4 PRINSIP PENTING DALAM BERIKHTIAR


EDISI 2230

——

Q.S. Ar-Ra’d : 11

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡ

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang pada diri mereka sendiri.”

  • Setiap manusia mengharapkan kebaikan di dalam hidupnya dan dijauhkan dari segala keburukan.
  • Manusia akan bersungguh-sungguh dalam mewujudkan harapannya, ini disebut ikhtiar.
  • Islam telah membuat aturan dan rambu-rambu dalam ikhtiar agar mendapatkan rida dan berkah dari Allah Ta’ala.
  • Di akhir, kita wajib meyakini bahwa sebesar apapun usaha dan sebab yang diambil, pastilah baru akan berpengaruh terhadap hasilnya jika Allah Ta’ala  takdirkan dan jadikan sebab itu berpengaruh dan berbuah hasil.

Kaum muslimin yang semoga senantiasa dirahmati Allah Ta’ala. Setiap manusia, secara umum pasti menginginkan manfaat, keselamatan, dan kebaikan bagi dirinya serta dijauhkan dari marabahaya atau musibah, baik yang berkenaan dengan dunia maupun akhirat. Keinginan dan harapan itu secara naluriah akan membuat seseorang melakukan usaha untuk mendapatkan yang diinginkan. Upaya sungguh-sungguh tersebut disebut dengan ikhtiar, dimana seseorang akan mengambil sebab-sebab tertentu demi mendapatkan sesuatu yang diharapkan.

Dalam agama Islam, usaha mengambil sebab atau ikhtiar ini memiliki aturan dan rambu-rambu yang harus kita ketahui, supaya ikhtiar yang kita lakukan mendapatkan rida dan berkah dari Allah Ta’ala. Di antara rambu-rambu tersebut adalah:

[1] Jangan Mengambil Sebab yang Diharamkan

Kita diperintahkan dan diperbolehkan oleh Allah Ta’ala untuk mengambil sebab dengan sesuatu yang halal, dan dilarang berikhtiar dengan sesuatu yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Contohnya dalam mendapatkan kesembuhan, jika kita sakit maka kita diperbolehkan untuk berobat dengan sesuatu yang halal dan dilarang berobat dengan sesuatu yang diharamkan oleh syariat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit beserta obatnya, dan Dia telah menetapkan bagi setiap penyakit ada obatnya, maka berobatlah namun janganlah berobat dengan sesuatu yang haram.” (H.R. Abu Dawud)

Di antara pengobatan yang diharamkan adalah seseorang yang berobat ke dukun dan sejenisnya, di mana dukun tersebut melakukan pengobatan yang tidak ilmiah, semisal mengaku bisa memindahkan penyakit ke dalam telur dan sebagainya. Yang seperti ini tidak lepas dari dua hal, yaitu penipuan atau meminta bantuan kepada jin, dan keduanya dilarang dalam Islam.

Demikian pula dalam mencari rezeki, kita diperintahkan untuk mencari rezeki yang halal dan dari jalan yang halal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

“Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkanlah yang haram.” (H.R. Ibnu Majah)

Hendaknya kita benar-benar memegang teguh prinsip ini dalam seluruh kehidupan kita, karena di zaman ini semakin banyak orang yang sudah tidak perduli lagi halal dan haram dalam mencari rezeki dan kesembuhan.   

[2] Jangan Mengambil Sebab, Kecuali yang Terbukti secara Syar’i atau Qadari

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan poin ini,

أن لا يجعل منها سببا إلا ما ثبت أنه سبب شرعا أو قدرا

“Tidak menjadikan sesuatu sebagai sebab, kecuali jika sesuatu tersebut terbukti sebagai sebab, baik secara Syar’i maupun Qadari” (lihat Al-Qoulul Sadid).

Maksudnya adalah, sebab yang kita ambil haruslah terbukti secara syar’i yaitu ada dalilnya dari al-Qur’an maupun Sunnah, atau terbukti secara qadari yaitu yang terbukti secara ilmiah berdasar ilmu pengetahuan atau pengalaman yang jelas bahwa usaha tersebut terbukti sebagai sebab.

Contoh mengambil sebab yang terbukti secara syar’i :

  1. Beramal saleh (dengan rahmat dari Allah Ta’ala) menjadi sebab seseorang masuk ke dalam surga. Allah Ta’alaberfirman,

ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

“Masuklah kalian ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kalian kerjakan.(Q.S. An-Nahl : 32)

  1. Berobat dengan menggunakan air zam-zam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ مَاءٍ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ مَاءُ زَمْزَمَ فِيهِ طَعَامٌ مِنَ الطُّعْمِ وَشِفَاءٌ مِنَ السُّقْمِ

Sebaik-baik air di muka bumi adalah air zam-zam. Air tersebut bisa menjadi makanan yang mengenyangkan dan bisa sebagai obat dari penyakit.” (H.R. Thabrani, hasan)

Contoh mengambil sebab yang terbukti secara qadari:

  1. Mencari kesembuhan dengan minum obat dari dokter atau tabib, dimana obat tersebut sudah terbukti secara ilmiah (dengan izin Allah Ta’ala) bisa mengobati penyakit.
  2. Seseorang yang makan dan minum supaya tidak kelaparan dan kehausan.
  3. Seseorang berkendaraan supaya lebih cepat sampai tujuan. Demikian pula ia mengunci kendaraannya supaya lebih aman dari pencurian.

Catatan penting: Jika seseorang mencari sebab atau berikhtiar dengan sesuatu yang tidak terbukti secara syar’i dan juga tidak terbukti secara qadari, maka hal tersebut dilarang dan ia bisa terjatuh kedalam kesyirikan (syirik kecil). Contohnya seseorang memakai jimat untuk menghindarkan diri dari bahaya, selain dilarang secara tegas dalam dalil agama, jimat juga tidak terbukti secara ilmiah bisa memberikan manfaat dan menghindarkan mudarat. Demikian pula seseorang yang mencari kesembuhan dengan menggunakan air keramat, atau air yang dicelup batu oleh seorang anak kecil, di mana sama sekali tidak terbukti secara ilmiah dan ilmu pengetahuan bisa mengobati berbagai macam penyakit, maka yang seperti ini bisa terjatuh kedalam syirik kecil. Bahkan bisa menjadi syirik besar jika dia meyakini jimat atau benda keramat itu yang bisa memberikan manfaat dan menghindarkan madharat dengan sendirinya tanpa dikaitkan dengan takdir dan izin Allah Ta’ala.

[3] Jangan Menyandarkan Hati kepada Sebab atau Usaha Kita

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan,

أن لا يعتمد العبد عليها، بل يعتمد على مسببها ومقدرها، مع قيامه بالمشروع منها، وحرصه على النافع منها.

“Seorang hamba jangan menyandarkan hatinya kepada sebab/usahanya, namun bersandarlah kepada Allah, Zat Yang Maha Kuasa memberi pengaruh kepada sebab dan Maha Mentakdirkan, diiringi dengan usaha yang diperbolehkan syari’at, serta bersemangat dalam melakukan usaha (maksimal) yang paling bermanfaat”  (lihat Al-Qoulul Sadid).

Seorang muslim wajib untuk menyandarkan hatinya kepada Allah Ta’ala setelah sebelumnya dia melakukan usaha yang maksimal dan berdo’a dengan sungguh-sungguh, perkara inilah yang kita kenal dengan tawakal. Artinya, jangan sampai seseorang menyandarkan hatinya kepada usaha, kemampuan, kepintaran, dan upayanya sendiri, namun hendaknya ia menyandarkan hatinya dan serahkan hasilnya kepada Allah Ta’ala. Jika seseorang benar benar bertawakal, maka Allah Ta’ala akan memberikan kecukupan padanya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ 

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (Q.S. Ath-Thalaq : 3)

Indikator seseorang yang benar-benar bertawakal dan menyandarkan hatinya kepada Allah Ta’ala akan tampak setelah realita hasil yang didapatkan. Jika hasilnya sukses dan sesuai yang diharapkan, dia tidak akan sombong dan banyak memuji dan bersyukur kepada Allah Ta’ala. Namun jika hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ia akan bersabar, tidak melakukan tindakan dan mengucapkan perkataan yang buruk, karena ia tahu bahwa apapun hasilnya yang Allah Ta’ala tetapkan, itulah yang terbaik untuknya.

Demikian pula sebaliknya, indikator seseorang yang belum bertawakal dengan benar dan masih bersandar kepada sebab dan usahanya sendiri: jika hasilnya sukses dan sesuai dengan yang diharapkan, dia lupa bersyukur kepada Allah Ta’ala, bahkan bisa jadi di hatinya akan muncul kesombongan karena merasa semua yang diraih, semata-mata kehebatan dan kemampuan dirinya. Namun jika hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, biasanya ia akan kecewa berat, stres, dan putus asa. Hal itu menjadi indikasi bahwa ia masih bergantung kepada usaha yang ia lakukan, belum bergantung dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah Ta’ala.

[4] Semua Hasil Usaha Pasti Terikat dengan Takdir Allah Ta’ala

Syaikh Abdurrahman as-Sia’di rahimahullah menjelaskan poin terakhir ini,

أن يعلم أن الأسباب مهما عظمت وقويت فإنها مرتبطة بقضاء الله وقدره لا خروج لها عنه

“Hendaknya diketahui bahwa suatu sebab, meskipun besar dan kuat pengaruhnya, maka sesungguhnya tetap terikat dengan taqdir dari Allah Ta’ala, dan tidak bisa terlepas dari taqdir-Nya.”

Kita wajib meyakini bahwa sebesar apa pun usaha dan sebab yang diambil, pastilah baru akan berpengaruh terhadap hasilnya jika Allah Ta’ala  takdirkan dan jadikan sebab itu berpengaruh dan berbuah hasil. Namun jika Allah Ta’ala tidak menghendaki sebab tersebut berpengaruh, maka pasti tidak bisa berpengaruh, betapa pun besar dan istimewanya sebab atau usaha itu.

Demikian pula terkadang seseorang hanya menempuh sedikit usaha dan sebab, dan secara hitungan akal sepertinya sulit untuk membuahkan hasil, namun dengan takdir dari Allah Ta’ala, maka usaha yang kecil tersebut ternyata bisa membuahkan hasil yang maksimal.

Wallahu a’lam bis-shawab.

 

Penulis: Nizamul Adli Wibisono, S.T. (Alumni Ma’had Al-’llmi Yogyakarta)

Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *