DOSA-DOSA BESAR

Edisi 2119

  • Setiap anak Adam pasti berbuat salahdan dosa, namun sebaik-baik orang yang salah adalah yang bertaubat.
  • Islam mengajarkan bahwa ada tingkatan dalam amal perbuatan, baik yang wajib maupun yang sunnah, dan begitu pula dalam dosa, ada yang besar dan kecil.
  • Menjauhi dosa besar menjadi kunci keselamatan, dapat menghapus dosa-dosa kecil dan membawa seseorang menuju surga.
  • Dosa-besar didefinisikan sebagai perbuatan yang diancam dengan neraka, murka, laknat, atau azab.
  • Meskipuntidak terjerumus pada dosa besar, kita tetap harus berhati-hati dan tidak menyepelekan dosa kecil. Karena, dosa kecil yang terus-menerus dilakukan bisa menjadi besar, dan Allah bisa mengazab seseorang atas dosa yang tampak kecil tersebut.

Manusia difitrahkan oleh Allah Ta‘ala memiliki aib dan kekurangan. Tidak ada seorang pun yang luput dari kekurangan, baik berupa kekeliruan, kelalaian, lupa, dan sebagainya. Oleh karena manusia diciptakan memiliki aib dan kekurangan, maka Allah Ta‘ala pun telah menunjukkan cara mengobati dan menambal kekurangan tersebut, yaitu dengan bertaubat, beristigfar, dan amalan penghapus dosa lainnya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كلُّ ابنِ آدمَ خطَّاءٌ وخيرُ الخطَّائينَ التَّوَّابونَ

“Semua anak Adam tak luput dari berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah orang yang bertaubat.”  (H.R. At-Tirmidzi no. 2499)

 

Agama Memiliki Tingkatan

Para ulama bersepakat bahwasanya agama Islam memiliki tingkatan perihal pahala dan dosa. Pahala amalan yang wajib lebih besar dari pahala amalan yang bersifat anjuran. Sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman dalam hadis qudsi,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

“Tidaklah hambaku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan yang lebih Aku sukai dibandingkan amalan yang Aku wajibkan kepadanya.” (H.R. Al-Bukhari)

Sebagaimana pahala memiliki tingkatan, demikian pula dosa. Pada dasarnya, menjauhi segala jenis perbuatan dosa adalah kewajiban setiap hamba. Akan tetapi, menjauhi perbuatan dosa besar adalah kunci keselamatan di dunia dan akhirat. Menjauhi dosa besar adalah sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil yang tidak luput dilakukan manusia dan sebab seseorang dimasukkan ke dalam surga. Allah Ta‘ala berfirman,

إِن تَجۡتَنِبُواْ كَبَآئِرَ مَا تُنۡهَوۡنَ عَنۡهُ نُكَفِّرۡ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَنُدۡخِلۡكُم مُّدۡخَلٗا كَرِيمٗا

Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kalian mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan kalian (dosa-dosa kalian yang kecil) dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga). (Q.S. An-Nisa: 31)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

ما من عبدٍ يعبُدُ اللهَ لا يُشرِكُ به شيئًا، ويُقيمُ الصَّلاةَ، ويُؤتي الزَّكاةَ، ويصومُ رمضانَ، ويجتنِبُ الكبائرَ؛ إلَّا دَخَلَ الجنَّةَ

“Tidaklah seorang hamba beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan menjauhi dosa-dosa besar, kecuali ia akan masuk surga . (H.R. An-Nasa’i no.4009)

 

Pengertian Dosa Besar

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

الْكَبَائِرُ كُلُّ ذَنْبٍ خَتَمَهُ اللهُ تَعَالَى بِنَارٍ أَوْ غَضَبٍ أَوْ لَعْنَةٍ أَوْ عَذَابٍ 

“Dosa besar adalah setiap dosa yang diancam Allah dengan neraka, murka, laknat, atau azab.” (Tafsir Ath-Thabari, hlm. 246)

Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah dosa besar di dalam Islam. Ada yang mengatakan 70 seperti pendapat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan Imam Adz-Dzahabi rahimahullah, ada pula yang mengatakan 460 seperti Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah. Meskipun jumlahnya beragam, kriteria suatu dosa disebut sebagai dosa besar adalah sebagaimana termuat pada ucapan Ibnu ‘Abbas di atas, yaitu dosa tersebut menyebabkan pelakunya diancam masuk neraka, dimurkai Allah, dilaknat Allah, atau diancam siksaan di neraka. Berikut ini adalah beberapa di antara dosa besar di dalam Islam.

 

Pertama: Menyekutukan Allah

Menyekutukan Allah adalah dosa paling besar di dalam Islam. Pelaku syirik yang tidak sempat bertaubat sebelum meninggal maka dosanya tidak akan diampuni, amalannya akan hangus, dan ia akan kekal di neraka. Allah Ta‘ala berfirman,

إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. (Q.S. Al-Ma’idah: 72)

Allah juga berfirman,

وَلَوۡ أَشۡرَكُواْ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (Q.S. Al-An‘am: 88)

 

Kedua: Meninggalkan Salat

Meninggalkan salat adalah salah satu dosa paling besar di dalam Islam, namun sering diremehkan banyak orang. Semua ulama bersepakat bahwa dosa meninggalkan salat lebih besar daripada membunuh, berzina, meminum alkohol, mencuri, dan memakan harta riba. Bahkan, dalam beberapa hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa meninggalkan salat dapat menyebabkan seseorang kafir. Di antaranya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

العَهدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاةُ، فَمَنْ تَرَكَها فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian yang membedakan kami ˹kaum muslimin˺ dan mereka ˹orang-orang kafir˺ adalah salat. Siapa yang meninggalkannya ia telah kafir. (H.R. At-Tirmidzi no. 2621)

 

Ketiga: Sihir

Sihir adalah salah satu dosa yang Rasulullah sebutkan sebagai dosa yang membinasakan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقاتِ، قالوا: يا رَسولَ اللَّهِ وما هُنَّ؟ قالَ: الشِّرْكُ باللَّهِ، والسِّحْرُ…

“Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan. Mereka berkata: “Apa saja, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah, berbuat sihir.…” (H.R. Al-Bukhari)

Allah Ta‘ala juga menjelaskan bahwa sihir adalah ilmu yang diajarkan setan kepada manusia:

وَلَٰكِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ ٱلنَّاسَ ٱلسِّحۡرَ

Akan tetapi setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.(Q.S. Al-Baqarah: 102)

Tujuan setan mengajarkan sihir kepada manusia tidak lain agar manusia juga berbuat kekufuran sepertinya, karena itulah misi utama mereka mengajak manusia agar masuk neraka bersama mereka. Di antara bentuk sihir dan macam-macam turunannya adalah tenung, santet, teluh, pelet, rajah, jimat, ramalan menggunakan telapak tangan, zodiak, atau kartu tarot, ilmu kebal, dan yang sedang viral belakangan ini, menerawang jin khodam.

 

Keempat: Durhaka Kepada Orang Tua

Durhaka kepada orang tua adalah setiap perbuatan atau ucapan anak yang membuat orang tuanya terganggu atau tersakiti. Bentuk kedurhakaan betingkat-tingkat, semakin orang tua merasa tersakiti, maka semakin besar dosanya. Durhaka kepada orang tua adalah salah satu dosa besar yang disebut secara eksplisit oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, disandingkan dengan dosa berbuat syirik. Beliau bersabda,

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الكَبَائِرِ؟ ثَلَاثًا، قالوا: بَلَى يا رَسُولَ اللَّهِ، قالَ: الإشْرَاكُ باللَّهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ

“Maukah kuberitahu kalian dosa besar yang paling besar? Mereka berkata: ‘Tentu, wahai Rasulullah’. Beliau berkata: ‘Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua. (H.R. Al-Bukhari)

 

Dosa Besar Lainnya

Selain keempat dosa besar yang dijelaskan di atas, terdapat dosa-dosa besar lainnya yang marak terjadi di masyarakat saat ini, di antaranya: tidak membayar zakat maal (harta), tidak berpuasa di bulan Ramadan, memakan harta riba, berzina, perilaku LGBT, berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya, perjudian,  memutus hubungan keluarga, meminum khamr, dan sebagainya. Para ulama telah membuat kompilasi perbuatan dosa besar, seperti kitab Al-Kabā’ir karya Imam Adz-Dzahabi dan Az-Zawājir ‘an Iqtirānil-Kabā’ir karya Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahumallah.

 

Jangan Menyepelekan Dosa Kecil

Meski sebagian dari kita mungkin tidak terjerumus dalam dosa besar, kita tetap tidak boleh menyepelekan dosa kecil. Sebab, melakukan dosa kecil secara terus-menerus akan menjadikannya berstatus dosa besar. Bisa jadi Allah Ta‘ala mengazab seseorang karena dosa kecil. Bisa jadi pula, seseorang mengira suatu pelanggaran sebagai dosa kecil, ternyata Allah menganggapnya sebagai dosa besar. Untuk itu, sebagaimana noda pada baju dibersihkan dengan air, maka noda maksiat dibersihkan dengan beristigfar dan bertaubat kepada Allah Ta‘ala. Semoga kita senantiasa dijaga Allah dari melakukan perbuatan dosa dan maksiat, serta mengampuni semua dosa kita yang lalu. Amin.

Wa ṣallallāhu ‘alā Nabiyyinā Muḥammad. Wal-ḥamdulillāhi rabbil-‘ālamīn.

Penulis : Faadhil Fikrian Nugroho (Alumni Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)

Murajaah : Ustaz Abu Salman, B.I.S.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *