Bukti Kelulusan Madrasah Ramadhan


EDISI 2239

H.R. Bukhari dan Muslim

أَحَبُّ الأعمالِ إلى اللهِ أدْومُها و إن قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang berkelanjutan walaupun sedikit.”

  • Syawal adalah momen pembuktian hasil pendidikan ketaatan selama Ramadhan. Kita diharapkan tetap teguh menjalankan ibadah dan menjauhi larangan-Nya meski di tengah euforia perayaan hari raya.
  • Melanjutkan puasa enam hari di bulan Syawal memberikan pahala setara berpuasa setahun penuh. Amalan sunnah ini sangat dianjurkan bagi mereka yang telah menyelesaikan seluruh kewajiban puasa Ramadhannya.
  • Jangan jadikan akhir Ramadhan sebagai akhir dari salat malam. Tetaplah rutin melaksanakan minimal dua rakaat qiyamul lail dan witir, sekalipun dilakukan sebelum tidur bagi yang kesulitan bangun di sepertiga malam.
  • Manfaatkan kelapangan waktu di bulan Syawal untuk mengunjungi orang tua dan sanak kerabat. Selain mempererat persaudaraan, silaturahim merupakan kunci untuk melapangkan rezeki dan memperpanjang umur.
  • Semangat berbagi yang telah dilatih selama Ramadhan hendaknya terus dijaga. Milikilah komitmen sedekah rutin harian atau pekanan agar kebaikan kita terus mengalir bagi lingkungan sekitar.

Alhamdulillah, pada kesempatan yang berbahagia ini Allah pertemukan kita dengan bulan Syawal nan fitrah. Setelah sebulan kita menjalankan ibadah puasa ikhlas karena Allah, kita berharap dikembalikan menjadi hamba Allah yang suci dan terhapus dari dosa-dosa di masa lalu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa saja yang berpuasa Ramadhan dengan berlandaskan iman dan hanya mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dengan berlalunya madrasah Ramadhan, kita berharap agar tetap menjadi hamba yang istiqamah menjalankan ketaatan kepada-Nya, menjauhi berbagai larangan-Nya, mengerjakan sunnah Nabi-Nya, dan senantiasa menjadi orang yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar kita.

Pada bulan Syawal inilah menjadi langkah awal kita membuktikan hasil manis dari penggemblengan dan pendidikan ibadah selama Ramadhan. Jadikan momen Syawal ini menjadi pembuka istiqamah kita ketika banyak manusia yang lalai dari ibadah karena terlalu larut dalam euforia perayaan Idulfitri.Maka, apa saja amalan sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan di bulan Syawal ini, mari kita simak bersama.

Puasa 6 Hari di Bulan Syawal Sebagai Penyempurna

Rasulullah memotivasi kita untuk “melanjutkan” kebaikan puasa kita dengan puasa 6 hari di bulan Syawal, beliau bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Siapa saja yang berpuasa Ramadhan kemudian  melanjutkan dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (H.R. Muslim)

Nabi menjadikan puasa ini seperti setahun penuh dikarenakan amal baik diberikan ganjaran minimal 10 kali kebaikan. Maka jika kita hitung 30 hari ditambah 6 hari totalnya adalah 36 hari, sehingga jika dikali 10 maka menjadi 360 hari. Sedangkan dalam satu tahun qamariah jumlah hari adalah 355 hari. Maka benarlah sabda Nabi bahwa seakan dia berpuasa satu tahun penuh.

Puasa 6 hari di bulan Syawal ini berstatus sunnah yang sangat dianjurkan dan boleh dikerjakan mulai tanggal 2 Syawal. Puasa ini juga boleh dilakukan secara berurutan atau terpisah, dengan syarat seseorang menyelesaikan dahulu puasa Ramadhannya. Hal ini karena Nabi menjelaskan dengan kata “melanjutkan” atau “mengikutkan” yang artinya puasa Ramadhannya dituntut untuk selesai dahulu.

Jangan Tinggalkan Salat Malammu Meskipun Hanya 3 Rakaat

Selama bulan Ramadhan, kita dididik untuk melakukan salat malam yaitu dengan melakukan salat tarawih dan juga witir. Baik kita mengerjakan 11 rakaat, 13 rakaat, 23 rakaat, atau bahkan 36 rakaat (seperti Kota Madinah di zaman Imam Malik), maka sejatinya ini adalah pendidikan dan pembiasaan yang luar biasa agar kita tetap melakukan salat malam setelah Ramadhan usai.

Nabi memotivasi kita dengan sabda beliau,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Orang yang qiyam Ramadhan (salat tarawih) karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Qiyam Ramadhan atau salat pada bulan Ramadhan adalah salat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh sebagian ulama. Hadis ini memberitahukan bahwa salat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah.

Nabi juga memotivasi kita untuk konsisten beramal meskipun sedikit, meskipun tertatih-tatih, beliau bersabda,

أَحَبُّ الأعمالِ إلى اللهِ أدْومُها و إن قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang berkelanjutan (rutin dilakukan) walaupun itu sedikit.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Maka, jangan jadikan tanggal 1 Syawal menjadi tanggal kita menghentikan salat malam kita, namun sebaliknya, jadikanlah itu sebagai permulaan salat malam kita sepanjang tahun. Siapa yang kesulitan untuk bangun pada sepertiga malam, maka silakan lakukan salat malam tersebut sebelum tidur. Dia istiqamahkan dua rakaat salat malam (qiyamul lail) kemudian ditutup dengan satu atau tiga rakaat witir. Jika amalan ringan ini dilakukan dengan istiqamah, maka semoga menjadi amal yang sangat Allah cintai.

Momen Tepat untuk Silaturahim

Idulfitri menjadi momen tepat untuk bersilaturahim serta mengunjungi orang tua serta sanak kerabat lainnya. Bertemu dengan mereka, menanyakan kabar, tersenyum sumringah, disambi menyantap kue lebaran adalah suatu kebaikan yang melengkapi momen indah lebaran.

Momen ini ada bukan karena kita memiliki dalil khusus keutamaan silaturahim saat Syawal, akan tetapi momen ini tepat karena mayoritas orang Indonesia memiliki jatah cuti tahunan di hari raya ied. Kita gunakan waktu yang sedikit ini untuk menyambung tali silaturahim dengan orang tua yang mungkin jauh di desa dan merindukan kepulangan anaknya dari perantauan.

Rasulullah memotivasi kita untuk bersilaturahim dengan orang tua kita atau orang yang masih memiliki hubungan darah dengan kita, beliau mengatakan,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَه

“Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya ia menyambung silaturahimnya (dengan kerabat).” (H.R. Bukhari)

Akan tetapi bagi yang memiliki kelapangan waktu dan dana, seringlah silaturahim.

Ketika Bertemu Kerabat, Jangan Lupa Saling Berbagi

Rasulullah adalah manusia yang sangat dermawan, para sahabat semuanya terkena limpahan berkah kedermawanan beliau. Dikatakan bahwa cakupan kedermawanan beliau seperti angin yang berhembus, semua sisi dan arah terkena hembusan angin tersebut. Pada bulan Ramadhan, amal kebaikan dilipatgandakan, tentu beliau tidak ingin kehilangan momen istimewa ini, sehingga semakin dermawanlah beliau ketika Ramadhan.

عن ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Sahabat Ibnu Abbas menceritakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan, dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril ‘alaihissallam bertemu dengannya. Jibril menemuinya setiap malam Ramadhan untuk menyimak bacaan al-Qur’annya. Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan daripada angin yang berhembus.” (H.R. Bukhari)

Ketika Ramadhan kita juga melihat kaum muslimin berbondong-bondong melakukan kebaikan dalam bentuk sedekah dan berbagi. Sebagian dari mereka berbagi makanan buka puasa, sebagian berbagi makanan sahur, sebagian lainnya membantu warga miskin dan dhuafa, sebagian lainnya semakin rutin mengirim bantuan ke negeri muslim lain yang sedang butuh bantuan. Benar-benar suatu gambaran indah tentang kebaikan yang seperti angin.

Maka ketika Ramadhan berakhir, kebaikan ini jangan pula ikut berakhir. Pastikan kita memiliki nominal rutin setiap harinya atau mungkin setiap pekannya untuk berbagi kepada orang lain. Berbagi tidak membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak, apalagi di era di mana donasi dan sedekah dapat dilakukan dalam hitungan detik dengan berbagai metode.

Penutup

Saudaraku, sejatinya masih banyak amal yang seyogyanya kita istiqamahkan setelah Ramadhan berlalu. Baik berupa amal kebaikan atau berupa menjaga diri dari semua yang Allah larang. Maka mari kita banyak meminta kepada Allah agar diberikan istiqamah.

Saudaraku, jadikanlah Ramadhan sebagai momen pendidikan ketaatan kita pada Allah, serta jadikanlah Syawal sebagai pembuktian bahwa Ramadhan benar-benar berbekas pada kita. Jadikanlah Syawal ini sebagai awal mula dari istiqamah kita sampai bertemu Ramadhan tahun depan, bahkan sampai kita meninggal dunia.

 

Penulis : Dany Indra Permana, S.Si., M.H.  (Alumni Ma’had Al- ‘llmi Yogyakarta)

Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *