MUTIARA HIKMAH DALAM FASE KEHIDUPAN NABI ISA


EDISI 2140

Q.S. Ali Imran : 45

إِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٖ مِّنۡهُ ٱسۡمُهُ ٱلۡمَسِيحُ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ وَجِيهٗا فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ وَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ

“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),”

  • Nabi Isa sebagai orang yang dipilih Allah kehidupannya penuh dengan pelajaran bagi seluruh manusia
  • Nabi Isa lahir dari rahim seorang wanita mulia tanpa ayah supaya menjadi ujian dan pelajaran bagi manusia
  • Nabi Isa diutus ke tengah Bani Israil yang penuh kerusakan untuk mengembalikan mereka kepada tauhid dan syariat yang lurus
  • Bani Israil menolak dakwah Nabi Isa bahkan berusaha membunuhnya, inilah salah satu sifat buruk mereka sebagaimana sudah disebutkan oleh Allah
  • Segala mukjizat Nabi Isa tidak menunjukkan bahwa beliau berhak disembah, bahkan beliau mengakui bahwa itu semua atas izin Allah

Nabi Isa, beliau adalah diantara manusia yang Allah pilih untuk mengemban misi kenabian, mendakwahkan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Setiap fase kehidupannya dipenuhi mutiara hikmah yang patut untuk direnungkan oleh manusia di setiap masa, terlebih di zaman ini dimana manusia semakin jauh dari tuntunan risalah Ilahi.

Mengetahui hakikat pribadi Nabi Isa akan mengantarkan seseorang kepada sikap yang pertengahan terhadap beliau, tidak bersikap berlebihan seperti Nasrani dan tidak merendahkan seperti Yahudi.

Dalam kesempatan ini kami membagi pembahasan kisah kehidupan Nabi Isa dalam empat fase, berikut adalah penjabarannya:

  1. Fase Kelahiran

Nabi Isa lahir di Baitul Lahm yang letaknya dekat dengan Baitul Maqdis. Beliau adalah anak dari Maryam binti Imran, seorang wanita suci yang tekun dalam beribadah dan lahir dari keluarga yang saleh, oleh karena itu Allah memilih beliau sebagai wanita yang akan melahirkan seorang Nabi. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰكِ وَطَهَّرَكِ وَٱصۡطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلۡعَٰلَمِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu, dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” (Q.S. Ali Imran : 42)

Kabar Gembira untuk Maryam

Maryam, seorang wanita yang belum pernah tersentuh oleh laki-laki asing, mendapatkan kabar dari Malaikat sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٖ مِّنۡهُ ٱسۡمُهُ ٱلۡمَسِيحُ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ وَجِيهٗا فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ وَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ

“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),” (Q.S. Ali Imran : 45)

Hikmah Kelahiran Isa Tanpa Ayah

Maryam yang mendengar kabar itu merasa terheran. Maka hal ini terjadi dengan hikmah yang besar, yaitu agar manusia mengetahui bahwa Allah mampu melakukan segala hal yang Dia kehendaki sebagaimana Allah mampu menciptakan Adam tanpa ayah dan ibu. Sementara Nabi Isa, Allah menetapkannya sebagai anak yang lahir dari seorang Ibu namun tak memiliki ayah. Maka tak pantas seseorang mengatakan Isa adalah Tuhan hanya karena dia tak memiliki bapak.

Kondisi Saat Lahirnya Nabi Isa

Saat ruh sudah ditiupkan oleh malaikat di rahim Maryam, maka Maryam mengasingkan diri dari kaumnya. Beratnya rasa sakit dirasakan oleh Maryam dan lahirlah Nabi Isa.

Saat Maryam kembali ke kampungnya maka kaumnya menanyakan, mengapa Maryam seorang wanita dari keluarga yang saleh melahirkan seorang anak tanpa ayah? Maryam tak menjawab dengan sepatah katapun dan Nabi Isa yang masih di gendongan berkata,

قَالَ إِنِّي عَبۡدُ ٱللَّهِ ءَاتَىٰنِيَ ٱلۡكِتَٰبَ وَجَعَلَنِي نَبِيّٗا

“Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,” (Q.S. Maryam : 30)

  1. Fase Dua: Penugasan Isa Sebagai Rasul

Wahyu pertama  kali diturunkan kepada Isa saat ia berusia tiga puluh tahun. Turunnya wahyu kepada beliau bertepatan dengan delapan belas Ramadhan (Qishashul Anbiya’, Ibn Katsir)

Kondisi Bani Israil

Nabi Isa diutus kepada kaumnya agar beliau mendakwahkan kepada manusia untuk beribadah kepada Allah semata dan menerapkan kembali hukum Taurat dan Injil. Karena saat itu Bani Israil telah melenceng dengan melakukan berbagai praktik kesyirikan dan tenggelam dalam syahwat mereka.

Kebanyakan dari Bani Israil menentang dakwah Nabi Isa, maka beliau berkata kepada kaumnya, “siapakah yang mau menjadi penolong dalam berdakwah di jalan Allah?” Maka Hawariyyun mengatakan,

نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ 

“Kamilah penolong-penolong (agama) Allah…” (Q.S. Ali Imran : 52)

Mukjizat Nabi Isa

Allah Ta’ala memberikan berbagai mukjizat kepada Nabi Isa ‘alaihissalam. Diantara mukjizat tersebut adalah Nabi Isa tatkala meniup tanah yang berbentuk burung, maka burung tersebut menjadi hidup.

Berbagai mukjizat yang bisa dilakukan oleh Nabi Isa adalah terjadi atas izin Allah sebagaimana disebutkan dalam Ali Imran ayat 49, beliau tidak bisa melakukannya dengan sendiri.

Dakwah yang Tertolak

Orang-orang Yahudi yang diharapkan berkenan menerima dakwah Nabi Isa setelah ditampakkan kepada mereka berbagai mukjizat, justru malah menentang, mencegah manusia untuk mengikuti Nabi Isa, bahkan mencela Nabi Isa sebagai anak pezina.

Walaupun begitu, tetap saja ada yang mendapatkan hidayah untuk mengikuti Nabi Isa yang kebanyakan adalah orang fakir miskin yang lemah.

  1. Fase Ketiga: Pengangkatan Nabi Isa ke Langit

Mengetahui bahwa terdapat orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Isa, maka orang Yahudi tidak tinggal diam. Mereka melakukan upaya makar untuk Nabi Isa bahkan mengupayakan pembunuhan terhadap beliau dengan menghasut Raja Romawi untuk segera menghilangkan nyawa Nabi Isa dengan tuduhan bahwa tujuan Nabi Isa berdakwah adalah untuk mengkudeta kekuasaan sang Raja. Dengan alasan inilah raja memerintahkan bala tentaranya untuk menangkap Isa untuk membunuh dan menyalibnya.

Namun Allah punya kehendak lain, Nabi Isa diberitahu oleh Allah melalui malaikat-Nya bahwa ada sebuah makar yang sedang direncanakan untuk beliau. Kemudian Allah mengangkat Nabi Isa ke langit. Allah Ta’ala berfirman,

يَٰعِيسَىٰٓ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku…” (Q.S. Ali Imran : 55)

Singkat cerita, tentara Romawi mampu mengepung kediaman Nabi Isa, sementara itu Allah mengangkat Nabi Isa ke langit. Romawi pun akhirnya menangkap seorang munafik dari pengikut Nabi Isa yang Allah serupakan rupanya dengan beliau. Maka mereka membunuh dan menyalib orang tersebut. Akan tetapi Allah Ta’ala menjelaskan,

وَقَوۡلِهِمۡ إِنَّا قَتَلۡنَا ٱلۡمَسِيحَ عِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ رَسُولَ ٱللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِن شُبِّهَ لَهُمۡ

“Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka…” (Q.S. An-Nisa’ : 157)

Setelah diangkatnya Nabi Isa ke langit, terjadi berbagai kerusakan terhadap agama dan ajaran yang beliau bawa. Para pendeta kaum Nasrani telah melakukan banyak pemalsuan terhadap ayat-ayat Allah. Mereka menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Hanya sedikit dari mereka yang masih memegang teguh ajaran Nabi Isa yang murni.

Khianat Terhadap Amanah Ilmu, Sebab Kesesatan Nasrani

Selepas diangkatnya Nabi Isa ‘alaihissalam, terjadi upaya-upaya untuk mengubah ajaran beliau. Para pendeta terkhusus Paulus telah melakukan perubahan yang fundamental terhadap ajaran Nabi Isa baik dari segi aqidah ataupun syariat.

Dari sudut aqidah, mereka telah berpendapat bahwa Isa adalah Tuhan, maka Isa berhak untuk diibadahi. Dalam syariat, mereka telah menghalalkan hal yang diharamkan seperti daging babi sesuai dengan hawa nafsu mereka sendiri. Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّا نَصَٰرَىٰٓ أَخَذۡنَا مِيثَٰقَهُمۡ فَنَسُواْ حَظّٗا مِّمَّا ذُكِّرُواْ بِهِۦ

“Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya…” (Q.S. Al-Maidah : 14)

Karena dosa khianat terhadap amanah ilmu maka terjadi berbagai kerusakan yang besar, ajaran yang awalnya makmur dengan tauhid menjadi ajaran yang dipenuhi bau busuk kesyirikan. Karenanya maka hamba Allah yang harusnya bersatu menjadi terpecah-pecah dan manusia saling bunuh-membunuh dan berperang. Maka inilah dampak dari hilangnya ilmu pada umat manusia.

Benarlah perkataan Ibnu Syihab Az-Zuhri: “Mempelajari dan mengajarkan ilmu adalah sumber kemapanan (kebaikan) bagi kehidupan dunia dan akhirat. Adapun hilangnya ilmu akan menjadi sebab hilangnya kemapanan pada keduanya” (Miftah Darissa’adah)

  1. Fase Keempat: Turunnya Nabi Isa di Bumi

Fase keempat ini adalah peristiwa yang belum terjadi dan akan terjadi menjelang hari kiamat.

Menjelang hari kiamat Nabi Isa akan Allah turunkan ke bumi untuk membantu Imam Mahdi guna memerangi Dajjal. Beliau juga akan menjadi hakim di tengah manusia, menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghadirkan kemakmuran bagi manusia. Dalilnya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sudah dekat saatnya di mana akan turun pada kalian (‘Isa) Ibnu Maryam ‘alaihissallam sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah (upeti/pajak), dan akan melimpah ruah harta benda, hingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya.” (H.R. Bukhari)

 

Penulis : Bima Krisna Aji, S.Pd. (Alumnus Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)

Pemuroja’ah : Ustadz Abu Salman, B.I.S.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *