Rahasia di Balik Hijrah Nabi


EDISI 2210

  • Berhijrah bukanlah hal yang sepele, dalam berhijrah banyak yang dikorbankan.
  • Tatkala itu Nabi berhijrah bukan tanpa sebab,melainkan ada rencana pembunuhan terhadap keberadaan Nabi di 
  • Dikisahkan bahwa rencana jahat tersebut tersusun karena keberadaan Nabi yang mengancam kehidupan serta aktifitas kesyirikan masyarakat tatkala 
  • Hal ini diketahui oleh Nabi lewat wahyu yang disampaikan malaikat Jibril. Dengan demikian, Allah mengizinkan Nabi untuk

Dalam hijrahnya Nabi banyak peristiwa yang dapat kita ambil. Diantaranya:

1. Sebab Nabi Harus Berhijrah
2. Mengenali Tokoh-Tokoh yang Akan Mengeksekusi Nabi
3. Kisah Pilihan Ketika Hijrah
Sebab Nabi harus berhijrah

Bangsa Arab di Makkah tatkala itu hidup dengan segala aktivitasnya, mulai dari berniaga hingga urusan ibadah. Nabi pada saat itu berbaur dengan mereka, dan Nabi terkenal dengan kejujuran dan kebaikannya. Namun, tibalah waktunya Nabi mendapatkan wahyu. Nabi pun mulai mengingatkan mereka agar meninggalkan sesembahan selain Allah. Karena mereka merasa penyembahan kepada berhala mereka itu sudah menjadi budaya dari nenek moyang maka merekapun tidak mau menerima seruan tersebut.

Sepenggal Kisah yang Terjadi Ketika Hijrah

Di Perjalanan Menuju Gua

Sebelum Rasulullah keluar menuju gua, tampak makar-makar kaum Quraisy untuk melaksanakan rencana kejinya. Terlihat mereka terus menunggu dan berjaga, berharap agar upaya makarnya tersebut bisa membunuh Rasulullah. Namun siapa sangka pada malam itu, Rasulullah menyuruh sahabat Ali bin Abi Thalib untuk mengganti kebiasaannya, yaitu tidur di tempatnya. Kemudian Rasulullah berkata,

Tidurlah di tempatku, berselimutlah dengan burdah hijau yang berasal dari Hadhramaut milikku ini. Gunakanlah untuk tidurmu, niscaya tidak akan ada sesuatu apapun yang membahayakanmu.”

Karena Rasulullah selalu memakai burdahnya ketika tidur, maka tidurnya Ali bin Abi Thalib di ranjang tersebut sudah cukup untuk meyakinkan orang-orang Quraisy bahwasanya itu adalah Nabi. Namun ternyata tidak demikian. Sementara itu Rasulullah telah berhasil keluar dan menerobos barisan-barisan meraka, padahal mereka dalam keadaan berjaga. Yang dilakukan oleh Rasululllah adalah mengambil segenggam tanah dari Al-Abathha, lalu menaburkannya di atas kepala-kepala mereka. Seketika itu, Allah telah mencabut pandangan mereka untuk waktu yang telah ditentukan sehingga mereka tidak dapat melihatnya. Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firmanNya,

وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ سَدّٗا وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدّٗا فَأَغۡشَيۡنَٰهُمۡ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ

“Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (Q.S. Yasin : 9)

Ketika keluarnya Rasulullah tidak ada seorang pun yang terlewatkan; semuanya beliau taburi tanah di kepalanya. Sementara itu beliau keluar menuju rumah Abu Bakar, kemudian keduanya keluar melalui pintu kecil di belakang rumah Abu Bakar. Pada malam harinyalah mereka sampai ke Gua Tsur, yang berada di jalan menuju Yaman.

Di sisi lain, para tokoh yang akan mengeksekusi Nabi masih tetap menunggu hingga larut malam. Dimana ketika menunggu tersebut sudah tampak tanda-tanda kesia-siaan dan kegagalan bagi mereka. Diceritakan ada seorang laki-laki yang tidak ikut dalam pengeksekusian nabi tersebut datang dan melihat para tokoh tersebut masih berada di pintu rumah nabi. Kemudian berkata, ” Apa yang membuat kalian menunggu disini?”

Mereka menjawab, “Muhammad”. Dia berkata, “Sudah tiada guna kalian menunggu. Hal ini adalah kesia-siaan, merugilah kalian. Demi Allah, dia telah melewati kalian dan menaburkan tanah di atas kepala-kepala kalian!”

Kebersamaan Nabi dengan Abu bakar

Setelah meninggalkan kediamannya, Rasulullah menuju rumah Abu Bakar, dimana beliaulah teman setianya yang tidak tergantikan. Dia adalah orang yang paling dipercaya di sisinya. Pada akhirnya, beliau memilih Abu Bakar untuk menemani perjalanannya. Keduanya meninggalkan Makkah dengan bersegera sebelum fajar terbit.

Setelah Nabi mengetahui bahwa kaum Quraisy akan berusaha keras untuk mencarinya, beliau memilih jalan yang dirasa belum pernah dilalui atau memilih jalan yang memang berlawanan arah, yaitu jalan yang terletak di selatan Makkah, yang mengarah ke Yaman.

Beliau menempuh perjalanan 5 mil, hingga akhirnya tiba di bukit yang dikenal dengan Bukit Tsur, sebuah bukit yang tinggi, jalannya terjal, sulit didaki, dan banyak bebatuan. Hal inilah yang membuat kaki Rasulullah luka karena beliau berjalan tanpa mengenakan alas kaki. Sebab lukanya kaki beliau kemudian Abu Bakar menggendongya hingga mencapai bukit.

Ketika berada di gua, Abu Bakar berkata, “Demi Allah, engkau jangan masuk dulu sebelum aku memasukinya (maksudnya adalah ketika ada marabahaya biarlah Abu Bakar yang mengalaminya terlebih dahulu).” Ternyata, setelah memasukinya didapatinya beberapa lubang, kemudian beberapa lubang ditutupi dengan kain dan sisanya dia tutupi dengan kakinya. Apa yang terjadi? Ternyata dari salah satu lubang yang dia tutupi ada sesuatu yang menyengatnya sehingga beliau merasakan sakit, karena takut Rasulullah terbangun dari tidurnya kemudian dia tahan rasa sakit tersebut, sehingga terjatuh air matanya membasahi pipi Rasulullah. Rasulullah berkata,   

ما لك يا أبا بكر؟ قال:

“Ada apa denganmu wahai Abu Bakar?”

لدغت، فداك أبي وأمي، فتفل رسول الله ﷺ، فذهب ما يجده

“Ayah dan ibuku tebusanmu, wahai Rasulullah! Aku telah disengat sesuatu.” Kemudian Rasulullah meludahi bekas sengatan tersebut, sehingga lenyaplah rasa sakitnya.

–   Mukjizat untuk Memuliakan Nabi

Rasulullah dan Abu Bakar tinggal di gua selama tiga malam; malam Jumat, malam Sabtu, dan malam Ahad. Pada malam-malam tersebut keduanya didampingi oleh putra Abu Bakar yaitu Abdullah. Sementara itu Amir bin Fuhairah, budak Abu Bakar mengembalakan kambing perah untuk keduanya. Setelah Abdullah pulang ke Makkah, Amir bin Fuhairah selalu menggiring kambingnya mengikuti jejaknya agar terhapus dan tidak diketahui.

Di sisi lain kaum Quraisy semakin marah manakala mengetahui Rasulullah telah lolos dari incaran mereka. Kemudian, sebagai bentuk kemurkaan meraka yaitu menyiksa Ali, kemudian menyeretnya ke Ka’bah dan mengurungnya untuk sesaat agar mendapatkan informasi tentang Rasulullah.

Namun, manakala upaya mereka tidak membuahkan hasil mereka membuat sayembara: siapa pun yang bisa mendapatkan Nabi dan Abu Bakar, hidup atau mati, akan diberikan hadiah sebesar 100 ekor unta. Ketika itulah pasukan berkuda, pejalan kaki, dan pelacak jejak dengan penuh semangat melakukan pencarian dan menyebar sampai ke lereng-lereng perbukitan, lembah, dataran rendah dan tinggi, sampai kepada mulut gua—namun tidak berhasil menemukannya.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas, dari Abu Bakar,

كنت مع النبي ﷺ في الغار فرفعت رأسي،

“Aku berada di sisi Nabi di gua, lalu saat mendongakkan kepalaku,

فإذا أنا بأقدام القوم، فقلت يا نبي الله لو أن بعضهم طأطأ بصره رآنا.

lantas aku berkata: ‘Aku dapati kaki-kaki mereka persis di atasku’.”

قال: اسكت يا أبا بكر، اثنان الله ثالثهما،

Beliau menjawab, “Diam sejenak wahai Abu Bakar, kita memang berdua, tapi Allah-lah yang ketiga.”

وفي لفظ: ما ظنك يا أبا بكر باثنين الله ثالثهما

Di dalam versi lafadz yang lain, “Apa kamu kira kita hanya berdua wahai Abu Bakar? (Tidak demikian) Allah yang ketiganya.

Kejadian ini merupakan mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi, sehingga para pelacak tersebut pergi dan tidak dapat menggapai keberadaannya.

 

Penulis: Hendri Abu Abdirrahman Al Idris, S.Kom (Alumni Ma’had Takhossus Al Barkah)

 Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *