EDISI 2301
——
(H.R. Bukhari dan Muslim)
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ
“Dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang.”
- Hijrah bukan sekadar berpindah tempat secara fisik, melainkan keberanian hati dan perbuatan untuk berubah dengan meninggalkan segala larangan Allah menuju ketaatan.
- Perjalanan hijrah Rasulullah mengajarkan bahwa keberanian untuk berubah harus selalu dilandasi dengan keimanan dan tawakal penuh kepada pertolongan Allah.
- Langkah hijrah bernilai pahala yang sempurna hanya jika niatnya ikhlas semata-mata demi mengharap rida Allah, bukan karena mencari keuntungan duniawi.
- Kita dituntut untuk berani meninggalkan lingkungan yang buruk serta kemaksiatan secara total demi masuk ke dalam ketaatan beragama secara kafah.
- Kunci keberhasilan hijrah adalah konsisten berada di jalan ketaatan dan senantiasa introspeksi diri untuk memperbaiki amalan sebagai bekal di hari akhir.
Para pembaca yang semoga dirahmati Allah…
Mendengar kata hijrah, mungkin yang terlintas di pikiran kita adalah kisah Nabi yang pindah dari Makkah ke Madinah. Namun, kalau kita dalami lagi, hijrah itu sebenarnya lebih dari sekadar cerita sejarah. Ini adalah momen bagi kita bercermin dan bertanya kepada diri sendiri, sudah sejauh mana kita memperbaiki diri selama ini.
Karena pada dasarnya, hijrah itu adalah keberanian untuk berubah dan meninggalkan hal-hal buruk demi sesuatu yang lebih baik. Hijrah bukan cuma soal pindah tempat, melainkan soal niat hati dan cara kita bersikap yang tadinya sering salah menjadi lebih taat. Mari kita renungkan lagi makna jujur dari hijrah ini, supaya kita benar-benar menjadi pribadi yang berani melangkah menuju kebaikan.
Makna Hijrah dalam Bahasa dan Syariat
Hijrah secara bahasa berasal dari kata ‘hajara’ yang berarti meninggalkan atau berpindah. Adapun secara syariat, hijrah memiliki dua makna. Pertama, hijrah secara fisik, yaitu berpindah dari negeri kafir atau negeri yang penuh kemaksiatan menuju negeri Islam atau tempat yang lebih baik untuk menjaga agama. Inilah hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah. Kedua, hijrah secara maknawi, yaitu meninggalkan segala yang Allah dan Rasul-Nya larang, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun keyakinan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa hijrah yang paling agung adalah hijrah dari segala larangan Allah Ta’ala, baik berupa perkataan yang bathil, perbuatan yang merusak, maupun akidah yang menyimpang.
Hijrah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
Hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Makkah ke Madinah merupakan peristiwa besar dalam sejarah Islam. Beliau meninggalkan kampung halaman, harta benda, dan kenyamanan dunia demi menjaga akidah dan menegakkan agama Allah. Perjalanan hijrah ini penuh dengan ujian, namun beliau tetap tegar karena yakin bahwa pertolongan Allah akan datang. Allah Ta’ala berfirman,
إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدۡ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذۡ أَخۡرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ ٱثۡنَيۡنِ إِذۡ هُمَا فِي ٱلۡغَارِ إِذۡ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا
“Jika kalian tidak menolongnya, maka sesungguhnya Allah telah menolongnya, yaitu ketika orang-orang kafir mengusirnya, sedang dia salah satu dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua, ketika dia berkata kepada temannya, ‘Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’” (Q.S. At-Taubah : 40)
Ayat ini menggambarkan ketenangan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah ancaman musuh. Beliau yakin bahwa Allah bersama orang-orang yang beriman dan tidak akan menyia-nyiakan hamba-hamba-Nya yang berhijrah di jalan-Nya. Inilah pelajaran pertama dari hijrah: keberanian berubah harus dilandasi dengan keimanan dan tawakal kepada Allah.
As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Firman Allah ‘إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا’ adalah bentuk kebersamaan Allah dengan pertolongan, penjagaan, dan kemenangan bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya” (Tafsir as-Sa’di hal. 337).
Hijrah Bukan Hanya Berpindah
Banyak orang mengira bahwa hijrah hanya sebatas perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain. Padahal, hijrah yang tidak kalah penting adalah hijrah hati dan amalan. Seseorang bisa saja berpindah tempat, tetapi hatinya masih terikat dengan kemaksiatan, akhlaknya masih buruk, dan akidahnya masih tercampur dengan kesyirikan. Hijrah seperti ini tidak akan membawa manfaat.
Allah Ta’ala berfirman,
۞ وَمَن يُهَاجِرۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ يَجِدۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُرَٰغَمٗا كَثِيرٗا وَسَعَةٗۚ وَمَن يَخۡرُجۡ مِنۢ بَيۡتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ يُدۡرِكۡهُ ٱلۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ أَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya dia akan mendapati di bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah.” (Q.S. An-Nisa : 100)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan setiap langkah hijrah yang dilakukan seorang hamba. Bahkan, ketika ajal menjemput di tengah perjalanan hijrah, Allah tetap memberikan pahala yang sempurna. Inilah luasnya rahmat Allah bagi hamba-hamba-Nya yang berani berhijrah.
Nasihat untuk yang Berhijrah
Pertama, luruskan niat. Sebagaimana hadis yang telah disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang dia tuju.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Hijrah yang hakiki adalah hijrah yang dilandasi dengan niat yang ikhlas kepada Allah Ta’ala. Bukan karena ingin dipuji manusia, bukan karena mencari kedudukan, tetapi semata-mata mengharap rida Allah.
Kedua, tinggalkan kemaksiatan secara menyeluruh. Tidak cukup meninggalkan satu kemaksiatan sementara masih melakukan kemaksiatan lainnya. Hijrah harus menyeluruh dari segala larangan Allah. Allah Ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (Q.S. Al-Baqarah : 208)
Ketiga, istiqamah (konsisten). Banyak orang yang bersemangat di awal, tetapi kemudian kembali lagi ke jalan yang lama. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kalian takut dan janganlah kalian bersedih, dan bergembiralah kalian dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepada kalian.’” (Q.S. Fushshilat : 30)
Keempat, senantiasa muhasabah (introspeksi diri). Allah Ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Q.S. Al-Hasyr : 18)
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata,
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَعْمَالَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنَ عَلَيْكُمْ
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (di akhirat), dan timbanglah amal kalian sebelum ditimbang atas kalian.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Az-Zuhd)
Muhasabah adalah pintu untuk memperbaiki diri dan menjaga agar hijrah tetap pada jalur yang benar. Seseorang yang tidak mengevaluasi dirinya tidak akan pernah tahu keburukannya, dan orang yang tidak tahu keburukannya tidak akan pernah bisa memperbaikinya.
Kaum muslimin rahimakumullah…
Hijrah adalah keberanian untuk berubah. Berani meninggalkan kemaksiatan menuju ketaatan. Berani meninggalkan lingkungan yang merusak akidah menuju lingkungan yang menjaga agama. Berani meninggalkan teman-teman yang mengajak kepada keburukan menuju sahabat-sahabat yang mengajak kepada kebaikan.
Bulan Muharram ini bukan waktu untuk merayakan, tetapi waktu untuk berefleksi dan bertekad: apakah kita sudah benar-benar berhijrah? Mari kita luruskan niat, perbaiki amalan, dan istiqamah di jalan Allah. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang berani hijrah dan berani berubah menuju kebaikan. Wallahu a’lam bish-shawab.
Penulis: Muhammad Insan Fathin, S.Si., B.Sh.
Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S.
