EDISI 2240
—-
Q.S. An-Nisa : 17
إِنَّمَا ٱلتَّوۡبَةُ عَلَى ٱللَّهِ لِلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلسُّوٓءَ بِجَهَٰلَةٖ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٖ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمٗا
“Sesungguhnya tobat yang pasti diterima Allah itu hanya bagi mereka yang melakukan keburukan karena kebodohan, kemudian mereka segera bertobat. Merekalah yang Allah terima tobatnya. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”
- Setiap manusia pasti mengalami nikmat, ujian, dan dosa; yang membedakan adalah kesigapan dalam bertobat dan kembali kepada Allah.
• Orang terbaik bukan yang tanpa dosa, tetapi yang segera bertobat dan memperbaiki diri tanpa menunda.
• Harapan kepada Allah harus terus dijaga; keburukan diiringi dengan kebaikan agar dosa terhapus dan hati tetap hidup.
• Banyak teladan dari orang terdahulu yang diampuni karena tobat dan kesungguhan berubah, meski memiliki masa lalu yang berat.
• Langkah praktis: perbanyak doa dan istighfar, cari lingkungan saleh, minta keteguhan hati, rutin bersedekah, dan jaga keikhlasan melalui amal tersembunyi.
Seorang muslim tidak akan lepas dari tiga siklus kehidupan, yaitu mendapatkan nikmat, menghadapi ujian musibah, dan jatuh dalam dosa. Yang membedakan di antara siklus itu satu dengan lainnya adalah kadarnya.
Manusia yang paling besar musibahnya adalah para nabi dan rasul, diikuti manusia setelahnya yaitu siddiqin, syuhada, dan salihin. Siddiqin adalah orang yang belajar ilmu agama, lalu ia mempraktekannya dan mengajarkannya dengan ikhlas karena Allah sehingga kedudukannya di akhirat dekat dengan kedudukan para nabi. Begitu juga orang yang berperang sampai wafat karena berharap wajah Allah semata. Orang yang menginfakkan hartanya murni karena Allah maka martabatnya di hari kiamat dekat dengan para syuhada. Keempat martabat tersebut disebutkan Allah Ta’ala dalam firman-Nya,
وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَۚ وَحَسُنَ أُوْلَٰٓئِكَ رَفِيقٗا
“Siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nabi Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (akan dikumpulkan) bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (Q.S. An-Nisa : 69)
Selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap manusia pasti jatuh dalam kesalahan, yang membedakan diantara manusia adalah kadar kesalahannya. Secara umum, manusia yang paling sedikit salahnya adalah para sahabat. Di antara para sahabat yang paling saleh setelah Rasulullah adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhuma.
عن أنس رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لأبي بكر وعمر: «هذان سَيِّدا كُهُول أهل الجنة من الأوَّلِين والآخِرين إلا النبيِّين والمرسلين«
“Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Bakar dan Umar: ‘Keduanya adalah pemimpin para orang tua penghuni surga, dari kalangan umat terdahulu maupun yang kemudian, kecuali para nabi dan para rasul.’” (Sahih Sunan at-Tirmidzi)
Secara umum, selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam manusia itu pasti berpotensi melakukan kesalahan.
– كلُّ ابنِ آدمَ خطَّاءٌ ، وخيرُ الخطَّائينَ: التَّوَّابونَ
“Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah mereka yang banyak bertobat.” (Sahih at-Tirmidzi)
Semakin cepat bertobat dari kesalahan dan melakukan perbaikan maka semakin baik. Karena selain Rasulullah itu tidak maksum (terjaga dari dosa) dan Allah memerintahkan tobat itu dilakukan sesegera mungkin.
إِنَّمَا ٱلتَّوۡبَةُ عَلَى ٱللَّهِ لِلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلسُّوٓءَ بِجَهَٰلَةٖ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٖ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمٗا
“Sesungguhnya tobat yang pasti diterima Allah itu hanya bagi mereka yang melakukan keburukan karena kebodohan, kemudian mereka segera bertobat. Merekalah yang Allah terima tobatnya. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (Q.S. An-Nisa : 17)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyemangati orang yang jatuh dalam dosa agar segera melakukan amal saleh yang dia mampu sehingga ia memiliki harapan dan semangat bahwa dosanya diampuni Allah Ta’ala.
اتَّقِ اللهَ حيثُما كنتَ ، وأتبِعِ السَّيِّئةَ الحسَنةَ تَمْحُهَا ، وخالِقِ النَّاسَ بخُلُقٍ حَسنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (Sahih At-Targhib no. 2655)
Banyak contoh dari orang-orang terdahulu yang berhasil lolos dari jeratan dosa dan kesalahan dengan harapan (raja’), semangat untuk memperbaiki diri. Pada akhirnya, semua itu berbuah manis dengan dihapuskan dosa-dosanya dan dimasukkan ke dalam surga Allah Ta’ala.
Pertama
Ka‘b bin Malik dan dua sahabatnya radhiyallahu ‘anhum setelah merasakan penyesalan yang tulus dan berharap hanya kepada Allah, maka setelah 50 hari penantian, di samping terus-menerus bertobat dan melakukan perbaikan diri, akhirnya ketiganya diterima tobatnya. Allah Ta’ala mengabadikan kisah mereka dalam Q.S. at-Taubah : 118. Para sahabat adalah generasi terbaik yang Allah puji dalam Al-Qur’an (Q.S. at-Taubah : 100).
Kedua
Al-Ushairim radhiyallahu ‘anhu pada awalnya masih tenggelam dalam kesyirikan, sementara saudara satu suku lainnya telah lebih dulu bertobat dan masuk Islam. Ketika ada panggilan untuk warga Madinah dalam keikutsertaan Perang Uhud, beliau ikut dan memanfaatkan momen perang ini sebagai bukti amal saleh: berperang karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan tobat dari kesyirikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa beliau calon penghuni surga setelah ruhnya keluar dari jasadnya, meskipun—kata Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu—ia belum sempat salat walau sekali karena beliau wafat setelah perang tersebut berakhir.
Ketiga
Lelaki pembunuh 100 manusia, disebutkan dalam Sahih Muslim No. 2766 berusaha bertobat dan melakukan perbaikan diri dengan cara berhijrah dari tempat yang dipenuhi para pelaku maksiat menuju daerah yang didominasi orang-orang saleh. Singkat cerita, belum sampai ke tempat tujuan, ajal telah menjemputnya dan ia belum beramal kebaikan apa pun kecuali hanya amalan berpindah tempat saja. Namun pada akhirnya, dimaafkan kesalahannya.
Keempat
Allah Ta’ala menghapus dosa wanita pezina Bani Israil karena ia semangat menolong dan berempati terhadap anjing yang kehausan, ia telah memperbaiki diri dengan melakukan amalan sederhana di atas tauhid yang sangat besar nilainya di sisi Allah Ta’ala. Dalam riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
بيْنما كلْبٌ يُطِيفُ بِرَكِيَّةٍ كادَ يقتُلُهُ العطَشُ ، إذْ رأتْهُ بغِيٌّ من بَغايَا بنِي إسرائِيلَ ، فنَزَعَتْ مُوقَها فاسْتقَتْ لهُ بهِ ، فغُفِرَ لَهَا
“Ketika seekor anjing sedang berkeliling di sebuah sumur hampir mati karena kehausan, tiba-tiba ia dilihat oleh seorang wanita pezina dari kalangan Bani Israil. Maka wanita itu menanggalkan sepatunya, lalu ia mengambil air menggunakan sepatu itu untuk memberi minum si anjing. Maka Allah pun mengampuni (dosa) wanita tersebut.” (Sahih al-Jami no.2876)
Kelima
Kisah lelaki yang memiliki 99 lembaran catatan kriminal dan diampuni semua dosanya dengan sebab harapan yang tinggi dan semangat untuk berubah, bertobat, dan beramal. Ukuran panjang dan lebar satu lembar catatan dosanya sejauh mata memandang. Namun beberapa waktu sebelum wafat ia bertobat dengan tobat nasuha, bersemangat belajar agama Islam, dan mengamalkan ilmunya. Kartu kecil yang bertuliskan kalimat la ilaha illallah yang ia miliki mampu mengalahkan bobot 99 lembaran maksiat ketika ditimbang di akhirat, dan akhirnya ia pun dimasukkan ke dalam surga. Kisah lengkapnya disebutkan dalam Sahih Ibnu Majah No. 3488 dari riwayat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.
Beberapa tips agar kita senantiasa tidak kehilangan harapan, memelihara dan memupuk terus semangat untuk memperbaiki diri, pantang menyerah, dan pantang mundur yaitu.
Pertama
Perbanyak berdoa sebagaimana Nabi contohkan, disebutkan dalam hadis dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma,
إن كُنَّا لنَعُدَّ لرسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ في المجلسِ يقولُ : ربِّ اغفر لي وتُبْ عليَّ إنك أنتَ التوابُ الغفورُ مائةَ مرةً
“Sesungguhnya kami menghitung bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu majelis sering mengucapkan: ‘Ya Rabb, ampunilah aku dan terimalah tobatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Pengampun,’ sebanyak seratus kali” (Takhrij al-Musnad li Syakir, 6/328).
Kedua
Carilah komunitas orang-orang yang bertakwa, cinta ilmu, dan dakwah. Bersibuk-sibuklah dan berakrab-akrablah dengan mereka. Biasakan jiwa anda selalu bersih sehingga condong dan cocok dengan jiwa-jiwa yang suci juga. Putuskan hubungan dengan komunitas yang akrab dengan maksiat: jauhi dan jaga jarak jika memang belum bisa mendakwahi.
Syaikh Prof. Dr. Abdurrazaq al-Badr menyebutkan “Jiwa-jiwa mulia itu hanya ridha (puas) dengan segala hal yang paling tinggi, paling utama, dan paling terpuji. Jiwa-jiwa yang hina berputar-putar melayang di sekitar hal-hal yang hina juga, hinggap di atas yang hina seperti lalat yang hinggap di atas kotoran. Jiwa yang mulia dan tinggi tidak rela dengan kezaliman, perbuatan keji, pencurian, dan khianat. Karena jiwa mulia itu jauh lebih besar dan lebih mulia dari hal-hal buruk tersebut.”
Ketiga
Perbanyak doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Ya muqallibal-qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” (Sahih at-Tirmidzi)
Keempat
Jika masih ada kelebihan harta, rutin dan perbanyaklah sedekah karena sedekah dapat memadamkan dosa.
الصَّدَقةُ تطفئُ الخطيئةَ كما يُطفئُ الماءُ النَّارَ
“Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air dapat memadamkan api.” (Sahih at-Tirmidzi, disahihkan al-Albani)
Kelima
Lakukan amal saleh yang disenangi jiwa yang tidak dapat dilihat manusia agar terbiasa menjaga keikhlasan. Seperti salat sunah mutlak, zikir, membaca Al-Qur’an, dan amalan tersembunyi lainnya.
Penulis: Dr. Dodi Iskandar (Alumni Ma’had Al-’llmi Yogyakarta)
Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S.
