EDISI 2138
—
Q.S. Al An’am : 59
وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۚ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةٖ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبٖ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ
“Dan di sisi Allah-lah kunci-kunci semua perkara yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, Dia Maha Mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”
- Iman kepada takdir merupakan salah satu rukun iman yang wajib diimani seorang muslim.
- Takdir ketetapan Allah yang telah ditetapkan untuk makhluk-Nya dan tidak dapat diubah.
- Untuk beriman kepada takdir dengan sempurna harus melalui pemahaman terhadap empat tingkatan takdir yang telah dijelaskan oleh para ulama.
- Pemahaman takdir yang baik akan memudahkan kita untuk terlindung dari aliran–aliran yang menyimpang dalam masalah takdir.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala, iman kepada takdir adalah salah satu dari enam pokok-pokok keimanan yang wajib dimiliki oleh setiap muslim, atau yang kita kenal dengan istilah rukun iman. Tidak sah keimanan seorang muslim sampai ia mengimani dengan benar keenam rukun iman yang ada, termasuk iman kepada takdir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang (rukun) iman, maka Beliau bersabda,
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada para rasul-Nya, kepada hari Kiamat dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (H.R. Muslim). Oleh sebab itu, penting bagi kita mengetahui perkara-perkara yang berkaitan dengan Iman kepada takdir.
Pengertian Takdir
Takdir atau Qadar (قدر) secara bahasa artinya ‘akhir dan batas dari sesuatu’, adapun secara istilah maknanya adalah keterkaitan antara ilmu dan kehendak Allah Ta’ala terhadap ketetapan semua makhluk di alam semesta sebelum Allah Ta’ala menciptakannya. Terkadang qadar juga bisa disebut dengan qadha’ yang secara bahasa artinya ‘hukum’. secara istilah makna qadha’ sama dengan makna qadar, namun jika disebutkan bersamaan keduanya memiliki perbedaan, Syaikh Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Qadar adalah segala yang Allah Ta’ala tetapkan sejak zaman azali (terdahulu) yang berkaitan dengan apa yang akan terjadi pada semua makhluk-Nya. Sedangkan qadha’ adalah realisasi ketetapan Allah Ta’ala pada makhluk-Nya, berupa penciptaan, meniadakan (mematikan), dan merubah keadaan mereka. Ini berarti qadar lebih dulu ada daripada qadha’.” (lihat Syarh Aqidah Qasithiyah, Ibnu Utsaimin)
Tingkatan Takdir
Iman kepada takdir tidak akan sempurna hingga mengimani empat perkara,
[1] Al ’Ilmu (ilmu), yaitu mengimani bahwa Allah Ta’ala Maha Mengilmui segala sesuatu sejak zaman azali (dahulu) hingga abadi, Allah Ta’ala Maha Mengetahui segala yang ada di langit maupun di bumi, secara global maupun terperinci, semua yang nyata maupun yang gaib, dan Dia Maha Mengetahui semua hal yang sedang terjadi, yang telah terjadi, maupun yang akan terjadi. Allah Ta’ala berfirman,
وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ
“Dan Allah mengetahui segala sesuatu” (Q.S. Al Baqarah : 282)
dan juga firman-Nya,
وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۚ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةٖ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبٖ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ
“Dan di sisi Allah-lah kunci-kunci semua perkara yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, Dia Maha Mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Q.S. Al An’am : 59)
[2] Al Kitabah (pencatatan), yaitu mengimani bahwa Allah Ta’ala telah mencatat semua takdir makhluk-Nya hingga hari kiamat pada kitab lauh mahfuzh. Artinya, segala sesuatu yang diilmui oleh Allah Ta’ala berupa takdir makhluk-Nya dicatat dan ditulis oleh-Nya di lauh mahfuzh, tidak mungkin apa yang terjadi di alam ini keluar dari apa yang sudah Allah tuliskan. Allah Ta’ala berfirman,
أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۚ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَٰبٍۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah.” (Q.S. Al Hajj : 70)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمَ، قَالَ لَهُ: اُكْتُبْ! قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اُكْتُبْ مَقَادِيْرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ.
“Yang pertama kali Allah ciptakan adalah Qalam (pena), lalu Allah berfirman kepadanya: ‘Tulislah!’ Ia menjawab: ‘Wahai Rabb-ku apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman: ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai hari Kiamat.’” (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi, shahih)
dan juga sabdanya,
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah telah mencatat seluruh takdir makhluk, lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” (H.R. Muslim dan Tirmidzi)
[3] Al Masyi’ah (kehendak), atau bisa juga disebut dengan irodah kauniyah, yaitu mengimani bahwa segala sesuatu yang yang terjadi di langit maupun di bumi semuanya terjadi atas kehendak Allah Ta’ala. Segala yang Allah kehendaki untuk terjadi pasti terjadi, dan yang tidak Allah kehendaki pasti tidak akan terjadi, segala yang Allah perbuat pasti atas kehendak-Nya serta segala yang diperbuat oleh makhluk juga atas kehendak-Nya. Makhluk memiliki kehendak, namun kehendak makhluk berada dibawah kehendak Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ٢٨ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ
“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang berkehendak menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan Semesta Alam.” (Q.S. At-Takwir : 28-29).
Selain al masyi’ah (irodah kauniyah) terdapat pula kehendak Allah Ta’ala yang namanya al mahabbah atau irodah syar’iyah, yaitu kehendak dan keinginan Allah Ta’ala yang hanya berkaitan dengan kecintaan Allah Ta’ala, namun belum tentu terwujud di alam nyata. Irodah syar’iyah ini diketahui melalui perintah-Nya dan syariat-Nya, contohnya adalah Allah Ta’ala ingin semua makhluk-Nya beriman dan taat, namun realitanya tidak semua makhluk-Nya beriman dan taat. Allah Ta’ala berfirman,
وَٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيۡكُمۡ وَيُرِيدُ ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلشَّهَوَٰتِ أَن تَمِيلُواْ مَيۡلًا عَظِيمٗا
“Dan Allah berkehendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya ingin supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya dari kebenaran”. (Q.S. An-Nisa’ : 27)
Pada ayat ini Allah Ta’ala ingin agar semua manusia bertaubat dan diterima oleh-Nya, namun kenyataannya di alam nyata tidak semua manusia betaubat dan diterima taubatnya.
Ringkasnya, kedua kehendak Allah Ta’ala diatas, baik irodah kauniyah maupun irodah syar’iyah, sama-sama kehendak dan keinginan Allah Ta’ala, namun terdapat beberapa perbedaan, yaitu:
- Irodah kauniyahmencakup apa yang Allah Ta’ala cintai maupun apa yang tidak Allah Ta’ala Sedangkan irodah syar’iyah hanya mencakup apa yang dicintai dan diperintahkan oleh-Nya saja.
- Irodah kauniyahpasti terjadi dan terwujud di alam nyata, sedangkan irodah syar’iyah tidak selalu terjadi dan terwujud di alam nyata.
Mampu memahami dan membedakan kedua irodah diatas dengan benar merupakan hal yang sangat penting, yang akan memudahkan kita untuk terlindung dari aliran-aliran yang menyimpang dalam masalah takdir ini.
[4] Al Khalq (penciptaan), yaitu mengimani bahwa Allah Ta’ala menciptakan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, baik zat, sifat, maupun segala perbuatan makhluk, termasuk menciptakan manusia dan amal perbuatannya. Dia yang menciptakan orang beriman beserta keimanannya, Dia yang menciptakan orang kafir beserta kekafirannya meski Dia tidak meridhoi kekafiran.Semuanya diciptakan oleh Allah Ta’ala sesuai dengan hikmah-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ
“Dan Allah lah yang menciptakan kalian dan menciptakan semua perbuatan kalian.” (Q.S. As-Shaffat : 96)
Inilah empat tingkatan yang benar dalam keimanan terhadap takdir yang diyakini oleh Ahlu sunnah wal jama’ah. (lihat kitab Syifa’ul ‘Aliil, Imam Ibnul Qayyim)
Penutup
Demikianlah penjelasan tentang takdir, semata mata agar kita bisa memahami takdir dengan tepat dan kita bisa bersikap serta menjalani hidup dengan benar terkait takdir, yaitu menempuh usaha yang terbaik serta berdoa dengan maksimal, apapun hasilnya kita serahkan kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,
لَا يُسۡـَٔلُ عَمَّا يَفۡعَلُ وَهُمۡ يُسۡـَٔلُونَ
“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, namun merekalah yang akan ditanya.” (Q.S. Al Anbiya : 23)
Nas’alullah as-Salamah wal ‘Afiyah.
Penulis : Nizamul Adli Wibisono, S.T. (Alumnus Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)
Pemuraja’ah : Ustadz Abu Salman, B.I.S.
