EDISI 2302
—–
(H.R. Muslim)
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yaitu Muharam.”
- Bulan Suro merupakan bulan Muharam dalam kalender Islam yang disebut Syahrullah(Bulan Allah). Dinamakan demikian karena di dalamnya diharamkan pembunuhan dan menjadi bulan pertama dalam setahun yang memiliki kedudukan istimewa.
- Sebagian masyarakat menganggap Suro sebagai bulan sakral yang penuh bencana dan kesialan,sehingga mereka melakukan ritual penolak bala atau menghindari hajatan seperti pernikahan. Nyatanya, banyak yang menikah di bulan Suro tetap hidup harmonis dan lancar.
- Menganggap waktu tertentu sial disebut tathayyurdan hukumnya termasuk kesyirikan. Selain itu, menyatakan suatu bulan membawa celaka sama saja dengan mencela Allah sebagai Pengatur Waktu.
- Musibah datang atas ketetapan Allah, yang salah satu penyebab utamanya adalah akibat dosa dan maksiat manusia sendiri. Seorang muslim harus introspeksi diri, bertobat, bersabar, dan bertawakal.
- Umat Islam dianjurkan memperbanyak puasa di bulan Muharam. Amalan paling utama adalah puasa ‘Asyura (10 Muharam) yang menghapus dosa setahun lalu , serta disunnahkan menambah puasa pada 9 Muharam untuk menyelisihi kaum Yahudi.
Bulan Suro Disebut Syahrullah (Bulan Allah)
Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yaitu Muharam.” (H.R. Muslim)
Al-Hafizh Al-‘Iraqi mengatakan dalam Syarah Tirmidzi, “Apa hikmah bulan Muharam disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?” Beliau rahimahullah menjawab, “Disebut demikian karena pada bulan Muharam ini diharamkan pembunuhan. Juga, bulan Muharam adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah, pen.) untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah—Muharam” (Syarah Suyuthi li Sunan An-Nasa’i, 3/206).
Anggapan Masyarakat Mengenai Bulan Suro
Bulan Suro adalah bulan penuh musibah, kesialan, keramat, dan sangat sakral. Itulah berbagai tanggapan masyarakat mengenai bulan Suro atau bulan Muharam, sehingga kita akan melihat berbagai ritual untuk menghindari kesialan, bencana, dan musibah yang mereka lakukan. Karena kesialan bulan Suro ini pula, sampai-sampai sebagian orang tua menasihati anaknya seperti ini: “Nak, hati-hati pada bulan ini. Jangan sering kebut-kebutan, nanti bisa celaka. Ini bulan Suro, lo.”
Karena bulan ini adalah bulan sial, sebagian orang tidak mau melakukan hajatan. Jika melakukan hajatan pada bulan ini, mereka bisa mendapatkan berbagai musibah, acara pernikahannya tidak lancar, mengakibatkan keluarga tidak harmonis, dsb. Itulah berbagai anggapan masyarakat mengenai bulan Suro dan kesialan di dalamnya.
Ketahuilah, saudaraku, bahwa sikap-sikap di atas tidaklah keluar dari dua hal, yaitu mencela waktu dan beranggapan sial dengan waktu tertentu. Sebab, ingatlah bahwa mengatakan satu waktu atau bulan tertentu adalah bulan penuh musibah dan penuh kesialan, hal itu sama saja dengan mencela waktu. Saatnya kita melihat penilaian agama Islam mengenai dua hal ini.
Mencela Waktu atau Bulan
Dalam Sahih Muslim, dibawakan bab dengan judul ‘Larangan Mencela Waktu (Ad-Dahr)’. Di antaranya terdapat hadis dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (H.R. Muslim)
An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Sahih Muslim (7/419) mengatakan bahwa orang Arab dahulu biasanya mencela masa (waktu) ketika tertimpa berbagai macam musibah seperti kematian, kepikunan, hilang (rusak)nya harta, dan lain sebagainya, sehingga mereka mengucapkan ‘Ya khoybah dahr’ (ungkapan mencela waktu, pen.) dan ucapan celaan lainnya yang ditujukan kepada waktu.
Dari pemaparan ini, jelaslah bagi kita bahwa mencela waktu adalah sesuatu yang terlarang. Mengapa demikian? Karena Allah sendiri mengatakan bahwa Dialah yang mengatur siang dan malam. Apabila seseorang mencela waktu dengan menyatakan bahwa bulan ini adalah bulan sial atau bulan ini selalu membuat celaka, maka sama saja dia mencela Pengatur Waktu, yaitu Allah Ta’ala.
Merasa Sial dengan Waktu Tertentu
Beranggapan sial dalam agama ini dikenal dengan istilah tathayyur. Istilah ini berasal dari perbuatan orang Arab. Ketika mereka melakukan sesuatu, mereka membentak burung terlebih dahulu. Jika burung tersebut ke arah kiri, ini berarti pertanda sial sehingga mereka mengurungkan niat mereka untuk melakukan sesuatu tadi.
Perlu diketahui bahwa merasa sial seperti di atas dan contoh lainnya bukan hal yang biasa-biasa saja, bahkan perbuatan ini termasuk kesyirikan sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam nyatakan sendiri. Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Beranggapan sial termasuk kesyirikan, beranggapan sial termasuk kesyirikan.” (Beliau menyebutnya tiga kali, lalu beliau bersabda): “Tidak ada di antara kita yang selamat dari beranggapan sial. Menghilangkan anggapan sial tersebut adalah dengan bertawakal.” (H.R. Abu Daud no. 3912. Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
Ringkasnya, beranggapan sial dengan sesuatu, baik dengan waktu, bulan, maupun beranggapan sial dengan orang tertentu adalah suatu yang terlarang, bahkan beranggapan sial termasuk kesyirikan.
Musibah Datang Bukanlah karena Bulan Suro
Ingatlah bahwa setiap kesialan atau musibah yang menimpa sebenarnya bukanlah disebabkan oleh waktu, orang, atau tempat tertentu! Namun, semua itu adalah ketentuan Allah Ta’ala Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Satu hal yang patut direnungkan. Seharusnya seorang muslim apabila mendapatkan musibah atau kesialan, hendaknya dia mengambil ibrah bahwa ini semua adalah ketentuan dan takdir Allah serta berasal dari-Nya. Allah tidaklah mendatangkan musibah, kesialan, atau bencana begitu saja, pasti ada sebabnya. Di antara sebabnya adalah karena dosa dan maksiat yang kita perbuat. Inilah yang harus kita ingat, wahai saudaraku. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,
وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri.” (Q.S. Asy-Syura : 30)
Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Jadi, hendaklah seorang mukmin bersegera untuk bertobat atas dosa-dosanya dan bersabar dengan musibah yang menimpanya serta mengharap ganjaran dari Allah Ta’ala. Janganlah lisannya digunakan untuk mencela waktu dan hari, tempat terjadinya musibah tersebut. Seharusnya seseorang memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya serta rida dengan ketentuan dan takdir-Nya. Juga hendaklah dia mengetahui bahwa semua yang terjadi disebabkan oleh dosa yang telah dia lakukan. Maka seharusnya seseorang mengintrospeksi diri dan bertaubat kepada Allah Ta’ala” (Lihat I’anatul Mustafid dan Syarah Masa’il Jahiliyyah).
Jadi, waktu dan bulan tidaklah mendatangkan kesialan dan musibah sama sekali. Namun, hal yang harus kita ketahui adalah bahwa setiap musibah atau kesialan yang menimpa kita sudah menjadi ketetapan Allah dan itu juga karena dosa yang kita perbuat. Maka kewajiban kita hanyalah bertawakal ketika melakukan suatu perkara dan perbanyaklah bertobat serta beristigfar kepada Allah Ta’ala.
Lalu, pantaskah bulan Suro dianggap sebagai bulan sial dan penuh bencana? Tentu saja tidak. Banyak bukti yang kita saksikan. Banyak yang mengadakan hajatan nikah di bulan Suro, namun acara resepsinya lancar-lancar saja, tidak mendapatkan kesialan. Bahkan keluarga mereka sangat harmonis dan dikaruniai banyak anak. Jadi, sebenarnya jika ingin hajatannya sukses, hal itu tidak tergantung pada waktu tertentu. Semua hari adalah baik di sisi Allah. Namun, agar hajatan tersebut sukses, kiatnya adalah kita kembalikan semua kepada Allah. Karena Dia-lah sebaik-baik tempat bertawakal. Inilah yang harus kita ingat.
Marilah Kita Isi Bulan Muharam dengan Berpuasa
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendorong kita untuk banyak melakukan puasa pada bulan tersebut sebagaimana sabdanya, “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah—Muharam. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (H.R. Muslim)
Dari hari-hari yang sebulan itu, puasa yang paling ditekankan untuk dilakukan adalah puasa pada hari Asyura, yaitu pada tanggal 10 Muharam, karena berpuasa pada hari tersebut akan menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu. Abu Qatadah Al-Anshari berkata bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam pernah ditanyakan mengenai (keutamaan) puasa hari Asyura. Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab, “Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (H.R. Muslim)
Lebih baik lagi ditambah berpuasa pada tanggal 9 Muharam. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata mengenai puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Asyura. Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu. Lalu para sahabat mengatakan, “Ya Rasulullah, hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.” Kemudian Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Kalau begitu, tahun depan—jika Allah menghendaki—kita akan puasa pada hari kesembilan (Muharam).” Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma mengatakan, “Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah meninggal dunia.” (H.R. Muslim)
Ibnu Rajab mengatakan, “Di antara ulama yang menganjurkan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharam sekaligus adalah Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad, dan Ishaq. Sedangkan Imam Abu Hanifah memakruhkan berpuasa pada hari sepuluh saja (tanpa hari kesembilan)” (Lathaif Al-Ma’arif hal.53).
Jadi, lebih baik kita berpuasa dua hari sekaligus, yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharam. Inilah tingkatan yang paling utama. Sedangkan berpuasa pada tanggal 10 Muharam saja adalah tingkatan di bawah tingkatan pertama tadi. Inilah yang dijelaskan Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili hafizhahullah dalam kitab beliau, Tajridul Ittiba’.
Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh Allah untuk melaksanakan puasa pada bulan Muharam. Insyaallah pada tahun ini, puasa Asyura jatuh (menurut perkiraan) pada hari Kamis, 25 Juni 2026. Dan lebih baik lagi jika kita dapat berpuasa pada hari sebelumnya untuk menyelisihi Yahudi. Wallahu a’lam bish-shawab. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush-shalihat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.
Penulis: Ustadz Dr Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc.
Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S.
