MEMAKNAI HAKIKAT KELAHIRAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM


EDISI 2211

H.R. Bukhari dan Muslim

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ، وَوَالِدِهِ، وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman dengan sempurna hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.”

  • Mengungkapkan perasaan cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hal yang harus menjadi prioritas bagi setiap muslim.
  • Kelahiran beliau merupakan sebuah kabar gembira yang harus kita sambut selalu, karena beliau adalah seorang utusan Allah untuk membawa rahmat bagi seluruh alam.
  • Salah satu misi diutusnya beliau ke muka bumi adalah sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan bagi manusia.
  • Sebagian merayakan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tradisi perayaan, lalu bagaimana sikap ahlus sunnah terhadap perayaan tersebut?

Tradisi Perayaan Kelahiran Nabi

Para pembaca yang budiman,

Seperti apa kedudukan seorang ahlus sunnah dalam menyikapi kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam?

Berbicara tentang konsep cinta, sepantasnya kita bisa menengok ke belakang akan bagaimana potret kecintaan Para Sahabat radhiyallahu ‘anhum kepada Rasulullah, kecintaan sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum kepada Rasulullah.

Tentunya kecintaan mereka sangat lebih dibandingkan dengan kita, bahkan ketika peristiwa Isra’ Mi’raj orang yang pertama kali mempercayai akan kejadian tersebut adalah Abu Bakar yang kemudian beliau diberikan gelar Ash-Shiddiq oleh Rasulullah. Semangat akan kecintaan para sahabat kepada Nabi menjadi hal yang tidak boleh untuk diragukan, Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَوۡ كَانَ خَيۡرٗا مَّا سَبَقُونَآ إِلَيۡهِ

“Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Kalau sekiranya di (Al-Qur’an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya.’” (Q.S. Al-Ahqaf : 11)

Ibnu Katsir menjelaskan:

“Mereka menjadikan ukuran kebenaran adalah siapa yang mengikutinya lebih dulu. Karena yang pertama masuk Islam adalah orang-orang miskin dan lemah, maka orang-orang kafir Quraisy berkata: ‘Kalau Islam itu baik, tentu orang-orang terhormat seperti kami yang akan lebih dahulu mengikutinya.’”
“Ini adalah tolok ukur yang rusak, karena banyak sekali kebenaran yang justru pertama kali diikuti oleh orang-orang lemah, lalu diikuti oleh yang lain. Maka Ahlus Sunnah mengatakan bahwa, setiap perkataan dan perbuatan yang tidak dipahami dan diamalkan sahabat, maka itu bidah, karena:

لَوْ كَانَ خَيْرًا لَسَبَقوْنَا إِلَيْه

Seandainya perkara/amalan itu dianggap baik, tentu orang orang terdahulu para salafush shalih akan berlomba lomba untuk melakukan nya’” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim, 6/622).

Sikap Ahlus Sunnah Tentang Perayaan Kelahiran Nabi

Lantas, Apakah ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang perayaan Kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Dinukil dari perkataan Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily hafidzahullah, salah seorang pengajar di Masjid Nabawi dan imam dan khatib Masjid Quba Madinah Al-Munawwarah, ketika beliau ditanya tentang persoalan dalam merayakan Kelahiran Nabi, beliau menjawab:

“Perbedaan tidak akan menjadi kuat (mu’tabar) ketika tidak didahului dengan sebuah ijma’/kesepakatan, seperti ada perbedaan tentang apakah Al-Qur’an itu Kalamullah atau Kalam makhluk, akan tetapi perbedaan/khilaf ini sudah lebih dahulu dengan ijma’ para salaf dan mereka bersepakat bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah dan bukan Kalam makhluk.

Begitu juga dengan Perayaan Kelahiran Nabi, benar dari kalangan para mutaakhirin ada riwayat dari mereka tentang Perayaan Kelahiran Nabi, dan bahkan menganjurkannya, akan tetapi hal itu telah didahului dengan ijma’ para sahabat radhiyallahu ‘anhum bahwa tidak ada satupun penukilan riwayat terkait dengan Perayaan Kelahiran Nabi, baik ketika beliau masih hidup atau sudah wafat, begitupun dengan para tabi’in dan tabi’ut tabi’in dan begitu pula dengan para imam madzhab. Munculnya Perayaan Kelahiran Nabi itu di era Bani Fathimiyyah abad ke-4 atau 5. Oleh karenanya, bukan dikatakan sebuah perbedaan/khilaf jika menyelisihi ushul dan dalil ijma’.”

Dan tentunya, bentuk menyikapi dari seorang ahlus sunnah adalah dengan mengamalkan apa yang menjadi sunnah beliau, baik sunnah qauliyyah (secara perkataan) atau sunnah fi’liyyah (perbuatan) atau sunnah taqririyyah, ini sebagai bentuk bukti kecintaan kepada beliau, dikatakan dalam sebuah atsar,

لَو كَانَ حُبُّك صَادِقًا, لأَطَعتَهُ

إِنَّ المُحِبَّ لِمَنْ أَحَبَّ مُطِيْعٌ

“Seandainya memang engkau benar-benar cinta, maka engkau akan taat kepada apa yang diperintahkannya, Sesungguhnya orang yang mencintai, pasti taat kepada yang dicintainya.”

Dari sini bisa ditarik faedah bahwa konsekuensi dari cinta adalah taat dan patuh dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ

“Katakanlah: ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian’. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Ali Imran : 31)

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam juga bersabda,

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ، وَوَالِدِهِ، وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman dengan sempurna hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.”(H.R. Bukhari dan Muslim)

Teladan Sahabat Dalam Mengamalkan Sunnah

Beberapa contoh semangat salafus shalih dalam mengamalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, sebagaimana yang dijelaskan di dalam kitab Al-Minah Al-‘Aliyyah Fii Bayaani As-Sunnah Al-Yaumiyyah karya Syaikh Abdullah Hamud Al Furaih:

Seorang sahabat yang bernama Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yang sebelumnya tidak pernah terluput semangatnya dalam melaksanakan salat jenazah, lantas beliau pergi dan tidak ikut melaksanakannya, tatkala sampai kepada nya hadis Abu Hurairah, ia sangat menyesal karena telah terlewat dari sebuah amalan sunnah setelah beliau tau akan keutamaan ikut melaksanakan sholat jenazah. Renungkanlah apa yang dikatakannya!

Dari Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash, dia sedang duduk disisi Abdullah bin Umar, lalu datanglah khabbab dan berkata: “Wahai Abdullah bin Umar, tidakkah engkau mendengar perkataan Abu Hurairah? Ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Barangsiapa yang pergi bersama jenazah dari rumahnya, kemudian mensalatkannya, lalu mengantarkannya sampai dikebumikan, maka pahala baginya adalah dua qirath, setiap qirath besarnya seperti gunung Uhud. Adapun orang yang mensalatkannya lalu pulang, maka ia hanya mendapat pahala seperti satu gunung Uhud.’”

Ibnu Umar mengutus Khabbab agar menemui Aisyah untuk bertanya kepadanya perihal perkataan Abu Hurairah tersebut, lalu ia kembali kepadanya membawa kabar dari Aisyah. Ibnu Umar mengambil satu genggam tanah masjid dan membolak-balikkannya di tangannya. Hingga datang sang utusan kepadanya dan berkata, “Aisyah berkata, Abu Hurairah benar.” Seketika itu Ibnu Umar membanting tanah yang ada di tangannya, lalu berkata, “Sungguh kita telah melewatkan qirath-qirath yang banyak.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi berkata: “Dalam kisah ini terdapat gambaran semangat para sahabat dalam ketaatan saat mereka mengetahuinya, dan merasa menyesal jika mereka terlewat darinya, walaupun karena sebelumnya mereka tidak mengetahui besarnya kedudukan suatu amalan tersebut.”

Dan jikalau kita ingin mencontoh semangat para sahabat dalam mengamalkan sunnah nabi, bisa dimulai dari hal-hal terkecil. Seperti: menyebarkan salam kepada sesama muslim, menjaga salat sunnah rawatib dan puasa-puasa sunnah, menghidupkan akhlak Nabi dalam kehidupan sosial, dan menyebarkan dakwah tauhid yang beliau bawa.

Praktik kecintaan kepada Nabi harus dibuktikan dengan ketaatan kepada Allah dan ittiba’/mengikuti sunnah Rasulullah. Allah Ta’ala berfirman,

مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدۡ أَطَاعَ ٱللَّهَۖ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ عَلَيۡهِمۡ حَفِيظٗا٨

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Q.S. An-Nisa’ : 81) 

Ibnu Katsir mengatakan dalam kitab tafsirnya:

“Salah satu yang menjadi kabar bagi hamba-Nya dan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya, siapa yang mentaatiku, maka dia telah mentaati Allah dan barangsiapa yang berbuat maksiat kepadaku, maka dia telah berbuat maksiat kepada Allah, karena Rasulullah tidak pernah menyampaikan sebuah kabar, kecuali berdasarkan pada sebuah wahyu dari Allah Ta’ala(Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim, 3/167).

Buah Mengamalkan Sunnah

Kita harus senantiasa berhati-hati, jangan sampai sebuah perayaan menjadi sekedar tradisi tanpa pemahaman yang benar, dan jangan pula pengakuan akan kecintaan berakhir pada kepalsuan. Karena di antara buah dari kita mengikuti sunnah beliau adalah:

  1. Mencapai tingkatan mahabbah(cinta) dengan melakukan taqarrub kepada Allah melalui amalan sunnah.
  2. Doanya akan terkabul, karena dirinya telah mendapatkan kecintaan yang sebenarnya.
  3. Melengkapi kekurangan dalam amalan-amalan fardu, karena amalan-amalan sunnah juga berfungsi untuk melengkapi kekurangan-kekurangan yang terjadi dalam ibadah salat fardu.
  4. Menghidupkan hati. Jika seorang hamba menjaga amalan sunnah, maka yang lebih penting dari itu akan lebih dapat ia jaga. Ia akan sulit menelantarkan amalan-amalan wajib. Selain itu, ia akan mendapat keutamaan yang lain.
  5. Terhindar dari bidah. Karena jika seorang hamba semakin mengikuti ajaran/amalan yang terdapat dalam sunnah, dia akan kian semangat untuk tidak beribadah dengan amalan apapun melainkan sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh nabi dan para salafush shalih.

Demikian uraian singkat ini kami buat, semoga dengan pemaparan diatas dapat menjadi pembuka agar kelahiran akan sebuah kecintaan kepada Rasulullah tidak hanya membuahkan kecintaan musiman semata, akan tetapi hingga akhir hayat beliau, dengan mengamalkan segala apa pun yang telah beliau perintahkan. Semoga kita diberikan keistiqomahan dan keteguhan hati di atas amalan-amalan sunnah dan hidayah-Nya.

 

Penulis : Muhammad Iqbal Rifai  (Mahasiswa S1 Najran University, Saudi Arabia)

Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B. I. S.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *