At Tauhid edisi V/2
Oleh: Yulian Purnama
Sungguh sayang sungguh malang, umat Islam di masa ini bak buih di lautan, banyak jumlahnya namun tercerai-berai. Heran bukan kepalang melihat fenomena ini, kita semua tahu bahwa Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam hanya 1 macam, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Ku” [Al-Anbiyaa : 92]. Namun mengapa hari ini Islam menjadi bermacam-macam? Aneh bukan?
Ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sedari dulu telah memperingatkan hal ini: “Telah berpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan ; dan telah berpecah kaum Nashara menjadi tujuh puluh dua golongan; sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah? ; Beliau menjawab: yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku di hari ini” [HR. Tirmidzi]. Namun lihatlah, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan bahwa ada 1 golongan yang selamat dari perpecahan yaitu orang-orang yang beragama dengan menempuh jalan Islam sebagaimana jalan Islam yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya pada masa itu. Dari sinilah muncul istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah istilah yang dilekatkan dengan sifat-sifat golongan yang selamat yang disebutkan dalam hadist di atas. Maka tak pelak lagi, istilah Ahlus Sunnah pun menjadi rebutan. Bahkan orang-orang yang menempuh jalan yang salah pun mengaku Ahlus Sunnah. Sehingga masyarakat awam yang sedikit menyentuh ilmu agama pun dibuat bingung karenanya, dan rancu dibuatnya, tentang siapakah sebenarnya Ahlus Sunnah itu?
Makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
Kata “Ahlussunnah” terdiri dari dua suku kata yaitu ’ahlu’ yang berarti keluarga, pemilik, pelaku atau seorang yang menguasai suatu permasalahan, dan kata ’sunnah’. Namun bukanlah yang dimaksud di sini sunnah dalam ilmu fiqih, yaitu perbuatan yang mendapat pahala jika dilakukan, dan tidak berdosa jika ditinggalkan. Akan tetapi sunnah adalah apa yang datang dari Nabi baik berupa syariat, agama, petunjuk yang lahir maupun yang bathin, kemudian dilakukan oleh sahabat, tabiin dan pengikutnya sampai hari Kiamat. Dengan demikian definisi Ahlus Sunnah adalah mereka yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan sunnah para shahabatnya. Sehingga Imam Ibnul Jauzi berkata,” Tidak diragukan bahwa orang yang mengikuti atsar (sunnah) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya adalah Ahlus Sunnah” (Lihat Talbisul Iblis hal. 16)
Sedangkan kata ”Al Jama’ah” artinya bersama atau berkumpul. Dinamakan demikian karena mereka bersama dan berkumpul dalam kebenaran, mengamalkannya dan mereka tidak mengambil teladan kecuali dari para sahabat, tabiin dan ulama–ulama yang mengamalkan sunnah sampai hari kiamat. Karena merekalah orang-orang yang paling memahami agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Namun yang perlu digaris-bawahi di sini adalah bahwa Al Jama’ah adalah orang-orang yang berada di atas kebenaran, bukan pada jumlahnya. Jumlah yang banyak tidak menjadi patokan kebenaran, bahkan Allah Ta’ala berfirman yang artinya: ”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” [Al An’am: 116]. Sehingga benarlah apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu: “Al-Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian” (Syarah Usuhul I’tiqaad Al Laalika-i no. 160).
Ringkasnya, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah orang-orang yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya, dan dalam memahami dan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tersebut mereka meneladani praktek dan pemahaman para sahabat, tabi’in dan orang yang mengikuti mereka. Dan makna ini sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tentang satu golongan yang selamat pada hadits di atas: ”yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku dihari ini”.
Pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
Mungkin setelah dijelaskan makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, sebagian orang masih rancu tentang siapakah sebenarnya mereka itu. Karena semua muslim, dari yang paling ’alim hingga yang paling awamnya, dari yang benar hingga yang paling menyimpang akan mengaku bahwa ia berjalan di atas jalannya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Maka dalam kitab Ushul Aqidah Ahlis Sunnah, Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dapat dikenal dengan dua indikator umum:
Perlu diketahui juga bahwa istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah muncul untuk membedakan ajaran Islam yang masih murni dan lurus dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan ajaran Islam yang sudah tercampur dengan pemikiran-pemikiran menyimpang seperti pemikiran Jahmiyah, Qodariyah, Syi’ah dan Khawarij. Sehingga orang-orang yang masih berpegang teguh pada ajaran Islam yang masih murni tersebut dinamakan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Imam Malik rahimahullah pernah ditanya : “Siapakah Ahlus Sunnah itu? Ia menjawab: Ahlus Sunnah itu mereka yang tidak mempunyai laqb (julukan) yang sudah terkenal. Yakni bukan Jahmiyah, bukan Qadariyah, dan bukan pula Syi’ah”. (Lihat Al-Intiqa fi Fadlailits Tsalatsatil Aimmatil Fuqaha. hal.35 oleh Ibnu Abdil Barr).
Walaupun pada kenyataannya orang-orang yang berpemikiran menyimpang tersebut, seperti Jahmiyah, Qodariyah, Syi’ah dan Khawarij juga sebagian mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Sehingga hal ini memicu para Imam Ahlus Sunnah untuk menjelaskan poin-poin pemahaman Ahlus Sunnah, agar umat dapat menyaring pemahaman-pemahaman yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah. Salah satunya dari Imam Ahlus Sunnah yang merinci poin-poin tersebut adalah Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam kitabnya Ushul As Sunnah. Secara ringkas, poin-poin yang dijelaskan Imam Ahmad tentang pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah diantaranya adalah:
Jangan salah membatasi
Imam Al Barbahari berkata: ”Ketahuilah bahwa ajaran Islam itu adalah sunnah dan sunnah itu adalah Islam” (Lihat Syarhus Sunnah, no 2). Maka pada hakikatnya pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah Islam itu sendiri dan ajaran Islam yang hakiki adalah pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Maka Ahlus Sunnah adalah setiap orang Islam dimana saja berada yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan pemahaman para sahabatnya. Jika demikian, sungguh keliru sebagian orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan batas-batas yang serampangan.
Telah keliru orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan suatu kelompok atau organisasi tertentu, seperti perkataan: ’Ahlus Sunnah adalah NU’ atau ’Ahlus Sunnah adalah Muhammadiyah’. Telah salah orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan majlis ta’lim atau ustadz tertentu dengan berkata: ’Ahlus Sunnah adalah yang mengaji di masjid A’ atau ’Ahlus Sunnah adalah yang mengaji dengan ustadz B’. Keliru pula orang yang membatasi dengan penampilan tertentu, misalnya dengan berkata ’Ahlus Sunnah adalah yang memakai gamis, celana ngatung dan berjenggot lebat. Yang tidak demikian bukan Ahlus Sunnah’. Tidak benar pula membatasi Ahlus Sunnah dengan fiqih misalnya dengan berkata ’Yang shalat shubuh pakai Qunut bukan Ahlus Sunnah’ atau ’Orang yang shalatnya memakai sutrah (pembatas) dia Ahlus Sunnah, yang tidak pakai bukan Ahlus Sunnah’. Dan banyak lagi kesalah-pahaman tentang Ahlus Sunnah di tengah masyarakat sehingga istilah Ahlus Sunnah mereka tempelkan pada kelompok-kelompok mereka untuk mengunggulkan kelompoknya dan berfanatik buta terhadap kelompoknya.
Adapun Ahlus Sunnah yang sejati tidak sibuk dengan label dan pengakuan, serta benci dengan semangat kekelompokkan. Sebagaimana perkataan Ibnu Qoyyim Al Jauziyah tentang Ahlus Sunnah: ”Sesuatu yang tidak mempunyai nama kecuali Ahlus Sunnah” (Lihat Madarijus Salikin III/174). Bahkan seorang Ahlus Sunnah menyibukkan diri dengan menerapkan sunnah dalam setiap aspek kehidupannya. Dan tidak ada gunanya seseorang mengaku-ngaku Ahlus Sunnah, sementara ia sibuk dengan melakukan bid’ah dan hal-hal yang bertentangan dengan sunnah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya ”Sesungguhnya Rabb-mu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia juga lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk” [An Najm: 30].
Semoga Allah Ta’ala senantiasa menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diberikan ni’mat, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan orang-orang tersesat. [Yulian Purnama]
Buletin terkait:
apakah kita harus pede bahwa ahlus sunnah adalah yang paling benar, selain itu adalah salah.
terus bagaimana misal ternyata yang benar itu adalah yang lain.
mohon pencerahannya ustadz
salam
#Khomsatun
Bukan ajaran Wahabi, tapi ajaran Islam yang benar.
#Falah
Maa diinukum ya akhi? Diinuna Al Islam.
#Halwa
Ya benar. Kita harus yakin bahwa metode beragama Ahlus Sunnah adalah yang benar. Karena metode beragama Ahlus Sunnah itu merujuk pada Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat.
Nah, yang selain Ahlus Sunnah merujuk pada pada siapa? Adakah yang lebih benar dari Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat?
يا مقلب القلوب ثبت قلوبانا علي دينك
memamng benar yang dikatakan penulis, masalah terbesar di negeri ini adalah, jika dikalangan ulama mengakui perbedaan adalah sebagian dari rohmat, beda dengan orang-orang yang hidup dimasyarakat yang menganggap golongan/benderanyalah yang paling benar. ( diatas bersatu di bawah sangat renggang sekali jaraknya).
masalah semacam ini yang menghancurkan umat islam.
assalamua’alaikum..
bagaimana tanggapan dengan tidak memihak tentang salafi? beberapa website baik itu di indonesia maupun di saudi mengklaim jalan salafi adalah ahlusunnah wal jama’ah.. bahkan sebagian mereka tidak membenarkan para imam dan mahzab para imam tersebut.
wassalam..
kalo kita tidak membatasi mana yg ahlu sunnah dan mana yang bukan, bisa2 kita terus menerus ikut bid’ah yg dilakukan oleh sebagian besar umat. Dengan berusaha mengenali mana kelompok/pengajian yg ahlu sunnah, maka kita bisa ikut belajar Islam yg benar. Tentunya untuk mengenali harus ada ciri2 yg membedakan, seperti qunut subuh, kalau dilakukan terus menerus maka ini adalah bukan ahlu sunnah. Jadi benar memang ahlu sunnah tidak dibatasi oleh kelompok2 tertentu tetapi dibatasi oleh sunnah itu sendiri. Kalau jenggot dan celana katung adalah sunnah, maka di kelompok manapun dia, maka dia adalah ahlu sunnah. Tetapi kalau tidak maka bukan ahlu sunnah meskipun tidak mengaku ikut kelompok apapun.
Anda benar bahwa memang ada hal-hal yang menjadi ciri Ahlussunnah yang dapat digunakan untuk membedakan diri dengan yang selain Ahlussunnah.
Namun, yang anda sebutkan itu tidak benar. Tidak ada ulama yang menjadikan Qunut shubuh sebagai patokan jati diri Ahlussunnah. Bahkan Imam Asy Syafi’i mengatakan hukumnya sunnah. Lalu apakah Imam Asy Syafi’i bukan Ahlussunnah?
Celana tidak isbal dan jenggot itu memang termasuk sunnah Nabi, namun bukan patokan jati diri Ahlussunnah. Bahkan betapa banyak Ahlul Bid’ah yang berjenggot, tidak isbal, istrinya bercadar, dll. Ingat, kaum khawarij itu Ahlul Bid’ah namun mereka sangat kencang dalam beragama.
Setiap muslim itu pada asalnya Ahlussunnah, sampai kita tahu bukti penyimpangan aqidah dan manhajnya.
Pemahaman para sahabat. siapa sahabat yang wajib untuk di ikuti dan sahabat yang mana, yang benar-benar memahami alquran seluruhnya ?
wassalam,
Assalamualaikum…
Komentar anda ttg Qunut,janggut,& celana kutung,jadi ambivalent atau standart ganda sodaraku,krn yg disampaikan itu adlh sunnah Rasulullah jd kenapa hrs memilah2,bgm kita myntkan kita ahlusunnah klu kita memilah2nya,lalu anda menyatakan(janggut,celana kutung) itu bkn jati diri ahlusunnah?Nah..Lho..padahal itu perintah Rasulullah,tdk ada pertentangan ulama & semua ulama sepakat.
Perbedaan dikatakan rahmat kala perbedaan itu dapat menyebabkan meningkatnya pemahaman dan kecintaan kepada Alloh dan RasulNya. Jika semua masalah dikembalikan kepada AlQuran dan Al Hadist (yang sahih tentunya) insya Alloh tidak ada perpecahan dan kaum muslim benar2 merupakan 1 tubuh..janganlah nama golongan atau ketaatan kepada seseorang melebihi dari pengabdian kepada Alloh dan RasulNya..karena sebenarnya Alloh yang menyatukan umat muslim bukan semata2 makhluk tersebut yang ingin menyatukan..jika akhlak rasulullah sudah menyatu kepada diri setiap muslim maka persatuan akan dengan mudah terwujud insya Alloh …amien