Kedudukan Berbakti kepada Kedua Orang Tua

Kedudukan Berbakti kepada Kedua Orang Tua

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya.” (Q.S. Luqman: 14)

Birrul walidain merupakan bentuk berbuat baik kepada kedua orang tua dengan hati, ucapan, dan diwujudkan dengan perbuatan dalam rangka ibadah kepada Allah Ta’ala[1].

[1] Birr al Walidain min awjabi al Wajibaat, hal. 6

Di antara bentuk berbakti kepada kedua orang tua:

1) Berkata lemah lembut, tidak menyakitinya

2) Berperangai baik dan tawadhu’

3) Menghormati keduanya

4) Menjauhkan diri kita dari hal yang tidak disukainya

5) Gembira ketika berjumpa dengan keduanya

6) Mengungkapkan rasa syukur kita kepada keduanya

7) Senantiasa mendoakan keduanya

Di antara kedudukan berbakti kepada kedua orang tua:

1) Allah menggabungkan hak berbuat baik kepada kedua orang tua setelah menyembah kepada Allah

2) Lebih utama dan lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan jihad di jalan Allah

3) Termasuk di antara amal yang paling utama yang dicintai Allah Ta’ala

4) Membawa keridaan Allah Ta’ala

5) Pelakunya dijanjikan surga oleh Allah Ta’ala

Bismillah, alhamdulillah, ash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah.

Di antara sekian banyak perintah Allah Ta’ala kepada para hamba, berbakti pada orang tua merupakan salah satu amalan yang memiliki keutamaan dan kedudukan yang agung di sisi Allah Ta’ala. Berbakti kepada kedua orang tua termasuk salah satu di antara perkara yang paling penting, ibadah yang paling agung, bentuk ketaatan yang paling mulia, dan salah satu kewajiban yang hendaknya diperhatikan oleh setiap muslim. Allah ‘Azza wa Jalla telah menyebutkan perintah yang sangat mulia ini di dalam Al  Quran, di antaranya:

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (Q.S. Al Isra: 23).

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya.” (Q.S. Luqman: 14). 

Wujud bakti kepada orang tua

Secara istilah, birrul walidain merupakan bentuk berbuat baik kepada kedua orang tua dengan hati, dengan ucapan, dan diwujudkan dengan perbuatan dalam rangka ibadah kepada Allah Ta’ala(Birr al Walidain min awjabi al Wajibaat, hal. 6). Syaikh As Sa’di menyebutkan bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua diwujudkan dengan seluruh bentuk kebaikan berupa perkataan dan perbuatan (Tafsir As Sa’di, hal. 474).

Secara lebih rinci beliau menyebutkan dalam tafsir Al Quran Surat Luqman ayat ke-14 bahwa bentuk bakti seorang anak kepada kedua orang tua dapat berupa perkataan yang lemah lembut, berperangai baik dan bersikap tawadhu’ terhadap kedua orang tua, memuliakan dan menghormati keduanya, serta menjauhkan diri kita dari segala sesuatu yang tidak disukai oleh kedua orang tua (Tafsir As Sa’di, hal. 687).

Berdasarkan definisi di atas, dapat kita pahami bahwa wujud dari bakti kepada kedua orang tua tidak dibatasi dalam bentuk perbuatan saja, namun juga dapat diwujudkan dengan sesuatu yang tidak tampak seperti amalan hati. Bakti kita kepada ayah dan ibu dapat kita manifestasikan dengan hati kita, di antaranya dengan menghadirkan perasaan gembira dalam diri kita apabila berjumpa dengan keduanya.

Selain itu, berbakti dengan hati dapat pula diwujudkan dengan mengungkapkan rasa syukur kita kepada keduanya dikarenakan kedua orang tua merupakan sebab keberadaan kita di dunia. Ungkapan rasa syukur juga selayaknya selalu kita tanamkan dalam hati kita atas keikhlasan serta kebaikan kedua orang tua kita dalam mendidik, memberikan nafkah, dan membesarkan kita sejak kecil. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku kembalimu’ (Q.S. Luqman: 14).

Dalam bentuk ucapan, seorang anak hendaknya senantiasa mengucapkan kata-kata dan kalimat yang tidak menyakiti keduanya. Kita sebagai seorang anak selalu berupaya berbicara dengan penuh kasih sayang, sopan, lemah lembut, dan tidak membentak kedua orang tua dalam kondisi apapun. Dalam hal ini, kita perlu mengingat-ingat bagaimana keduanya telah dengan sabar dan mencurahkan seluruh kasih sayangnya mengajarkan kita berbicara, mengenal huruf dan kata-kata di waktu kita masih kecil. Keduanya mengajarkan kita berbicara seraya berharap agar kita dapat pandai dan fasih berbicara dengan baik.

Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya), “Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan, “Ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkan kepada mereka perkataan yang mulia” (Q.S. Al Isra’: 23).

Perkataan ‘ah’ yang disebutkan dalam ayat tersebut merupakan perkataan buruk yang paling ringan di antara perkataan-perkataan buruk lainnya kepada kedua orang tua (Tafsir Al Muyassar, hal. 284). Oleh karena itu, terlebih lagi mengucapkan perkataan buruk yang memiliki kedudukan lebih buruk lagi tentu sangat dilarang dalam hal ini.

Bakti kepada kedua orang tua dalam bentuk ucapan lainnya yang tak kalah penting adalah dengan senantiasa mendoakan kedua orang tua. Dalam Al Quran Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua mendidik aku pada waktu kecil’.” (Q.S. Al Isra’: 24).

Kedudukan Birrul Walidain

Berbakti kepada kedua orang tua memiliki kedudukan yang agung di dalam Islam. Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al Qahthani menyebutkan beberapa kedudukan birrul walidain, di antaranya (Birr al Walidain min awjabi al Wajibaat, hal. 8-13):

1) Allah menggabungkan hak berbuat baik kepada kedua orang tua setelah menyembah kepada Allah sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat di dalam Al Quran.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.” (Q.S. An Nisa’: 36).

Dalam Surat Luqman ayat ke-14 Allah berfirman (yang artinya), “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Di dalam ayat tersebut, Allah menggabungkan antara syukur kepada kedua orang tua dengan syukur kepada-Nya dikarenakan Allah adalah satu-satunya Dzat yang menciptakan manusia dan Allah juga telah menjadikan kedua orang tua sebagai sebab keberadaan seorang anak terlahir di dunia. Hal tersebut menjadi alasan yang kuat mengapa seorang anak harus berbuat baik kepada kedua orang tuanya.

Selain itu, termasuk di antara alasan kuat wajibnya berbakti kepada kedua orang tua yaitu karena keduanya telah mencurahkan kasih sayangnya dengan tulus kepada anaknya sejak sang anak kecil dan masih lemah.

2) Berbakti kepada kedua orang tua lebih utama dan lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan jihad di jalan Allah.

Dari‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku pernah tanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai Allah?’ Beliau menjawab, ‘Shalat pada waktunya.’ ‘Lalu apa lagi?’ Tanyaku. Beliau menjawab, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Lebih lanjut, kutanyakan, ‘Lalu apa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah.’” (Muttafaq ‘alaih).

3) Berbakti kepada kedua orang tua termasuk di antara amal yang paling utama yang dicintai Allah Ta’ala.

ShahabatAbdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai Allah?’. Beliau menjawab, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa lagi?’. Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah.’ (H.R. Bukhari, no. 5970).

4) Berbuat baik kepada kedua orang tua membawa keridaan Allah Ta’ala.

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ‘Ridha Rabb bergantung pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Rabb bergantung pada kemurkaan orang tua’.” (H.R. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Hakim dan Syaikh Al-Albani).

5) Orang yang berbuat baik kepada orang tua dijanjikan surga oleh Allah Ta’ala.

Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya”. (H.R. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Demikian tulisan singkat mengenai birrul walidain. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan bimbingan-Nya kepada kita untuk dapat terus berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua kita.

Ditulis oleh Ahmad Fathan Hidayatullah, M.Com. (Alumnus Ma’had Al-‘Ilmi)

Naskah inti dimurojaah oleh Ustaz Abu Salman, B.I.S.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *