At Tauhid edisi V/2
Oleh: Yulian Purnama
Sungguh sayang sungguh malang, umat Islam di masa ini bak buih di lautan, banyak jumlahnya namun tercerai-berai. Heran bukan kepalang melihat fenomena ini, kita semua tahu bahwa Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam hanya 1 macam, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Ku” [Al-Anbiyaa : 92]. Namun mengapa hari ini Islam menjadi bermacam-macam? Aneh bukan?
Ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sedari dulu telah memperingatkan hal ini: “Telah berpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan ; dan telah berpecah kaum Nashara menjadi tujuh puluh dua golongan; sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah? ; Beliau menjawab: yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku di hari ini” [HR. Tirmidzi]. Namun lihatlah, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan bahwa ada 1 golongan yang selamat dari perpecahan yaitu orang-orang yang beragama dengan menempuh jalan Islam sebagaimana jalan Islam yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya pada masa itu. Dari sinilah muncul istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah istilah yang dilekatkan dengan sifat-sifat golongan yang selamat yang disebutkan dalam hadist di atas. Maka tak pelak lagi, istilah Ahlus Sunnah pun menjadi rebutan. Bahkan orang-orang yang menempuh jalan yang salah pun mengaku Ahlus Sunnah. Sehingga masyarakat awam yang sedikit menyentuh ilmu agama pun dibuat bingung karenanya, dan rancu dibuatnya, tentang siapakah sebenarnya Ahlus Sunnah itu?
Makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
Kata “Ahlussunnah” terdiri dari dua suku kata yaitu ’ahlu’ yang berarti keluarga, pemilik, pelaku atau seorang yang menguasai suatu permasalahan, dan kata ’sunnah’. Namun bukanlah yang dimaksud di sini sunnah dalam ilmu fiqih, yaitu perbuatan yang mendapat pahala jika dilakukan, dan tidak berdosa jika ditinggalkan. Akan tetapi sunnah adalah apa yang datang dari Nabi baik berupa syariat, agama, petunjuk yang lahir maupun yang bathin, kemudian dilakukan oleh sahabat, tabiin dan pengikutnya sampai hari Kiamat. Dengan demikian definisi Ahlus Sunnah adalah mereka yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan sunnah para shahabatnya. Sehingga Imam Ibnul Jauzi berkata,” Tidak diragukan bahwa orang yang mengikuti atsar (sunnah) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya adalah Ahlus Sunnah” (Lihat Talbisul Iblis hal. 16)
Sedangkan kata ”Al Jama’ah” artinya bersama atau berkumpul. Dinamakan demikian karena mereka bersama dan berkumpul dalam kebenaran, mengamalkannya dan mereka tidak mengambil teladan kecuali dari para sahabat, tabiin dan ulama–ulama yang mengamalkan sunnah sampai hari kiamat. Karena merekalah orang-orang yang paling memahami agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Namun yang perlu digaris-bawahi di sini adalah bahwa Al Jama’ah adalah orang-orang yang berada di atas kebenaran, bukan pada jumlahnya. Jumlah yang banyak tidak menjadi patokan kebenaran, bahkan Allah Ta’ala berfirman yang artinya: ”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” [Al An’am: 116]. Sehingga benarlah apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu: “Al-Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian” (Syarah Usuhul I’tiqaad Al Laalika-i no. 160).
Ringkasnya, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah orang-orang yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya, dan dalam memahami dan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tersebut mereka meneladani praktek dan pemahaman para sahabat, tabi’in dan orang yang mengikuti mereka. Dan makna ini sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tentang satu golongan yang selamat pada hadits di atas: ”yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku dihari ini”.
Pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
Mungkin setelah dijelaskan makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, sebagian orang masih rancu tentang siapakah sebenarnya mereka itu. Karena semua muslim, dari yang paling ’alim hingga yang paling awamnya, dari yang benar hingga yang paling menyimpang akan mengaku bahwa ia berjalan di atas jalannya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Maka dalam kitab Ushul Aqidah Ahlis Sunnah, Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dapat dikenal dengan dua indikator umum:
Perlu diketahui juga bahwa istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah muncul untuk membedakan ajaran Islam yang masih murni dan lurus dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan ajaran Islam yang sudah tercampur dengan pemikiran-pemikiran menyimpang seperti pemikiran Jahmiyah, Qodariyah, Syi’ah dan Khawarij. Sehingga orang-orang yang masih berpegang teguh pada ajaran Islam yang masih murni tersebut dinamakan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Imam Malik rahimahullah pernah ditanya : “Siapakah Ahlus Sunnah itu? Ia menjawab: Ahlus Sunnah itu mereka yang tidak mempunyai laqb (julukan) yang sudah terkenal. Yakni bukan Jahmiyah, bukan Qadariyah, dan bukan pula Syi’ah”. (Lihat Al-Intiqa fi Fadlailits Tsalatsatil Aimmatil Fuqaha. hal.35 oleh Ibnu Abdil Barr).
Walaupun pada kenyataannya orang-orang yang berpemikiran menyimpang tersebut, seperti Jahmiyah, Qodariyah, Syi’ah dan Khawarij juga sebagian mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Sehingga hal ini memicu para Imam Ahlus Sunnah untuk menjelaskan poin-poin pemahaman Ahlus Sunnah, agar umat dapat menyaring pemahaman-pemahaman yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah. Salah satunya dari Imam Ahlus Sunnah yang merinci poin-poin tersebut adalah Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam kitabnya Ushul As Sunnah. Secara ringkas, poin-poin yang dijelaskan Imam Ahmad tentang pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah diantaranya adalah:
Jangan salah membatasi
Imam Al Barbahari berkata: ”Ketahuilah bahwa ajaran Islam itu adalah sunnah dan sunnah itu adalah Islam” (Lihat Syarhus Sunnah, no 2). Maka pada hakikatnya pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah Islam itu sendiri dan ajaran Islam yang hakiki adalah pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Maka Ahlus Sunnah adalah setiap orang Islam dimana saja berada yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan pemahaman para sahabatnya. Jika demikian, sungguh keliru sebagian orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan batas-batas yang serampangan.
Telah keliru orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan suatu kelompok atau organisasi tertentu, seperti perkataan: ’Ahlus Sunnah adalah NU’ atau ’Ahlus Sunnah adalah Muhammadiyah’. Telah salah orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan majlis ta’lim atau ustadz tertentu dengan berkata: ’Ahlus Sunnah adalah yang mengaji di masjid A’ atau ’Ahlus Sunnah adalah yang mengaji dengan ustadz B’. Keliru pula orang yang membatasi dengan penampilan tertentu, misalnya dengan berkata ’Ahlus Sunnah adalah yang memakai gamis, celana ngatung dan berjenggot lebat. Yang tidak demikian bukan Ahlus Sunnah’. Tidak benar pula membatasi Ahlus Sunnah dengan fiqih misalnya dengan berkata ’Yang shalat shubuh pakai Qunut bukan Ahlus Sunnah’ atau ’Orang yang shalatnya memakai sutrah (pembatas) dia Ahlus Sunnah, yang tidak pakai bukan Ahlus Sunnah’. Dan banyak lagi kesalah-pahaman tentang Ahlus Sunnah di tengah masyarakat sehingga istilah Ahlus Sunnah mereka tempelkan pada kelompok-kelompok mereka untuk mengunggulkan kelompoknya dan berfanatik buta terhadap kelompoknya.
Adapun Ahlus Sunnah yang sejati tidak sibuk dengan label dan pengakuan, serta benci dengan semangat kekelompokkan. Sebagaimana perkataan Ibnu Qoyyim Al Jauziyah tentang Ahlus Sunnah: ”Sesuatu yang tidak mempunyai nama kecuali Ahlus Sunnah” (Lihat Madarijus Salikin III/174). Bahkan seorang Ahlus Sunnah menyibukkan diri dengan menerapkan sunnah dalam setiap aspek kehidupannya. Dan tidak ada gunanya seseorang mengaku-ngaku Ahlus Sunnah, sementara ia sibuk dengan melakukan bid’ah dan hal-hal yang bertentangan dengan sunnah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya ”Sesungguhnya Rabb-mu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia juga lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk” [An Najm: 30].
Semoga Allah Ta’ala senantiasa menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diberikan ni’mat, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan orang-orang tersesat. [Yulian Purnama]
TweetTidak ada buletin terkait.
apakah kita harus pede bahwa ahlus sunnah adalah yang paling benar, selain itu adalah salah.
terus bagaimana misal ternyata yang benar itu adalah yang lain.
mohon pencerahannya ustadz
salam
#Khomsatun
Bukan ajaran Wahabi, tapi ajaran Islam yang benar.
#Falah
Maa diinukum ya akhi? Diinuna Al Islam.
#Halwa
Ya benar. Kita harus yakin bahwa metode beragama Ahlus Sunnah adalah yang benar. Karena metode beragama Ahlus Sunnah itu merujuk pada Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat.
Nah, yang selain Ahlus Sunnah merujuk pada pada siapa? Adakah yang lebih benar dari Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat?
يا مقلب القلوب ثبت قلوبانا علي دينك
memamng benar yang dikatakan penulis, masalah terbesar di negeri ini adalah, jika dikalangan ulama mengakui perbedaan adalah sebagian dari rohmat, beda dengan orang-orang yang hidup dimasyarakat yang menganggap golongan/benderanyalah yang paling benar. ( diatas bersatu di bawah sangat renggang sekali jaraknya).
masalah semacam ini yang menghancurkan umat islam.
assalamua’alaikum..
bagaimana tanggapan dengan tidak memihak tentang salafi? beberapa website baik itu di indonesia maupun di saudi mengklaim jalan salafi adalah ahlusunnah wal jama’ah.. bahkan sebagian mereka tidak membenarkan para imam dan mahzab para imam tersebut.
wassalam..
kalo kita tidak membatasi mana yg ahlu sunnah dan mana yang bukan, bisa2 kita terus menerus ikut bid’ah yg dilakukan oleh sebagian besar umat. Dengan berusaha mengenali mana kelompok/pengajian yg ahlu sunnah, maka kita bisa ikut belajar Islam yg benar. Tentunya untuk mengenali harus ada ciri2 yg membedakan, seperti qunut subuh, kalau dilakukan terus menerus maka ini adalah bukan ahlu sunnah. Jadi benar memang ahlu sunnah tidak dibatasi oleh kelompok2 tertentu tetapi dibatasi oleh sunnah itu sendiri. Kalau jenggot dan celana katung adalah sunnah, maka di kelompok manapun dia, maka dia adalah ahlu sunnah. Tetapi kalau tidak maka bukan ahlu sunnah meskipun tidak mengaku ikut kelompok apapun.
Anda benar bahwa memang ada hal-hal yang menjadi ciri Ahlussunnah yang dapat digunakan untuk membedakan diri dengan yang selain Ahlussunnah.
Namun, yang anda sebutkan itu tidak benar. Tidak ada ulama yang menjadikan Qunut shubuh sebagai patokan jati diri Ahlussunnah. Bahkan Imam Asy Syafi’i mengatakan hukumnya sunnah. Lalu apakah Imam Asy Syafi’i bukan Ahlussunnah?
Celana tidak isbal dan jenggot itu memang termasuk sunnah Nabi, namun bukan patokan jati diri Ahlussunnah. Bahkan betapa banyak Ahlul Bid’ah yang berjenggot, tidak isbal, istrinya bercadar, dll. Ingat, kaum khawarij itu Ahlul Bid’ah namun mereka sangat kencang dalam beragama.
Setiap muslim itu pada asalnya Ahlussunnah, sampai kita tahu bukti penyimpangan aqidah dan manhajnya.
Pemahaman para sahabat. siapa sahabat yang wajib untuk di ikuti dan sahabat yang mana, yang benar-benar memahami alquran seluruhnya ?
wassalam,
Assalamualaikum…
Komentar anda ttg Qunut,janggut,& celana kutung,jadi ambivalent atau standart ganda sodaraku,krn yg disampaikan itu adlh sunnah Rasulullah jd kenapa hrs memilah2,bgm kita myntkan kita ahlusunnah klu kita memilah2nya,lalu anda menyatakan(janggut,celana kutung) itu bkn jati diri ahlusunnah?Nah..Lho..padahal itu perintah Rasulullah,tdk ada pertentangan ulama & semua ulama sepakat.
Perbedaan dikatakan rahmat kala perbedaan itu dapat menyebabkan meningkatnya pemahaman dan kecintaan kepada Alloh dan RasulNya. Jika semua masalah dikembalikan kepada AlQuran dan Al Hadist (yang sahih tentunya) insya Alloh tidak ada perpecahan dan kaum muslim benar2 merupakan 1 tubuh..janganlah nama golongan atau ketaatan kepada seseorang melebihi dari pengabdian kepada Alloh dan RasulNya..karena sebenarnya Alloh yang menyatukan umat muslim bukan semata2 makhluk tersebut yang ingin menyatukan..jika akhlak rasulullah sudah menyatu kepada diri setiap muslim maka persatuan akan dengan mudah terwujud insya Alloh …amien
di dunia ini ada dua yang baik dan yang jahat, yg selalu mngikuti kita kemanapun kita pergi ada setan ada malaikat di samping kita, tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat insya Allah kita akan di beri petunjuk oleh Allah SWT, karena yang selamat adalah yang selalu di jalan Allah, karena manusia yg tinggi derajat nya di sisi Allah adalah karena keimanannya, anda mengaku ahlu sunnah? seberapa besar keimanan anda kepada Allah?seberapa besar pengorbanan dan manfaat yg telah anda berikan untuk Islam dan umatnya? mulailah melihat siapa diri anda?manfatkah hidup anda untuk anda dan oran lain? mulailah dengan shalat yang sebenar2nya shalat yaitu shalat yg akan menghindari anda dari perbuatan keji dan munkar. semoga Allah selalu memberi petunjuNya kepada kita semua amin ya rabbal alamin…
Assalamualaikum wr wb
saya mau tanya.
ada salah satu teman saya meng-copy artikel ini. beberapa hari sebelumya kami sempat berdebat tentang ketaatan kepada pemimpin muslim. pada dasarnya saya sepakat. tapi, yang menjadi pertanyaan saya adalah, ketika pemimpin itu melakukan banyak kedzoliman terhadap rakyatnya, apakah yang dapat kita lakukan?
apakah berhenti pada memberi nasihat (secara rahasia)? bagaimana kalau kita ganti saja pemimpin itu dengan yang lebih baik? mengingat hal itu sangat mungkin dilakukan di negeri kita (indonesia) dengan cara yang legal tentu saja, bukan cara makar.
terimakasih atas jawabannya.
satu lagi, apakah istilah aqidah ahlussunah itu ada? setahu saya yang ada adalah aqidah islamiyah.
jazakallah atas jawabannya.
wslm
Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh
@ Fauzul
Coba perhatikan hadits berikut ini, semoga antum bisa mengambil pelajaran darinya.
“Wahai Rasulullah, kami dulu berada dalam kesusahan lalu Allah mendatangkan kemudahan dan kami merasakannya. Apakah di balik kemudahan ini ada kesusahan lagi?” “Iya”, jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu aku bertanya lagi, “Apakah di balik kesusahan itu ada kemudahan lagi?” “Iya”, jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi.
Kemudian aku bertanya lagi, “Apakah di balik kemudahan itu ada kesusahan lagi?” “Iya”, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab sama.
Aku berkata lagi, “Lalu bagaimana (Wahai Nabi)?”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ».
“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”
Beliau bersabda,”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1847 )
lantas apakah yang dimaksud dg “dengar dan taat” adalah bahwa pemimpin yang dzalim itu tidak boleh diganti?
mohon jawaban yang applicable (bisa diterapkan), karena kalau hanya teori saja itu mudah diucapkan tapi tidak memberi solusi.
satu lagi, apakah kedzoliman itu bukan sebuah kemaksiatan?
Barokallahufiik,ana tunggu materi laNJUTANNYA
#Fauzul Mubin
Perkataan anda, seolah anda sedang mendebat sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: ‘Wahai Rasulullah, sabda anda tidak applicable’.
Semoga Allah memberi taufik.
Bukan saya hendak mendebat Rasulullah SAW. tp pemahaman yang konprehensif hendaknya kita miliki.
Sabda beliau kalau difahami sepotong2 dan tekstual semata, maka bisa bisa malah biikin kacau…..
sekarang gini.kita hidup di Indonesia. presiden hanya boleh menjabat maksimal 2 periode. seandainya sekarang SBY berbuat kerusakan (korupsi dll), apa yang akan anda lakukan pada 2014?
apakah akan tetap “mendengar dan taat” pada SBY?????
mohon dijawab…
@akhi Fauzul Mubin,
Cobalah cerna sabda Rasulullah yg disampaikan akhi Abduh diatas, dengar dan taat. Wong anda tinggal melaksanakan kok, pake bilang, “kalau teori mudah diucapkan tapi tidak memberi solusi.”
Hati-hati akh, jgn terlalu banyak mendebat ini dan itu ketika disampaikan suatu ayat atau hadits kepada kita.
Bertaqwalah pada Allah Ta’ala
Assalamulaikum Wr. Wb,
Saudara-saudaraku, jika boleh saya memberikan komentar :” bahwa pendapat saudara sebagai seorang muslim berdasarkan dalil Al-Quran dan Hadist adalah benar. Akan tetapi dalam Al Quran di katakan “Wal Aqibatul lil Mutaqin”, kesudahan itu atau akhirat itu adalah untuk orang-orang yang taqwa. Alangkah baiknya dalam kajian ini dengan hati yang dalam kita landasi dengan ketaqwaan kepada Allah SWT yang Insya Allah menjadi rahmah. Bukan begitu ustadz..? Salam untuk saudara-saudara ku semua. Wassalamualaikum Wr. Wb.
#Fauzul Mubin
Bukan tekstual, namun Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam itu sangat fasih berbicara dan dikaruniai jawami’ al kalim, ucapannya singkat namun padat, jelas dan gamblang. Kalau berbicara sesuatu namun yang maksud maknanya lain, pasti sudah dijelaskan oleh sabda beliau yang lain, atau dijelaskan oleh para sahabatnya. Jadi, pemahaman komprehensif bukanlah berusaha menerka-nerka adanya makna lain, atau bahkan menafsirkan sabda Nabi dengan makna lain. Yang demikian lebih tepatnya dikatakan ‘tidak sepakat dengan sabda Nabi’.
Mohon anda memperhatikan hal ini, termasuk iman kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam adalah mengimani sabda-sabdanya, tentu dengan pemahaman yang benar. Karena hal ini sangat mendasar, diskusi yang tidak didasari poin iman ini, adalah diskusi yang tercela dalam Islam. Semoga Allah Ta’ala memberi kita hidayah.
Tanpa pemerintah korupsi pun, Ahlussunnah sama sekali tidak setuju dengan sistem pemerintahan demokrasi. Namun tetap mendengar dan taat kepada hal yang ma’ruf, jika diperintahkan untuk berbuat maksiat tentu tidak boleh patuh.
subhanallah semoga diskusi ini selalu membawa kebaikan kepada kita semua….saudara2ku jadikanlah Al Quran dan AL Hadist sebagai dasar berhukum ibadah kita jangan pernah meragukan…!! karena apabila ada kebaikan yg dampaknya juga kebaikan tidak mungkin Rasulullah Muhammad SAW menyembunyikanya dari kita semua karena apa yang di lakukan Muhammad SAW adalah wahyu dari Allah JADI SEKALI LAGI jika ada suatu perbuatan baik di mata kita tetapi tidak pernah di contohkan oleh Muhammad Rasulullah dan para sahabatnya belum lah tentu perbuatan itu baik di mata Allah, karena HANYA ALLAH LAH YANG MAHA TAHU YANG MANA YANG LEBIH BAIK UNTUK HAMBA2NYA..KARENA BAIK DI MATA KITA BELUMLAH TENTU DAMPAKNYA JUGA BAIK UNTUK KITA, KITA TIDAK AKAN PERNAH TAHU HARI INI,SEKARANG ATAU BESOK ATAU SETELAH KITA WAFAT DAMPAK DARI PERBUATAN ITU SENDIRI……KEMBALILAH KEPADA ALQURAN DAN HADIST AGAR KITA BERSATU DAN KEMBALI BERJAYA..ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…ALLAHUAKBAR
mohon izin copy paste utk di share ke saudara2 yg lain. jazakallahu khairon katsiro