10 PRINSIP PENDIDIKAN ANAK


EDISI 2242

——-

Q.S. At-Tahrim : 6

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا 

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka…” 

  • Anak merupakan pemberian istimewa dari Allah Ta’alakepada siapa saja yang Dia kehendaki, baik laki-laki maupun perempuan, sebagai pelengkap kebahagiaan hidup.
  • Di balik keindahannya, anak adalah tanggung jawab berat. Mendidik mereka merupakan kewajiban paling utama bagi setiap hamba dalam kehidupan ini.
  • Orang tua yang mendidik anak sesuai perintah Allah akan meraih pahala dan balasan yang agung. Sebaliknya, kelalaian dalam menjaga mereka dapat mendatangkan hukuman sesuai tingkat pengabaiannya.
  • Perintah menjaga keluarga dari api neraka menjadi landasan mendasar bahwa setiap orang tua wajib bersungguh-sungguh memperhatikan perkembangan agama dan akhlak anak.
  • Mengingat beratnya amanah ini, orang tua perlu mempelajari prinsip-prinsip pendidikan yang benar agar mampu menjaga keselamatan generasi di dunia dan akhirat.

Berikut ini adalah ringkasan dari sebuah risalah yang sangat bermanfaat berjudul 10 Prinsip Pendidikan Anak yang ditulis oleh Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin Al-Badr hafizhahumallah.

Prinsip #1 Memilih Istri Shalihah

Sebagai pilar pertama, seorang hamba wajib bersungguh-sungguh dalam memilih istri yang dikenal dengan keistiqamahan, kebaikan, dan ketakwaaan. Karena istri yang shalihah akan membantu dalam membimbing, mendidik, dan membesarkan anak dengan baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Prinsip #2 Menanamkan Aqidah dan Iman

Aqidah dan iman adalah dua pondasi yang dibangun di atasnya seluruh amalan yang lain. Jika pondasi ini baik, maka baik pula pengaruh-pengaruh yang dihasilkan. Sebagaimana wasiat Luqman Al-Hakim kepada anaknya, bahkan ia adalah wasiat pertama yang diucapkan kepada anaknya,

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ

“(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, ‘Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.’” (Q.S. Luqman : 13)

Kesyirikan adalah dosa yang paling berbahaya karena dapat membatalkan seluruh amalan. Di antara yang diwasiatkan Luqman Al-Hakim kepada anaknya agar menghadirkan perasaan diawasi oleh Allah Ta’ala (muraqabah).

يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ

“(Luqman berkata,) ‘Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan menghadirkannya (untuk diberi balasan). Sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Mahateliti.’” (Q.S. Luqman : 16)

Dengan menanamkan aqidah ini pada jiwa anak akan menguatkan tingkatan ihsan pada diri mereka dan mempersiapkan agar memiliki sifat muraqabah pada seluruh perbuatan mereka.

Prinsip #3 Banyak Mendoakan Anak

Doa kepada anak termasuk pilar yang paling penting untuk kebaikan dan keistiqamahan mereka. Doa ini dilakukan baik sebelum kedatangan mereka maupun sesudahnya. Sebagaimana Ibrahim ‘alaihissalam berdoa sebelum mendapatkan keturunan,

رَبِّ هَبۡ لِي مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

“(Ibrahim berdoa,) ‘Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.’” (Q.S. As-Shaffat : 100)

Setelah mendapat keturunan beliau berdoa kembali,

رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan sebagian anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (Q.S. Ibrahim : 40)

Di antara kenikmatan dan kemurahan Allah Ta’ala ialah Dia jadikan doa orang tua kepada anaknya itu mustajab (dikabulkan) sebagaimana yang ditetapkan dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi.” (H.R. Abu Daud, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Di antara perkara yang wajib diperhatikan agar para orang tua berhati-hati dari mendoakan keburukan kepada anak mereka, terutama saat sedang marah. Hendaknya orang tua tidak tergesa-gesa dalam mendoakan keburukan, karena jika doa tersebut dikabulkan, mereka akan sangat menyesal setelah itu terjadi.

Prinsip #4 Membentengi Anak dengan Zikir

Di antara pilar yang agung dalam mendidik anak adalah semangat kedua orang tua dalam membentengi anak-anaknya dengan zikir-zikir syar’i dan wirid-wirid yang diajarkan Nabi. Sesungguhnya hal tersebut besar pengaruhnya pada anak-anak sebagai penjagaan, kebaikan, dan keselamatan dari fitnah dan keburukan. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengajarkan zikir kepada Al-Hasan dan Al-Husain,

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracun, dan dari pengaruh ‘ain yang buruk.” (H.R. Bukhari)

Prinsip #5 Memilih Nama yang Baik

Di antara perkara yang dapat membantu dalam membina anak adalah dengan memilih nama yang bagus dan baik yang dikaitkan dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala yang mengingatkan sang anak akan keterkaitannya dengan kebaikan, ibadah, dan hal-hal terpuji sehingga biasanya akan memberi pengaruh (baik) kepada sang anak. Dikatakan dalam pepatah“Setiap orang memiliki bagian (pengaruh) dari namanya”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Nama-nama yang paling disukai oleh Allah ialah ‘Abdullah dan Abdur-Rahmân.” (H.R. Muslim)

Termasuk hal yang baik apabila orang tua menjelaskan makna dari nama yang diberikan kepada anaknya dan mengarahkan makna namanya kepada sesuatu yang dicintai Allah Ta’ala.

Prinsip #6 Berlaku Adil Kepada Anak-Anak

Berlaku adil, menjauhkan sifat tidak adil dan zalim adalah pilar paling penting yang mempengaruhi pembinaan anak. Sesungguhnya orang tua bila tidak adil kepada anak-anaknya akan menimbulkan permusuhan, hasad, dan kebencian. Sebaliknya jika orang tua berusaha keras untuk adil di antara anak-anak, maka itu merupakan sebab paling besar timbulnya rasa saling mencintai, mengasihi, dan berbakti kepada orang tuanya.

Dalam Shahih Bukhari dari Nu’man bin Basyir bahwa ayahnya memberikannya sebidang tanah. Ibunya meminta ayahnya agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi saksi atas pemberian tersebut. Lalu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, beliau bersabda, “Apakah kamu memberikan semua anakmu seperti ini?”. Lalu ia menjawab, “Tidak.” Maka Rasulullah bersabda, “Apakah engkau tidak ingin mereka berbakti kepadamu dengan kadar yang sama?!”. Ia menjawab, “Tentu saja”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau begitu jangan engkau lakukan perbuatan seperti itu lagi.”

Prinsip #7 Kelembutan dan Kasih Sayang

“Sungguh, segala sesuatu yang dihiasi kelembutan akan  nampak  indah.  Sebaliknya,  tanpa  kelembutan segala sesuatu akan nampak jelek.” (H.R Muslim)

Kasih  sayang  dan  kelembutan wajib diberikan  kepada  anak sejak masih kecil. Kelembutan dan kasih sayang adalah sebab dekat dan cintanya anak dengan orang tua. Sehingga lebih  mudah  bagi  orang  tua untuk  mengarahkan anaknya  menuju  kebaikan, memudahkan  orang  tua  dalam  menasihati  mereka, dan memudahkan  anak  untuk  menerimanya.

Prinsip #8 Memberikan Nasihat dan Arahan

Dalam Q.S. Luqman : 13-19 dijelaskan bahwa Luqman Al-Hakim mendidik anak dimulai dengan menanamkan tauhid sebagai pondasi, lalu menekankan bakti kepada orang tua setelah hak Allah. Anak perlu disadarkan akan pengawasan Allah (muraqabah) dalam setiap perbuatan serta didorong konsisten mendirikan salat. Wasiat ini ditutup dengan pesan menjaga adab, aktif berdakwah, dan menjauhi kesombongan.

Prinsip #9 Memilihkan Teman yang Baik

Sesungguhnya teman  itu  menarik akhlak temannya dan pasti mempengaruhi teman duduknya. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat  seorang  penjual  minyak  wangi  dan  seorang pandai  besi.  Penjual  minyak  wangi  mungkin  akan memberimu  minyak  wangi,  atau  engkau  bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau  tetap  mendapatkan  bau  harum  darinya. Sedangkan  pandai  besi,  bisa  jadi  (percikan  apinya) mengenai  pakaianmu,  dan  kalaupun  tidak  engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu wajib  bagi  para  orang  tua  memperhatikan  dan mengecek  dengan  siapa  anaknya  berteman  dan bermain di sekolahnya dan tempat lainnya.

Prinsip #10 Teladan yang Baik

Allah Ta’ala berfirman,

أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ وَأَنتُمۡ تَتۡلُونَ ٱلۡكِتَٰبَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ 

“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan,  sedangkan  kamu  melupakan  dirimu sendiri,  padahal  kamu  membaca  Kitab  (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?” (Q.S. Al-Baqarah : 44)

Besar  sekali  dosa  orang  tua  terhadap anaknya  manakala  ia  menjadi  contoh  buruk  dalam meninggalkan  kewajiban  atau  melakukan  yang diharamkan.  Karena  anak  itu  biasanya  tumbuh dipengaruhi oleh tingkah laku ayah mereka, karena ia  adalah panutan, dan darinyalah anaknya belajar.

Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita menjadi orang tua yang baik dan menjadi teladan bagi anak-anak kita. Aamiin yaa Rabb al-‘alamin.

 

Penulis: Yhouga Ariesta Mopratama, S.T (Alumni Ma’had Al ‘llmi Yogyakarta)

Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *