Salah Paham Tentang Salafi

At Tauhid edisi V/18

Oleh: Yulian Purnama

Pepatah lama mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang”. Demikianlah, kadang seorang membenci sesuatu, padahal ia tidak mengenal apa yang ia benci itu. Bisa jadi bila ia mengenalnya, bukan benci namun cinta yang diberikan. Demikianlah yang terjadi pada dakwah Salafiyah atau disebut juga Salafi. Banyak orang bergunjing tentang Salafi, padahal ia tidak mengenal bagaimana sebenarnya Salafi atau dakwah salaf itu. Hasilnya, timbullah tuduhan dan anggapan-anggapan buruk yang keji. Bahkan sampai ada yang menuduh bahwa Salafi adalah aliran sesat! Sungguh Allah-lah tempat memohon pertolongan.

Kenalilah Istilah Salafi

Salaf secara bahasa arab artinya ‘setiap amalan shalih yang telah lalu; segala sesuatu yang terdahulu; setiap orang yang telah mendahuluimu, yaitu nenek moyang atau kerabat’ (Lihat Qomus Al Muhith, Fairuz Abadi). Secara istilah, yang dimaksud salaf adalah 3 generasi awal umat Islam yang merupakan generasi terbaik, seperti yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, “Sebaik-baik umat adalah generasiku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya” (HR. Bukhari-Muslim)

Tiga generasi yang dimaksud adalah generasi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat, generasi tabi’in dan generasi tabi’ut tabi’in. Sering disebut juga generasi Salafus Shalih. Tidak ada yang meragukan bahwa merekalah orang-orang yang paling memahami Islam yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Maka bila kita ingin memahami Islam dengan benar, tentunya kita merujuk pada pemahaman orang-orang yang ada pada 3 generasi tersebut. Seorang sahabat yang mulia, Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu berkata, “Seseorang yang mencari teladan, hendaknya ia meneladani para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam karena mereka adalah orang-orang yang paling mulia hatinya, paling mendalam ilmunya, paling sedikit takalluf-nya, paling benar bimbingannya, paling baik keadaannya, mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk menjadi sahabat Nabi-Nya, dan untuk menegakkan agamanya. Kenalilah keutamaan mereka. Ikutilah jalan hidup mereka karena sungguh mereka berada pada jalan yang lurus.” (Limaadza Ikhtartu Al Manhaj As Salafi Faqot, Salim bin ‘Ied Al Hilaly)

Kemudian dalam kaidah bahasa arab, ada yang dinamakan dengan isim nisbah, yaitu isim (kata benda) yang ditambahkan huruf ‘ya’ yang di-tasydid dan di-kasroh, untuk menunjukkan penisbatan (penyandaran) terhadap suku, negara asal, suatu ajaran agama, hasil produksi atau sebuah sifat (Lihat Mulakhos Qowaid Al Lughoh Ar Rabiyyah, Fuad Ni’mah). Misalnya yang sering kita dengar seperti ulama hadits terkemuka Al-Bukhari, yang merupakan nisbah kepada kota Bukhara (nama kota di Uzbekistan) karena Al-Bukhari memang berasal dari sana. Ada juga yang menggunakan istilah Al-Hanafi, berarti menisbahkan diri pada madzhab Hanafi. Maka dari sini dapat dipahami bahwa Salafi maksudnya adalah orang-orang yang menisbahkan (menyandarkan) diri kepada generasi Salafus Shalih. Atau dengan kata lain “Salafi adalah mengikuti pemahaman dan cara beragama para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka”. (Kun Salafiyyan ‘Alal Jaddah, hal. 10)

Sehingga dengan penjelasan ini jelaslah bahwa orang yang beragama dengan mengambil sumber ajaran Islam dari 3 generasi awal umat Islam tadi, DENGAN SENDIRINYA ia seorang Salafi. Tanpa harus mendaftar, tanpa berbai’at, tanpa iuran anggota, tanpa kartu anggota, tanpa harus ikut pengajian tertentu, dan tanpa harus memakai busana khas tertentu. Maka Anda yang sedang membaca artikel ini pun seorang Salafi bila anda selama ini mencontoh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabatnya dalam beragama.

Jika pembaca sekalian memahami penjelasan di atas, maka seharusnya telah jelas bahwa dakwah salafiyyah adalah Islam itu sendiri. Dakwah Salafiyyah adalah Islam yang hakiki. Mengapa? Karena dari manakah kita mengambil sumber pemahaman Al Qur’an dan hadits selain dari para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam? Apakah ada sumber lain yang lebih terpercaya? Apakah Islam dipahami dengan selera dan pemahaman masing-masing orang? Bahkan jika seseorang dalam memahami Al Qur’an dan hadits mengambil sumber dari yang lain, maka dapat dipastikan ia telah mengambil jalan yang salah. Syaikh Salim Bin ‘Ied Al Hilaly setelah menjelaskan surat An Nisa ayat 115 berkata, “Dengan ayat ini jelaslah bahwa mengikuti jalan kaum mu’minin adalah jalan keselamatan. Dan ayat ini dalil bahwa pemahaman para sahabat mengenai agama Islam adalah hujjah terhadap pemahaman yang lain. Orang yang mengambil pemahaman selain pemahaman para sahabat, berarti ia telah mengalami penyimpangan, menapaki jalan yang sempit lagi menyengsarakan, dan cukup baginya neraka Jahannam yang merupakan seburuk-buruk tempat tinggal.” (Limaadza Ikhtartu Al Manhaj As Salafi Faqot, Salim bin ‘Ied Al Hilaly)

Salah Kaprah Tentang Salafi

Di tengah masyarakat, banyak sekali beredar syubhat (kerancuan) dan kalimat-kalimat miring tentang Salafi. Dan ini tidak lepas dari dua kemungkinan. Sebagaimana dijelaskan Syaikh ‘Ubaid bin Sulaiman Al Jabiri ketika ditanya tentang sebuah syubhat, “Kerancuan tentang Salafi yang berkembang di masyarakat ini tidak lepas dari 2 kemungkinan: Disebabkan ketidak-pahaman atau disebabkan adanya i’tikad yang buruk. Jika karena tidak paham, maka perkaranya mudah. Karena seseorang yang tidak paham namun i’tikad baik, jika dijelaskan padanya kebenaran ia akan menerima, jika telah jelas baginya kebenaran dengan dalilnya, ia akan menerima. Adapun kemungkinan yang kedua, pada hakikatnya ini disebabkan oleh fanatik golongan dan taklid buta, -dan ini yang lebih banyak terjadi- dari orang-orang ahlul ahwa (pengikut hawa nafsu) dan pelaku bid’ah yang mereka memandang bahwa manhaj salaf akan membuka tabir penyimpangan mereka.” (Ushul Wa Qowa’id Fii Manhajis Salafi, Syaikh ‘Ubaid bin Sulaiman Al Jabiri )

Dalam kesempatan kali ini akan kita bahas beberapa kerancuan tersebut.

1. Salafi Bukanlah Sekte, Aliran, Partai atau Organisasi Massa

Sebagian orang mengira Salafi adalah sebuah sekte, aliran sebagaimana Jama’ah Tabligh, Ahmadiyah, Naqsabandiyah, LDII, dll. Atau sebuah organisasi massa sebagaimana NU, Muhammadiyah, PERSIS, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, dll. Ini adalah salah kaprah. Salafi bukanlah sekte, aliran, partai atau organisasi massa, namun salafi adalah manhaj (metode beragama), sehingga semua orang di seluruh pelosok dunia di manapun dan kapanpun adalah seorang salafi jika ia beragama Islam dengan manhaj salaf tanpa dibatasi keanggotaan.

Sebagian orang juga mengira dakwah Salafiyyah adalah gerakan yang dicetuskan dan didirikan oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab. Ini pun kesalahan besar! Dijelaskan oleh Syaikh ‘Ubaid yang ringkasnya, “Dakwah salafiyyah tidak didirikan oleh seorang manusia pun. Bukan oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab bersama saudaranya Imam Muhammad Bin Su’ud, tidak juga oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya, bukan pula oleh Imam Mazhab yang empat, bukan pula oleh salah seorang Tabi’in, bukan pula oleh sahabat, bukan pula oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, dan bukan didirikan oleh seorang Nabi pun. Melainkan dakwah Salafiyah ini didirikan oleh Allah Ta’ala. Karena para Nabi dan orang sesudah mereka menyampaikan syariat yang berasal dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tidak ada yang dapat dijadikan rujukan melainkan nash dan ijma” (Ushul Wa Qowaid Fii Manhajis Salaf)

Oleh karena itu, dalam dakwah salafiyyah tidak ada ketua umum Salafi, Salafi Cabang Jogja, Salafi Daerah, Tata tertib Salafi, AD ART Salafi, Alur Kaderisasi Salafi, dan tidak ada muassis (tokoh pendiri) Salafi. Tidak ada pendiri Salafi melainkan Allah dan Rasul-Nya, tidak ada AD-ART Salafi melainkan Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat.

2. Salafi Gemar Mengkafirkan dan Membid’ahkan?

Musuh utama seorang muslim adalah kekufuran dan kesyirikan, karena tujuan Allah menciptakan makhluk-Nya agar makhluk-Nya hanya menyembah Allah semata. Allah Ta’ala berfirman, “Sungguh kesyirikan adalah kezaliman yang paling besar” [QS. Luqman: 13]. Setelah itu, musuh kedua terbesar seorang muslim adalah perkara baru dalam agama, disebut juga bid’ah. Karena jika orang dibiarkan membuat perkara baru dalam beragama, akan hancurlah Islam karena adanya peraturan, ketentuan, ritual baru yang dibuat oleh orang-orang belakangan. Padahal Islam telah sempurna tidak butuh penambahan dan pengurangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim)

Maka tentu tidak bisa disalahkan ketika ada da’i yang secara intens mendakwahkan tentang bahaya syirik dan bid’ah, mengenalkan bentuk-bentuk kesyirikan dan kebid’ahan agar umat terhindar darinya. Bahkan inilah bentuk sayang dan perhatian terhadap umat.

Kemudian, para ulama melarang umat Islam untuk sembarang memvonis bid’ah, sesat apalagi kafir kepada individu tertentu. Karena vonis yang demikian bukanlah perkara remeh. Diperlukan timbangan Al Qur’an dan As Sunnah serta memperhatikan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh para ulama dalam hal ini. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata, “Dalil-dalil terkadang menunjukkan bahwa perbuatan tertentu adalah perbuatan kufur, atau perkataan tertentu adalah perkataan kufur. Namun di sana terdapat faktor yang membuat kita tidak memberikan vonis kafir kepada individu tertentu (yang melakukannya). Faktornya banyak, misalnya karena ia tidak tahu, atau karena ia dikalahkan oleh orang kafir dalam perang.” (Fitnah At Takfir, Muhammad Nashiruddin Al Albani)

Dari sini jelaslah bahwa menjelaskan perbuatan tertentu adalah perbuatan kufur bukan berarti memvonis semua pelakunya itu per individu pasti kafir. Begitu juga menjelaskan kepada masyarakat bahwa perbuatan tertentu adalah perbuatan bid’ah bukan berarti memvonis pelakunya pasti ahlul bid’ah. Syaikh Abdul Latif Alu Syaikh menjelaskan: “Ancaman (dalam dalil-dalil) yang diberikan terhadap perbuatan dosa besar terkadang tidak bisa menyebabkan pelakunya per individu terkena ancaman tersebut” (Ushul Wa Dhawabith Fi At Takfir, Syaikh Abdul Latif bin Abdurrahman Alu Syaikh)

3. Salafi Memecah-Belah Ummat?

Untuk menjelaskan permasalahan ini, perlu pembaca ketahui tentang 3 hal pokok. Pertama, perpecahan umat adalah sesuatu yang tercela. Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya, “Berpegang teguhlah pada tali Allah dan jangan berpecah-belah” (QS. Al-Imran: 103). Kedua, perpecahan umat adalah suatu hal yang memang dipastikan terjadi dan bahkan sudah terjadi. Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, “Umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku di hari ini” [HR. Tirmidzi]. Ketiga, persatuan Islam bukanlah semata-mata persatuan badan, kumpul bersama, dengan keadaan aqidah yang berbeda-beda. Mentoleransi segala bentuk penyimpangan, yang penting masih mengaku Islam. Bukan itu persatuan Islam yang diharapkan. Perhatikan baik-baik hadits tadi, saat umat Islam berpecah belah seolah-olah Rasulullah memerintahkan untuk bersatu pada satu jalan, yaitu jalan yang ditempuh oleh para sahabat, inilah manhaj salaf.

Sehingga ketika ada seorang yang menjelaskan kesalahan-kesalahan dalam beragama yang dianut sebagian kelompok, aliran, partai atau ormas Islam, bukanlah upaya untuk memecah belah ummat. Melainkan sebuah upaya untuk mengajak ummat BERSATU di satu jalan yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tersebut. Bahkan adanya bermacam aliran, sekte, partai dan ormas Islam itulah yang menyebabkan perpecahan ummat. Karena mereka tentu akan loyal kepada tokoh-tokoh mereka masing-masing, loyal kepada peraturan mereka masing-masing, loyal kepada tradisi mereka masing-masing, bukan loyal kepada Islam!!

Selain itu, jika ada saudara kita yang terjerumus dalam kesalahan, siapa lagi yang hendak mengoreksi kalau bukan kita sesama muslim? Tidak akan kita temukan orang kuffar yang melakukannya. Dan bukankah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Agama adalah nasehat” (HR. Muslim). Dan jika koreksi itu benar, bukankah wajib menerimanya dan menghempas jauh kesombongan? Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR. Muslim)

4. Salafi Aliran Sesat?

Orang yang menuduh dakwah salafiyyah sebagai aliran sesat, seperti dijelaskan oleh Syaikh Ubaid, bisa jadi ia memang orang awam yang belum mengenal apa itu salafi, atau bisa jadi ia orang benci kepada dakwah salafiyyah karena dakwah ini telah membuka tabir yang selama ini menutupi penyimpangan-penyimpangan yang dimilikinya.

Anggapan ini sama sekali tidak benar karena dua hal. Pertama, dakwah salafiyyah bukan aliran atau sekte tertentu dalam Islam, sebagaimana telah dijelaskan. Kedua, sebagaimana telah diketahui bahwa sesuatu dikatakan tersesat jika ia telah tersasar dari jalan yang benar, dan menempuh jalan yang salah. Maka bagi yang menuduh hendaknya mendatangkan bukti bahwa dakwah salafiyyah menyimpang dari ajaran Al Qur’an dan As Sunnah yang benar. Niscaya mereka tidak akan bisa mendatangkan buktinya.

Sebagaimana yang dijelaskan Majelis Ulama Indonesia Jakarta Utara dalam menanggapi kalimat-kalimat miring yang menuduh bahwa salafi adalah aliran sesat, dalam surat edaran MUI Jakarta Utara tanggal 8 April 2009 berjudul “Pandangan MUI Kota Administrasi Jakarta Utara tentang Salaf/Salafi”. Dalam surat edaran tersebut ditetapkan:

a) Pertama, penjelasan tentang Salaf/Salafi:

  1. Salaf/Salafi tidak termasuk ke dalam 10 kriteria sesat yang telah ditetapkan oleh MUI. Sehingga Salaf/Salafi bukanlah merupakan sekte atau aliran sesat sebagaimana yang berkembang belakangan ini,
  2. Salaf/Salafi adalah nama yang diambil dari kata salaf yang secara bahasa berarti orang-orang terdahulu, dalam istilah adalah orang-orang terdahulu yang mendahului kaum muslimin dalam Iman, Islam dst. mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka,
  3. Penamaan salafi ini bukanlah penamaan yang baru saja muncul, namun sejak dahulu ada,
  4. Dakwah salaf adalah ajakan untuk memurnikan agama Islam dengan kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah dengan menggunakan pemahaman para sahabat Radhiallahu’anhum.

b) Kedua, nasehat dan tausiah kepada masyarakat:

  1. Hendaknya masyarakat tidak mudah melontarkan kata sesat kepada suatu dakwah tanpa di klarifikasi terlebih dahulu,
  2. Hendaknya masyarakat tidak terprovokasi dengan pernyataan-pernyataan yang tidak bertanggung jawab,
  3. Kepada para da’i, ustadz, tokoh agama serta tokoh masyarakat hendaknya dapat menenangkan serta memberikan penjelasan yang objektif tentang masalah ini kepada masyarakat,
  4. Hendaknya masyarakat tidak bertindak anarkis dan main hakim sendiri, sebagaimana terjadi di beberapa daerah.

(Surat edaran MUI, “Pandangan MUI Kota Administrasi Jakarta Utara tentang Salaf/Salafi”, 8 April 2009, file ada pada redaksi)

Nasihat Untuk Ummat

Terakhir, agama adalah nasehat. Maka penulis menasehati diri sendiri dan kaum muslimin sekalian untuk menjadi Salafi. Bagaimana caranya? Menjadi seorang Salafi adalah dengan menjalankan Islam sesuai dengan apa yang telah dituntunkan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan dipahami oleh generasi Salafus Shalih. Dan wajib hukumnya bagi setiap muslim untuk ber-Islam dengan manhaj salaf. Ibnul Qayyim Al Jauziyyah berkata: “Para sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam semua diampuni oleh Allah. Wajib mengikuti metode beragama para sahabat, perkataan mereka dan aqidah mereka sebenar-benarnya” (I’lamul muwaqqi’in, (120/4), dinukil dari Kun Salafiyyan ‘Alal Jaddah, Abdussalam Bin Salim As Suhaimi)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diberikan ni’mat, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan orang-orang tersesat. [Yulian Purnama]

89 thoughts on “Salah Paham Tentang Salafi

  1. dalam memahami dalil, digunakan 2 pendekatan: tekstual dan kontekstual.
    nah, salafy menggunakan yang mana?
    mohon dijelaskan…..

  2. Ada pernyataan anda yang membuat saya bingung:
    #Zein
    Yang saya tangkap, anda masih memiliki frame berpikir bahwa salafy itu nama kelompok atau aliran, Ahlus Sunnah itu nama kelompok atau aliran. Frame berpikir ini yang membuat anda bingung.
    berarti anda mengatakan salafi bukan kelompok atau aliran..tapi saya dapat info di jogja misalnya ada banyak kelompok salafi misalnya: salafi ust abu nida, salafi ust Ja’far Umar Thalib, Salafi al hasanah (pengajiannya di masjid al hasanah terban, dekat MIPA UGM)..anda sendiri yang mana?

  3. #wahyu
    Salah-benar itu tidak dilihat dari kelompok apa atau pengajian mana. Salah-benar dilihat dari dalil. Orang yang mengelompokkan demikian, jelas ia belum paham apa itu salafi.

  4. #Fauzul Mubin,
    Manhaj salaf pertengahan diantara keduanya, tidak mutlak tekstual, dan tidak berdalil dengan konteks, namun memahami teks dalil dengan pemahaman generasi salaf.

  5. @ Uut
    krn dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa mereka masih “umatku”, jd 72 golongan itu masih muslim. Berarti kalau kafir, tdk masuk di dalamnya,

  6. kok banyak orang muter2 dan bingung ya? padahal kalo mau berISLAM, ya pake cara NABI & selanjutnya para sahabat..la wong yang bawa syariat ALLAH di muka bumi ini NABI MUHAMMAD dan yang belajar langsung dari nabi khan para sahabat. kalo cara2 sekarang justru banyak yang aneh.. yang ngga ada dipaksain ada, menyesuaikan adat-lah katanya.. padahal dengan syariat yang dibawa nabi aja belum pada sanggup melaksanakan semuanya.. eh, malah berani2nya nambahin dgn acara2 yang Nabi sendiri tidak pernah mengadakannya (katanya sayang nabi, eh kalo shalat shubuh ngga ada jamaahnya..tapi kalo maulid..waduh bujug buneng..masjid penuh, padahal yang Nabi suruh tuh shalat shubuh berjamaah di masjid, bukan ngerayain ultah-nya) mengenai situs SALAFY TOBAT.. waduh itu situs bukannya TOBAT malah KUMAT..

  7. Ust. Kalau menyimak isi artikel dan pertanyaan yang berkembang, menurut saya hanya satu yang membuat semuanya menjadi terlihat berbeda.

    Yang menjadi terlihat berbeda adalah karena kita mengkotak kan “Kata Salafi” dalam banyak hal.

    Seharusnya dengan tanpa menyebut “kata Salafi” dalam banyak hal, maka umat islam bisa lebih majemuk dan bersatu.

    Disadari atau tidak oleh Ust. Yulian dan yang mungkin juga yang lainya bahwa mengapa saat ini sangat gencar beredar istilah “kelompok salafi” atau kelompok lainnya, adalah lebih dikarenakan cara berdakwah yang terlalu terkotak kotak.

    Dalam benak saya berdakwah sama dengan mendidik, sehingga yang baik adalah berdakwah/mendidik dengan cara yang dapat diterima oleh semua lapisan manusia dengan keberagaman kemampuan pemahaman terhadap sebuah dakwah/pendidikan itu sendiri.

    Sebagai contoh, bagaimana masyarakat saat ini menilai, bahwa yang baik dan benar dalam menyekolahkan anak kita ialah dengan mengirimnya pada SD Islam, bukan SD Negeri atau SD Swasta lainnya. Pemikiran seperti inilah yang kemudian membuat masyarakat kita menjadi terkotak kotak.

    Dalam kehidupan masyarakat yang berkembang saat ini, sangat kecil sekali masyarakat yang dapat mencerna setiap perintah/ajaran/dakwah/pendidikan yang disampaikan dengan cara yang “memaksakan” walau masyarakat itu sendiri paham bahwa memang itulah yang sebenarnya harus dilakukan.

    Karena ketidaksesuaian pemahaman inilah menyebabkan kita semua umat islam menjadi terkotak kotak.

    Marilah kita bangun dakwah/pendidikan dengan cara yang lebih indah tanpa harus menonjolkan satu kata atau kalimat, sehingga tidak terjadi kotak kotak baru dalam islam.

    Karena pada hakikatnya, yang baik dan benar adalah yang menjalankan semua perintah Alloh SWT sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an dan dijabarkan lebih detail melalui Sunnah Rasulullow SAW dan Al Hadits.

  8. Aslmkm. wrwb.alhamdulillahirabbilalamin. Mudah2an ustadz Abu, ustadz Yulian, dll, bisa istiqomah utk santun, sabar dan cerdas dalam berdakwah. Insya Allah tulisan yg bermanfaat dalam memahami agama.

  9. Memang kebanyakan penghujatan terhadap Manhaj Salaf terjadi karena keawaman dan ketidak tahuan sebagian besar orang, ditambah provokasi media yang membabi buta.. Jadi bagi para Salafiyyun dan para Ulama Salaf, jangan pernah berhenti dalam menyebarkan yang haq, bersabar dan tetap istiqamah dalam mendakwahkan jalan terang ini.. Kalaupun ada yang belum mengerti dan ‘ngeyel’, masih bisa dituntun.. Kepada Ustadz Yulian, syukran artikel di atas sangat bermanfaat sekali buat ana pribadi yang masih belajar tentang Manhaj Salaf. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu merahmati dan memberikan kesabaran pada Ustadz dalam menjalani amar ma’ruf nahi munkar.. Aamiin.

  10. #indra
    Saya kira dugaan anda kurang tepat. Karena pada kenyataannya dikalangan ikhwah yang menisbatkan diri pada salaf jarang sekali menggunakan istilah ‘salafi’ kepada orang awam.

    Dan istilah salafi sendiri bukanlah istilah yang mereka buat sendiri sebagai label dari sebuah kelompok. Istilah ini sudah digunakan oleh para orang-orang sejak zaman dahulu untuk menyebut setiap muslim yang beragama dengan mengikuti petunjuk generasi salaf. Justru orang-orang yang tidak paham makna istilah salafi lah yang membuatnya seolah menjadi sebuah ‘kotak’ lalu merekalah yang mengkotak-kotakan dengan mengira bahwa salafi itu semacam ikhwanul muslimin, semacam NU, semacam Muhammadiyah, dll.

    Ketidak-sesuaian pemahaman yang anda maksud mungkin lebih tepatnya kita katakan ‘ketidakpahaman’ saja. Karena setiap pendakwah sudah semestinya mendakwahkan kebenaran dan bisa mempertanggung-jawabkan secara ilmiah apa yang ia dakwahkan. Sehingga ketidak-sesuaian pemahaman ini bisa disesuaikan secara ilmiah dengan merujuk sumber-sumber ilmu induk umat Islam, dengan mengedepankan dalil. Inilah sesungguhnya dakwah: ilmu dan ilmiah. Namun kenyataannya, tantangan terbesar dakwah adalah ummat Islam yang masih banyak belum paham terhadap Islam itu sendiri.

    Menanggapi paragraf terakhir komentar anda. Anda sangat diterima kritiknya, jika dakwah salaf ternyata bukan mendakwahkan apa yang ada dalam Al Qur’an dan Sunnah, atau bukan melarang yang dilarang oleh Qur’an dan Sunnah.

  11. Ajakan pada orang lain adalah maukah kamu bersrah diri. jadilah orang muslim. muslim adalah mentaati Allah dan taat rasulNya. Hai saudara muslim tetaplah muslim dan tingkatkan kemuslimanmu,tingkatkan takwa pada Allah amalkan 2:1-5.Dan janganlah kamu hancurkan muslimanmu dengan sadar,atau tanpa ilmu, spt mencampuri akidahmu dgn akidah lain, atau merusak amalmu dgn amalan2 campuran dg aturan agama lain atau sangkaan2 tadisi. Seorang Muslim tidak akan berubah walau namanya bukan bhs arab.silahkan nama yg brmakna baik. orang muslim tetap muslim walau tidak/belum tau ttg salafi.dan baru tau ttg syahadat dan amalan islam, sorang muslim tidak gugur walau dia brorganisasi yang sesui dengan nilai2 islam (Quran dan Al Hadis Nabi), tanpa mengaku salafi.Unsur beragama adalah Al Iman, al islam, alihsan,.Maka muslim harus beriman, berislam dan ihsan. dasarnya utama adalah syahadatin. kmudian mengamalkan kelanjutan dari 2 prsaksian tsb. Bolehkan kita mengatakan marilah kita dakwahkan syahaddatain. Bolehkan kita cerahkan insan lain dg sebutan manhaj sahadah ( mohon diluruskan ). Namun manakala hidupnya bertentangan dg syahadat tsb, tercemarlah amalan itu, bahhkan bila segi akidahnya ada syiriknya akan gugurlah kemuslimannya ( bisakah sy berpandangan dmikian).ini ringan2 saja. bagaimana mncerahkan pada sdr kita yang lain di masyarakat bawah. amaliyah yg nalar ilmiah dan yang nalar ilmiah amaliyah. subhanallah. 3:64. Ishadu bi anna muslimun.

  12. assalaamu`alaikum wr wb, apakah seorang yang menempuh jalan para shalafusshalih tidak dapat aktif dalam organisasi tertentu,spt ikhwanul muslimin,Muhammadiyyah dll? syukran awwalan ustadz.

  13. #umj
    wa’alaikumussalam. Berorganisasi hukum asalnya mubah, boleh-boleh saja. Namun di zaman ini banyak ‘organisasi Islam’ yang gerakannya, visinya, manhajnya tidak sesuai dengan pemahaman salafus shalih bahkan mereka mengajak kepada fanatik organisasi dan fanatik semacam ini tidak dibenarkan oleh salafus shalih.

  14. assalamu’alaikum… terimakasih infonya… ana minta ijin nge-share ya… terimakasih…
    jazakumullah khoiron…

  15. Assalaamu’alaikum, Wr, Wb.
    Ust Yulian, alhamdulillah akhirnya diskusi kita bisa bersambung walau cukup lama menanti.

    Saya sangat sepakat dengan apa yang Ust sampaikan mengenai “ketidaksesuaian pemahaman” menjadi “ketidakpahaman” seperti yang ust jabarkan.

    Permasalahan yang real kita hadapi saat ini adalah bagaimana menyampaikan sesuatu yang benar dan harus dilakukan dengan cara yang mudah di pahami dan dilakukan oleh semua umat. Artinya, tantangan saat ini yang paling besar adalah bagaimana mengkomunikasikan Apa yang ada dan apa yang dilarang dalam Al Qur’an dan Sunnah dengan cara yang bisa diterima semua kalangan umat tanpa harus membuatnya takut atau tersakiti.
    Walau pada hakikatnya kita tidak perlu takut kehilangan umat dalam menyampaikan sesuatu yang ada dan dilarang dalam Al Qur’an dan Sunnah. Hanya menurut saya mengajak banyak umat akan tetap lebih baik ketimbang sedikit.

    Pengkotakan itu terjadi karena adanya perbedaan kemampuan setiap umat dalam memahami sebuah pemahaman. Ditambah lagi jika perbedaan kemampuan itu kemudian membuat umat yang tadinya ingin belajar memahami lebih mendalam, menjadi takut.

    Insya Alloh, Ust Yulian dan yang lain sangat memahami bagaimana memakmurkan dalam keberagaman pemahaman umat.

    Saya hanya terinpirasi oleh cerita Rosululloh SAW, ketika beliau berta’ziah dan mengobati umat yang biasanya menghardik dan menghina Rosulullo SAW.

  16. Asslamu’alaikum, numpang urun pengetahuan, siapa saja yang berpegang kepada quran dan sunah insya Allah termasuk dalam ahlu-sunnah..jika dia jarum diantara jerami sementara yang diyakini dan dilaksanakan menurut quran dan sunnah insya Allah dia ahlu sunnah. kumpulan orang yang berjalan diatas quran dan as-sunah, mereka adalah ahlu-sunnah ya para salaf..kewajiban umat islam sudah dijelaskan dalam quran, menjalankan syariat, hukum dan aturan, termasuk jihad, dan mempersiapkan/berlatih perang..mereka insya Allah ahlu-sunnah, bahkan Rasulullah sendiri diperintah untuk berjihad..jika tidak ada sebertik hasrat untuk berjihad dijalan Allah maka bisa jadi bukanlah gol ahlu-sunnah.. menuduh yang lain kafir, sesuangguhnya pada saat hisab akan ditunjukkan siapa yang sesungguhnya telah kafir…jamaah adalah perwujudan politik dimana ma’mum taat kepada pemimpin/imam, meraka rukuk/tunduk dan sujud/taat kepada Allah ta’alla(hukum dan aturan) jika sudah ada shaf terdahulu maka jika datang sendiri atau berkelompok maka wajib masuk dalam shaf itu.maka carilah benang merah garis kekhalifahan dengan mempelajari sejarah islam dan perkembangannya hingga di Indonesia..sebenarnya benang merah itu tetap ada sampai akhir jaman, merekalah insya Allah pengikut ahlu-sunnah..wallahu a’lam

  17. Assalamualaikum wr.wb.

    Ya ikhwah fillah. masalah ini ga akan selesai karena memang sudah menjadi sunnatulloh perbedaan itu ada sejak zaman Sahabat. yang penting sekarang ayo kita sama2 berlomba2 dalam menta’ati Alooh dan rosulnya. bukan saling mencari pembenaran dengan dalil2 yang sama2 kita pakai dan amalkan. kalo emang mau mengikuti cara rosululloh saw. harus totalitas ga boleh pilih2. saya baca dalam sejarah nabi berda’wah sangat santun. baik di hadapan musuh atw sahabatnya. banyak kisah dalam sejarah rosululloh yang bisa kita ambil hikmah bukan hanya salaing menyalahkan dan saling menyesatkan. karena pada dasarnya kita bukanlah 10 sahabat yang di jamin masuk syurga. atw para imam madzahab yang dalam usia di bawah 10 tahun sdh hafidz. na’udzubilah min dzalik jangan sampai kita menyesatkan saudara kita yang sama2 muslim hatta berdosa. apalagi sampai meng KAFIRKAN. mari kita bermuhasabah.
    1. Apakah kita sudah yakin dengan jaminan surga dari Alloh. sampai2 kita mencap saudara seiman kita dengan kata munafiq, bahkan kafir.
    2. apakah kita yakin bahwa kita akan masuk neraka sementara saudara2 yang lain masuk neraka.
    coba kita sama2 baca hadits tentang seseorang ahli ibadah namun di akhir hayatnya Alloh takdirkan masuk NERAKA. Dan cerita sebaliknya ada kisah seorang yang selama hidupnya berlumur dosa namun di akhir hayatnya Alloh takdirkan masuk surga. maka dari itu mari kita sama2 berlomba2 dalam menggapai rahmat dan ridho dari Alloh. daripada berdebat tanpa ada akhir. Wassalam. abu alif

  18. yaitu isim (kata benda) yang ditambahkan huruf ‘ya’ yang di-tasydid dan di-kasroh (ini kurang tepat) , yang benar ….dan dikasroh huruf akhirnya , contoh : salafy , yang dikasroh fa’nya (huruf akhir dari dari kata salafy tsb , wasyukron

  19. kasih tau ustad,pengikut salafi harus bertetangga juga,kasih tau juga kalo ucapkan salam kesemua umat islam,jangan ke yg punya jenggot aja,ama celana ngatung & bercadar

  20. intinya setiap pribadi muslim mesti aware akan sikap sombong,

    “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari rasa sombong, bertanya seorang laki-laki kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sesungguhnya ada seseorang yang menyukai bajunya baik dan sandalnya bagus. Apakah itu bagian dari sombong. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’aala itu indah dan suka kepada keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)

    sekedar masukan.. seringkali ketika ada temen2 “salafi” disuatu wilayah, maka muncul friksi dengan jama’ah yang sudah ada. mungkin karena jama’ah tersebut ada kesalahan pengamalan, tetapi dikarenakan sikap temen2 “salafi” ini yang seringkali merendahkan orang diluar mereka ketika menasehati, rusaklah ukhuwah yang seharusnya lebih utama untuk dijaga. dan entah karena “mainstream” salafi atau karena faktor pribadi-pribadinya, tetapi ini yang sering kami temui.

  21. ya akhi fillah
    Terserah kalian mau menamakan diri dengan salafi atau bukan. Jika kalian memang alergi dengan kata salafi, gak masalah.
    Tapi yang jelas, hendaknya kalian beragama sebagaimana beragamanya Rasulullah, sebagaimana beragamanya Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali dan para sahabat lainnya. Aqidah nya, akhlaknya, muamalahnya, pemahamannya dan sebagainya, harus mencocoki dengan apa-apa yang ada pada diri mereka, radhiallahu’anhum.
    Jika kalian telah mengerjakan demikian, maka sebut saja diri kalian adalah seorang muslim sunni, atau seorang muslim multazim, atau seorang muslim yang mustaqim, terserah, jika kalian tidak senang dengan penamaan “salafi”.
    Wallahu’alam

  22. terkait makna sebenarnya dari salafi sendiri seperti di pemaparan artikel di atas.. semua kelompok salafi yang ada diindonesia menggunakan madzhab imam hambali.. nah apakah yang menggunakan imam selain Hambali katakan lah maliki atau Syafi’i bisa dikatakan Salafi.. karena tadi dijelaskan bahwa salafi adalah yang berjalan pada manhaj salafush shaleh (3 generasi setelah Rasul SAW) karena bukankah imam Syafi’i dan maliki juga termasuk pada generasi itu..

    mohon penjelasannya.. ana masih sangat awam

  23. Salaf secara bahasa adalah jamak dari saalif, maknanya pendahulu. Maka arti salaf adalah jama’ah yang terdahulu. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

    فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلًا لِلْآخِرِينَ
    “maka Kami jadikan mereka sebagai (kaum) terdahulu, dan pelajaran bagi orang-orang yang kemudian” (QS. Az-Zukhruf: 56).

    Imam Al Baghawi dalam tafsirnya berkata, “…dan mereka adalah orang yang terdahulu dari kalangan nenek moyang, Kami jadikan mereka sebagai pendahulu agar orang-orang yang datang kemudian mengambil pelajaran dari mereka.”

    Ibnu Atsir pun berkata, “salaf adalah orang yang lebih dahulu meninggal dari kalangan nenek moyang dan kerabatnya. Oleh sebab itu, generasi terdahulu dari kalangan tabi’in disebut as-Salafus Shalih.”

    Termasuk juga pengertian salaf secara bahasa adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada putri beliau, Fathimah az-Zahra radhiyallahu ‘anha, “Sesungguhnya sebaik-baik salaf (pendahulu) bagimu adalah aku.” (HR. Bukhari & Muslim)

    Adapun secara istilah, makna salaf diperselisihkan menjadi beberapa pendapat, yang paling penting di antaranya adalah:

    * Mereka adalah para sahabat saja.
    * Mereka adalah sahabat dan tabi’in.
    * Mereka adalah sahabat, tabiin, dan tabi’ut tabi’in.
    * Mereka adalah generasi sebelum tahun 500 Hijriyah.

    Ulama yang memilih pendapat ini menganggap bahwa salaf adalah madzhab yang dibatasi dengan waktu tertentu dan tidak lebih dari itu. Selanjutnya wawasan Islam berkembang, melalui tokoh-tokohnya.

    Allah tabaraka wa ta’ala berfirman,

    وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
    “Orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surge-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

    Berdasarkan ayat di atas, semata “lebih terdahulu dari sisi waktu” saja tidaklah cukup untuk menetapkan salaf, namun perlu ditambahkan juga bahwa orangnya memiliki pemahaman agama yang selaras dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Barangsiapa pendapatnya berseberangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah maka dia bukan salafi, walaupun dia hidup di tengah para sahabat dan tabi’in.

    Kemudian, yang dimaksud dengan Salaf pertama kali adalah sahabat, sebagaimana hadits dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    “Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih)

    Al Baijuri – salah satu ulama madzhab syafi’i – rahimahullah berkata, “maksud dari orang-orang terdahulu (salaf) adalah orang-orang terdahulu dari kalangan para nabi, sahabat, tabi’in, dan para pengikutnya.”

    Wajibnya Mengikuti Salafus Shalih dan Komitmen dengan Madzhab Mereka

    Sungguh Allah ‘azza wa jalla telah memerintahkan kita untuk mengikuti jalan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, meniti atsar (ajaran) dan menempuh manhaj (jalan hidup) mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

    وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ
    “Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku” (QS. Luqman: 15).

    Mengenai ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan penjelasan, “seluruh sahabat kembali kepada Allah, maka wajib mengikuti jalannya, ucapannya, dan keyakinannya yang merupakan jalan-Nya yang paling besar.”

    Allah pun memperingatkan kita agar tidak menyelisihi jalan mereka dan mengancam orang yang menyelisihinya dengan api jahanam, sebagaimana firman-Nya:

    وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
    “Dan barangsiapa yang menentang Rasul (Muhammad) sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115).

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan umatnya untuk mengikuti sunnahnya dan sunnah para khalifah sesudahnya, sebagaimana dalam sabda beliau,

    عليكُم بسنَّتي وسُنَّة الخُلفاء المَهديين الرَّاشدين مِن بعدي، عَضُّوا عليها بالنَّواجذ، وإيَّاكم ومُحدثاتِ الأمور، فإنَّ كلَّ مُحدثةٍ بِدعةٌ، وكلَّ بدعةٍ ضلالةٌ
    “Wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ Ar-Rasyidin yang mendapatkan hidayah sesudahku. Pegang teguhlah sunnah tersebut dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian, berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

    Imam Al-Auza’i rahimahullah berkata,“Bersabarlah dirimu di atas sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para sahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka tinggalkan. Dan ikutilah jalan salafus shalih, karena sudah cukup bagimu (dalam melaksanakan ibadah) apa saja yang mereka anggap cukup.”

    Beberapa Keistimewaan Manhaj Salaf

    Manhaj salaf memiliki banyak keistimewaan yang tidak akan cukup jika dipaparkan dalam tulisan yang sangat ringkas ini. Di antara keistimewaan manhaj salaf adalah sebagai berikut:

    Pertama, penganutnya tegar di atas kebenaran dan tidak mudah goyah sebagaimana keadaan para pengikut hawa nafsu.

    Kedua, mereka sepakat di atas satu aqidah dan tidak berselisih walaupun berbeda zaman dan tempat.

    Ketiga, mereka adalah orang yang paling mengetahui keadaan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, perbuatan, dan ucapan-ucapan beliau. Paling mampu memisahkan antara yang shahih dan yang dhaif. Oleh karena itu mereka adalah orang yang sangat mencintai sunnah, paling semangat mengikutinya dan paling tinggi loyalitasnya kepada ahlinya.

    Keempat, mereka meyakini bahwa metode salafus shalih adalah metode yang aslam-a’lam-ahkam (paling selamat, paling dalam ilmunya, dan paling bijak). Tidak sebagaimana anggapan para ahli kalam bahwa metode salaf itu lebih selamat, sementara metode kaum khalaf itu lebih dalam ilmunya dan lebih bijak.

    Kelima, mereka sangat bersemangat dalam menyebarkan aqidah yang benar dan agama yang lurus, mengajari manusia dan menasihati mereka, membantah orang-orang yang menyimpang dan ahli bid’ah.

    Keenam, mereka pertengahan di antara kelompok-kelompok sesat yang lainnya.

    Jalan Keselamatan Hanya dengan Mengikuti Sunnah Nabi

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “intisari agama ini terdapat pada dua pokok, yaitu kita tidak beribadah kecuali kepada Allah dan tidak beribadah kepada-Nya kecuali dengan apa yang Dia syari’atkan.”

    Hal ini sebagaimana difirmankan Allah Tabaraka wa Ta’ala,

    فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
    “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah dia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribdah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110).

    Mengenai ayat di atas, Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya, “Inilah dua rukun amal yang diterima. Amal tersebut harus dilaksanakan dengan ikhlas karena Allah dan benar-benar sesuai dengan syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

    Dari penjelasan di atas, kita mengetahui bahwa setiap amalan yang kita lakukan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala harus memenuhi dua syarat utama, di mana kedua syarat tersebut harus ada dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Kedua syarat tersebut adalah:

    Pertama, mengikhlaskan ibadah kepada Allah semata.

    Keikhlasan tidak mungkin datang bersama kesyirikan, riya’ atau mengharapkan dunia dengan amalnya. Maka hendaklah seorang hamba beramal dengan tujuan mengharap wajah Allah ta’ala semata. Allah tubhanahu wa ta’ala berfirman,

    إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
    “Maka sembahlah Allah dengan memurnikan dengan penuh kekayakan keo kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar: 2)

    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda dalam hadits qudsi yang beliau riwayatkan dari Rabbnya (Allah ta’ala):

    أنا أغنى الشركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك فيه معي غيري تركته وشركه
    “Aku adalah Rabb yang sangat tidak membutuhkan sekutu, barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang ia sekutukan Aku dengan yang lainnya, maka Aku tinggalkan ia dengan amal syiriknya tersebut.” (HR. Muslim)

    Kedua, sesuai dengan apa yang dicontohkan rasul-Nya.

    Makna dari syarat yang kedua ini adalah hendaknya amalan yang kita lakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, sesuai dengan apa yang disyari’atkan Allah dalam kitab-Nya atau apa yang disyari’atkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sunnah-sunnah beliau.

    Sungguh banyak dalil yang memerintahkan kita untuk ittiba’ (mengikuti sunnah nabi) dan melarang kita dari melakukan segala bentuk amalan yang tidak beliau perintahkan yang tujuannya untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalil-dalil tersebut di antaranya: Dalam kitab-Nya Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,

    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
    “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

    Allah juga berfirman:

    وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
    “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, siksa Allah itu sangat keras.” (QS. Al-Hasyr: 7)

    Allah juga berfirman:

    قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
    Katakanlah: jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.” (QS. Ali Imran: 31).

    Adapun dalil dari hadits-hadits, di antaranya sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    “Sesungguhnya aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang kepada keduanya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnahku.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ish Shaghir no. 2937)

    Serta sabdanya: “Biarkanlah aku dengan apa yang telah aku tinggalkan untuk kalian, sesungguhnya kebinasaan umat sebelum kalian karena banyak pertanyaan dan perselisihan mereka kepada para nabi mereka, maka jika aku melarang kalian dari satu perkara maka tinggalkanlah, jika aku memerintahkan satu perkara maka kerjakanlah semampu kalian” (Muttafaq ‘alaih)

    Penutup

    Dengan melihat dalil-dalil yang terpapar di atas, baik dalil Al-Qur’an, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang shahih, serta perkataan salafus shalih, maka sudah sewajibnya kita menjadikan manhaj salaf sebagai pijakan. karena ia merupakan manhaj orang-orang yang beriman, yang mewarisi agama ini dari pendahulu para rasul dalam keadaan jujur, benar, dan akurat, serta mereka menyampaikan dengan bersih dan murni.

    Manhaj salaf satu-satunya manhaj yang wajib diikuti oleh kaum muslimin karena yang memerintahkan untuk berpegang dan mengikuti manhaj ini adalah Allah ‘Azza wa Jalla danRasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebaik-baik manusia yang membawa manhaj ini adalah para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang dijamin oleh Allah Ta’ala dengan surga dalam keadaan mereka ridha pada Allah dan Allah pun ridha kepada mereka.

    Tulisan ini terlalu singkat dan begitu sempit dalam menjelaskan bagaimana manhaj salaf sebenarnya. Tidak semua nash, baik dari Al-Qur’an dan hadits-hadits, bisa kami tuliskan di sini karena sempitnya ruang tulis yang tersedia. Untuk lebih jelasnya pembaca bisa merujuk pada kitab-kitab yang menjelaskan hakikat dan keutamaan manhaj salaf secara terperinci.

    Semoga tulisan ringkas ini bermanfaat bagi penulis, para pembaca, dan kaum muslimin semuanya. Pun penulis berharap semoga Allah menjadikan tulisan ini ikhlas semata-mata karena mengharap wajah Allah. Kita bermohon kepada Allah semoga diberi petunjuk di atas Islam dan sunnah mengikuti manhaj salafus shalih dan istiqamah dalam keadaan mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala. Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla mengumpulkan kita di surga bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Amiin.

    Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan orang-orang yang istiqamah di atas sunnah beliau sampai hari kiamat. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

    ***

  24. Salafi tidak identik dengan hambali. Salafi identik dengan keteguhan mereka meneladani Rasulullah dan para sahabat beliau. Salafi tidaklah fanatik buta kepada suatu madzhab tertentu, apakah hambali atau syafi’i. Yang dimaksud fanatik buta adalah menganggap hanya madzhab-nya saja yang paling benar, madzhab yang lain salah semua tidak ada benarnya. Oleh karena itu, mungkin saja ada salafi yang mayoritas pendapat fiqih-nya merujuk Imam Syafi’i. Tetapi ketika Imam syafi’i keliru di suatu masalah fiqih -dengan pertimbangan dalil-, maka salafi tidak akan mengikuti ketergelinciran Imam Syafi’i dalam masalah itu, karena salafi hanya mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah yang shahih

  25. Betul!tepat sekali!selama ini banyak yang tidak suka bahkan alergi apabila disebut kata2 “salafi”,ini disebabkan fitnah2 keji yang disandarkan pada manhaj salafi ini, yg dilontarkan oleh ahlul2 bid’ah yg takut kehilangan pamor mereka dimata ummatnya,karena manhaj salafi,selalu mengatakan yg haq dan selalu disetai dengan dalil2 yang shahih!setiap ustadz yg bermanhaj salafi, tidak akan berani menjawab jika mereka tidak mempunyai rujukan atau dalil,mereka akan jujur mangatakan tidak tahu jika mereka belum mengetahui dalil2nya yg disertai sanad2 yg lengkap,berbeda dengan ustadz2 ahlul bid’ah yg selalu dapat menjawab setiap pertanyaan seolah2 mereka tahu semua hal,walau tanpa dalil,kalaupun ada dalil,mereka cenderung mangambil dalil yg menguntungkan pribadi2 mereka!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>