Ayah Dan Anak Yang Sangat Patuh Pada Allah (Hikmah Kisah Kurban Ibrahim Dan Ismail ‘alaihimassalam)


 

EDISI 2141

 

Q.S. An-Nahl : 123

ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ‘Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.’”

  • Nabi Ibrahim ‘alaihissalammerupakan salah satu rasul ulul azmi, dan beliau merupakan bapak para nabi
  • Kemuliaan yang beliau miliki sebanding dengan segala ujian dan perjuangan yang beliau hadapi
  • Anak beliau, Nabi Ismail ‘alaihissalam, merupakan buah hati yang beliau inginkan sejak lama
  • Nabi Ismail merupakam sosok yang tegar dalam menjalankan perintah Allah Ta’ala, dan kisah hidup mereka berdua pantas untuk dijadikan teladan oleh seluruh kaum muslimin

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, sang bapak para nabi, merupakan teladan yang baik dalam ketaatan pada Allah Ta’ala. Kesungguhannya dalam menegakkan tauhid dan menaati perintah Allah menjadi contoh yang baik sepanjang masa. Allah abadikan status beliau yang mulia ini dalam firman-Nya,

إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةٗ قَانِتٗا لِّلَّهِ حَنِيفٗا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ 

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang Imam (yang dapat dijadikan teladan), qaanitan (patuh kepada Allah), dan hanif (condong pada tauhid), dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang menyekutukan Allah).” (Q.S. An-Nahl : 120)

Dalam perjalanan kehidupan Nabi Ibrahim terdapat banyak pelajaran bagi kita, bagaimana beliau berdakwah pada ayahnya, berdakwah pada kaumnya, menegakkan tauhid, memberantas kemusyrikan, mendidik keluarganya, dan bersemangat dalam beribadah. Kesungguhan beliau dalam menjalankan perintah Allah, banyak Allah abadikan di dalam Al Qur’an, salah satunya perintah menyembelih putra beliau. Peristiwa tersebut Allah ceritakan dalam Al Qur’an dan menjadi teladan untuk kita sehingga Allah tetapkan menjadi syariat ibadah kurban yang kita laksanakan setiap tahunnya. Ibadah kurban banyak mengandung hikmah, baik dalam pelaksanaannya maupun dalam renungannya terhadap kisah Nabi Ibrahim dan anaknya.

Ibrahim Menempatkan Ismail dan Ibunya di Daerah Sepi dan Tandus

Nabi Ibrahim telah lama menanti anak, namun hingga usia tua Beliau belum dikaruniai anak. Istri beliau, Sarah, menghadiahkan seorang budak bernama Hajar yang dinikahi oleh Ibrahim, atas izin Allah lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail, di usia beliau 86 tahun. Kemudian Allah memerintahkan Ibrahim untuk menempatkan Ismail dan ibunya di lembah padang pasir yang gersang dan tidak ada air, padahal Ismail masih bayi dan menyusui. Ibrahim melaksanakan perintah Allah tersebut seraya berdoa,

رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجۡعَلۡ أَفۡـِٔدَةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ

Ya Rabb kami! sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, wahai Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizki buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Q.S. Ibrahim : 37)

Atas pertolongan dari Allah, maka muncullah sumur zamzam yang menjadi sumber kehidupan dan sebab makmurnya tanah Makkah.

Ibrahim Menerima Wahyu Berisi Perintah yang Berat

Ismail tumbuh besar menjadi anak yang bisa membantu dan mendatangkan manfaat untuk ayahnya. Dalam kondisi ini, tentu Ismail sangat dicintai oleh ayahnya, namun, justru ujian terberat datang pada saat itu. Ibrahim mendapatkan wahyu melalui mimpinya untuk menyembelih Ismail. Tentu hal ini sangat berat, orang tua yang sudah sangat lama menunggu kehadiran anak, lalu kemudian harus siap rela kehilangan anaknya. Apalagi perintah ini datang dari Sang Pencipta langit dan bumi, bukan dari manusia yang masih bisa mengelak. Akhirnya, Ibrahim mengajak diskusi Ismail terkait perintah Allah yang sangat berat ini. Allah ceritakan kisah ini dalam firman-Nya,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka bagaimana pendapatmu?” (Q.S. As-Shaffat : 102)

Bayangkan seorang anak yang baru tumbuh besar ditanya mengenai hal ini. Bagaimana jika kita di posisi Ismail, bisa dipastikan tentu akan menghindar dan tidak terima dengan hal yang sangat mengejutkan ini. Namun, bagaimana dengan Ismail? Lihat respon beliau dalam kelanjutan ayat di atas : Ia menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Ismail sangat pasrah dan menerima perintah Allah yang dikirimkan melalui wahyu kepada Ibrahim, ayahnya. Ia sangat yakin bahwa perintah dari Allah ini pasti mengandung kebaikan dan hikmah yang sangat besar meskipun ia tidak mengetahuinya dan sangat berat untuk menjalankannya. Sehingga ia pasrah dan sabar dengan ketetapan dari Allah ini.

Diganti Dengan Sembelihan Kambing yang Besar

Ibrahim dan Ismail pasrah dengan perintah Allah, mereka bertekad tetap menjalankannya. Ibrahim membentangkan Ismail di atas tanah. Ibrahim menelungkupkan wajah Ismail ke tanah karena tidak tega melihat wajah anaknya yang kesakitan saat disembelih, yang berpotensi mengganggu dirinya untuk menjalankan perintah Allah. Tatkala Ibrahim hendak mengayunkan pisau yang telah ia asah tajam, Allah memanggil Ibrahim dari langit,

فَلَمَّآ أَسۡلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ١٠٣ وَنَٰدَيۡنَٰهُ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ ١٠٤ قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ١٠٥ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya, “Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata.” (Q.S. As-Shaffat : 103-106)

Keduanya telah lulus melewati ujian dari Allah. Telah tampak dengan jelas bagaimana kesabaran dan keridaan mereka terhadap perintah Allah. Sebagai gantinya, “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (Q.S. As-Shaffat : 107). Allah ganti Ismail dengan domba jantan yang besar, kemudian Allah perintahkan Ibrahim untuk menyembelih domba tersebut.Hikmah

Beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari kisah di atas, yang pertama adalah ujian para nabi adalah yang terberat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang manusia yang paling berat ujiannya, lalu beliau menjawab, “Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi.” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Oleh karenanya menjadi renungan dan motivasi buat kita, seberat apapun ujian kita, para nabi pasti yang paling berat ujiannya. Kemudian yang kedua, kualitas iman dan agama yang semakin kuat, akan memperbesar ujian yang akan diberikan. Lanjutan dari hadits di atas, Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Sehingga, jika kita merasa berat dengan ujian yang sedang menimpa kita, yakinlah kita bisa melaluinya dan membuktikan seberapa kuat agama kita. Ujian Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam sangat berat, ini menunjukkan kuatnya iman dan agama. Mereka sangat patuh pada Allah, mendahulukan cinta kepada Allah di atas cinta kepada anak dan orang tua. Terakhir, sebagai bukti bahwa betapa besar keikhlasan dan kepatuhan mereka terhadap Allah, maka Allah abadikan kisah mereka dalam Al Qur’an agar menjadi pelajaran untuk kita semua sampai hari ini dan menjadi pelopor dalam syariat ibadah kurban yang selalu kita laksanakan tiap tahunnya.

 

Penulis : dr. Agung Panji Widiyanto, M.Med.Sc., Sp.PK

Pemuraja’ah : Ustadz Abu Salman, B.I.S.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *