Seluk Beluk Bid’ah

At Tauhid edisi V/5

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Alhamdulillah wash sholaatu was salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Bid’ah, kata ini sebenarnya adalah kata yang sudah familiar di tengah-tengah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Berbeda dengan orang saat ini yang merasa aneh, jika mendengar kata ini, bahkan merasa benci jika mendengar orang lain membahas masalah bid’ah. Sampai-sampai jika ada yang membahas bid’ah, ada yang spontan berkomentar, “Bahas bid’ah lagi. Memecah belah umat saja.” Untuk kesempatan kali inilah, kami ingin menjelaskan maksud bid’ah yang sebenarnya agar kaum muslimin tidak salah dalam memahami kata ini. Semoga Allah memberikan pemahaman kepada kaum muslimin dalam memahami hal ini.

Dua Muqoddimah yang Perlu Diketahui

Muqoddimah pertama, ketahuilah bahwa agama Islam ini telah sempurna sehingga tidak butuh adanya penambahan dan pengurangan ajaran lagi. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Ma’idah [5]: 3)

Muqoddimah kedua, hendaklah seseorang mengetahui bahwa suatu amalan bisa diterima di sisi Allah jika memenuhi dua syarat diterimanya amalan. Jika salah satu dari dua syarat ini tidak ada, amalan tersebut tidak diterima. Kedua syarat ini telah disebutkan sekaligus dalam firman Allah (yang artinya), “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholeh dan janganlah ia mempersekutukan Rabbnya dengan sesuatu pun.” (QS. Al Kahfi [18]: 110). Ibnu Katsir mengatakan mengenai ayat ini, “Inilah dua rukun diterimanya amal yaitu [1] ikhlas kepada Allah dan [2] mencocoki ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim). Dalil lain yang menunjukkan bahwa syarat diterimanya amalan bukanlah hanya ikhlas (berniat baik), tetapi juga harus mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hadits: “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718). Inilah dua muqoddimah yang seharusnya diperhatikan. Selanjutnya marilah kita memahami istilah bid’ah.

Memahami Pengertian Bid’ah

Bid’ah secara bahasa berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya (Al Mu’jam Al Wasith). Jadi, bid’ah secara bahasa itu lebih umum, termasuk kebaikan dan kejelekan karena mencakup segala yang ada contoh sebelumnya. Definisi bid’ah secara istilah yang paling bagus adalah definisi yang dikemukakan oleh Asy Syaatibi dalam Al I’tishom. Beliau mengatakan bahwa bid’ah adalah: Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Definisi yang tidak kalah bagusnya adalah definisi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau rahimahullah mengatakan, “Bid’ah adalah i’tiqod (keyakinan) dan ibadah yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah atau ijma’ (kesepakatan) salaf.” (Majmu’ Al Fatawa) Ringkasnya pengertian bid’ah secara istilah adalah suatu hal yang baru dalam masalah agama setelah agama tersebut sempurna.

Catatan: Jadi, berdasarkan definisi bid’ah secara istilah ini menunjukkan kepada kita semua bahwa perkara dunia (yang tidak tercampur dengan ibadah) tidaklah tergolong bid’ah walaupun perkara tersebut adalah perkara yang baru. Perhatikanlah perkataan Asy Syatibi, “Perkara non ibadah (‘adat) yang murni tidak ada unsur ibadah, maka dia bukanlah bid’ah. Namun jika perkara non ibadah tersebut dijadikan ibadah atau diposisikan sebagai ibadah, maka dia bisa termasuk dalam bid’ah” (Al I’tishom). Oleh karena itu, komputer, HP, pesawat, pabrik-pabrik kimia, berbagai macam kendaraan, dan teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini, itu semua adalah perkara yang dibolehkan dan tidak termasuk dalam bid’ah yang tercela. Kalau mau kita katakan bid’ah, itu hanyalah bid’ah secara bahasa yaitu perkara baru yang belum ada contoh sebelumnya. Semoga pembaca memahami hal ini.

Ketahuilah, Setiap Bid’ah adalah Tercela

Diriwayatkan dari Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Hadits ini dikatakan Shohih oleh Syaikh Al Albani) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Ath Thobroniy. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)

Jika kita telah mengetahui demikian, maka janganlah ada yang menolak kandungan makna hadits di atas, dengan mengatakan bahwa di sana ada bid’ah yang baik. Perhatikanlah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berikut: “Perlu diketahui bersama bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘sesungguhnya sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama)’, ‘setiap bid’ah adalah sesat’, dan ‘setiap kesesatan adalah di neraka’ serta peringatan beliau terhadap perkara yang diada-adakan dalam agama, semua ini adalah dalil tegas dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam; maka tidak boleh seorang pun menolak kandungan makna berbagai hadits yang mencela setiap bid’ah. Barangsiapa menentang kandungan makna hadits tersebut maka dia adalah orang yang hina.” (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim)

Umar Berkata, “Inilah Sebaik-Baik Bid’ah”

Para pembela dan pengagung bid’ah seringkali mengemukakan kerancuan ini dengan mengatakan, “Tidak semua bid’ah itu sesat. Di sana ada bid’ah yang baik (yaitu bid’ah hasanah).” Mereka berdalil dengan perkataan Umar bin Al Khothob tatkala mengumpulkan orang-orang untuk melaksanakan shalat Tarawih. Umar berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” (HR. Bukhari no. 2010). Dengan perkataan inilah, mereka membela beberapa amalan yang sebenarnya tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti selamatan kematian, Maulid Nabi, dan beberapa acara bid’ah lainnya. Perhatikanlah sanggahan berikut ini:

[Sanggahan pertama] Adapun shalat tarawih (yang dihidupkan kembali oleh Umar) maka dia bukanlah bid’ah secara syar’I (istilah). Bahkan shalat tarawih adalah sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dilihat dari perkataan dan perbuatan beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat tarawih secara berjama’ah pada awal Ramadhan selama dua atau tiga malam. Beliau juga pernah shalat secara berjama’ah pada sepuluh hari terakhir selama beberapa kali. Jadi shalat tarawih bukanlah bid’ah secara syar’i. Sehingga yang dimaksudkan bid’ah dari perkataan Umar bahwa ‘sebaik-baik bid’ah adalah ini’ yaitu bid’ah secara bahasa dan bukan bid’ah secara syar’i. Bid’ah secara bahasa itu lebih umum (termasuk kebaikan dan kejelekan) karena mencakup segala yang ada contoh sebelumnya. (Disarikan dari Iqtidho’ Shirotil Mustaqim)

[Sanggahan Kedua] Baiklah kalau kita mau menerima perkataan Umar bahwa ada bid’ah yang baik. Maka kami sanggah bahwa perkataan sahabat jika menyelisihi hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa menjadi hujah (pembela). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat sedangkan Umar menyatakan bahwa ada bid’ah yang baik. Sikap yang tepat adalah kita tidak boleh mempertentangkan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perkataan sahabat. Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mencela bid’ah secara umum tetap harus didahulukan dari perkataan yang lainnya. (Faedah dari Iqtidho’ Shirotil Mustaqim)

Mengumpulkan Al Qur’an Termasuk Bid’ah [?]

Ada sebagian kelompok dalam membela acara-acara bid’ahnya berdalil bahwa dulu para sahabat -Abu Bakar, ‘Utsman bin ‘Affan, Zaid bin Tsabit- saja melakukan bid’ah. Mereka mengumpulkan Al Qur’an dalam satu mushaf padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya. Jika kita mengatakan bid’ah itu sesat, berarti para sahabatlah yang akan pertama kali masuk neraka.

[Sanggahan] Ingatlah bahwa bid’ah bukanlah hanya sesuatu yang tidak ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bisa saja suatu amalan itu tidak ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan baru dilakukan setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, dan ini tidak termasuk bid’ah. Perhatikanlah penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa-nya berikut: “Bid’ah dalam agama adalah sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya yang tidak diperintahkan dengan perintah wajib ataupun mustahab (dianjurkan). Adapun jika sesuatu tersebut diperintahkan dengan perintah wajib atau mustahab (dianjurkan) dan diketahui dengan dalil syar’i maka hal tersebut merupakan perkara agama yang telah Allah syari’atkan, … baik itu dilakukan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau tidak.” (Majmu’ Al Fatawa)

Pengumpulan Al Qur’an dalam satu mushaf ada dalilnya dalam syari’at karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk menulis Al Qur’an, namun penulisannya masih terpisah-pisah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/97) mengatakan, “Sesuatu yang menghalangi untuk dikumpulkannya Al Qur’an adalah karena pada saat itu wahyu masih terus turun. Allah masih bisa mengubah dan menetapkan sesuatu yang Dia kehendaki. Apabila tatkala itu Al Qur’an itu dikumpulkan dalam satu mushaf, maka tentu saja akan menyulitkan karena adanya perubahan setiap saat. Tatkala Al Qur’an dan syari’at telah paten setelah wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam; begitu pula Al Qur’an tidak terdapat lagi penambahan atau pengurangan; dan tidak ada lagi penambahan kewajiban dan larangan, akhirnya kaum muslimin melaksanakan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan tuntutan (anjuran)-nya. Oleh karena itu, amalan mengumpulkan Al Qur’an termasuk sunnahnya. Jika ingin disebut bid’ah, maka yang dimaksudkan adalah bid’ah secara bahasa (yaitu tidak ada contoh sebelumnya).”

Penutup

Semoga sanggahan-sanggahan di atas dapat memuaskan pembaca sekalian. Kami hanya bermaksud mendatangkan perbaikan selama kami masih berkesanggupan. Tidak ada yang dapat memberi taufik kepada kita sekalian kecuali Allah. Ingatlah bahwa dampak berbuat bid’ah sangat besar sekali. Di antaranya adalah pelaku bid’ah tidak akan minum dari telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari kiamat kelak, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut: “Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’ ” (HR. Bukhari no. 7049). Cukuplah hadits ini membuat kita semakin takut dalam berbuat bid’ah.

Semoga kita selalu mendapatkan rahmat dan taufik Allah ke jalan yang lurus. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumman fa’ana bimaa ‘allamtana, wa ‘alimna maa yanfa’una wa zidnaa ‘ilmaa. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. [Muhammad Abduh Tuasikal. Silakan lihat pembahasan ini selengkapnya di www.muslim.or.id dengan judul ‘Mengenal Seluk Beluk Bid’ah’]

24 comments

  1. bid’ah, bid’ah adalah salah satu senjata kaum muslim yang paling benar untuk menghancurkan islam yang dikatakan ahli bid’ah. coba baca kitab yang lain yang munkin berolak belakang seperti karya Al alamah Syekh Muhammad alwi al maliki tentang meluruskan bid’ah agar bisa seimbang

  2. @ dipo dan muh rizki
    wa’alaikumus salam wa rahmatullahi wa barokatuh. Semoga Allah selalu memberi taufik dan hidayah pada kalian. Kami sangat mencintai kalian karena Allah dan kami berharap kalian selalu mendapatkan rahmat dan hidayah-Nya.

    Akhi Fillah …

    Syekh Muhammad Al Alwi Al Maliki, kami sudah tahu dengan ulama tersebut. Pantas saja antum tidak setuju dengan artikel ini karena beda ulama, sehingga dalil yang kami sampaikan pun dibuang.
    Di mana Anda akan letakkan hadits Nabi yang melarang keras BID’AH [?]
    Kok sabda Nabi mau dibantah dengan perkataan ulama [?]
    Kami hanya mau menerima hujah jika berasal dari Allah dan Rasul-Nya.
    Kami mau menerima pendapat ulama jika itu tidak bertentangan dengan pendapat Allah dan Rasul-Nya. Jika perkataan Alwi Al Maliki bertentangan dengan sabda Nabi, maka kami pun menolaknya, itulah senyatanya.

    Siapa bilang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah gak punya madzhab [?] Mbo’ jangan asal kleim aja.Coba baca dulu kitab2 Syaikhul Islam semcam Iqtidho Ash Shiroth Al Mustaqim, Al Furqon, dll, nanti akan jelas mengenai madzhab beliau. Madzhab Ibnu Taimiyah adalah Hambali akhi, tetapi beliau tidak mau taklid terus sama madzhab tersebut. Beliau mengikuti madzhab tersebut selama tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Tidak seperti orang yang mau mengikuti suatu madzhab dengan taklid buta semata, tanpa mau menghiraukan di sana ada perkataan Allah dan Rasul-Nya yang lebih kuat daripada pendapat madzhabnya. Sudah ada dalil yang melarang keras bid’ah, yang menyatakan semua bidah adalah sesat, malah ditentang dengan mengatakan perkataan Alwi Al Maliki yang mengatakan demikian dan demikian. Di mana Engkau menaruh dalil2 dari Allah dan Rasul-Nya [?]

    Ingat: yang menyaatakan “semua bid’ah adalah sesat” adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, masa’ mau ditentang dengan perkataan ulama yang menyatakan ada bid’ah hasanah. Di mana akal Anda [?]
    Semoga Allah memberi taufik pada kalian semua.

  3. salam sejahtera,
    maaf tulisan ana kalau tidak berkenan .
    saya teringat ketika mendengar hadis nabi tentang shalat yang dilakukan sahabat Billal bin Rabbah setelah amabil wudhu, ketika itu nabi bermimpi bahwa nabi mendenagar suara derap kaki bilal disurga, kemudian Nabi menayakan apa amal yang engkau perbuat wahai Bilal , bilal menjawab amal yang ia perbuat adalah shalat suanat sesudah berwudhu. mengenai hal itu kita bisa ambil kesimpulan bahwa amal yang diperbuat bilal adalah amal yang tidak diajarkan Nabi akan tetapi Bilal beinisiatif mengamalkanya sehingga nabi mengetahuinya. dan nabi menyutujinya.
    para ulama berbeda pendapat dalam hal bid’ah ada ulama yang menbagi bid’ah menjadi berbagai macam, ada yang membagi menjadi dua macam. tetapi ada juga ada yang mengatakan yang penting hakikatnya,
    terlepas dari itu pangkal perseoalannya adalah persoalan mana yang ibadah dan mana yang muamalah. kerancuan itu menyebabkan sulitnya mana yang bid’ah dan mana yang muamalahsebagi contoh adalh khutjbah jum’at , kalu dipelosok jawa khutbah dilaksanakan dengan bahasa jawa, tetapi kalu kita merunut bahwa khutbah adalh salah satu rukun shalt jum,at yang berarti ibadah dan harus sesui dengan tuntunan nabi yang memakai bahsa arab, berarti tidak khutbah jum’atnya orang yang tidakmemakai bahasa arab.
    itulah salah satu problem sehingga para ulama berbeda pendapat tentang bid’ah, dan hal itu tidak bisa dipungkiri, tetapi kita harus bersifat bijak tidak saling merendahkan atau malah menghinya, kapan umat islam bisa mimikirkan masa depan kalau toh kita hannya memikirkan bahwa dirinya lah yang paling benar. terima kasih
    salam sejahtera

  4. Assalamu’alaikum akhi fillah. Senang mendapatkan balasan dari antum sekalian.
    Perlu diketahui sebelumnya bahwa tulisan kami tentang bid’ah di sini adalah ringkasan dari tulisan kami yang cukup panjang yang sudah dipublish di http://www.muslim.or.id

    Jadi, kami mohon jika ingin berkomentar lagi, silakan bisa baca tulisan kami selengkapnya di sini. Ada 4 seri.

    Seri 1
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/mengenal-seluk-beluk-bidah-1.html

    Seri 2
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/mengenal-seluk-beluk-bidah-2.html

    Seri 3
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/mengenal-seluk-beluk-bidah-3.html

    Seri 4
    http://muslim.or.id/manhaj-salaf/mengenal-seluk-beluk-bidah-4.html

    Mohon dibaca secara lengkap. Jika ada kejanggalan, silakan tanyakan kembali pada kami. Kami mohon jangan berkomentar lagi sebelum tulisan tersebut dibaca secara sempurna.

    Jika sudah dibaca, beritahu kami. Setelah itu, kami akan jawab komentar di atas. Jika tidak, maaf saja, comment di atas tidak akan kami munculkan lagi.
    Silakan sanggah kekeliruan yang ada berdasarkan dalil syar’i dan bukan berdasarkan hawa nafsu atau taqlid buta.

    Barakallahu fikum.
    Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kalian.

  5. Seandainya seseorang membuat atau merubah sesuatu yang sudah di tentukan oleh Allah dan Nabinya walau itu menurut dia adalah baik, apakah tidak menyalahi sunnah.berarti kita mengikuti sunnah orang yang membuat/mengubah sunnah Nabi itu. sedangkan yang membuat hal baru itu kan tidak di jamin Maksum, berarti mungkin bisa saja salah.

    syukron ustadz.

  6. Kita beribadah harus 1. Niat 2. Ikhlas 3. Sesuai tuntunan Rasulullah Jadi kita jangan cuma niat dan ikhlas saja, tapi tidak sesuai tuntunan ( ibadah kita akan mubazir )Maka agar selamat dunia akhirat pegang teguhlan kitabullah dan sunah Rasulullah.

  7. [quote]salam sejahtera,
    maaf tulisan ana kalau tidak berkenan .
    saya teringat ketika mendengar hadis nabi tentang shalat yang dilakukan sahabat Billal bin Rabbah setelah amabil wudhu, ketika itu nabi bermimpi bahwa nabi mendenagar suara derap kaki bilal disurga, kemudian Nabi menayakan apa amal yang engkau perbuat wahai Bilal , bilal menjawab amal yang ia perbuat adalah shalat suanat sesudah berwudhu. mengenai hal itu kita bisa ambil kesimpulan bahwa amal yang diperbuat bilal adalah amal yang tidak diajarkan Nabi akan tetapi Bilal beinisiatif mengamalkanya sehingga nabi mengetahuinya. dan nabi menyutujinya.
    para ulama berbeda pendapat dalam hal bid’ah ada ulama yang menbagi bid’ah menjadi berbagai macam, ada yang membagi menjadi dua macam. tetapi ada juga ada yang mengatakan yang penting hakikatnya,
    terlepas dari itu pangkal perseoalannya adalah persoalan mana yang ibadah dan mana yang muamalah. kerancuan itu menyebabkan sulitnya mana yang bid’ah dan mana yang muamalahsebagi contoh adalh khutjbah jum’at , kalu dipelosok jawa khutbah dilaksanakan dengan bahasa jawa, tetapi kalu kita merunut bahwa khutbah adalh salah satu rukun shalt jum,at yang berarti ibadah dan harus sesui dengan tuntunan nabi yang memakai bahsa arab, berarti tidak khutbah jum’atnya orang yang tidakmemakai bahasa arab.
    itulah salah satu problem sehingga para ulama berbeda pendapat tentang bid’ah, dan hal itu tidak bisa dipungkiri, tetapi kita harus bersifat bijak tidak saling merendahkan atau malah menghinya, kapan umat islam bisa mimikirkan masa depan kalau toh kita hannya memikirkan bahwa dirinya lah yang paling benar. terima kasih
    salam sejahtera[/quote]

    Bilakah hadiits Bilal di atas dibandingkan dengan hadiits yang isinya sebagai berikut:

    Pernah suatu ketika tiga orang Shahabat radhiyallaahu ‘anhum datang bertanya kepada isteri-isteri Nabi shal-lallaahu ‘alaihi wa sallam tentang peribadahan beliau. Kemudian setelah diterangkan, masing-masing ingin meningkatkan ibadah mereka. Salah seorang dari mereka berkata: “Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa sepanjang masa tanpa putus.” Shahabat yang lain berkata: “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya.” Yang lain berkata, “Sungguh saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan nikah selama-lamanya… dst” Ketika hal itu didengar oleh Nabi shal-lallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau keluar seraya bersabda.

    “Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut kepada Allah dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku pun tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyu-kai Sunnahku, ia tidak termasuk golonganku.”

    Maka kelihatannya kedua hadiits itu bertentangan -dimana Rasulullah membenarkan perbuatan Bilal dan Rasulullah melarang perbuatan 3 orang sahabat-. Tapi, -semoga Alloh memberikan hidayah kepada pengirim komentar di atas dan kepada pembaca sekalian- ingatlah dan ketahuilah, takrir/restu Rasulullah adalah salah satu bagian dari sunnah. Maka apa yang dilakukan Bilal itu merupakan suatu sunnah dan bukanlah bid’ah.

    Dan jika setelah masa wafatnya Rasulullah kemudian ada orang yang membuat suatu amalan ibadah yang baru dan berhujjah dengan hadiits Bilal -seperti yang tersebut di atas-. Maka ketahuilah bahwa itu adalah bid’ah karena tidak ada takrir dari Rasulullah. Dan ketahuilah surat yang turun pada hajjatul wada’ -al-ma idah : 3- yang menerangkan bahwa agama islam ini sudah sempurna dan tidak perlu lagi tambahan.

  8. Wa’alaykumussalam wa rohmatulloh

    Kayanya anda -Mohammad Rizky- perlu banyak belajar lagi. Jangan asal COMOT atau COPAS. Harusnya belajar dulu tentang syarah hadiits di atas. Dan yang perlu digarisbawahi dari COPAS-an anda, itu terjemahannya asal saja atau dipas-pasin atau dipaksa-paksain supaya bisa mendukung hawa nafsu para ahli bid’ah. Masa SUNNAH diterjemahkan hanya sebatas CONTOH. Bagi anda, saya pada khususnya, dan para pembaca pada umumnya. Ketahuilah, sungguh berbahaya beramal tanpa ilmu. Allah memperingatkan dalam firman-Nya dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 36 :

    وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

  9. betul, apa yang kita tulis di sini, nantinya akan di minta pertanggungan jawabnya..

    karena belum tentu apa yang kita yakini sekarang ini benar.

    salam,

  10. Bid’ah secara bahasa berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya (Al Mu’jam Al Wasith). Jadi, bid’ah secara bahasa itu lebih umum, termasuk kebaikan dan kejelekan karena mencakup segala yang ada contoh sebelumnya.
    kalimat mencakup segala yg ada contoh sebelumnya mungkin maksudnya :”segala hal yang tidak ada contoh sebelumnya”

  11. Assalamu’alaikum.
    Syukron postingannya. Semoga hati kita dikuatkan, ana baru belajar sedikit dan biasanya langsung bingung sendiri jika ada yang membantah seperti Mas Rizki.

    Ya Allah, terangilah hati kami.

  12. Bid’ah adalah Jalan Sesat
    Nabi dan 3 generasi pertama islam adalah jalan lurus

  13. Kok banyak yg ‘gerah’ dg kata bid’ah,ya? Mungkin karena terlalu banyak bid’ah yg dilakukan,dari urusan aqidah sampai ibadah,dari dulu sampai sekarang,mau ditinggalkan sayang,akhirnya cari2 pembenaran..

  14. aaah ga juga kok mas adam,belum tentu bidah yang anda maksud itu sama dengan yang di maksud oleh Allah.

  15. Assalam mu’alaikum….
    Ana hanya ingin menambahkan bagi orang2 yang masih belum percaya bid’ah itu sesat.

    “aaah ga juga kok mas adam,belum tentu bidah yang anda maksud itu sama dengan yang di maksud oleh Allah.”

    Fulan mungkin harus lebih banyak belajar. Jika Fulan berkata seperti diatas secara tidak langsung pasti fulan ragu tetang hukum bid’ah yang dimaksud oleh Allah.

    Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Anhuma -cucu Rasulullah Shallallahu Alihi Wa Sallam dan orang kesayangan beliau berkata:
    Aku hapal dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam :
    Tinggalkan apa saja yang meragukanmu menuju apa saja yang tidak meragukanmu.
    (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa?i. Berkata At-Tirmidzi: Hadis ini hasan shahih).

    Dari hadits ini dijelaskan bahwa kita disuruh meninggalkan perkara yang meragukan, jadi lebih baik fulan tinggalkan saja perkara bid’ah. Gantilah amalan bid’ah fulan dengan amalan yang ada contoh jelas dari Rasulullah.

    Jadi, jika diyaumul hisab bid’ah yang dikatakan fulan benar maka tidaklah mengapa, karena fulan udah menggantinya dengan amalan yang lain,,,namun jika bid’ah itu adlah sesat maka fulan akan selamat dari siksa neraka karena tidak melakukan bid’ah itu..

    yang lebih bahaya jika fulan tetap saja melaksanakan bid’ah..!! coba;ah renungkan.. wallahu alam…

  16. Makin aneh saja, lah wong Rasulullah sudah terang2 mengatakan bid’ah itu sesat, masih dipertentangkan dengan perkataan ulama ini dan itu, bahkan ada yg mempertentangkan redaksi “kullu” yg dikatakan Rasulullah dengan “kullu” yg ada didalam Al Qur’an, hanya untuk melegalitaskan bahwa yg dimaksud “kullu” ini adalah hanya sebagian, bukan seluruhnya. Wah wah gejala apa ini?

    Kawan2ku sekalian, bukankah yg sudah shohih itu banyak sekali jumlahnya? Kenapa masih menengok yg meragukan? Saya setuju dengan komentar akhi Mohamad diatas, kita tinggalkan perkara yg masih meragukan, ganti dengan perkara yg telah jelas.

    Semoga Allah Ta’ala memberi taufiq pada kita semua.

  17. Hai para pemuda gunakan waktu, tenaga dan pikiranmu untuk melakukan tindakan nyata yang berguna bagi Nusa, Bangsa dan Agamamu..!!

  18. For All, jangan semakin menghancurkan agama Islam yang hakiki ini dengan pikiran, logika,otak manusia yang kecil dan sempit. Jalani Agama ini dengan keyakinan dan ibadah yang mampu kita semua lakukan. Islam adalah Rahmatan Lil Alamin, dan sangat flexibel atas semua fitrah manusia. Bukan saling adu argumen dengan keterbatasan kita dalam mendalami suatu masalah, ini semua akan menghancurkan umat islam dari dalam. Bukan orang kafir yang hancurkan Islam, tapi anda semua yang sangat Pandai dan Pintar bahkan mungkin semua anda sangat genius. Semoga Allah mengampuni Kita semua Amiiieen.. Wassalam

  19. #Hamba yang dhaif (paling bawah)
    Manusia dengan pikiran, logika,otak manusia yang kecil dan sempit, tentu tidak berhak membuat ibadah-ibadah baru.
    Jalani Agama ini dengan keyakinan yang benar, sesuai dalil, semaksimal yang mampu kita lakukan.
    Rahmatan Lil Alamin? Baca http://buletin.muslim.or.id/aqidah/salah-kaprah-memaknai-islam-sebagai-rahmatan-lil-alamin.
    Membuat ritual dan ibadah baru, juga kesyirikan, ini semua akan menghancurkan umat Islam dari dalam.
    Bukan orang kafir yang hancurkan Islam, tapi orang-orang yang enggan belajar agama dan taqlid buta lah orangnya.
    Semoga Allah mengampuni Kita semua Amiiieen. Wassalam

  20. #Hamba yang dhaif (paling bawah)
    Manusia dengan pikiran, logika, otak manusia yang kecil dan sempit, tentu saja TIDAK LAYAK membuat-buat ibadah baru.
    Jalani Agama ini dengan keyakinan yang benar, sesuai dalil, semaksimal mungkin yang kita bisa lakukan.
    Islam adalah Rahmatan Lil Alamin? Baca http://buletin.muslim.or.id/aqidah/salah-kaprah-memaknai-islam-sebagai-rahmatan-lil-alamin.
    Maksiat, bid’ah dan kesyirikan, ini semua akan menghancurkan umat islam dari dalam.
    Bukan orang kafir yang hancurkan Islam, tapi orang-orang yang enggan belajar agama dan taqlid buta lah orangnya.
    Semoga Allah mengampuni Kita semua Amiiieen..

  21. @hamba yg dhoif (18 March 2010, 22:21)

    Justru bid’ahlah yg semakin menggerogoti keutuhan Islam ini, ya akhi. Saya akan balikkan kata2 akhi, akhi berkata, jangan semakin menghancurkan agama Islam yang hakiki ini dengan PIKIRAN,LOGIKA,OTAK manusia yang KECIL dan SEMPIT. Karena akhi katakan logika dan otak manusia yg kecil dan sempit, maka dari itu saya katakan mengapa lg kita membuat2 sesuatu yg baru? Kenapa tidak kita taati syari’at dari Allah Ta’ala yg sudah sempurna yg dibawa oleh Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam? Kenapa kita musti membuat2 yg baru dengan otak dan logika kita yg sempit dan terbatas ini?

    Renungkanlah wahai akhi, membahas bid’ah tidak akan menghancurkan Islam dari dalam, justru membahas bid’ah akan semakin memperkuat pengetahuan kita mana yg sudah disyari’atkan oleh Qur’an dan Sunnah, mana yg dibuat2…

    Dari saudaramu yg bernama sama.

  22. Sunnah adalah segala ucapan dan tindakan Nabi SAW, bagaimana hukumnya orang2 yang mengangkat dirinya Raja, serta anak cucunya sebagai pewaris Tahta Kerajaannya? apa bisa disebut telah melakukan bid’ah yang sesat juga?
    karena dlm hal ini, Nabi tdk pernah mengangkat pewaris sbg pengganti, dan para sahabat salafus sholeh juga tdk ada mengangkat pewarisnya.

    Bid’ah sesat dlm mewariskan Kekuasaan mulai terjadi sejak bani Umayah, Abasiyah dan Fathimiyah, dan sekarang dilanjut oleh bani Su’udiyah.
    Terima kasih atas jawabannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *