Edisi 2133
—–
Q.S. Ali Imran : 185
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.”
- Kesuksesan terbesar dari seorang muslim adalah selamat dari azab neraka dan dimasukkan ke dalam surga Allah.
- Banyak orang yang salah memaknai kalimat tauhid padahal kalimat itu adalah kunci keselamatannya di akhirat.
- Bulan Sya’ban adalah bulan persiapan untuk memasuki bulan suci Ramadhan.
- Seorang muslim dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh di bulan Sya’ban sesuai dengan tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kehidupan kita di dunia harus punya tujuan yang jelas. Banyak saran yang kita dapatkan dari media sosial agar hidup kita punya target-target yang memotivasi diri kita agar kita hidup sukses. Bagi seorang muslim, kehidupan sejati adalah kehidupan akhirat. Dia punya target untuk kehidupan dunia, tapi target akhirat yang ia utamakan. Kesuksesan terbesar baginya adalah kesuksesan akhirat, ketika selamat dari azab neraka dan dimasukkan ke dalam surga Allah. Allah Ta’ala berfirman,
فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ
“Siapa yang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka ia adalah orang yang beruntung. Dan tidak lain kehidupan dunia ini melainkan hanya kesenangan yang menipu.” (Q.S. Ali Imran : 185).
Oleh karenanya kita kembali kepada tujuan utama kita, bahwa hidup ini kita abdikan untuk Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (Q.S. Adz-Dzariyat : 56).
Seorang muslim wajib menjaga kalimat tauhid dengan cara istikamah menjalankan syariat Islam, agar ia berpeluang besar mati dan menutup kehidupan dunianya dengan kalimat yang mulia ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Siapa yang akhir perkataannya adalah ‘laa ilaha illallah’, maka dia akan masuk surga.” (H.R. Abu Daud).
Kalimat Tauhid Yang Tidak Mau Diucapkan Kaum Musyrik Quraisy
Kalimat yang ringkas ini menjadi pemisah antara Islam dengan kekafiran, menjadi titik sengketa antara Islam dengan kaum musyrikin. Orang musyrik Quraisy paham betul dengan makna kalimat tauhid ini. Tidak hanya sekedar mengimani bahwa Allah itu ada dan yang menciptakan alam semesta. Mereka tidak mau mengucapkannya karena tahu makna dan konsekuensinya. Namun, disayangkan banyak dari kalangan umat Islam yang salah bahkan tidak paham dengan makna kalimat tauhid ini.
Makna Kalimat Tauhid Yang Salah
Beberapa makna yang salah terkait kalimat tauhid yaitu: tidak ada yang berkuasa selain Allah, tidak ada wujud yang hakiki selain Allah, tidak ada pengatur alam semesta selain Allah, dan tidak ada penguasa abadi selain Allah. Konsekuensi dari pemahaman ini berarti sah saja melakukan ibadah kepada apa pun selain Allah, selama meyakini bahwa yang berkuasa dan mengatur hanya Allah. Kita setuju dengan makna tersebut dan benar adanya. Namun, bukan itu makna kalimat tauhid yang benar. Jika itu makna kalimat tauhid, maka orang musyrik Quraisy juga memahami hal yang sama dan tidak mungkin menolak kalimat tauhid yang diseru oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini tampak jelas ketika kita tanyakan kepada pemuja kuburan, pelanggan dukun, hingga dukunnya sendiri, mereka mengakui dan mengucapkan kalimat tauhid, meskipun ibadah yang mereka lakukan bertentangan dengan kalimat tauhid yang mereka ucapkan.
Makna Kalimat Tauhid Yang Benar
Makna yang tepat dari kalimat tauhid laa ilaaha illallah adalah tidak ada yang berhak disembah, dijadikan sebagai sasaran ibadah, dan dipersembahkan ibadah dengan cara yang benar, kecuali hanya Allah saja. Itulah makna kalimat tauhid yang benar. Artinya kita wajib meyakini hanya Allah yang menciptakan dan berkuasa di seluruh alam semesta, sehingga hanya Allah saja yang berhak kita berikan dan persembahkan seluruh ibadah yang kita lakukan. Adapun selain Allah, entah itu malaikat, nabi, wali, hingga pohon dan batu tidak berhak kita persembahkan ibadah untuk mereka. Barang siapa yang melakukan hal tersebut, maka bertolak belakang dengan kalimat tauhid yang ia ucapkan, bahkan membatalkannya.
Sumber: Al-Qoulul Mufid ‘alaa Kitabit Tauhid, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Sya’ban, Bulan Persiapan Ramadhan
Kita pernah melihat atlet yang akan mengikuti perlombaan olahraga. Mereka melakukan persiapan dan latihan sebelum waktu turnamen tiba. Persiapan dan latihan sangat penting untuk fisik agar kuat dan maksimal ketika lomba. Begitu juga dengan puasa Ramadhan. Kita perlu mempersiapkan fisik kita agar tidak kaget saat puasa penuh di bulan Ramadhan. Kita perlu melatih diri dengan membiasakan berbagai ibadah seperti salat, baca Al-Qur’an, zikir, dan lainnya agar kita terbiasa produktif dalam menjalankan puasa. Latihan dan persiapan ini kita mulai lakukan sejak bulan Sya’ban.
Perbanyak Berbagai Jenis Ibadah
Ada seseorang yang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa orang yang berpuasa yang paling banyak pahalanya?” Beliau menjawab: “Yang paling banyak zikir (mengingat) Allah Ta’ala.” Begitu juga ketika ditanya tentang orang yang shalat, zakat, haji, dan sedekah, beliau menjawab dengan jawaban yang sama. (H.R. Ahmad).
Oleh karenanya, kita maksimalkan ibadah puasa kita baik ketika Ramadhan maupun di luar Ramadhan dengan banyak dzikrullah (mengingat Allah). Dzikrullah bisa dilakukan dengan ibadah apapun. Bisa dengan salat, baca Al-Quran, membaca zikir yang ma’tsur (ada riwayat hadisnya), atau ibadah lain yang bisa memakmurkan ibadah puasa kita. Ketika kita beraktivitas seperti bekerja dalam kondisi berpuasa kita tetap bisa mengisi dengan dzikrullah. Caranya dengan tetap senantiasa ingat dengan Allah, merasa selalu diawasi Allah, memulai pekerjaan dengan bismillah, menjalankan pekerjaan dengan profesional karena Allah, menjauhi perbuatan maksiat dan menzalimi orang lain. (Ahaditsul Adzkar wal Ad’iyyah, Abdurrazzaq Al-Badr)
Penulis : dr. Agung Panji Widiyanto, M.Med.Sc., Sp.PK
Pemurajaah : Ustaz Abu Salman, B.I.S.
DONASI TEBAR 20.000 BULETIN AT TAUHID
JELANG RAMADHAN KE 301 MASJID
Kebutuhan: Rp 9.000.000
Tidak semua orang memiliki keahlian untuk berdakwah, menyampaikan ilmu dengan kata-kata yang baik, berdiri di mimbar, atau menulis artikel keislaman yang menggugah hati. Tapi setiap orang punya kesempatan untuk terlibat dalam dakwah, sekecil apa pun perannya.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)
Saat ini hanya dengan Rp 500 anda bisa ikut mencetak 1 dari 20.000 buletin At Tauhid yang secara rutin dibagikan gratis setiap hari Jumat ke 301 masjid yang berada di Yogyakarta, Magelang, dan Klaten.
Di hari-hari mulia jelang Ramadhan ini kita berharap melalui wasilah dari buletin ini kaum muslimin bisa mendapat bekal ilmu sehingga mampu memaksimalkan bulan Ramadhan nanti dengan ibadah yang sesuai sunnah.
Selain untuk memproduksi buletin dakwah, donasi anda juga dialokasikan untuk mengadakan kajian rutin bedah buletin di berbagai masjid di kampung-kampung..
Siap jadi bagian dari proyek akhirat ini?
Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad 47: Ayat 7)
Salurkan dukungan terbaik anda melalui https://ypia.or.id/campaign/bantu-para-pejuang-dakwah-islam-ypia/
ATAU TRANSFER MELALUI:
Bank Syariah Indonesia (BSI)
7755332245 (kode trf. 451)
a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari
WAJIB KONFIRMASI
Konfirmasi via WhatsApp ke nomor 082225979555
