At Tauhid Tahun III

ISLAM, Awalnya Asing dan Akan Kembali dalam Keadaan Asing

At Tauhid edisi III/01

Oleh: Satria Buana

Sesungguhnya umat islam telah terdampar di persimpangan jalan, mereka hidup dalam kesengsaraan yang tidak pernah disaksikan oleh sejarah islam, telah berlalu banyak krisis dan bencana yang silih berganti. Hal ini dikarenakan umat islam sekarang berada pada kondisi yang lemah dan jauh dari syariat Allah Ta’ala yang kokoh. Akibatnya kita dapatkan kaum muslimin sekarang kehilangan sebagian negeri atau harta mereka. Mereka hidup dalam keadaan bimbang, keguncangan, ketakutan dan rasa was-was.

Islam datang pada masa jahiliyah dalam keadaan asing, dan telah datang masanya di mana islam saat ini dirasakan asing oleh pemeluknya. Sungguh benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Sesungguhnya Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka thuuba (beruntunglah) orang-orang yang asing” (HR Muslim).

Makna Asing

Definisi asing dalam hadits di atas bukanlah mutlak diberikan bagi seorang yang tampil beda di tengah masyarakatnya. Akan tetapi, asing di sini bermakna seorang muslim yang melaksanakan syariat Islam dengan benar ketika masyarakat melupakannya. Ketika ia melaksanakannya, masyarakat di sekitarnya mengingkarinya bahkan menentangnya. Makna asing di sini dijelaskan dalam hadits lain bahwasanya mereka adalah, “orang-orang yang berbuat kebajikan ketika manusia rusak”, dan dalam riwayat lain mereka adalah, “orang-orang shalih di antara banyaknya orang-orang yang buruk, orang yang menyelisihi mereka lebih banyak dari yang mentaati mereka”.

Makna Thuuba

Thuuba dalam hadits di atas ditafsirkan secara berbeda, sebagian ulama menafsirkannya dengan nama pohon di surga, sebagian mengatakan ia adalah kebaikan yang banyak, sebagian mengatakan ia adalah surga. Akan tetapi, semua makna tersebut adalah benar. Seorang muslim yang teguh di atas agamanya, berpegang pada tuntunan Nabinya yang suci di saat manusia sudah melupakan tuntunan tersebut, walaupun dia dicela, dihina, diasingkan karena melaksanakan agama Allah maka Dia akan menyiapkan baginya kebaikan yang sangat banyak.

Ahlussunnah adalah Kelompok Terasing

Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah dalam seluruh perkara, baik dalam ibadah, perilaku, dan dalam segala bidang kehidupannya. Oleh karena itu, biasanya mereka menjadi orang-orang yang dipandang asing di tengah masyarakatnya dikarenakan mereka menghidupkan sunnah yang sebelumnya belum dikenal atau mereka menyelisihi adat istiadat setempat yang berseberangan dengan syari’at. Maka Ahlus Sunnah adalah kelompok terasing.

Para ulama biasa mensifati Ahlus Sunnah dengan keterasingan dan jumlah yang sedikit. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata kepada sahabat-sahabat beliau, “Wahai Ahlus Sunnah, lemah lembutlah kalian semoga Allah Ta’ala merahmati kalian, karena kalian termasuk orang-orang yang paling sedikit”. Yunus bin Ubaid rahimahullah berkata, ”Tidak ada satupun yang lebih asing dari As-Sunnah dan orang yang mengenalnya”. Sufyan At-Tsauriy rahimahullah berkata, ”Berbuat baiklah kepada Ahlus Sunnah karena mereka adalah orang-orang asing”.

Sunnah yang dimaksudkan di atas bukanlah sebagaimana pengertian menurut ulama fiqh, yaitu sesuatu yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan tidak mendapat dosa. Namun yang dimaksud para ulama di atas dengan sunnah adalah jalan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beragama. Itulah jalan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berada di atasnya yaitu jalan yang terbebas dari segala bentuk syubhat (virus pemikiran) dan syahwat (virus menginginkan hal-hal yang Allah larang). Jadi tepatlah pengertian Ahlus Sunnah yang dikatakan Al-Fudhail bin Iyaadh yaitu mereka adalah orang yang mengerti tentang barang-barang halal apa saja yang masuk ke perutnya. Karena memakan barang-barang yang halal merupakan perkara sunnah paling penting yang dipegangi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Keterasingan Islam Saat Ini

Saudaraku, saat ini telah terlihat bagaimana kebenaran sabda Nabi shalllahu ’alaihi wa sallam di atas. Kaum muslimin saat ini yang sudah jauh dari agamanya membolehkan berbagai perkara yang sudah jelas-jelas dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya dan melarang perkara yang Allah dan Rasul-Nya perbolehkan. Lihatlah contohnya perkara zina yang jelas-jelas dilakukan di depan umum dan disebarluaskan. Masyarakat malah membiarkan perbuatan ini, bahkan menyanjungnya pelakunya karena dia telah mengakui kesalahannya. Sedangkan orang yang melakukan perbuatan yang jelas-jelas halalnya dalam syari’at ini yaitu poligami malah dihujat, dicela bahkan dituduh sebagai orang yang memperturutkan hawa nafsunya, wal’iyudzu billah. Inilah keterasingan Islam saat ini.

Wahai Dzat yang membolak-bolakkan hati, tetapkan hati kami diatas agama-Mu, wahai dzat yang memalingkan hati, palingkan hati kami pada ketaatan kepada-Mu. [Satria Buana]

Buletin terkait:

  1. Urgensi dan Kesalahan dalam Ma’rifatullah
  2. Salah Kaprah Memaknai Islam Sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin
  3. Kalimat Syahadat dalam Sorotan

Tertarik dengan artikel buletin ini? Tidak ingin ketinggalan artikel Buletin At-Tauhid di setiap pekannya? Silahkan klik di sini untuk berlangganan. Atau berlangganan via email dengan cara memasukkan email Anda pada form isian di bawah ini. Anda akan mendapatkan pemberitahuan setiap ada artikel yang terbit di buletin.muslim.or.id.

Kolom Komentar

6 komentar pada artikel “ISLAM, Awalnya Asing dan Akan Kembali dalam Keadaan Asing”

  1. assalam, akhy aw ukhty, salam kenal saya mahasiswa MIPA UGM, yang lagi mencri kesejatian hidup sbg MUSLIM +Ghurobah. saya cuma ingin menyarankn, tolong dong! dalam setiap buletin klau ada dalil dalam bentuk ayat al-qur’an ataupun hadits, untuk jangan cuma dicantumin dalam bahasa indonesia(terjemahan) tapi juga teks aslinya(dalam bahasa arab+tulisannya juga arab dong!). oh ya, hadits tentang keasingan islam di paragrap 2, saya minta dikirimn karena saya sulit mencari dalam teks aslinya(tulisan+bahasa arab)saya tunggu dialamat e-mailku ya!(santri_ghurobah@yahoo.co.id)

    Dikirim oleh muhammad | 6 March 2009, 16:31
  2. Pertimbangannya kenapa tidak menuliskan lafaz arab adalah supaya tidak dihinakan ukh, karena sebagian orang menyepelekan masalah ini, sehingga kita dapati buletin-buletin berserakan di jalan atau malah buat bungkus makanan dll…

    Dikirim oleh badar online | 9 April 2009, 22:27
  3. Iya benar. Di masjid dekat rumah saya, bulletin diambil oleh anak-anak dibuat pesawat-pesawatan.

    Dikirim oleh Aswad | 12 April 2009, 9:16
  4. kadang bingung Yang Asink tu .Yang MaNA Yaa. Kadang Suka Da yang MengklAim. Gmana DonK….

    Dikirim oleh Beni DA SubaNK | 18 April 2009, 22:41
  5. ya.. benar sekali… islam sudah datang dalam keadaan asing … . dan akan berjaya di indonesia….. Negara Islam Indonesia…

    Dikirim oleh alam | 3 May 2009, 8:49
  6. Kalo mau copy buletin At-Tauhid untuk disebarkan ke orang lain via internet boleh gak?

    Dikirim oleh Riyan | 22 August 2009, 15:33

Beri komentar

Mohon memberikan komentar yang sesuai dengan topik artikel. Komentar Anda akan kami review dahulu sebelum ditampilkan. (* wajib diisi, email tidak akan ditampilkan)

Arsip

Pengunjung

Copyright

Dipersilahkan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh artikel Buletin At Tauhid di website ini untuk tujuan dakwah (bukan untuk komersial) dengan menyantumkan sumber website dan penulisnya. Jazakumullahu khairan.