SETIAP AKTIVITAS ADA WAKTUNYA

 

EDISI 2224

Q.S. Al-Qasas : 77

وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَا

“Carilah apa yang Allah anugerahkan kepadamu berupa negeri akhirat, dan jangan lupakan bagianmu dari dunia.”

● Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering disibukkan dengan berbagai aktivitas.

● Semua aktivitas itu adalah bagian dari kehidupan manusia dan semuanya memiliki porsinya masing-masing.

● Meskipun Allah menciptakan manusia dengan fitrah untuk beraktivitas, terkadang kadang seseorang terseret dalam salah satu aktivitas hingga melupakan yang lain.

● Padahal, Islam mengajarkan bahwa setiap aktivitas ada waktunya dan setiap waktu memiliki hak yang harus ditunaikan.

Ayat dari Surah Al-Qasas sebelumnya mengandung kaidah besar: fokus kepada akhirat, namun tetap memperhatikan urusan dunia dan tidak berlebihan pada salah satunya. Menjadi pengingat manusia agar tidak hanya bekerja dan menjalani aktivitas dunia, tetapi harus menyediakan waktu untuk negeri akhirat. Keberhasilan sejati bukan hanya pada pencapaian dunia, tetapi pada kemampuan mengatur waktu agar ibadah tetap menjadi prioritas.

Betapa indahnya agama Islam: ia tidak memerintahkan manusia meninggalkan dunia, juga tidak membiarkan manusia tenggelam dalam dunia. Islam adalah agama keseimbangan.

Keseimbangan Waktu dalam Islam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan panduan hidup yang sangat lembut dan penuh keseimbangan. Ketika seorang sahabat terlalu memaksakan ibadah sampai mengabaikan hak tubuh, beliau bersabda,

 إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ

“Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka berikanlah setiap yang berhak akan haknya.” (H.R. Bukhari)

Hadis ini menjadi dasar bahwa waktu seorang Muslim tidak boleh hanya dicurahkan pada satu urusan. Jika ia hanya fokus pada sunah hingga melupakan istirahat, maka ia akan melemah, padahal tubuh adalah amanah dari Allah. Jika ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan dan harta, bisa jadi ia lalai terhadap kewajiban salat dan anak-anak yang membutuhkan kasih sayang. Dan bila ia hanya mengikuti keinginan diri, mungkin kewajiban terhadap keluarga dan masyarakat menjadi terabaikan. Islam hadir untuk menyempurnakan seluruh hak tersebut secara selaras.

Syekh ‘Abdurrahman as-Sa‘di rahimahullah mengatakan,

 الإسلام دينُ العدلِ في جميعِ الأمور يأمُر بالتوسُّط وينهى عن الإفراطِ والتفريط

“Islam adalah agama keadilan dalam seluruh urusan. Ia memerintahkan keseimbangan dan menolak sikap berlebihan ataupun mengabaikan” (Bahjat Qulūb al-Abrār hal. 156).

Keseimbangan inilah yang menjadikan kehidupan menjadi berkah dan ringan. Karena seseorang yang  mampu mengatur waktunya akan merasakan ketenangan dalam hati, kejelasan dalam tujuan, dan kedekatan kepada Allah tanpa meninggalkan hak sesama makhluk.

Pembagian Waktu berdasarkan Syariat

Agar kehidupan tidak timpang, para ulama menyebutkan pembagian waktu berdasarkan tuntunan syariat.

1. Waktu untuk Ibadah

Ibadah merupakan ruh kehidupan dan sumber keberkahan. Tanpanya, semua aktivitas yang kita lakukan hanya menjadi gerakan kosong yang tidak bernilai di sisi Allah. Karena itu, waktu untuk ibadah selalu menjadi prioritas utama bagi seorang Muslim.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Q.S. Adz-Dzariyat : 56)

Ayat ini mengingatkan bahwa ibadah bukan sekadar kewajiban, tetapi tujuan penciptaan yang paling mulia. Dalam salat, zikir, membaca Al-Qur’an, dan ketaatan lainnya, seorang Muslim menemukan makna hidup yang sesungguhnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

 وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

“Dijadikan penyejuk mataku dalam shalat.” (H.R. An-Nasa’i, disahihkan oleh Syekh Al-Albani)

Betapa indahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan ibadah bukan beban, tetapi pelipur lara tempat hati menemukan kedamaian dan kegembiraan sejati. Salat menjadi pelabuhan dari letihnya dunia, dan zikir menjadi penyejuk jiwa yang gersang. Saat seseorang merasakan kelezatan ibadah, ia akan menyadari bahwa Allah-lah sumber ketenangan yang selama ini ia cari.

2. Waktu untuk Mencari Nafkah dan Berkarya

Islam tidak memandang pekerjaan sebagai urusan dunia semata. Justru, ketika seseorang bekerja dengan niat untuk menunaikan amanah, menafkahi keluarga, menjaga kehormatan diri, dan membantu sesama, maka setiap tetes keringatnya bernilai ibadah di sisi Allah. Bekerja adalah wujud rasa syukur sekaligus bukti tanggung jawab sebagai hamba yang diberi kesempatan hidup.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا

“Seseorang mengumpulkan kayu bakar dan memikulnya lebih baik baginya daripada meminta-minta.” (H.R. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan betapa Islam menjunjung tinggi usaha mandiri dan tidak suka membebani orang lain. Bekerja adalah bentuk menjaga harga diri dan kehormatan, sekaligus pintu keberkahan rezeki yang halal.

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan,

لَا يَحِلُّ لِمَنْ يَقْدِرُ عَلَى التَّكَسُّبِ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ، بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يَتَعَفَّفَ، فَإِنَّ التَّكَسُّبَ أَفْضَلُ وَأَعَزُّ نَفْسًا

“Tidak halal bagi seseorang untuk meminta-minta saat ia masih memiliki kemampuan bekerja. Maka, berusaha dan bekerja itu lebih utama serta lebih menjaga kehormatan diri” (Syarah Shahih Muslim, 12/80).

Rezeki tidak hanya datang berupa harta, tetapi juga kemampuan untuk berusaha. Maka menyia-nyiakan potensi diri sama artinya menolak nikmat yang Allah berikan.

3. Waktu untuk Keluarga

Keluarga adalah anugerah besar yang Allah titipkan kepada setiap hamba. Di dalamnya terdapat kasih sayang yang menenangkan hati, perhatian yang menguatkan semangat, dan tempat kembali ketika dunia terasa melelahkan. Karena itu, meluangkan waktu untuk keluarga bukanlah hal yang bisa ditunda atau dianggap sepele. Karena itu merupakan bagian dari ibadah yang mulia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (H.R. At-Tirmidzi, disahihkan oleh Syekh Al-Albani)

Dalam rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita melihat teladan bagaimana Beliau menyapa keluarga dengan senyum, membantu pekerjaan rumah, bercanda dengan istri, bahkan memanggil dengan panggilan yang penuh cinta. Semua itu menunjukkan bahwa perhatian kecil dalam keluarga memiliki nilai besar di sisi Allah.

Imam Ibn Hajar Al-’Asqalani rahimahullah mengatakan,

 فِي هَذَا الْحَدِيثِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ مِيزَانَ الْخَيْرِيَّةِ إِنَّمَا هُوَ فِي مُعَامَلَتِهِ لِأَهْلِهِ، فَهُمْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ خُلُقِهِ وَمُعَاشَرَتِهِ

“Tolok ukur kebaikan seseorang adalah kebaikannya kepada keluarga, karena mereka adalah orang yang paling berhak mendapatkan akhlak baiknya” (Fathul Bari, 9/254).

Akhlak yang mulia di tengah masyarakat belum tentu menggambarkan kebaikan sejati jika tidak diiringi dengan sikap baik kepada istri, anak, dan anggota keluarga lainnya. Sebaliknya, orang yang mampu sabar, lembut, dan perhatian kepada keluarganya, berarti ia memiliki landasan akhlak yang kuat dan tulus. Sebab di dalam rumah, seseorang seringkali tampil tanpa dibuat-buat. Bila ia mampu menunjukkan kesantunan di lingkungan yang paling dekat, maka lebih mudah baginya untuk memperluas kebaikan itu kepada masyarakat luas.

 4. Waktu untuk Diri Sendiri

Dalam menjalani kehidupan, manusia bukan hanya makhluk yang  beramal dan berinteraksi, tetapi juga memiliki kebutuhan untuk menjaga kesehatan tubuh, ketenagan pikiran, dan kebersihan hati. Karena itu, Islam memberikan perhatian besar pada pemeliharaan diri, agar seorang hamba mampu terus berada kondisi terbaik untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 وَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

“Tubuhmu memiliki hak atasmu.” (H.R. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga kesehatan bukan tindakan duniawi yang terpisah dari agama, melainkan bagian dari ketaatan. Tubuh adalah amanah, dan kita akan ditanya tentang bagaimana kita menjaganya. Istirahat yang cukup, asupan yang halal dan baik, serta menghindari beban yang melemahkan diri adalah bentuk ibadah yang sering terlupa.

Syekh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah mengatakan,

 من السُّنَّةِ ألا يُكَلِّفَ الإِنْسَانُ نَفْسَهُ ما يَضُرُّهُ مِنَ العِبَادَاتِ، فَالإِسْلَامُ دِينُ السُّهُولَةِ وَالاعْتِدَالِ

“Termasuk sunah adalah tidak memaksakan diri dalam ibadah hingga membahayakan tubuh. Islam adalah agama kemudahan dan keseimbangan” (Bahjat Qulūb al-Abrār hal. 176).

Ungkapan ini mengajarkan bahwa jiwa membutuhkan penyegaran. Ketika seseorang terus memaksakan diri tanpa jeda, ibadah pun akan kehilangan kekhusyukan, dan aktivitas dunia menjadi tidak lagi produktif. Maka, rekreasi yang halal, duduk bersama sahabat salih, berjalan menikmati alam, atau sekdar meluangkan waktu membaca, semua itu dapat menjadi sumber energi untuk kembali berjuang di jalan kebaikan.

5. Waktu untuk Masyarakat dan Menebar Manfaat

Seorang muslim tidak diciptakan untuk hidup menyendiri dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Islam mengajarkan bahwa seorang hamba yang baik adalah yang mampu menghadirkan perubahan positif bagi lingkungannya. Kebahagiaan seorang mukmin bukan hanya ketika ia selamat, tetapi ketika orang lain merasakan kebaikan melalui dirinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (H.R. Ath-Thabrani, dinyatakan hasan oleh Syekh Al-Albani)

Hadis ini menggambarkan standar kemuliaan seorang Muslim: semakin luas manfaatnya bagi orang lain, semakin tinggi kedudukannya di sisi Allah. Kebaikan tidak selalu berupa materi, tetapi bisa berupa senyuman, nasihat yang lembut, ilmu, atau sekadar membantu mengurangi beban seseorang.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

الإِيمَانُ دَاعٍ إِلَى مَحاسِنِ الأَخْلَاقِ، وَأَسْمَى مَحاسِنِ الأَخْلَاقِ: نَفْعُ النَّاسِ وَالإِحْسَانُ إِلَيْهِمْ

“Iman itu mendorong pada akhlak yang mulia. Dan akhlak paling tinggi adalah memberi manfaat dan berbuat baik kepada manusia” (Madarijus Salikin, 2/307).

Dengan demikian, kedudukan seseorang di hadapan Allah bukan ditentukan oleh status sosial, tetapi oleh seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada orang lain. Maka siapa yang paling banyak memberi kebaikan, dialah manusia terbaik di sisi Allah Ta’ala.

Waktu bukan sekadar angka yang berganti di kalender. Waktu adalah potongan umur kita yang terus bergerak dan tidak pernah kembali. Setiap detik yang berlalu, sejatinya kita sedang melangkah menuju akhir perjalanan dunia. Kerugian terbesar bukanlah hilangnya harta atau kesempatan dunia, tetapi waktu yang berlalu tanpa ketaatan, tanpa kebaikan, dan tanpa makna.

Mari kita menjaga waktu sebaik-baiknya, isi hari-hari kita dengan amal yang mendekatkan diri kepada Allah, menjaga keseimbangan hidup, berbuat baik kepada sesama, dan memperbanyak amal salih meski kecil namun terus-menerus. Semoga Allah menjadikan setiap helaan napas kita bernilai ibadah, setiap langkah kita menuju kemanfaatan, dan setiap detik kehidupan kita menjadi sebab bertambahnya iman serta kedekatan kepada-Nya.

 

Penulis: Fitri Nuryanto, S.M.

Pemurajaah : Ustadz Abu Salman, B. I. S.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *