Shalat Sunnah Rawatib Sehari Semalam

Ibadah sunnah adalah ibadah yang menjadi pengiring dari ibadah wajib. Shalat yang wajib diiringi dengan shalat sunnah. Puasa yang wajib diiringi dengan puasa sunnah. Begitu pula amalah yang lain yang memiliki amalan sunnah pengiring. Maka pada pembahasan kali ini, kita akan membahas shalat sunnah apa saja yang dilakukan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam.

Saudaraku,

Shalat sunnah yang dilakukan oleh Rasulullah dalam sehari semalam sangatlah banyak. Namun pada kesempatan kali ini, kami hanya akan membahas shalat sunnah rawatib yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengerjakannya dan melestarikannya saja. Karena keterbatasan waktu dan ilmu penulis, maka berikut ini akan dijelaskan mengenai shalat sunnah rawatib sebanyak 12 rakaat. Jumlah 12 rakaat tersebut dilandaskan dari hadits dari ibunda Aisyah radiyallahu’anha berikut ini.

Ibunda Aisyah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan dua belas rakaat pada shalat sunnah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surge, (yaitu) : empat rakaat sebelum dzuhur, dua rakaat sesudah dzuhur, dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah isya, dan dua rakaat sebelum shubuh.” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i)

Berikut adalah penjelasan 12 rakaat shalat sunnah rawatib tersebut.

Shalat sunnah qabliyah subuh

Shalat sunnah ini dilakukan seorang muslim sebelum shalat shubuh. Shalat sunnah ini dilaksanakan sebanyak 2 rakaat. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan shalat qabliyah subuh ini meskipun saat beliau sedang bersafar. Dari Aisyah radiyallahu’anha, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melakukan satu shalat sunnah pun yang lebih beliau jaga dalam melaksanakannya melebihi dua rakaat shalat sunnah shubuh.” (Muttafaqun’alaihi).

Mengenai hadits ini Al-Imam Ibnul Qayyim berkata, “Ketika safar, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap rutin dan terartur mengerjakan shalat sunnah fajar dan shalat witir melebihi shalat sunnah yang lainnya. Tidak dinukil dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melaksanakan shalat sunnah rawatib selain dua shalat tersebut selama beliau safar.” (Zaadul Ma’ad I/315)

Adapun bacaan yang biasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat qabliyah subuh adalah Surat Al-Kaafirun dan Surat Al-Ikhlas. Dari Abu Hurairah radiyallahu’anhu, Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada shalat sunnah sebelum subuh membaca surat Al-Kaafirun dan Surat Al-Ikhlas.” (HR. Muslim)

Namun terkadang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga membaca surat yang lain, yakni Surat Al-Baqarah :136 dan Ali Imran : 52. Dari Said bin Yasar, dari Ibnu Abbas, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada shalat sunnah sebelum subuh di rakaat pertama membaca, Al-Baqarah : 136 dan di rakaat kedua membaca Ali Imran : 52.” (HR. Muslim)

Salah satu sebab mengapa beliau selalu merutinkan hal tersebut adalah karena adanya hadits tentang keutamaan shalat qabliyah subuh tersebut. “Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Aisyah radiyallahu’anha,  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua rakaat sebelum shalat shubuh lebih baik dari dunia dan isinya.” Dalam riwayat yang lain, “Dua rakaat sebelum shalat shubuh lebih aku cintai dari dunia seisinya”. (HR. Muslim)

Hendaknya kita sebagai umat beliau juga bersemangat menjaga shalat qabliyah ini. Meskipun terkadang halangan dan rintangan menyertai kita. Semisal karena rasa malas atau udara yang dingin. Namun jika kita bersemangat dan terus menjaganya, niscaya penghalang tersebut akan terasa ringan dan kecil.

Qabliyah dan Ba’diyah Dzuhur

Shalat sunnah Qabliyah dan Ba’diyah Dzuhur memiliki beberapa cara,

  1. Shalat sunnah 4 rakaat sebelum dzuhur dan 4 rakaat sesudahnya,
  2. Shalat sunnah 4 rakaat sebelum dzuhur dan 2 rakaat sesudahnya,
  3. Shalat sunnah 2 rakaat sebelum dzuhur dan 2 rakaat sesudahnya.

Cara I berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Habibah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menjaga shalat 4 rakaat sebelum duhur dan 4 rakaat sesudahnya, maka Allah akan mengharamkan neraka baginya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Albani menyatakan hadits ini shahih)

Cara II berdasarkan Hadits Abdullah bin Syaqiq, beliau bertanya kepada Aisyah radiyallahu’anha tentang shalat sunnah Rasulullah shalallahu’alaihi wa Sallam. Aisyah menjawab, “Beliau biasanya mengerjakan shalat 4 rakaat sebelum dzuhur di rumahku. Lalu beliau keluar untuk shalat dzuhur bersama para sahabat. Kemudian beliau masuk rumah dan mengerjakan shalat 2 rakaat.” (HR. Muslim)

Cara III berdasarkan Hadits dari Abdullah bin Umar radiyallahu’anhuma. Beliau mengatakan, “Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh rakaat (sunnah rawatib), yaitu dua rakaat sebelum dzuhur, dua rakaat setelah dzuhur, dua rakaat sesuadah maghrib, dua rakaat sesudah isya, dan dua rakaat sebelum shubuh.” (HR. Bukhari)

Inilah 3 cara pelaksanaan shalat sunnah qabliyah dan ba’diyah dzuhur. Seseorang boleh melakukan salah satunya, atau boleh juga melaksanakannya secara bergantian.

Ba’diyah Maghrib

Shalat sunnah ini dilakukan setelah shalat maghrib sebanyak 2 rakaat. Sebagaimana hadits Ibnu Umar, “Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh rakaat (sunnah rawatib), yaitu dua rakaat sebelum dzuhur, dua rakaat setelah dzuhur, dua rakaat sesuadah maghrib, dua rakaat sesudah isya, dan dua rakaat sebelum shubuh.” (HR. Bukhari)

Adapun bacaan surat pendek yang biasa beliau baca saat shalat ba’diyah maghrib adalah di rakaat pertama beliau membaca surat Al-Kafirun dan di rakaat kedua beliau biasa membaca surat Al-Ikhlas. Sebagaimana hadits dari Abdullah bin Mas’ud radiyallahu’anhu, “Saya sering mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau membaca surat pada shalat sunnah ba’diyah maghrib, yaitu surat Al-Kaafirun dan Surat Al-Ikhlas.” (HR. At-Tirmidzi, Syaikh Albani mengatakan hadits ini Hasan Shahih)

Ba’diyah Isya

Shalat sunnah ini dilakukan setelah shalat Isya sebanyak 2 rakaat. Sebagaimana hadits Ibnu Umar, “Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh rakaat (sunnah rawatib), yaitu dua rakaat sebelum dzuhur, dua rakaat setelah dzuhur, dua rakaat sesuadah maghrib, dua rakaat sesudah isya, dan dua rakaat sebelum shubuh.” (HR. Bukhari)

Dan hadits lain yang diriwayatkan oleh ibunda Aisyah radiyallahu’anha, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan dua belas rakaat pada shalat sunnah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga, (yaitu) : empat rakaat sebelum dzuhur, dua rakaat sesudah dzuhur, dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah isya, dan dua rakaat sebelum shubuh.” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i)

Keutamaan Melestarikan Ibadah Sunnah

  1. Menyempurnakan amalan wajib.

Di antara pentingnya amalan sunnah bagi amalan wajib adalah ia akan menyempurnakan kekurangan dalam ibadah wajib tersebut.

Rasulullah bersabda, “Sungguh amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah Azza wa Jalla berkata kepada malaikatNya dan Dia-lah yang lebih tahu. “lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman, “lihatlah, apakah hambaKu memiliki amalan Sunnah.jika hambaKu memiliki amalan sunnah, Allah berfirman, “sempurnakanlah kekurangan yang ada oada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan lainnnya akan diperlakukan seperti ini. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

 

  1. Allah akan memberikan petunjuk dalam pendengaran, penglihatan, langkah kaki dan tangan, serta doanya pun mustajab.

Allah berfirman dalam hadits Qudsi,

“…Dan tidaklah hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan sesuatu yang lebih kucintai daripada menjalankan kewajibannya, dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar memberi petunnjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat. Memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu padaKu pasti akan Kukabulkan dan jika ia memohon perlindungan pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari)

 

  1. Lebih Baik dari Dunia dan Isinya.

Keistimewaan ini terdapat pada shalat sunnah qabliyah subuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua rakaat sebelum shalat shubuh lebih baik dari dunia dan isinya.” Dalam riwayat yang lain, “Dua rakaat sebelum shalat shubuh lebih aku cintai dari dunia seisinya. (HR. Muslim, No. 725)

Oleh karena itu, beliau selalu meruntinkan shalat sunnah qabliyah shubuh ini. Bahkan tidak pernah meninggalkannya meskipun beliau dalam keadaan bersafar.

Inilah diantara keutamaan yang akan didapatkan oleh seorang hamba tatkala ia berusaha menjaga dan melestarikan amalan sunnah yang dikerjakannya. Hendaknya kita bersemangat menjaga seluruh shalat sunnah sehari semalam dalam kehidupan kita. Kalaulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah terampunkan semua dosanya saja begitu bersemangat menjaga amalan-amalan sunnah, maka apalah kita ini hamba-hamba yang berlumuran dosa? Tentu kita harus lebih bersemangat lagi mengamalkannya.

Penulis: Seno Aji Imanullah, S.Si (Alumnus Ma’had Al-‘Ilmi Yogyakarta)

Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *