tauhid Edisi 9 Tahun X ilmu

Bismillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Sesungguhnya keutaman orang yang berilmu diatas orang yang beribadah bagaikan pancaran sinar bulan purnama di atas pancaran sinar bintang-bintang” (HR. Ahmad). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sini memberikan kedudukan yang tinggi terhadap orang yang berilmu (ilmu syar’i-pen), tidaklah kedudukan yang tinggi tersebut diberikan kepada orang yang beribadah. Padahal, jika dilihat secara fakta di masyarakat, tiap orang biasanya akan memberikan rasa hormat kepada orang yang paling banyak beribadah. Akan tetapi tidak demikian dalam agama Islam yang mulia ini, boleh jadi ahli ibadah tersebut melakukan suatu ibadah yang tidak pernah Nabi ajarkan atau beribadah dengan tanpa mengikuti aturan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena agama Islam ini dibangun dengan kebenaran ilmu yang hakiki yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah. Begitulah orang yang berilmu, pancarannya bagaikan sinar bulan purnama yang menerangi malam gelap gulita.

Keutamaan Ilmu Agama

Berikut beberapa alasan mengapa ilmu agama lebih utama :

1. Warisan para nabi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan kepada umatnya dinar maupun dirham, akan tetapi para nabi mewariskan kepada umatnya ilmu (ilmu syar’i-pen), barangsiapa yang mengambil ilmu tersebut maka telah mendapatkan bagian yang banyak“ (HR. Abu Dawud). Tidaklah para nabi memberikan warisan kepada umatnya mengenai ilmu dunia, karena dengan ilmu syar’i seseorang akan mendapakan pujian dari Allah dan dengan ilmu syar’i ini orang tersebut mampu beramal dengan benar sesuai dengan apa yang diajarkan oleh agama Islam yang mulia ini

2. Ilmu itu akan terus ada, tidak sebagaimana harta dunia yang akan binasa.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang manusia meninggal dunia, akan terputus semua amalnya kecuali tiga perkara yakni shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang mendoakan kedua orang tuanya” (HR. Muslim)

3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan umatnya untuk merasa iri terhadap orang yang diberikan ilmu oleh Allah Ta’ala yang mana dengan ilmu tersebut ia mampu mengamalkan dan mengajarkannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada hasad kecuali dalam dua hal, yaitu orang yang diberikan oleh Allah harta kemudian ia belanjakan hartanya di atas jalan kebenaran dan orang yang Allah berikan kepadanya ilmu kemudian ia mengamalkan dan mengajarkannya” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Orang yang berilmu merupakan salah satu dari golongan yang Allah perintahkan untuk taat kepadanya.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan ulil amri di antara kamu” (QS. An Nisa : 59).

Para ulama menafsirkan ulil amridi sini mencakup ulama (orang yang berilmu) dan penguasa.

5. Ilmu tersebut dalam kesehariannya akan menjadi penerang bagi pemiliknya, sehingga dia tahu bagaimana dia beribadah kepada Allah dengan benar dan bagaimana bermuamalah dengan sesama dengan benar

6. Seorang yang berilmu bagaikan cahaya yang mampu menerangi orang yang disekitarnya dalam masalah dunia dan akhiratnya.

7. Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu baik di dunia maupun di akhirat.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (QS. Al Mujadalah : 11) (lihat Kitabul ‘Ilmi)

Manfaat Ilmu Agama

Begitu jelas keutamaan ilmu agama di atas semua ilmu yang ada di dunia ini. Karena ilmu agama akan dapat menghantarkan pemiliknya untuk tetap taat terhadap Allah, menolong agama Allah dan akan memberikan manfaat kepada sesama (lihat Kitabul ‘Ilmi)

Kisah Dalam Menuntut Ilmu

Berikut kami sampaikan kepada pembaca sekalian kisah ulama terdahulu dalam menuntut ilmu agama. Cerita ini datang dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Telah sampai hadits kepadaku dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang belum pernah aku dengar (langsung) darinya”. Maka beliau pun membeli seekor unta dan mempersiapkan perjalanan untuk mencari hadits tersebut. Beliau melakukan perjalanan selama sebulan sehingga beliau datang di negeri Syam untuk bertemu dengan Abdullah bin Unais Al Anshari untuk mendapatkan hadits Rasulullah.

Ketika sesampainya beliau di depan rumah Abdullah, beliau dipersilahkan untuk memasuki rumah Abdullah. Kemudian sahabat Jabir ini berkata “Telah sampai berita kepadaku bahwa engkau telah mendengar hadits yang belum pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku sangat khawatir aku mati atau engkau mati sebelum aku mendengarnya” (lihat Ma’aalim fii Thoriq Thalabil ‘Ilmi).

Mari kita sama-sama merenungi apa yang telah dikerjakan oleh sahabat Jabir untuk mendapatkan satu hadits Rasulullah. Beliau rela membeli unta dan melakukan perjalanan selama satu bulan hanya untuk mendapatkan satu hadits Rasulullah. Maka apakah kita sama dengan sahabat Jabir ini dalam hal mencari ilmu agama yang mulia ini?

Mau Surga? Belajarlah Ilmu Agama

Cukuplah satu hadits berikut yang semoga dapat menggugah dan menghasung jiwa dan diri kita semua untuk terus menuntut ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu syar’i, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim). Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita semua untuk mengamalkan kandungan hadits ini.

Jadilah Pembelajar Sejati

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu syar’i, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya kepada para penuntut ilmu sebagai bentuk ridho atas yang telah dilakukan dan seluruh apa yang ada di langit dan di bumi akan memintakan ampunan kepada seorang penuntut ilmu, begitu juga ikan yang ada di tengah-tengah laut” (HR. Ahmad).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu dari rumah-rumah Allah untuk membaca kitab-Nya dan mempelajari kitab-Nya, kecuali Allah akan turunkan padanya ketenangan, Allah akan meliputinya dengan rahmat, malaikat akan menaunginya, dan Allah akan menyebutnya di sisi malaikat-malaikat-Nya” (HR. Muslim). Begitulah balasan-balasan indah yang Allah berikan kepada para seorang penuntut ilmu yang tidak ternilai harganya.

Penutup

Pernahkah diri ini memikirkan,Sudahkan kita mengetahui dengan pasti bagaimana hakikat sebenarnya mengenai tauhid dan syirik? Sudahkah kita mengetahui tata cara shalat, wudhu, tayamum, berpuasa, zakat, haji sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Jawaban ada dalam benak masing-masing. Jangan sampai diri kita ini lalai untuk mempelajari ilmu agama yang mulia ini. Tentunya, kita senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala agar memberikan hidayah taufiq-Nya kepada kita untuk dimudahkan mempelajari ilmu agama yang mulia ini. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallama.

Penulis : Mohammad Darus Salam (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)

Muroja’ah : Ustadz Abu Salman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *