EDISI 2225
—-
Q.S. Al-Hadid : 22
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauḥ Maḥfūẓ) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”
- Allah menetapkan peristiwa di dunia ini dengan silih berganti; tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang lepas dari takdir Allah.
- Tidak semua yang Allah takdirkan merupakan kebaikan, namun hal itu terkadang dipandang sebagai keburukan di mata manusia.
- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamtelah mengajarkan hal yang harus dilakukan apabila musibah datang.
- Tidaklah Allah menciptakan musibah kecuali dengan hikmah.
Peristiwa yang terjadi di alam semesta ini datang silih berganti, seperti siang dan malam, panas dan hujan. Ada yang membuat hati berbunga-bunga, dan ada pula yang membuat mata berkaca berlinang air mata.
Ketika kita diberi nikmat, hati terasa lapang, senyum pun mudah merekah. Kita merasa hidup sedang berpihak, dan dunia serasa indah. Namun, ketika musibah datang mengetuk, banyak di antara kita yang terdiam dalam duka, bahkan bertanya, “Mengapa ini terjadi padaku?”.
Padahal, kedua peristiwa atau kejadian tersebut merupakan sesuatu yang ditakdirkan oleh Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَٰهُ بِقَدَرٖ
“Sesungguhnya segala sesuatu kami ciptakan dengan takdir.” (Q.S. Al-Qamar : 49)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآَخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“(Iman itu adalah) Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, serta engkau beriman kepada takdir baik dan buruk.” (H.R. Muslim)
Apakah Allah Menciptakan Keburukan?
Allah memang menciptakan keburukan sebagaimana Dia menciptakan kebaikan, tetapi Dia tidak menyukai dan tidak memerintahkan pada keburukan. Keburukan ada sebagai ujian.
Memang menurut pandangan manusia (suatu kejadian) itu buruk, tetapi di balik penciptaan tersebut ada banyak hikmah kebaikan yang mungkin belum diketahui oleh manusia.
Allah Ta’ala berfirman,
وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ
“Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagi kalian, dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah : 216)
Begitu pula musibah yang terjadi di alam semesta ini adalah takdir dari Allah Ta’ala. Dengan adanya musibah ini, banyak sekali hikmah kebaikan yang akan dipetik oleh umat manusia.
Musibah bukanlah azab bagi orang yang beriman, melainkan ujian. Melalui ujian itu, Allah ingin membersihkan hati, menghapus dosa, dan meninggikan derajat hamba-Nya. Betapa sering manusia lalai saat diberi nikmat, namun menjadi sadar dan kembali saat tertimpa musibah. Itulah kasih sayang Allah yang tersembunyi di balik rasa sedih yang menimpa.
Baca Doa Ini agar Musibahmu Diganti dengan yang Lebih Baik
Ummu Salamah pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا. إِلاَّ أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا
“Siapa saja seorang muslim yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan ‘INNĀ LILLĀHI WA INNĀ ILAIHI RĀJI‘ŪN. ALLĀHUMMA’JURNĪ FĪ MUṢĪBATĪ WA AKHLIF LĪ KHAIRAN MINHĀ (Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah yang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik)’, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.”
“Ketika Abu Salamah (suamiku) wafat, aku pun menyebut doa sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan padaku. Allah pun memberiku suami yang lebih baik dari suamiku yang dulu yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (H.R. Muslim)
Ganti yang lebih baik tidak mesti sifatnya dalam hal fisik. Bisa jadi ganti tersebut berupa bertambahnya kesabaran dan keimanan.
Berkah dalam Setiap Musibah
Ketika seseorang sabar saat mendapatkan musibah, maka selain dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah Ta’ala, ia juga akan mendapatkan surga yang telah dijanjikan sebagai buah atas kesabaranya.
Dalam Hadis Qudsi, Allah Ta’ala berfirman,
ما لِعَبدِي المُؤمن عِندِي جَزَاء إِذَا قَبَضتُ صَفِيَّه مِنْ أَهلِ الدُّنيَا ثُمَّ احْتَسَبَه إِلاَّ الجنَّة
“Tidak ada balasan (yang pantas) dari-Ku bagi hamba-Ku yang beriman, apabila Aku mewafatkan orang yang dicintainya dari penghuni dunia, kemudian dia rida dengan musibah tersebut, melainkan Surga.” (H.R. Bukhari)
Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى
“Sesungguhnya seorang hamba jika telah ditentukan/ditakdirkan padanya suatu tingkatan (di Surga) yang mana dia belum bisa meraihnya dengan sebab seluruh amalnya, maka Allah akan timpakan padanya musibah berkaitan dengan dirinya, hartanya, atau pada anaknya. Kemudian Allah jadikan dia bisa bersabar atas musibah tersebut, sehingga dengan sebab tersebut Allah sampaikan ia pada tingkatan (di Surga ) yang telah Allah tetapkan untuknya.” (H.R. Abu Daud, no. 2686 dengan sanad yang sahih)
Saat musibah datang, janganlah buru-buru berburuk sangka. Mungkin itu adalah jalan Allah untuk menyelamatkan kita dari sesuatu yang lebih buruk. Atau cara-Nya mengingatkan kita yang terlalu lama lalai. Sebagaimana hujan deras bisa menyuburkan tanah yang gersang, begitu pula musibah bisa menyuburkan jiwa yang mulai kering dari iman.
Musibah sejatinya adalah panggilan dari Allah, agar kita berhenti sejenak dari kesibukan dunia, menundukkan diri, dan bertanya: “Sudah sejauh apa aku dari Allah?” Ia adalah alarm jiwa agar kita lebih peka untuk kembali kepada-Nya.
Ketika musibah mengetuk pintu, bukalah dengan sabar. Sambutlah dengan iman. Karena bisa jadi, itu adalah cara Allah menunjukkan: “…bahwa Dia masih peduli padamu, masih menyayangimu, dan memintamu untuk kembali mendekat kepada-Nya.”
Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S. Pd.
Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B. I. S.
