EDISI 2139
—
Q.S. Ali Imran : 31
قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
- Sebagai seorang mukmin yang sejati, hendaknya dirinya mengetahui akan sebuah amalan atau syariat yang harus ia jalankan dalam kehidupannya.
- Di dalam menjalankan syariat agama tentunya memiliki aturan dan tuntunan yang telah diajarkan oleh Allah dan rasul-Nya dengan harapan agar amalan tersebut dapat diterima di sisi Alla Ta’ala.
- Syarat diterimanya ibadah seorang hamba adalah ittiba’ dan mahabbah, apabila kedua hal itu luput maka amalan seorang hamba akan menjadi sia-sia.
- Untuk menggapai cinta Allah ada hal-hal yang dijalankan seorang mukmin.
Tujuan penciptaan manusia di muka bumi yaitu untuk menjalankan syariat terhadap apa yang telah diperintahkan, Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ
“Dan tidaklah aku (Allah) menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah/menyembah kepadaku.” (Q.S. Adz-Dzariyat : 56)
Dan apa yang dimaksud dengan ibadah itu sendiri?
Para ulama mengatakan: “Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi, serta berlepas diri dari segala sesuatu yang bertentangan dan menyalahi hal itu”.
Oleh karenanya, menjadi salah satu indikator dalam menjalankan ibadah dengan harapan agar ibadah kita diterima adalah dengan menghadirkan unsur ittiba’ dan mahabbah. Karena keduanya termasuk dalam syarat dan rukun yang harus ada, hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,
قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Ali Imran : 31)
Imam Abdurrahman As Si’di menyebutkan dalam tafsirnya: “salah satu bentuk kecintaan kepada Allah adalah dengan ittiba’/mengikuti apa yang telah Rasulullah sampaikan, baik itu berupa perintah atau larangan. Maka tidaklah seseorang itu mendapatkan kecintaan dari Allah kecuali membenarkan apa yang datang dari Rasulullah yang sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Maka, dengan kita mewujudkan ittiba’ dan mahabbah tersebut, akan mendapatkan 2 keutamaan: kecintaan yang Allah berikan dan Allah akan memberikan ampunan kepadanya dan akan menutupi segala aibnya.” (Tafsir As Sa’di)
Hakikat ittiba’ (mengikuti/mencontoh), sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Shalih Al Fauzan hafidzahullahu: yaitu mengambil sebuah pendapat/nukilan perkataan yang disertai dengan dalil, dan lawan dari ittiba’ yaitu taklid, yaitu mengambil sebuah pendapat/nukilan perkataan tanpa disertai dengan dalil.
Tentunya yang dimaksud dengan dalil di sini adalah yang bersumber dari Al Quran, hadis sahih/hasan, dan ijmak sesuai dengan pemahaman para salafush shalih.
Allah Ta’ala berfirman,
ٱتَّبِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ وَلَا تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَۗ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ
“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian dan janganlah kalian ikuti pelindung selain Dia. Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran.” (Q.S. Al A’raf : 3)
Dan diantara unsur yang harus terpenuhi dalam sebuah ibadah yaitu, menghadirkan rasa mahabbah (kecintaan). Syaikh Sa’ad Ibn Hamd Al ‘Atiq hafidzahullahu menjelaskan tentang definisi mahabbah secara istilah, yaitu: kecondongan hati/jiwa terhadap apa yang dicintainya dan dapat membekas dalam hatinya,
Maksudnya adalah, ketika kita melaksanakan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan dengan penuh keikhlasan dan istikamah, maka di situlah akan tertanam kecintaan kita terhadap ketaatan kepada Allah, bukan kepada ketamakan dunia.
Dan keduanya memiliki keterkaitan baik secara umum ataupun khusus dalam hal akidah dan ibadah.
Ditinjau dari segi umum, keterkaitan antara ittiba’ dan mahabbah dalam prespektif akidah dan ibadah yaitu:
Dengan tidak berbuat syirik kepada Allah (menyekutukan Allah), karena dengan berbuat syirik maka bentuk ittiba’ dan mahabbah tidak akan menjadi sebuah amal kebaikan, Allah Ta’ala berfirman,
وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡـٔٗا
“Sembahlah Allah dan Janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun…” (Q.S.An-Nisa : 36)
Yang menjadi salah satu tinjauan umum dalam ittiba’ dan mahabbah adalah dengan tidak berbuat bidah (membuat sesuatu hal yang baru dalam agama), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,
مَن أَحْدَثَ في أَمْرِنَا هذا ما ليسَ فِيهِ، فَهو رَدٌّ
“Barang siapa yang membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (agama) yang tidak ada contoh didalam perkara tersebut, maka amalan tersebut tertolak.” (H.R. Bukhari)
Hadis ini mengingatkan tentang pentingnya mengikuti petunjuk yang sudah ada dalam agama dan tidak menambah-nambahkan hal baru yang tidak ada dasarnya dalam syariat.
Ditinjau dari segi khusus, bahwa salah satu konsekuensi dari seseorang yang beriman adalah mengikuti dan menaati apa yang Rasulullah telah ajarkan. Dinukil dari perkataan Syaikh Hasan Al Bukhari hafidzahullahu bahwa ittiba’ yaitu terbagi menjadi 2 tingkatan:
- Mengikuti segala apapun yang beliau perintahkan dan menjauhi segala apapun yang beliau larang, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْ
“Apa yang telah diperintahkan oleh rasulullah kepada kalian, terimalah dan apa yang menjadi larangan nya maka, tinggalkanlah…” (Q.S. Al Hasyr : 7)
- Dengan mengikuti/menjalankan sunnah-sunnahnya dan mengharapkan pahala dari amalan sunnah tersebut.
Tentu hal ini menjadi salah satu aspek yang perlu dijunjung tinggi dalam menjalankan ketaatan, karena menjadi bagian dari pentingnya ibadah sesuai dengan tuntunan. Di dalam sebuah atsar, Ibnu Mas’ud menyebutkan,
اتَّبِعُوا وَلَا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ
“Ikutilah (ajaran yang sudah ada) dan jangan berkreasi dalam syariat agama, karena dengan kalian mengikuti itu sudah cukup bagi kalian dalam menjalankan syari’at.”
Sebagaimana pengamalan para sahabat nabi, mereka sangat berhati-hati dalam beramal serta tidak asal-asalan karena memperhatikan aspek ittiba’ dan mahabbah dengan harapan agar amalan tersebut diterima disisi Allah Ta’ala.
Seperti contoh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu yang dikenal sangat teliti dan berhati-hati dalam mengikuti sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia tidak hanya mengikuti ajaran Nabi secara umum, tapi juga dalam hal-hal kecil. Ini menunjukkan ittiba’ yang sangat kuat, bahkan dalam hal yang tampaknya sepele. Dan masih banyak lagi beberapa amalan yang dilakukan oleh para sahabat.
Selain itu, termasuk wujud dari ittiba’ dalam ibadah, seperti: menegakkan salat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:
صَلُّوا كما رَأَيْتُموني أُصلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
Ini adalah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dalam hadis sahih, menunjukkan bahwa tata cara shalat yang benar adalah sebagaimana yang dicontohkan oleh beliau.
Oleh karenanya, yang menjadi tolok ukur diterimanya sebuah ibadah adalah ketika terpenuhi syarat dan rukunnya, tidak asal-asalan walaupun diniatkan karena cinta. Semua aspek syariat telah Allah jelaskan secara gamblang, tinggal kita mengikutinya dan belajar agar tidak tersesat dan amalan tersebut tidak sia-sia.
Ketika aspek ittiba’ dan mahabbah itu selalu dihadirkan dalam ibadah, maka tentu cinta Allah akan senantiasa meliputi di dalam diri seorang hamba. Di antara bentuk-bentuk mendapatkan cinta Allah, yaitu:
- Ketaatan kepada Rasulullah juga merupakan bentuk ketaatan kepada Allah, Allah berfirman,
مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدۡ أَطَاعَ ٱللَّهَۖ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ عَلَيۡهِمۡ حَفِيظٗا
“Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Q.S. An-Nisa : 80)
- Tidak berbuat kesyirikan dalam beramal, Allah berfirman,
فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا
“Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Q.S. Al Kahfi : 110)
- Senantiasa ihsan dalam berbuat/melakukan sebuah amalan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda dalam Hadis Jibril yang masyhur, dimana malaikat Jibril bertanya kepada Rasulullah tentang apa itu ihsan, Rasulullah menjawab,
أنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأنَّكَ تَرَاهُ، فإنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فإنَّه يَرَاكَ
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Ia melihatmu.” (H.R. Bukhari)
- Melakukan sebuah amalan yang berlandaskan dengan ilmu, bukan asal-asalan, Allah Ta’ala berfirman,
فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ
“Ketahuilah (Nabi Muhammad) bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah serta mohonlah ampunan atas dosamu.” (Q.S. Muhammad : 19)
Syaikh Abdullah Al Fauzan Menjelaskan sebagai berikut:
“Kalimat فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ menunjukkan perintah untuk berilmu, sedangkan kalimat وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ menunjukkan amalan.”
- Merealisasikan Konsep Tauhid Dalam Beramal
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadisnya, ketika beliau bertanya kepada sahabat Muadz bin Jabal disaat beliau di atas binatang tunggangan bersama Muadz, Rasulullah mengatakan: “Wahai Muadz, tahukah kamu apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya dan apa hak hamba-hamba atas Allah?” Aku (Muadz) menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Hak Allah atas para hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Demikian uraian singkat mengenai korelasi antara ittiba’ dan mahabbah dalam ibadah. Semoga Allah memberi kita taufik untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih. Dan semoga kita dapat istikamah diatas sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kecintaan tersebut senantiasa dapat kita peroleh dan wujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis : Muhammad Iqbal Rifai
(Mahasiswa S1 Qism Ushuluddin Najran University, Saudi Arabia)
Pemurajaah : Ustadz Abu Salman, B. I. S.
