Ada Apa dengan Sepuluh Muharram


EDISI 2202

H.R. Muslim

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

“Puasa yang paling afdhol setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah al-Muharram.”

  • Bulan Muharram adalah satu diantara bulan-bulan haram dimana pahala amal ibadah dilipatgandakan.
  • Salah satu ibadah yang paling utama di bulan ini adalah puasa Asyura.
  • Diantara keutamaan puasa Asyura adalah besarnya perhatian nabi terhadap ibadah ini dan juga puasa ini menggugurkan dosa selama satu tahun.
  • Untuk menyempurnakan pahala puasa Asyura maka disunnahkan untuk berpuasa sehari sebelumnya pada tanggal Sembilan.

Bismillah,
Alhamdulillah wa sholatu wa sallamu ‘ala Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa shahbihi wa sallam.

Para pembaca rahimakumullah, saat ini kita sedang memasuki bulan Muharram. Di bulan ini terdapat sebuah ibadah agung yang manusia kerap melalaikannya, ialah ibadah puasa Asyura. Bagaimana keagungan ibadah ini dan bagaimana cara melakukannya? Berikut adalah paparannya:

KEUTAMAAN PUASA PADA HARI ASYURA

1- Perhatian Nabi terhadapnya

Puasa Asyura adalah puasa yang punya kedudukan tinggi di sisi Nabi. Hal ini terbukti bagaimana beliau menyetarakan perhatian terhadap puasa ini dengan puasa bulan Ramadhan. Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,


مَا رَأَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ، إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ. يَعْنِى شَهْرَ رَمَضَانَ


“Saya belum pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam   memberikan perhatian terhadap puasa di satu hari yang beliau istimewakan, melebihi hari Asyura, dan puasa di bulan ini, yaitu Ramadhan.” (H.R. Ahmad no. 3539 dan Bukhari)

2- Mengugurkan Dosa selama Satu Tahun

Keutamaan puasa Asyura yang lain adalah dia menjadi pengugur dosa setahun yang telah lalu. Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam   pernah ditanya tentang puasa di hari Asyura. Jawab beliau,


يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ


Bisa menjadi kaffarah terhadap dosa setahun yang lalu. (H.R. Ahmad no. 23200 dan Muslim)
Al Buhuti berkata, Imam Nawawi pernah menyampaikan, “Dia menjadi kaffarah bagi dosa-dosa kecil. Bila dia tidak punya dosa kecil, maka diharapkan bisa menghapus dosa besar. Bila tidak ada dosa besar maka diharapkan bisa meninggikan derajatnya.” (Mausu’ah Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah)

3- Hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil

Ibnu Abbas berkata, “Nabi tiba di Madinah dan dia mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa Asyura. Nabi bertanya, “Puasa apa ini?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari yang baik, hari dimana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya, maka Musa berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah. Dan kami-pun ikut berpuasa.” Nabi berkata: “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Akhirnya Nabi berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa juga.”
(H.R. Bukhari dan Muslim)

4- Puasa Asyura dahulu diwajibkan

Sebagian ulama berpendapat bahwa sebelum adanya kewajiban puasa ramadhan, puasa Asyura hukumnya adalah wajib. (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah)

Sebuah syariat yang dahulu pernah diwajibkan maka itu menunjukkan keutamaan ibadah tersebut. Karena amalan yang paling Allah cintai adalah amalan yang wajib. Hal ini selaras dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman,
“Tidaklah seorang hamba–Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya.”’ (H.R. Al Bukhari)

5- Jatuh pada bulan haram

Puasa Asyura bertepatan dengan tanggal 10 Muharram. Bulan Muharram sendiri adalah salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah. Secara khusus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan akan keutamaan berpuasa di bulan Muharram.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ


“Puasa yang paling afdhol setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah al-Muharram.” (H.R. Muslim)

SEJARAH SINGKAT PUASA ASYURA

Sejarah singkat pensyariatan puasa Asyura bisa dilihat dari hadis yang diriwayatkan oleh Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau berkata,


كانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ في الجَاهِلِيَّةِ، وكانَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ صَامَهُ وأَمَرَ بصِيَامِهِ، فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كانَ رَمَضَانُ الفَرِيضَةَ، وتُرِكَ عَاشُورَاءُ، فَكانَ مَن شَاءَ صَامَهُ، ومَن شَاءَ لَمْ يَصُمْهُ


“Dahulu orang-orang jahiliyyah berpuasa Asyura, demikian juga puasa Asyura dilakukan oleh Nabi. Kemudian saat hijrah ke Madinah, Nabi memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa. Setelah diwajibkannya puasa ramadhan maka puasa Asyura ditinggalkan. Kemudian ada pilihan, barangsiapa yang mau berpuasa maka berpuasa; bagi yang tidak maka tidak mengapa.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

TATA CARA PUASA

Ibnul Qoyyim rahimahullahu berkata dalam kitabnya, Zaadul Ma’aad,
“Tingkatan dalam melaksanakan puasa Asyura ada tiga:

  1. Pertama: Berpuasa sebelum dan sesudahnya. Yaitu tanggal 9-10-11 Muharram.
  2. Kedua: Berpuasa pada tanggal 9 dan 10, dan inilah yang paling banyak ditunjukkan dalam hadis.
  3. Ketiga: Berpuasa pada tanggal 10 saja.”

Di antara hikmah disarankan puasa di tanggal sembilan Muharram adalah sebagai berikut:

  1. Menyelisihi Yahudi, karena mereka hanya berpuasa di tanggal sepuluh. Diriwayatkan Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

صوموا يوم عاشوراء، وخالفوا فيه اليهود، صوموا قبله يوما، أو بعده يوما

“Berpuasalah pada hari Asyur adan selisihilah Yahudi. Puasalah sebelumnya sehari atau setelahnya sehari.” (H.R. Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ath-Thahawi, Al-Baihaqi)

  1. Upaya menggabungkan puasa Asyura dengan puasa hari lain, sebagaimana yang berlaku pada larangan puasa hari Jumat secara sendirian.
  2. Dalam rangka kehati-hatian, dikhawatirkan saat melaksanakan puasa Asyura ternyata hilal belum sampai pada kadar semestinya. Sehingga justru puasa Asyuranya dilakukan di tanggal sembilan. (Majmu’ Syarhul Muhadzdzab)

BILA PUASA ASYURA BERTEPATAN PADA HARI JUMAT

Telah diketahui bersama bahwa ada sebuah larangan yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa di hari Jumat. Lantas bagaimana jika hari Asyura bertepatan dengan hari Jumat, apakah tetap boleh berpuasa.?

Perlu diketahui bahwa larangan puasa hari Jumat itu berlaku tatkala menyendirikan hari tersebut untuk berpuasa. Namun apabila seseorang terbiasa puasa Dawud, puasa Asyura dan puasa lain, kemudian menjumpai hari Jumat maka tidak mengapa berpuasa.

Ibnu Qudamah berkata, “Dilarang untuk menyendirikan puasa di hari Jumat, kecuali jika puasa di hari tersebut mencocoki kebiasaannya. Seperti orang terbiasa puasa sehari dan tidak puasa satu hari.” (Al-Mughni)

Dalam sebuah fatwa, Syaikh Sa’ad Al-Khotslan ditanya apakah boleh berpuasa hari Asyura secara sendirian yang hari itu bertepatan dengan hari Jumat. Maka beliau menjawab boleh, karena larangan berlaku untuk mereka yang mengkhususkan hari Jumat dengan meyakini adanya keutamaan khusus. (al-madina.com/article/848105)

 

PENUTUP

Para pembaca rahimakumullah, setelah mengetahui berbagai keutamaan yang ada pada puasa Asyura ini maka hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk mengamalkannya dan tidak menyepelekannya karena boleh jadi saat kita mengamalkannya maka akan lahir darinya amal shalih lainnya sebagaimana perkataan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah,


إنَّ مِن جزاءِ الحسَنةِ الحسَنة بَعْدَه


“Sungguh balasan dari amal shalih adalah lahirnya amal shalih setelahnya.” (Arsyid Multaqa Ahlil Hadits)

Selain itu, kita juga harus bersemangat untuk menyampaikan hal ini kepada orang-orang terdekat kita dan berusaha menghidupkannya di tengah-tengah masyarakat. Karena jika dengan sebab dakwah kita lantas orang lain beramal maka kita akan mendapatkan ganjaran orang tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


من سن سنة حسنة فعمل بها كان له أجرها ومثل أجر من عمل بها لا ينقص من أجورهم شيئاً


“Barang siapa yang menghidupkan sunnah yang baik dan dia mengamalkannya maka baginya pahala yang dia amalkan dan pahala orang lain yang beramal dengan amalan tersebut (dengan sebabnya) tanpa ada pengurangan sama sekali.” (H.R. Abu Dawud)

Sekian dan semoga Allah memberi taufiq kepada semuanya.

 

Penulis : Bima Krisna Aji, S.Pd. (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)

Pemuraja’ah : Ustadz Abu Salman, B.I.S.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *