EDISI 2304
—-
(Q.S. Al-Mu’min : 60)
ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡ
“Berdoalah kepada-Ku, pasti akan Aku kabulkan.”
- Berdoa melalui perantara orang saleh yang sudah wafat—meski berniat baik agar lebih dekat dengan-Nya—merupakan praktik syirik akbar.
- Syirik bukan sekadar menyembah patung; beribadah atau meminta kepada malaikat, nabi, maupun wali yang telah wafat kedudukannya sama-sama terlarang karena ibadah murni hak Allah.
- Syafaat itu benar adanya, tetapi mutlak milik Allah dan hanya diberikan kepada orang bertauhid; sehingga kita hanya boleh memintanya langsung kepada Allah.
- Mengambil perantara (tawasul) hanya dibolehkan melalui tiga cara: menyebut nama dan sifat Allah, menyebutkan amal saleh sendiri, atau meminta didoakan oleh orang saleh yang masih hidup.
- Islam menuntun kita untuk bergantung sepenuhnya kepada Allah tanpa perantara dalam beribadah, namun tetap mewajibkan kita mengikuti Rasulullah sebagai perantara penyampai tata cara beribadah.
Setiap hamba pasti membutuhkan sesuatu yang menopang kehidupannya, sehingga dia akan berusaha untuk meraihnya. Ketika mereka tertimpa bencana, mereka pun bersimpuh dan memohon kepada Allah Ta’ala agar dilepaskan dari marabahaya. Namun sangat disayangkan, sebagian kaum muslimin justru terjerumus ke dalam praktik-praktik kesyirikan tanpa mereka sadari karena berdoa untuk menggapai keinginan mereka itu.
Niat Baik Kaum Musyrikin
Dalam berdoa kepada Allah, kita tidak perlu melalui perantara, karena hal itu termasuk perbuatan syirik. Allah Ta’ala berfirman,
وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ
“Dan mereka (kaum musyrikin) beribadah kepada selain Allah sesuatu yang tidak sanggup mendatangkan madharat dan manfaat untuk mereka. Dan mereka beralasan, ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah.’” (Q.S. Yunus : 18)
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ
“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai penolong mengatakan, ‘Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka, melainkan hanya supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’” (Q.S. Az-Zumar : 3)
Dalam dua ayat ini, Allah menjelaskan kepada kita tentang alasan yang diajukan oleh kaum musyrikin untuk mendukung kesyirikan mereka. Mereka berkata bahwa mereka memiliki niat yang baik. Mereka hanya ingin menjadikan orang-orang saleh yang sudah meninggal sebagai perantara doa mereka kepada Allah. Mereka menganggap bahwa diri mereka penuh dengan dosa, sehingga tidak pantas untuk langsung berdoa kepada Allah. Sedangkan orang-orang saleh memiliki keutamaan di sisi Allah. Mereka ingin agar semakin dekat dengan Allah dengan perantaraan orang-orang saleh itu. Tidak ada yang mencela niat baik ini. Akan tetapi, lihatlah cara yang mereka tempuh. Mereka meminta syafaat kepada orang-orang yang sudah meninggal.
Padahal Allah Ta’ala sudah menegaskan,
قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعًا
“Katakanlah, ‘Semua syafaat itu pada hakikatnya adalah milik Allah.’” (Q.S. Az-Zumar : 44)
Dan meminta kepada orang yang sudah meninggal adalah termasuk perbuatan syirik akbar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam. Oleh karena itu, niat baik kaum musyrikin ini tidak bermanfaat sama sekali karena cara yang mereka tempuh adalah kesyirikan, perbuatan yang merupakan penghinaan kepada Allah Ta’ala.
“Kami kan Bukan Orang Musyrik”
Jika ayat-ayat di atas kita sampaikan kepada para penyembah kubur para wali pada masa kini, tentulah mereka akan mengingkari sikap kita dengan keras. Bisa jadi mereka akan mengatakan, “Ayat-ayat tersebut ditujukan kepada orang-orang musyrik yang memuja patung. Sementara kami ini bukanlah pemuja patung. Kami sekadar menjadikan orang-orang saleh yang sudah wafat itu sebagai perantara. Lantas, bagaimana kalian ini kok menilai orang saleh sama halnya dengan patung?!” Maka seorang muslim yang benar-benar memahami tauhid tentu akan bisa menanggulangi syubhat (kerancuan pemahaman) mereka ini.
Syekh Salih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa Allah telah menceritakan bahwa kaum musyrikin itu sendiri ternyata memiliki sesembahan yang beraneka ragam, tidak hanya patung. Ada juga di antara mereka yang menyembah wali, orang-orang saleh, bahkan para malaikat. Meskipun demikian, Allah tetap menyamakan hukum atas mereka dan tidak membeda-bedakannya. Maksudnya, mereka sama-sama kafir.
Allah berfirman,
وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ أَهَٰٓؤُلَآءِ إِيَّاكُمۡ كَانُواْ يَعۡبُدُونَ قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ أَنتَ وَلِيُّنَا مِن دُونِهِمۖ بَلۡ كَانُواْ يَعۡبُدُونَ ٱلۡجِنَّۖ أَكۡثَرُهُم بِهِم مُّؤۡمِنُونَ
“Pada hari mereka semua dikumpulkan, kemudian para malaikat ditanya, ‘Apakah semasa hidup di dunia mereka beribadah kepada kalian?’ Malaikat menjawab, ‘Maha Suci Engkau, Engkaulah penolong kami. Sebenarnya mereka itu telah beribadah kepada jin. Kebanyakan mereka beriman kepada jin.’” (Q.S. Saba : 40-41)
Ayat ini menunjukkan bahwasannya di antara kaum musyrikin itu ada yang menyembah malaikat. Akan tetapi, para malaikat berlepas diri dari perbuatan mereka itu pada hari kiamat. Para malaikat mengatakan bahwa mereka tidak memerintahkan kaum musyrikin untuk melakukan hal itu, dan mereka pun tidak senang terhadapnya. Padahal, kita telah mengetahui bersama bahwa para malaikat itu termasuk makhluk yang paling saleh. Demikian pula halnya dengan peribadatan yang ditujukan kepada para nabi dan para wali, semuanya tetap disebut sebagai kesyirikan. Karena ibadah adalah hak Allah semata, tidak boleh dibagi-bagi kepada selain-Nya. Barangsiapa yang beribadah kepada Allah, namun diiringi dengan beribadah kepada selain-Nya, maka dia telah berbuat syirik dan keluar dari Islam (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat, Syekh Salih Al-Fauzan).
Apakah Kalian Mengingkari Syafaat?
Dengan keterangan di atas, mungkin ada orang yang bertanya kepada kita, “Apakah kalian mengingkari syafaat? Yang saya lakukan ini bukanlah meminta kepada selain Allah. Akan tetapi, saya hanya mencari syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukankah pada hari kiamat nanti beliau akan memberikan syafaat!” Maka, kita jawab pertanyaan mereka bahwa kita sama sekali tidak mengingkari syafaat. Syafaat Nabi itu benar adanya. Akan tetapi, syafaat itu tidak boleh diminta kepada Nabi yang telah wafat. Syafaat itu hanya boleh diminta kepada Allah, karena syafaat itu memang hak-Nya.
Allah Ta’ala menegaskan,
قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعًا
“Katakanlah, ‘Semua syafaat itu pada hakikatnya adalah milik Allah.’” (Q.S. Az-Zumar : 44)
Nabi tidaklah menguasai pemberian syafaat. Syafaat itu juga tidak bisa memberikan manfaat untuk setiap orang. Syafaat hanya akan bermanfaat bagi orang-orang yang bertauhid. Terdapat dua syarat agar syafaat diterima. Pertama, diminta kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Kedua, orang yang diberi syafaat termasuk orang yang bertauhid (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat, Syekh Salih Al-Fauzan).
Tawasul yang Terlarang dan yang Dibolehkan
Tawasul atau mengambil perantara dalam beribadah kepada Allah dalam bentuk berdoa kepada orang yang sudah meninggal atau tidak hadir adalah bentuk kesyirikan. Namun, ada pula tawasul yang diperbolehkan, yaitu: (1) Menyebut nama-nama atau sifat-sifat Allah pada permulaan berdoa (dengan menyesuaikannya dengan permintaan yang dimohon, -ed.) seperti mengatakan, “Ya Ghafur, ighfirli” (“Wahai Yang Maha Pengampun, ampunilah hamba”); (2) Meminta kepada orang saleh yang masih hidup dan bisa memahami permintaan agar mendoakan kebaikan baginya, sebagaimana Khalifah Umar yang meminta tolong paman Nabi, Al-Abbas, untuk berdoa bagi kaum muslimin; (3) Menyebutkan amal saleh yang pernah dilakukannya sebagaimana kisah tiga orang yang terperangkap di dalam gua.
Faedah
Nah, dengan pemaparan yang amat ringkas ini, kita dapat memahami bahwa sebenarnya akidah Islam yang diwariskan oleh Rasul dan para sahabat adalah akidah yang sangat mulia. Islam menghendaki agar kita hanya bergantung kepada Allah Ta’ala. Islam menghendaki agar kita memahami hakikat sesuatu sebelum mengikuti ataupun menolaknya. Islam menghendaki agar kita berpikir dan tidak terjebak dalam kebekuan berpikir (kejumudan). Allah tidak membutuhkan siapa pun sebagai perantara (wasilah) dalam hal ibadah. Di sisi lain, Allah juga mengangkat Rasul sebagai perantara (wasilah) untuk menyampaikan tata cara beribadah yang benar kepada-Nya. Barang siapa yang mengingkari wasilah yang pertama, maka dia adalah seorang mukmin. Adapun barang siapa yang mengingkari wasilah yang kedua, maka dia kafir. Wallahu a’lam bish-shawab.
Penulis: Ustadz Ari Wahyudi, S.S. (Alumni Ma’had Al ‘llmi Yogyakarta)
Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S.
